Cinta

Saat menulis ini, saya terpenuhi perasaan sadar bahwa cinta itu cukup dinikmati, tanpa harus bertanya kapan harus selesai.

Hubungan saya dan dia baik-baik saja, jarang sekali menemui sebuah masalah yang perlu berhari-hari untuk dibahas. Dari awal kami berhubungan, dia sudah melamar saya untuk menjadi istrinya. Tapi karena terlalu banyak pertimbangan, jawaban “iya” dari saya, hanya terpantulkan begitu saja tanpa ada tindak lanjut dari saya. Sampai akhirnya, di awal bulan Syawal kemarin, ia mempertanyakan kembali komitmen saya. Tersadarkan bahwa saya terlalu banyak mengulur waktu dan tanpa tersadari membiarkan hatinya pedih.

Saya hanya perlu sedikit keberanian untuk mewujudkan komitmen tersebut. Syukurlah, tiada satu orang pun di keluarga yang berkeberatan dengan keinginan kami. Mereka semua mengingatkan akan pentingnya tanggung jawab. Dan kami berdua, berkeyakinan dan bersedia memikul tanggung jawab tersebut.

Hari ini, Insya Allah 12 hari menjelang lamaran dan bulan Desember direncanakan menjadi waktu kami mengikat janji suci, saya semakin tersadarkan bahwa saya sudah membuang waktu.

Keinginan untuk menyegerakan niat baik ini semakin hari semakin besar. Ada perasaan bahagia yang sering bingung diwujudkan dengan cara apa, ada perasaan tidak sabar, ada semangat di dalamnya, dan sedikit rasa gugup menghadapi hari H.

Ada yang bilang bahwa saat mempersiapkan pernikahan, tekanan datang dari mana saja dan dapat membuat tensi kedua pihak naik. Saya? Merasakan hal tersebut. Tapi sungguh ketika rasa ‘gregetan’ itu tiba dan melihat dia yang sangat tenang, rasanya saya malu sekali. Tidak jarang, saya hanya menutup mulut dan membiarkan dia menjabarkan langkah apa yang harus saya ambil.

Saya masih ingat ketika dia datang ke rumah, berhadapan dengan kedua orang tua saya untuk meminta ijin menikahi saya. Saya melihat ketenangan luar biasa yang keluar darinya. Dua laki-laki bicara, tentang cinta dan tanggung jawab.

Dan kini, semakin hari, perkataan “aku pulang dulu ya” atau “besok ketemu lagi kan?” menjadi keperihan tersendiri karena keinginan untuk selalu bersama semakin besar. Dan kesadaran bahwa di masa depan, Insya Allah, kami akan selalu bersama, merupakan sebuah masa yang ingin sekali segera kami raih.

Teruntuk kamu,

Terima kasih. Aku sayang kamu.

Deva

About these ads

33 thoughts on “Cinta

  1. Kalo dalam skala ku, masalah yang perlu berhari hari dibahas itu mahasalah berat banget, karena kita ngga pernah punya masalah sampe berhari hari, masalah berhari hari kita ya itu masalah ngurusin kawinan. selain itu, masalah kita selse saat itu juga detik itu juga, mungkin karna kita orang nya ngga suka masalah yang terlalu panjang…. Ya intinya sih, apapun masalahnya, pasti bisa di selesaikan la, mau lama mau cepat, yang penting masih saling cinta :)

  2. waaahhh.. selamat ya dev.. seneng dengernya.. jadi terinspirasi juga untuk menceritakan sesuatu di blog.. hmm..

    btw desembernya kapan?? aku ada rencana kejakarta bulan desember nanti.. :)

  3. Waaah, aku seneng dengernyaaaa! Klo tiap teringat si pemuda yg minta ijin ke bapak itu selalu bikin terharu ya…Mdh2an lancar acara lamarannya dan juga nanti ketika hari H. Amin! *kecup jauh*

    • Iya Van, makasih yaaaa…aku senang kabar ini bisa bikin orang-orang senang juga. Mohon doanya ya Van biar lancar. Aku undang kamu tapi gak pake tiket yaaa :-P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s