Tanjung Leidong, Simandulang dan Teluk Pulai Luar di Bulan Agustus 2010

Sekolah di atas air - Simandulang-

Kelurahan Tanjung Leidong Kabupaten Kualuh Leidong merupakan sebuah tempat terpencil, yang harus ditempuh selama 5 jam menggunakan kapal ferry dari Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara. Pun dari Medan menuju Tanjung Balai Asahan adalah 5 jam perjalanan darat. Artinya, untuk menempuh Kelurahan Tanjung Leidong, harus memakan waktu 10 jam perjalanan.

Sebuah tempat yang belum pernah aku dengar sebelumnya, sampai suatu ketika aku mendapatkan tugas untuk pergi ke sana, berurusan dengan para nelayan. Tepat di sana ada 3 desa yang bernama Tanjung Leidong, Simandulang dan Teluk Pulai Luar. Tiga nama desa, yang belum tentu masing-masing masyarakat desanya tahu desa-desa lain, meskipun mereka satu kelurahan. Mungkin jarak adalah jawaban mengapa mereka tidak tahu desa-desa lainnya. Bukan suatu yang terlalu aneh, mengingat ada saja warga desa yang tidak tahu kantor kepala desanya sendiri. Bukan karena tidak mau tahu tapi itulah misteri, selalu ada hal menarik di sebuah desa yang tidak akan ada bosannya untuk diteliti.

Satu lagi pengalaman yang luar biasa aku dapatkan di tahun ini di bulan Agustus, bulan yang penuh semangat perjuangan.

Jika di Jakarta, ibu kota Indonesia semangat juang 45 sudah tidak terlalu terasa, tetapi justru lebih terasa semangat juang mempertahankan hidup dengan segala polemiknya maka lain di Tanjung Leidong, beda di Simandulang, tidak sama dengan Teluk Pulai Luar.

Di suatu pagi tanggal 3 Agustus 2010, sebelum saya dan tim memulai bekerja, kami sarapan di suatu kedai makan di Tanjung Leidong. Lewatlah 3 tim paskibra sekolah, dimulai dari SMU, SMP, dan SD. Dan 1 tim yang tiada berseragam, memakai baju sesuka hati mereka tapi senyum dan semangat mereka luar biasa, tak kalah dengan kakak-kakaknya yang berseragam sekolah, mungkin mereka dapat disebut tim usia bebas.

Semangatnya :)

Tanjung Leidong saat itu panas luar biasa, tapi itu tidak menjadi halangan bagi semua…yach…semua masyarakat Tanjung Leidong sedang sibuk mempersiapkan perlombaan 17 Agustus-an. Orang tua mendandani anak-anaknya untuk lomba tari, untuk memasang bendera, para laki-laki bersemangat memasang bendera Indonesia di sampan-sampan mereka. Itulah mereka, warga Indonesia. Bangga dengan kemerdekaannya sekalipun himpitan hidup yang mereka hadapi. Indonesia raya…!!!

Tanjung Leidong

Adalah kelurahan di Kabupaten Kualuh Leidong. Di sini terjadi akulturasi budaya yang menarik antara Melayu dan Tionghoa. Mereka hidup dengan damai, tiada ribut, tiada rebut apapun. Semua sudah ada porsi masing-masing. Semua saling menyapa. Kelurahan kecil, tak ada bioskop, mall bahkan panggung hiburan apapun. Yang ada hanya rumah, pasar, sekolah, kedai makanan, kedai kopi. Hiburannya adalah catur. Sangat khas melayu. Seorang bapak di Tanjung Leidong mengatakan, “Inilah Tanjung Leidong, beda dengan Jakarta. Kami lahir, besar dan tinggal di sini dengan segala kekurangannya. Belum mengenal internet. Yang kami tahu bahwa ikan dapat membuat kami hidup.”

Kelenteng Tanjung Leidong

Simandulang

Tiada yang dapat aku rangkumkan mengenai Simandulang selain desa di atas air. Ini bukanlah perumpamaan. Ini kenyataan. Jarak dari Tanjung Leidong menuju Simandulang harus naik sampan selama lebih kurang 1 jam. Yap sampan, bukan kapal yang ada atapnya. Tapi sampan dari kayu yang dikendarai dengan mesin. Pemandangan menuju ke sana tolong jangan tanya. Mengapa? Karena di sana indah. Bukan karena laut yang biru karena menuju Simandulang tidak melalui laut tetapi melalui sungai. Sungai yang berwarna coklat. Lantas apa yang indah? Yang indah adalah karena dapat melihat lumba-lumba kecil berloncatan di depan mata. Bukankah itu indah, teman? Kedamaian, mungkin itulah yang selalu dikejar oleh para nelayan ketika melaut, tidak melulu tentang ikan dan uang.

Saat perjalanan ke Simandulang, aku melihat sebuah kapal yang ditambatkan di sebuah kayu di tengah sungai dan laki-laki tersebut tidur di tengah sungai sambil merokok. Mungkin itu definisi damai menurutnya. Aku yang melihatnya, juga mengatakan itu damai (terlepas dari bahaya merokok itu sendiri).

Tiba di Simandulang, langsung melihat kelenteng. Iya kelenteng yang berwarna merah, ada babi yang sudah dikuliti dan para masyarakat di sana sedang mempersiapkan sebuah acara perayaan di kelenteng mereka. Layaknya di Tanjung Leidong, masyarakat di Simandulang juga terdiri dari etnis Melayu dan Tionghoa, damai. Kelenteng ini bukan sembarang kelenteng. Simandulang bukan desa biasa. Seperti yang diawal saya tulis, bahwa Simandulang adalah desa di atas air. Tiada kiasan.

Rumah-rumah, sekolah, kelenteng, pasar, kantor desa, dan pasar semuanya di atas air. Semua bangunan mereka terbuat dari kayu. Jalanan mereka baru 200 meter yang terbuat dari beton, selebihnya kayu. Itulah yang bernama titian. Itulah yang membuat aku lemas ketika aku mendengar ditugaskan di sana. Lemas bukan karena aku tidak suka daerah itu tapi lemas karena harus membayangkan berjalan di atas jembatan kayu (titian) yang usianya sudah tua dan lapuk. Salah menginjak, tamat riwayat. Aku tidak bisa berenang. Jelas bukan pertaruhan hidupku?! Tapi, aku yakin tidak akan ada yang membiarkan aku jatuh dan memang itu yang terjadi. Semua saling bekerja sama agar tidak ada yang terjatuh ke air.

 

Titian Simandulang (Agustus 4, 2010)

Semua anak-anak, remaja dan orang tua, melihatku bagaikan aku alien dan menertawaiku. Hahaha…aku berjalan dipegangi oleh teman se-timku. Titian bergoyang. Fuih…satu langkah oke, dua langkah lumayan dan oh no…di depan masih panjang, teman. Bayangkan jalan sepanjang 5 km terbuat dari kayu yang sudah tua dan lapuk, ditopang juga dengan kayu yang usianya tua dan dibawahnya ada air. Luar biasa!

Anak-anak kecil semua berlarian di sana, tiada takut. Mereka pejuang!

-speachless-

Siang sekitar jam 3, air di sungai menyusut! Tiada air lagi! Wow…luar biasa. Desa di atas air mendadak menjadi desa di atas tanah. Kambing yang semula di atas titian, begitu air surut mereka langsung turun. Semula kami hanya melihat air, tetapi begitu surut, anak-anak bermain di lapangan. Lapangan yang semula adalah sungai! Subhanallah…

Bisakah dibayangkan jika kayu sudah habis, tidak lagi didapatkan, bagaimana mereka merenovasi bangunannya? Bagaimana jika mendadak ombak datang ke sungai mereka menghancurkan bangunan mereka? Bagaimana dengan nasib anak kecil di sana? Tiada perlu menjawab, perih.

Teluk Pulai Luar

Ditempuh dari Tanjung Leidong hanya 10 menit naik sampan setelah itu naik ojeg selama 30 menit. Bukan ojeg dengan kondisi jalan yang biasa tetapi jalanan lumpur, becek dan tidak pernah diaspal. Turun dari ojeg, perutku melilit sakit sekali. Perut terguncang-guncang. Tukang ojegnya?! Aman dan sentosa, sudah biasa melihat motornya hancur lebur.

Jalanan di Teluk Pulai Luar

Tidak ada sekolah di sini. Sekolah terdekat adalah di Tanjung Leidong. Jarak antar rumah jauh. Bahkan salah satu masyarakat di sini ada yang tidak mengetahui kantor kepala desanya. Suami melaut dan istri di rumah, mengurus anak. Itulah hukumnya di sini.

Itulah sisi lain dari Medan. Nun jauh di sana, pembangunan belum tersentuh. Entah belum tersentuh karena sedang dalam proses untuk menyentuh atau memang tidak ingin menyentuhnya. Sulit untuk dibayangkan tahun 2010 ini, Indonesia 56 tahun, masih ada desa yang tidak mempunyai jalanan yang layak. Indonesia 56 tahun dengan segala keterbatasannya tetaplah negara yang patut dibanggakan.

Catatan dari Kemang dengan hati yang berada di Simandulang, desa di atas air.

Deva, yang me-repost ini dari blog saya sebelumnya, Dec 29, 2010

 

Tagged , , , , ,

27 thoughts on “Tanjung Leidong, Simandulang dan Teluk Pulai Luar di Bulan Agustus 2010

  1. aliong says:

    i love you city leidong

  2. aku suka pada tanjung ledong

  3. Taufik.. says:

    sebagai seorang putera tanjung leidong saya berterima kasih atas semua support yang diberikan dari mbak, itulah sebenarnya kami selalu menerima keadaan yang sebenarnya, tapi tidak menghapuskan rasa semangat perjuangan bangsa..
    terima kasih banyak y mbak..

    • ladeva says:

      Hi Taufik. Tinggal dimana? Di Tanjung Leidong kah? Wah, saya sudah rindu sekali ingin berkunjung ke sana lagi. Daerah yang indah, penuh harmonisasi dengan berbagai kebudayaan yang bermacam-macam :)

      • Jul says:

        Menarik, membaca Ulasan tentang desa/kelurahan yg sangat familiar dengan kita dibahas Dengan sudut pandang orang lain, Dari penglihatan “pendatang”..demikian biasanya orang Leidong menyebut orang luar desa mrk.

  4. wira says:

    itulah kampung namanya,,,tapi pemerintah ngak pernah memperdulikan,hanya sibuk mengurus KKN mereka.

  5. andy says:

    trima kasih uda berkunjung ketempat kelahiran saya

  6. sangat memotivasi bget ntuk lbih br kretivitas selanjutnya.., semoga di Tahun ini Infrastruktu untu Kualuh Leidong semakin meningkat.

  7. syofyan yusma says:

    Terimakasih atas cerita 2 desa dan 1 kelurahan dari 7 Desa/kel, semoga cerita ini membuka hati para pembuat kebijakan agar lebih maju lagi, namun kami perharap putra/i perantau membantu kami agar kecamatan kualuh leidong lebih maju pada masa mendatang. Tks semua …

    • ladeva says:

      Sama-sama Pak. Kelurahan Tanjung Leidong sungguh damai dalam berinteraksi sesama warga di sana meskipun berbeda suku, budaya dan ras tapi hal itu tidak menjadi masalah. Benar-benar damai. Semoga tulisan saya berguna Pak. Sungguh ingin ke sana lagi :)

    • ladeva says:

      Wow keren banget, ada situs yang menjelaskan detail tentang desa teluk pulai luar. Mungkin dengan ditambah foto-foto desa tersebut, blognya akan semakin bagus dan membuat masyarakat semakin mengenal desa teluk pulai luar. Hebat :)
      Salam kenal ya…saya pengen banget ke sana lagi…

  8. and1k says:

    wah memang luar biasa ya kalo dilihat dari potonya dengan keadaan seperti itu mereka tetap bisa survive

  9. auraman says:

    saya ada juga ni mbak backpaker ke banda aceh hehe

  10. MEnarik sekali perjalanannya. Kalo boleh tau, itu dalam rangka tugas apa ya kok bisa sampai ke sana?
    Alhamdulillah mereka bisa hidup rukun, damai tidak kekurangan.Lega juga dengar cerita mereka, anak-anak mereka yg tetap bisa sekolah dengan fasilitas sekolah seadanya. Sekolah di atas air…baru kali ini aku mendengarnya, memang luar biasa. Beruntung Deva bisa ke sana :D

    • ladeva says:

      Hi Rangga :)

      Waktu itu ada tugas penelitian tentang masyarakat nelayan nah di Kabupaten Kualuh Leidong, mayoritas pekerjaan mereka adalah nelayan. Memang saya beruntung banget bisa datang ke daerah mereka. Bisa menjadi bahan refleksi saya. Dan mereka bisa tetap survive dengan kondisi mereka. Hebat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 359 other followers

%d bloggers like this: