Panjang ya judulnya
Tapi bener kan kalau kita pilih rumah itu ya memang harus mengandaikan diri bahwa akan tinggal di sana selamanya, minimal untuk jangka waktu yang panjang.
Nah, kira-kira sebulan yang lalu, saya menemani Hendra melihat-lihat rumah. Ada tawaran yang cukup menarik dari Kakaknya Saad, yang ingin menjual rumahnya. Kali ini, saya ingin sekedar berbagi tips membeli rumah, yang mungkin berguna ya J
- Lokasi Strategis —- Buat saya ini penting banget. Karena lokasi menentukan prestasi. Hahhaa…iyalah. Misalnya kita tinggal di Bandung tapi kerja di Jakarta. Nah lho, jam berapa sampai kantor. Okelah on time, tapi jam berapa kita dari rumah. Kuantitas dan kualitas bertemu anggota keluarga dapat dipastikan akan berkurang kan?Kemarin itu, kami cek rumah kakaknya Saad yang berada di Pamulang. Jauh buat Hendra dan ehm buat saya juga (berasa rumahnya buat saya! *dipelototin Hendra*
). Tapi sebenarnya ada bala bantuan kata Saad, yaitu kereta api. Nah, permasalahannya, ya itu dia…Hendra jarang banget naik kereta api, kalau bukan untuk keluar kota. Sekali lagi nunduk, Pamulang kan udah di luar kota Jakarta…Lokasi yang strategis buat saya sich artinya dekat sama anggota keluarga lain, rumah sakit, pasar, mall, ya paling gak kemana-mana mudah. Sekali lagi, saya mikirnya efisiensi waktu sich
- Air — Saya kurang mengerti tentang teknis sumber mata air. Yang saya tahu, air yang bagus itu sich dari air tanah, yang diambil pakai mesin Sanyo. Iya, dangkal banget kan pemikiran saya. Soalnya kadang kalau dari PAM, katanya sich bau kaporit. Entahlah ya…selama ini saya selalu pakai air yang dari mesin Sanyo dan ya segar airnya.
- Tidak banjir — Ini juga penting. Sayang rumah bagus tapi berada di lokasi yang banjir. Hahhaah…jadi ingat apartemen di depan kantor saya
- Lingkungan — Nah, ini merujuk ke banyak segi. Baik dari lingkungan yang asri, tetangga yang asyik, dan sekali lagi lokasi rumah. Yang di rumah Saad kemarin, seru tuch. Pohon masih banyak, udara segar banget, dan suasana tetangganya “terlihat” asyik. Dan juga transportasi umum. Apakah rumah tersebut mendapat banyak akses transportasi umum atau tidak. Terus kalau pulang malam, aman atau tidak. Kalau tinggal sendirian di rumah aman gak. Ya kayak gitu lah…
- Infrastruktur rumah — Maksudnya kalau rumah itu berasal dari tangan kedua ya harus lihat hati-hati apakah rumahnya ada yang bocor atau retak atau gimana gitu…kalau rumah baru, perhatikan juga sich apakah pondasinya kokoh atau gak.
Kayaknya gitu dech pertimbangan saya (pribadi) tentang cara memilih rumah. Terus harga gimana? Ya, disesuaikanlah dengan kemampuan. Betul kan?
Tapi lebih penting di atas semua itu, tempati rumah bersama orang yang kita sayangi pasti lebih merasa nyaman dibanding apa pun, kan?
—
NB: Beberapa hari lalu, saya ke Bali (iya, gak nyambung ama tulisan sebelumnya) tapi saking pengennya promosi tanpa berbayar, saya ingin kasih info tempat pijit enak di Bali yang kemarin saya coba. Lokasinya di Legian. Harga murah! Dari yang tradisional Rp 60.000 sampai yang Rp 110,000 (lupa namanya). Cobain dech! Beneran enak
Deva

June 28, 2012 at 10:31 pm
kalau aku lagi nyari juga dev.. pertama aku nentuin itu lokasi.. terus harga.. dan yg lo sebutin di atas baru deh menyusul.. tapi harus.. jadi lokasinya udah pasti tinggal nentuin di daerah itu ada gak yg jual murah dengan fasilitas yg ok.. hehehehe…
June 29, 2012 at 2:12 am
Lokasinya di Jakarta ya Nieeeee hahhahaa…
June 19, 2012 at 3:56 pm
Setuju sama Arman tuh, satu faktor penting adalah harga dong ya, hahaha. Ini aku juga cari-cari apartemen juga susah neh nemuin kombinasi yang pas gitu. Ada yang oke banget tapi harga mahal, ada yg harga terjangkau, eh ada faktor yang mengganjal sehingga nggak bisa diambil, dll, hahaha
.
Cieeh, mau beli rumah Dev?? huahahaha
June 20, 2012 at 2:03 am
Pasti harga di sana mahal2 ya Ko…
Yang beli rumah, bukan aku tapi Hendra. Aku mah numpang aja #eh
June 19, 2012 at 2:34 am
cieh cieh yang mau beli rumaaah *eh*
mungkin pertimbangan lainnya juga harga kali ya dev? kadang kan beberapa yang lokasinya tidak sestrategis yang lain harganya juga jauh lebih murah. Pengalaman beberapa teman, beli rumah yang lebih ke pinggir kota, lebih nyaman, besar, dengan halaman yang luas, lingkungan yang ramah, dan harganya lebih murah. cuma memang harus korban lebih banyak waktu dan ongkos kalo memang tempat aktivitasnya di tengah kota. Ya berarti tergantung mana yang mau diprioritasin sih ya.
btw itu kog nama tempat pijetnya lucu banget “jepun bali”, dan karena kamu bilang jangan perhatikan stiker di tiang listrik aku jadi merhatiin deh!
June 19, 2012 at 2:40 am
Intinya sich kalo ada duit di tangan mah hajar aja ya tipe rumah idaman hahaha…
Eaaa…itu sebenarnya pancingan Na, biar semua orang perhatiin stiker di tiang listriknya
June 18, 2012 at 6:46 pm
yah emang selalu begitu. banyak kriterianya… tapi jatohnya harus yang sesuai juga harganya. masalahnay biasanya yang kriterianya terpenuhi semua, harganya gak cocok. huahaha.
kadang mesti ada yang dikompromikan juga sih kalo beli rumah itu. gak ada yagn bisa sempurna…
June 19, 2012 at 2:15 am
Lebih enak bikin dari nol ya Om…rancangannya dan budgetnya jadi lebih selaras…
June 18, 2012 at 10:50 am
huahaha aku ga merhatiin tulisan di tiang listriknya kok Dev. Yg kuperhatiin bener2 papan plangnya… ada tanda bintang kecil atau tulisan ++ nya ga gitu. huahahaaha *digetok *mesum mode ON
June 19, 2012 at 2:14 am
*getoook* terus tendang sampe ke Timbuktu
June 18, 2012 at 10:04 am
Pijitnya mahal banget
.
Btw, rumah di pantai indah kapuk kan enak tuh
.
June 18, 2012 at 10:11 am
Bukannya itu udah termasuk murah ya? *sombong*
Ah, jauh amat itu pantai indah kapuk…