Bahagia Itu Tidak Sederhana

Saya perhatikan beberapa hari ini banyak yang menulis kalimat “bahagia itu sederhana”…sesederhana apa ya?

Misalnya,

“Makan pake pecel lele” —- gak sederhana. Coba bayangin kalau tidak ada uang untuk membeli makanan tersebut atau jika pengusaha lele sedang tidak memanen lele.

“Berkumpul dengan anggota keluarga” — sama sekali gak sederhana. Setiap anggota keluarga punya kesibukan masing-masing. Bahkan tidak jarang kalau sedang berkumpul, yang ada malah ribet dengan handphone.

“Berkumpul dengan sahabat dan pacar” — oke, ini juga tidak sederhana. Apa benar jika sudah berkumpul dengan sahabat bisa bahagia? Siapa tahu malah asyik curhat via Twitter, jarang bertatap-tatapan mata, jarang tertawa lepas layaknya di Twitter, dan siapa tahu yang ada berujung kepada penguatan “ini lho gw sekarang”.

“Saat dimana bisa melakukan hal yang dikira gak bisa dilakukan” — ini apa? Masih belum jelas halnya apa. Sama sekali tidak sederhana. Bayangkan jika tidak punya keyakinan, pasti susah mewujudkan ini. Keyakinan bukan hal yang sederhana.

“Dikangenin sama seseorang” — beuh ini usaha keras banget! Tidak ada standarisasi satu pun yang digunakan orang untuk kriteria ‘dikangenin’.

“Libur, bangun siang, langsung ada sarapan di depan mata” — enak banget ya hidupnya. Sederhana sich tapi sama sekali tidak sederhana jika dipikirkan bahwa mbak atau siapapun usaha banget untuk menyenangkan hati kita demi dapat pujian atau sekedar menjalankan tugas, sedangkan kita? Jarang memuji dia. Ndak sederhana at all.

“Beli sepatu yang mahal tau-taunya diskon” — oke, ini suara hati saya sich, heheheseneng tapi tidak sederhana. Coba dech rasanya gimana kalau benar-benar mau beli nich, sedikit pasti ada rasa pengen makan isi dompet karena harganya yang mahal walaupun sudah didiskon. Akuilah, wahai kaum perempuan.

Apa lagi ya…

Masing-masing punya standarisasi bahagia, gak ada yang salah kok. Saya iseng aja bikin seperti ini hehehe…karena saya merasa bahwa bahagia itu gak sederhana. Perlu usaha untuk menjadi bahagia, ya kan? Dan sangat merasa kesal jika ada yang mengganggu kebahagiaan tersebut. Am I right?

Jadi, jika merasa bahagia, berbahagialah. Hargai kebahagiaan tersebut…pedihnya adalah ketika rasa ini hilang sebelum kita menyadari bahwa sebenarnya ‘we are happy’.

If you feel happy, just feel it! You don’t need to ask why you are so happy today…but when you feel angry or sad, you need to ask yourself what’s the reason.

Live for today not for tomorrow, and don’t be regret too much for what was happen yesterday. Live! Now! ;)

Deva

Tagged , ,

Penyakit Langganan

Setelah dipikir-pikir ada tiga jenis penyakit yang sering saya derita. Mungkin ada juga yang mengalami hal yang sama seperti saya.

Yang pertama itu, radang tenggorokan. Penyebab dasarnya adalah kemalasan! Yup, kalau sudah di depan laptop dan dikejar deadline, saya malas jalan ke dispenser untuk mengambil air minum padahal jarak antara meja dengan dispenser hanya 10 langkah kaki. Bayangkan betapa malasnya saya! Nah, giliran udah sakit pasti, PASTI, PASTI mama saya akan menguliahi saya tentang fungsi air minum bagi tubuh. Ooh well, dan saat itu saya pasti manggut-manggut tapi kenyataannya sering melanggar nasihat tersebut. *siap dirajam*

Kedua, darah rendah. Nah, ini baru kemarin saya alami. Keliyengan banget bahkan kemarin adalah darah rendah yang paling parah saya alami. Tekanan darah saya sampai 90/60 mmHg bahkan dokter yang kemarin memeriksa saya sampai 2 kali harus mengulang pompa tangan saya. Dia sampai bilang, “Darah kamu rendah banget kayak habis ngelahirin.” Menurut ngana???! Akibat darah rendah ini pusing banget dech, kepala berat bahkan diajak duduk aja ya ampun berasa bawa beras berton-ton. Jadi kemarin seharian saya hanya tiduran. Entah penyebabnya apa tapi sering banget saya mengalami hal ini.

