#IndonesiaJujur; Simpati Untuk Ibu Siami

Hastag itu langsung muncul di twitter tidak lama setelah berita mengenai Ibu Siami ada di televisi. Seorang ibu yang melaporkan contekan massal yang terjadi di sekolah anaknya, SDN Gadel III, Surabaya. Seorang Ibu yang diusir dari kampungnya karena memegang teguh prinsip kejujuran, di tengah kondisi masyarakat yang lebih mengejar angka. Seorang ibu yang membuat kita ingat bahwa kejujuran itu masih ada di Indonesia.

Saya hanya bisa menghela nafas panjang-panjang saat mengikuti berita ini di media massa. Geleng-geleng kepala setelah mendengar bahwa kasus ini bukan saja terjadi di Surabaya tapi juga di Jakarta. Berharap semoga tidak terjadi di kota lainnya. Amiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnn….

Saya juga pernah mencontek (hahaha…malunya!) tapi saya tidak pernah mengalami kondisi guru-guru saya menjadi koordinator contek massal. Rasa hormat setinggi-tingginya saya berikan kepada guru TK, SD, SMP, SMU, Kuliah dan guru-guru privat saya. Semakin ke sini, saya semakin sadar bahwa contekan merupakan sebuah tindakan yang diakibatkan tekanan dari lingkungan. Tekanan untuk dipuji oleh orang tua, dibanggakan oleh pihak sekolah, dianggap hebat oleh teman-teman dan lebih dalam dari itu semua, standar yang digunakan adalah nilai berupa angka.

Dulu, sewaktu SMU saya berada di kelas yang penuh anak-anak cerdas, kecuali saya. IPA 1 namanya. Semua belajar keras setiap hari, setiap menit bahkan ketika istirahat tidak ada yang keluar kelas. Semuanya memegang buku Fisika. Penyebabnya satu, karena setiap istirahat selesai, kita selalu ada tes formatif Fisika. Saat itu kondisi saya stres luar biasa. Ingin istirahat, ngobrol dengan teman-teman tapi kok ya semua betah di kelas?! Saya sampai mikir, “Gw salah ditempatin kelas nich!” Sampai akhirnya teman saya yang berbeda kelas bilang bahwa kelas saya adalah kuburan. Hening banget meskipun istirahat.

Tapi kondisi itu yang melecut saya untuk belajar keras dan percaya dengan diri sendiri. Dan seingat saya, SMU kelas 3 adalah masa di mana saya tidak pernah mencontek sama sekali. Dan ini berlanjut sampai kuliah. Hahha…waktu kuliah bagaimana mau nyontek, setiap pertanyaan isinya harus berupa analisa (paling nanya teori secara general, eaaa).

Nah, apa artinya ini semua?! Setiap orang pernah mengalami masa tertekan karena nilai ujian. Tertekan karena ingin lulus. Tapi tidak sampai harus melakukan contek massal. Berarti yang salah apa? Menurut saya, ini berkaitan erat dengan moral, selain mengenai sistem pendidikan di Indonesia.

Momentum contek massal ini harus digunakan sebaik mungkin untuk merenung ke dalam diri sendiri, seberapa baik kita dalam menghadapi tekanan. Pengejaran terhadap nilai. Semu. Masalahnya sistem memang menstandarkan itu. Ruwet ya…

Mendadak berterima kasih kepada lingkungan yang dari dulu tidak pernah mengatakan, “Ayo nyontek massal!”

Simpati dan hormat untuk Ibu Siami dan keluarga.

Deva

About these ads

11 thoughts on “#IndonesiaJujur; Simpati Untuk Ibu Siami

  1. eringkali fenomena contek mencontek terjadi karena memang pendidikan di Indonesia mengakomodir terjdinya praktek tersebut…dalam kasus bocoran UAN misalnya, siswa dibuat untuk bergantung pada nilai UAN hingga menjadikan UAN sebagai hidup dan mati sisiwa padahal banyak aspek lain yang harusnya menjadi pertimbangan seseorang melewati sebuah jenjang pendidikan. padahal kalo di lihat bocoron itu sepertinya hanya di dapatkan dari si pembuat soal itu berarti ada kong kalikong dari pihak2 tertentu yang menurut saya ada orientasi ekonomi. karena setahu saya bocoran itu dibeli dengan harga yang sangat mahal…memfokuskan pada system baca dan menghapal untuk ujian juga membauat seorang sisiwa yang mungkin otaknya terbatas mau gak mau harus mencontek..padahal albert enstein berkata :menghafal adalah tingkatan terbawah dari berpikir, hewan pun bisa diuruh menghafal”….maka sebenarnya kesimpulan yang bisa diambil adalah, ada system yang memang secara turun temurun dilakukan dengan tujuan untk menjadikan contek sebagai budaya dengan latar belakang yaaaa duit2 lagi.. :)

  2. sedih dan ngenes rasanya membaca berita ini…
    sekolah sebagai institusi pendidikan yang harusnya mengajarkan moral dan etika pada murid2nya kok malah begitu…
    yang salah jadi bener, yang bener jadi salah.
    mau jadi apa generasi penerus bangsa ini kalo dari kecil udah diajarin boleh nyontek begitu? aneh sekali…

  3. bener.
    saya jg heran dgn ‘pengusiran’ itu. apa betul itu budaya asli masyarakat kita ?
    (bahkan dlm kecurangan pun bergotong royong :) )
    ini bukan soal kejujuran semata, tetapi jg pd penanaman sikap percaya diri pd anak2 kita.
    negeri semakin hari semakin lucu..
    nice posting, mbak.
    salam & thanks.

    • Terlepas dari apakah itu budaya kita atau bukan, yang pasti negara ini butuh sosok, idola, contoh, panutan. Keringnya moral disertai ketiadaan contoh.
      Semuanya harus merenung ttg ini :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s