Oke, saudara-saudari, sesuai janji saya di twitter dan di blog ini, saya akan membuat review tentang buku nasionalisme keuangan yang kece (menurut saya)
Sebuah buku yang ditulis oleh Mbak Lidwigna Hananto, seorang perencana keuangan dari www.qmfinancial.com (masuk juga di favweb saya). Apakah saya penggila Mbak Wina? Gak juga, tapi saya suka dengan pemikiran-pemikiran nasionalisme. Apakah saya idealis? Ya, saya idealis-realis. Hahaha…apa pula itu? Ya begitulah saya. Terkadang menjadi orang nasionalis tapi kadang kalo kepepet menjadi orang realis. Sudah, berhenti membahas pikiran saya, mendingan kembali ke topik awal yaitu tentang buku “Untuk Indonesia yang Kuat”.
Pertama, yang harus diketahui bahwa buku ini mengenai perencanaan keuangan dari kelas menengah untuk Indonesia yang lebih kuat. Artinya, buku ini akan membicarakan UANG. YUP, sekali lagi UANG.
Kedua, buku ini akan menampar kita. Plak-plak-plak. Membuat dada sesak memikirkan inflasi dari tahun ke tahun dan akan membuat kita gemetaran kalo menghitung pengeluaran dan pemasukan setiap hari, minggu, bulan , dan tahun. Kalo ada yang tidak tertampar setelah membaca buku ini, ya berarti manajemen keuangan pribadinya sudah baik. Saya tertampar banget, artinya manajemen keuangan saya masih belum baik tapi akan segera membaik, hehehe…
Ketiga, kita akan masuk ke inti review saya. Have a comfortable seat and please enjoy this review
Siapa di sini yang pakai BB dan tidak pusing dengan tabungan? Ada yang menabung di sini? Ow…atau ada yang mau bilang kalau gak punya tabungan? Pusing dengan membayar kartu kredit? (Alhamdulillah, saya tidak punya kartu kredit).
Terus, siapa di sini yang merasa dirinya miskin tapi punya penghasilan tetap, masih punya rumah (sewa, punya sendiri, rumah ortu, atau rumah mertua), punya kendaraan pribadi, bisa shopping, travelling kemana pun? Aduh, sadar diri ya…kalian itu artinya masuk kelas menengah lho. Artinya pula, kelas menengah yang harus menguatkan dirinya agar bisa membantu sesama.
Di awal review ini, saya sudah tulis bahwa buku ini buku nasionalis dari sudut pandang keuangan. Kenapa nasionalis? Karena salah satu inti buku ini adalah untuk menyadarkan setiap pembaca bahwa ia adalah kalangan menengah dan dengan kemampuan keuangannya di level menengah, ia bisa membantu sesama. Indonesia pun bisa kuat dengan pertolongan sesama. Jadi, bayangkanlah kalau dengan pengaturan keuangan yang baik, kita bisa membantu mbak di rumah, sopir pribadi, atau office boy untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Beneran bisa kok! Bukan dengan sumbang uang saja tapi dengan memberikan mereka modal untuk usaha. Terkesan berat. Gak juga. Tapi syaratnya satu. Kita harus bisa memperbaiki pengelolaan keuangan pribadi dulu.
Saya bocorin 5 langkah awal yang ditulis Mbak Wina di buku ini agar bisa mencapai financial freedom:
- Memiliki penghasilan
- Memisahkan pengeluaran bulanan dengan pengeluaran mingguan
- Pergi ke ATM seminggu sekali saja
- Mengerti cara kerja kartu kredit
- Hutang kartu kredit lunas setiap bulan
Apakah sudah ada bagian di atas yang menampar kalian? Ya, saya sudah ada yaitu nomor 2 dan 3. Hahaha…saya belum memisahkan pengeluaran bulanan dan mingguan dan saya pergi ke ATM sering banget! Bayar shopping dengan gesek kartu debit, hasilnya susah ngitung sisa tabungan.
Di dalam buku ini juga dijelaskan bahwa ada seorang klien Mbak Wina dengan penghasilan Rp 30juta sebulan tapi TIDAK punya tabungan!!! My God! Dan ada juga yang punya bisnis di sana sini tapi gak tau harus bayar uang sekolah anaknya dengan apa? Terkesan bohong dan hiperbolis? Yang pasti memang tertulis seperti itu. Artinya kan ada yang salah dari pengaturan keuangan tersebut.
Terus, pernah mikir tentang uang pensiun? Saya gak pernah. Sampai baca buku ini baru sadar bahwa perlu perhitungan uang pensiun. Pernah mikir tentang inflasi? Saya gak ngerti inflasi itu apa. Pernah mikir tentang pasar saham? Saya gak pernah, tapi akhirnya bertanya ke mantan pacar (seorang akuntan) tentang reksadana.
Pernah mikir pula untuk mencatat pengeluaran setiap hari? Pernah dan masih saya lakukan sampai sekarang meskipun kadang direkap beberapa hari kemudian (hehehe…). Penting untuk mencatat pengeluaran setiap hari lho agar tahu larinya uang kita kemana.
Banyak semangat membangun Indonesia yang tertulis di buku ini. Dan akan sangat gak asyik kalo saya bahas semuanya di review ini. Intinya adalah: you have to responsible with your own money. Dan coba pikirkan tujuan kita itu apa? Mau jadi orang kaya? Mau jadi pengusaha? Atau apa. Sesuaikan semua tujuan kita dengan kemampuan serta passion kita.
Pikirkan bahwa kita hidup tidak cuma untuk hari ini, tapi untuk masa depan. Untuk anak, cucu, cicit dan negara kita kan? Berhenti mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang buruk dan tidak akan berkembang kalau kita sendiri belum pernah membantu meningkatkan kemampuan Indonesia (footnote: Pandji).
Resapi bahwa percuma bawa mobil mewah, gesek kartu kredit di sana sini, nenteng gadget paling trendi, update dengan fashion terbaru, liburan super mewah tapi tabungan NOL dan masih merengek ke orang tua untuk minta dana pacaran, hehehe…
Dengan uang yang cukup di diri kita, yuk bantu sesama masyarakat Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup mereka
Deva, yang berusaha agar semangat ini bukan untuk sehari-seminggu-sebulan-setahun tapi untuk selamanya, February 22,2011

February 24, 2011 at 8:09 am
di gramed ada kan?
besok langsung beli buku ini ah
tks rekomendasinya ya
February 24, 2011 at 8:35 am
Ada dong….silahkan beli dan silahkan berjuang untuk memperkuat Indonesia
February 23, 2011 at 4:20 pm
perencanaan keuangan bikin saya pusing! padahal saya pengen sekali membantu orang2 di luar sana yg kekurangan.
(halah. mikirin buat diri sendiri aja susah kok mikirin orang laen)
February 24, 2011 at 2:14 am
Untuk kali ini gak pusing kok
Dan dengan membuat rencana keuangan, saya percaya kita bisa membantu orang lain tanpa membuat diri sendiri
February 23, 2011 at 3:30 am
ingin segera meminjam lantas membacanya .. hehehehe
February 23, 2011 at 4:44 am
Minggu eike bawa ya pas kita car free day-an
*sewa: ceban!*
LOL