Ketiga, menstruasi. Di hari-hari pertama menstruasi kemungkinan 80% saya pasti akan mengalami sakit perih di bagian perut. Pegal luar biasa. Saya cukup sering mengalami menstruasi 2 kali sebulan. Jadi bayangkan betapa lelahnya saya merasakan sakitnya seperti apa. Biasanya menstruasi 2 kali sebulan saya alami kalau saya kelelahan. Nah, untuk mengatasi sakit ini, saya sampai pernah di USG lho! Dokter bilang saya ada penebalan dinding rahim dan diberi 2 jenis obat yaitu obat hormon agar teratur jangka menstruasinya dan kedua adalah obat penahan sakit yang diminum jika hanya sakit banget. Setelah minum obat hormon, saya sudah tidak sakit lagi (berasa testimonial iklan dokter gak sich? Hehehe) dan menstruasi teratur tapiiii kalau sebulan sedang sibuk-sibuknya pasti akan menstruasi 2 kali. Rrrgh….Nah, beberapa bulan setelah kontrol pertama itu, saya datang lagi untuk check up. Ternyata sudah tidak ada lagi tuch penebalan dinding rahim, fiuh…Dan dokter pun akhirnya memberi nasihat “Kamu ngelahirin dech Dev, ntar gak sakit lagi kalo lagi mens” *taradangdungces!*

So ya itu ketiga penyakit yang sering banget saya alami. Nasihat sederhana dari Mama dan belum juga saya lakuin adalah membeli vitamin. Duh, malasnya! Lah wong, saya pusing aja pasti akan cari cara lain selain minum obat.

Deva

Tagged , ,

Kenapa Suka PR?

Saya tidak mempunyai latar belakang pendidikan di bidang Public Relations (PR) atau komunikasi. Jadi yang namanya Fact Sheet, Press Release, Media Training, dan tetek bengek yang berhubungan dengan PR ya baru tahu saat gabung di kantor yang sekarang. Tidak ada gambaran sama sekali bagaimana dunia PR. Yang saya tahu ketika itu hanyalah melakukan penelitian, menerjemahkan laporan penelitian yang tebalnya minta ampun dan revisinya bikin kaki lemes selemes-lemesnya, hehehehe…

Sampai akhirnya, saya diminta untuk mempersiapkan sebuah media training untuk klien. Jadi, media training ini adalah sebuah jasa konsultan komunikasi untuk para kliennya agar mereka siap berhadapan dengan media. Nah, I have no idea about this stuff at the beginning. Yang saya tahu ketika itu hanya mengubah layout powerpoint supaya lebih kece and again menerjemahkan ke bahasa Indonesia.

Ternyata…gak cuma itu sodara-sodara! Saya juga diminta untuk membuat daftar pertanyaan yang kira-kira akan ditanyakan wartawan kepada klien. Jumlahnya gak menong-menong! Ratusan pertanyaan harus dipersiapkan. Dulu, tugas ini bikin saya gak bisa tidur dan kebawa mimpi banget. Beneran! Sekarang? Ya lumayanlah, isi mimpinya bisa ganti bukan itu lagi. Maksud?!

Semakin ke sini, ini udah tahun ke-3 saya kerja di kantor yang sama (awet kan?) semakin banyak hal yang bikin saya cinta dengan dunia komunikasi. Dulu, kalau saya baca koran atau majalah, ya sudah cuma sekedar baca tapi sekarang kadang, tanpa disetting terlalu serius, saya tertarik untuk menelaah berita tersebut dari gaya jawaban-jawaban narasumber. Dulu, nonton konferensi pers atau wawancara di tv bener-bener hanya merhatiin jawabannya sekarang justru lebih ngeliatin body language-nya, pilihan kata yang digunakan, cara bertanya wartawan, dll. Keuntungannya adalah saya jadi lebih tanggap yang mana isu yang happening untuk dijadikan studi kasus saat media training nanti.

Terus, PR pasti main dengan media dong ya. Nah, kita harus akrab tuch sama media, minimal akrab dengan karakter masing-masing media karena ya media adalah alat untuk menyampaikan pesan yang diinginkan klien agar ditangkap oleh masyarakat. Hal itu seru banget buat saya! Dulu, mana mau peduli situs apa yang paling sering dikunjungi masyarakat Indonesia, ya sekarang mau gak mau harus tanggap.

Ohya, untuk tahan banting di dunia PR kayaknya memang harus minimal suka dech dengan kegiatan tulis menulis. Gak musti ahli (membela diri) tapi paling gak suka. Saya jadi ingat pengalaman repotnya bikin tagline untuk media kampanye klien. Ini bukan kampanye politik yaaaaa tapi kampanye tentang isu sosial tertentu dech. Nah, itu gila! Bayangin berhari-hari, muter-muter kata, hanya untuk menghasilkan satu kalimat aja! Dari masalah jumlah kata, pilihan kata yang dinilai ‘negatif’, ‘judging’, and so on. Tantangan lainnya adalah bagaimana memasukkan tagline itu agar cocok untuk dipakai di semua jenis media kampanye. Gila tapi seru banget buat saya.

Oya, tentang penelitian. Jadi ya sebelum kita bikin tagline atau menentukan media kampanye untuk klien, kita harus melakukan penelitian. Nah, di saat penelitian di desa-desa, kita sangat menghindari penggunaan barang-barang mewah. Gak ada tuch yang anggota tim yang keluar dari pesawat pakai kacamata hitam, jinjing tas LV, sepatu hak tinggi. Salah tempat! Kalau penelitian ya jeans, sepatu kets, kaos yang nyaman, dan ransel. Gak etis juga kalau penelitian nenteng-nenteng Ipad, laptop, handphone yang mahal-mahal. Lah bayangin aja gimana konektivitasnya kalau yang diteliti adalah masyarakat menengah ke bawah. Bagaimana mereka mau terbuka kalau kita terlihat mengekslusifkan diri kan?

Paling penting, jangan cemberut! Senyum gak boleh lupa tapi bukan senyum palsu. Wah, tantangan banget lho. Bayangin kalau daerahnya lagi panaaaas banget, orangnya tertutup, terus mungkin ada yang sedang sakit penyakit menular. Beuh! Sedangkan dia adalah samplenya. Nah lho…

Sederhana, nikmatin proses ketemu dengan orang baru. Dengarkan cerita mereka. Kalau mereka tidak mau diinterview, jangan pernah paksa. Membujuk boleh tapi jangan pernah dipaksa. Itu hak mereka. Nah, tinggal cari cara untuk menggantikan suara mereka sebagai sample. Terus, jangan memalsukan data maupun jawaban! Percuma, itu malah nyusahin diri sendiri. Lah wong mau cari solusi buat mereka masa iya pakai data palsu. Gak akan membantu dong jadinya?

Apa lagi ya…

Proses pengenalan saya dengan dunia PR di kantor ini gak melalui literatur buku-buku tebal, bos saya gak mencekoki dengan berbagai teori, tapi langsung terjun ke praktek. Makanya, mungkin ini yang dibilang “buka mata, buka telinga”, ilmu berserakan di mana aja, tinggal gimana kita meraupnya. Mungkin ini gaya bos saya untuk meracuni saya dengan dunia PR. Sekarang, saya malah udah kecanduan dengan dunia ini. Website PR Daily seru tuch untuk dibuka setiap hari, banyak info tentang PR bertebaran di sana. Ayo, sedot! :)

Deva

Tagged , , ,

Apresiasi

Disclaimer: Tulisan ini merupakan ‘tantangan’ Radinka kepada saya setelah kami berdiskusi cukup panjang tentang Free Hug Campaign di Indonesia.

Radinka (via BBM): Mentalitas timur kita beda ama barat punya. Di barat banyak dianjurkan utk mengungkapkan affection yaitu bentuk kasih sayang, like hugging. Di timur, kita cenderung tertutup. Knalan2 gw yg westerners juga suka berapresiasi scara verbal. Misalnya klo anak mrk juara, mrk akan bilang, “yes, my daugther is a swimming champion”…di kita, “iya anakku memang juara tapi skolahnya itu lho jjdnya brantakan…” Knapa harus ada kata “tapi”…anak loe juara ya juara aja. Titik. Enjoy the moment. Bener? Di kita, sbuah complain dipandang sbg motivasi agar kita ga gampang puas. Pdhal nothin wrong with bein puas man, puas khan apresiasi. Loe menghargai diri loe, pencipta loe, dsb.. Mnrt gw hidup di indonesia nantang keseimbangan jiwa..u wanna appreciate others but there’s this fear that ppl will walk all over u, nipu loe, dsb…makanya kita serba cueks and cenderung nginget yg salah…kasian mentalitas kita, parnoan smua…

Ada yang setuju? Ada yang tidak setuju?

Begini, saya mempunyai pengalaman tentang perbandingan 2 budaya yang memang terlihat secara kasat mata.

Kakak saya yang tinggal di Washington DC bulan Juli lalu pulang ke rumah selama 1 bulan. Perbedaan nyata antara dia dengan kakak-kakak saya yang tinggal di Jakarta adalah ‘gaya apresiasi terhadap apapun’.

Kakak jika sedang menemani anaknya menggambar atau bermain pasti akan keluar kata pujian, “You did a great job, Cat” atau “Gambar kamu bagus banget, Lil” atau yang lainnya. Sedangkan kedua kakak saya yang ada di Jakarta akan mengatakan, “Bagus tuch gambarnya tapi coba dech gak keluar garis kalo ngewarnain.”

Sounds familiar?

Apresiasi yang paling sederhana adalah mengucapkan terima kasih kepada pihak yang membantu kita.

Seperti ketika saya hanya sekedar mengambilkan remote tv untuk kakak saya, dia akan bilang “Thank you, Dev.” Bahkan saat Mbak selesai menggosokkan bajunya, Kakak saya akan bilang “Mbak rapi banget kerjaannya. Makasih ya.” Reaksi Mbak saya? Wuidih…senyum gak ilang-ilang. Beneran. Sampai saya ledekin “Giginya kering lho Mbak ntar hehehe…”

Begitu juga dengan bos saya. Dulu sebelum bekerja di kantor yang sekarang, mungkin saya hanya bisa dihitung pakai jari untuk bilang “terima kasih” ke setiap orang yang membantu saya.

Tapi di hari pertama saya bekerja, bos saya selalu mengucapkan “terima kasih” kepada siapa pun yang membantunya. Disediain minum, dia akan bilang “makasih”, jika saya selesai minjam flashdisknya dia yang akan lebih dulu bilang “makasih” daripada saya. Bahkan jika di lift hanya ada kami berdua dan 1 orang lain yang akan keluar di lantai lebih tinggi dari kami, dia akan bilang “Duluan ya. Makasih”. Terkesan aneh? Senyum selalu terlihat di setiap orang yang ia ucapkan “terima kasih”.

Bos saya asli Indonesia tapi puluhan tahun tinggal di Kanada. Yup, saya cukup meyakini bahwa ini berhubungan dengan latar belakangnya yang tinggal di Kanada. Jika dibandingkan dengan teman-teman kantor dan saya yang asli dan besar di Indonesia, lidah terkadang berat untuk mengucapkan “terima kasih” atau pujian untuk hal yang dinilai sederhana.

Coba dech perhatikan jika mengantri di kasir, berapa banyak pembeli yang mengucapkan “terima kasih” kepada kasir? Selalu kasir yang mengucapkan kalimat tersebut kan?

Saad pernah bilang kepada saya betapa senangnya ia memuji keponakan-keponakannya. Bukan karena ingin dinilai sebagai tante yang baik tapi karena pujian itu bisa memotivasi siapapun. “Lo senang kan dipuji Dev? Apalagi anak-anak. Mereka akan lebih percaya diri dengan apapun yang mereka lakuin,” kata Saad.

Hal tersebut memang benar adanya. Saya akan senang seharian jika menerima email dari bos atau klien dengan kata pujian di awal paragraf. Rasa lelah dan pusing bisa hilang seketika ketika ada pihak yang menghargai jerih payah orang lain.

Tapi, begitu ada kesalahan yang dilakukan kita, setiap orang tidak akan ragu membuat daftar dan melempar daftar kesalahan tersebut di muka kita. Menyedihkan ya?

Mari kita mencoba untuk memanusiakan manusia tanpa tapi.

Pertanyaan yang masih mengganjal di pikiran saya, apakah tingkat apresiasi seseorang tergantung dimana ia dibesarkan? Saya, cukup meyakini hal tersebut.

Deva

Tagged , , ,

Free Hug Campaign

Merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh Tedx Jakarta di Pasific Place (PP) untuk memperingati hari kasih sayang tanggal 14 Februari lalu. Saat saya cerita ke teman bahwa ada acara ini, reaksi mereka berbeda-beda. Ada yang langsung bilang “Wuidih gimana tuch ya acaranya? Ada yang ganteng gak? Ada yang cantik gak?” atau “Kalo yang ganteng, gak mau gw lepasin?” ada lagi yang bilang “Wangi mudah-mudahan” tapi teman saya, yang bernama Radinka (seorang teman yang berkenalan di Ubud) bilang “Gimana ya di Indonesia? Perspektifnya gimana? Berhasil gak ya? Jangan-jangan ntar ada yang nyalahin kegunaan kampanye ini lagi?”

Saat Radinka berkata seperti itu, saya menjawab kira-kira seperti ini, “Orang yang datang ke Pasific Place kemungkinan besar bisa nerima kampanye ini tapi kalau kampanye ini dilakukan di pinggir jalan kota Jakarta atau di mall yang lebih kecil, well…gw rada sungkan untuk bilang akan berhasil.”

Akhirnya saya dan Radinka pun datang ke PP untuk masuk ke Atamerica. Celingak-celinguk cari yang sedang kampanye. Akhirnya bertemu 3 kelompok anak muda yang membawa papan “Free Hug” dengan senyum lebar di wajahnya. Kalau Radinka bilang, “Sayang Dev, mereka bergerombol, coba nyebar….”

Hug them!

Iya nge-blur :|

Ya juga sich, dari yang saya lihat, saat saya dan Radinka foto-fotoin mereka, tidak ada orang yang menghampiri mereka untuk dipeluk. Mungkin mata saya yang salah, tapi yang saya tangkap ya gitu. Hanya saya dan Dinka saat itu yang minta dipeluk. Hahahah…Radinka bilang “Sayang man, mereka udah bawa papan masak gak ada yang meluk!” Benar juga sich

Tapi pandangan Radinka mengenai “apakah di Indonesia kampanye ini bisa berhasil atau tidak” sungguh menarik. Seperti yang saya bilang sebelumnya, di PP yang saya lihat kemarin pun, hanya sedikit yang berpartisipasi dengan kampanye tersebut. Entah apa alasannya. Apakah malu, gengsi, menilai kampanye itu norak, atau malas, lelah, sibuk, capek, atau yang lainnya.

Radinka terakhir bilang, “Ah, kalau ada kampanye gini lagi gw ikut. Seru! Bayangin orang-orang itu bawa papan ngasih pelukan gratis. Lucu!”

Saat saya menulis ini, akhirnya terpikir apakah sedemikian mahalnya sebuah pelukan sampai ketika dilabeli “Free” pun hanya sedikit yang berpartisipasi?

The end of the story, jempol gede untuk volunteer Tedx Jakarta! :)

Deva 

Tagged ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers