Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


33 Comments

Review; Reading Walk

Pernah gak sich merasa kalo, “Ish…buku impor mahal banget! Gak redo ngeluarin duitnya!”

Saya sich sering kayak gitu. Masih ingat dulu jaman kuliah waktu lagi skripsi, butuh banget bukunya Muhammad Yunus, biografinya kalo gak salah dan nitip dibawain sama kakak  yang kebetulan akan datang ke Jakarta. Kok ya repot? Ya abisan gimana, kalau beli mahal banget. :D

Jadi ya gitu…

Emang sich mahal atau murah relatif ya. Ada yang bilang 300ribu untuk satu buku ya murah tapi ada juga yang melotot sambil bilang, “GILA MAHAL BANGET, MENDINGAN BELI KAOS ZARA DECH!”

Ya…itu tergantung list prioritas masing-masing orang jadinya kan?

Nah, berhubung saya lagi semangat banget untuk semakin sering baca novel impor, saya jadi lagi sering berburu buku impor dech. Saya paham banget kalau buku impor itu jarang euy di Gramedia. Waktu pulang kantor, saya minta ditemenin Suami ke Gramedia Gandaria City untuk cari novel impor asyik dan hasilnya…ya gak nemu. Mentok adanya Paulo Coelho, Daniel Steel, sama apa gitu. Gak hapal. Banyak yang bilang kalau Paulo Coelho bagus. Iya kuote nya Coelho sering beredar di timeline twitter saya tapi untuk baca novelnya…mmm belum tertarik.

Kalau novel yang serius, saya masih ngincer Haruki Murakami. Tapi gimana ya…otak saya lagi butuh yang sederhana aja. Gak lain gak bukan ya Sophie Kinsella. :P

Harga rata-ratanya sich masih di bawah 100 ribu dech :D

Terus apa hubungannya sama Reading Walk, yang ditulis di judul tulisan ini?

Hubungannya adalah…

Kalau ada yang mau baca buku impor tapi merasa gak mau beli, yawda minjem aja di Reading Walk. Murah kok. :D

Kira-kira sebulan lalu, untuk pertama kalinya saya minjem buku dari Reading Walk yang judulnya “The Time Traveler’s Wife”. Impor dan soft copy. Kondisinya oke banget plus disampulin pula. Tambahan lagi, gak ada kertas yang terlipat karena Reading Walk menyediakan pembatas buku di dalamnya. Horray gak tuch? :D

Berapa lama ya saya minjemnya? Mmm…2 minggu. Kena biaya Rp 37 ribuan. Dianter ke kantor via kurir. Dan yang bikin saya kagum ke kurirnya adalah karena pada saat saya balikin buku, saya lihat daftar peminjam bukunya Reading Walk buanyuak banget! Itu tas ransel kurirnya aja gede dan dia bilang kalau isi tasnya ya buku semua! Ckckckck…

Selain itu, Reading Walk juga bisa jadi wadah untuk menyewakan buku kita. Saya sempat tuch email Reading Walk untuk bertanya mengenai hal ini lebih lanjut dan ini jawaban mereka:

Terimakasih atas ketertarikan kamu pada sistem Titip Buku ReadingWalk.

Secara garis besar, bila kamu menitipkan buku di ReadingWalk, setiap kali buku kamu disewa oleh member kami, maka kamu akan memperoleh share atau bagian dari hasil penitipan tersebut.

Lebih detailnya mengenai perhitungan bagi hasil, lama periode penitipan buku, dsb, dapat dibaca di attachment yang ada di email ini. Kami juga melampirkan template perjanjian (bila nantinya terjadi kesepakatan).

Dan bila kamu merasa ingin bergabung dengan sistem Titip Buku ini, mohon isi Daftar Buku Untuk Dititipkan yang juga kami lampirkan dalam email ini.

Kalau kamu masih bingung atau masih ada pertanyaan, feel free to contact us!

Jadi daripada berkeluh kesah karena harga buku impor yang emang mahal, saya sich mau coba-coba minjem lagi sama Reading Walk.

Eh, jangan-jangan di sini udah pada nyobain Reading Walk juga ya? :D

Deva


12 Comments

DIVORTIARE; DARE TO READ?

Buku pertama yang saya baca di tahun 2013 adalah sebuah novel metropop yang berjudul Divortiare karangan Ika Natassa. Sebenarnya saya sudah ingin membeli novel ini sejak tahun lalu karena tertarik dengan cover bukunya yang bersih dan ada general warning segala, seperti “may cause prolonged delusion, hyper-romanticism, temporary insanity, insomnia, selective memory loss, spontaneous crying, uncontrollable giggles, changes in appetite, irresistible urge to write quotes, compulsive buying, unexplainable peace of mind”. Lengkap gak tuch warning-nya? Serem? Lumayan. Sempet mikir, apakah abis ini saya mendadak galau, cengeng, dan mendadak pujangga dengan menulis pepatah-pepatah atau bahkan minta uang belanja yang banyak ke suami? :P

Nah, keinginan untuk beli novel ini semakin tidak terbendung sejak mengamati timeline saya yang sering penuh dengan testimonial para penggemar novel-novel Ika Natassa. Mereka ini bisa dibilang penggemar garis keras-nya Antalogi Rasa, Divortiare, sampai Twitvortiare. Bahkan Ika Natassa semakin memanjakan mereka dengan membuat akun twitter para tokoh di novelnya.

Terus semakin ke sini, saya semakin suka dengan Ika Natassa as public figure karena isi twitnya yang cerdas, witty, dan smart. Hahaha…diulang kata-kata cerdas dan smart. But she’s really smart! Dari nulis twit tentang perbankan (dunia kerjanya), dunia percintaan yang ditulis dengan tidak mellow, dan berbagai tips of life. Pokoknya baca timeline Ika Natassa bisa memberikan sedikit stimulus bahwa “jadi orang pintar itu seksi.” Ah, iya saya perempuan. Gak ada salahnya toh bilang kalau saya pengagum perempuan cerdas :)

Kembali ke novel Divortiare.

Kalau kamu suka dengan novel yang ringan tapi penuh dengan kalimat smart, you have to buy this novella.

Banyak kalimat percintaan yang dalem, santai, dan membuat kita mikir.

“Commitment is a funny thing you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.”

Jadi, si tokoh utama, yang namanya Alex (perempuan) ini dulu pernah menikah dengan laki-laki pujaannya, seorang dokter. Tapi pernikahan mereka gak berhasil karena kekurangan waktu untuk berkomunikasi. Seorang dokter bedah dan seorang banker yang sukses. Silahkan bayangkan bagaimana waktu mereka bisa bertemu dalam sehari? Ada, tapi sangat jarang. Mereka pun akhirnya bercerai tapi sulit bagi Alex untuk melepaskan bayangan mantan suaminya, Beno. Bahkan untuk menghapus tato nama Beno di dada Alex, butuh waktu 2 tahun. Yeah…again, berkomitmen itu tidak mudah.

Tidak mudah pula bagi Alex untuk memulai hubungan yang baru dengan teman lamanya di Australia yang bernama Denny? Dari sekedar kenalan bahkan sampai memutuskan untuk menikah?

“What is so bad about dating Denny? Honestly nothing.”

Yuk tebak, jadikah si Alex menikah dengan Denny? :P

Plot Divortiare ini berjalan maju mundur. Tapi saya suka. Alurnya sangat rapi dan cair.

Jenis cerita yang membuat pembaca, ini sudut pandang saya ya, susah untuk menutup buku. Tapi beneran, kalau kamu baca novel ini tapi sedang dalam kondisi yang galau, mendingan tidak usah. Karena galaunya bisa semakin maksimal. Bahkan saya pernah lagi di bab berapa gitu, lupa, karena mikir tiap kata-katanya malah yang ada beda pendapat dengan suami. Padahal sich beda kasus banget. Padahal pula pendapat suami tidak bikin salah. Ababil banget gak sich saya? :|

Tuch kan benar general warning-nya, bisa hyper-romanticism yang kalau kita gak dapatkan sisi romantis dari pasangan, yang ada kesel! Atau saya aja kali ya yang lagi lebay kemarin-kemarin.

Saya suka novel ini. Banget. Tapi kayaknya saya gak mau simpan novel ini di rumah dech. Gawat kalau baca lagi terus akhirnya berlebay ria untuk hal yang gak penting karena terlalu masuk ke alur cerita. Seriously. Akhirnya novel ini sudah saya niatkan untuk dikasih ke sahabat saya, si Saad hahhahaa…

Jadi pertanyaan di judul tulisan ini bisa terjawab gak? Do you dare to read Divortiare? :)

Deva


16 Comments

Tere Liye

Pernah dengar nama Tere Liye gak sebelumnya?

Saya pertama kali dengar nama Tere Liye adalah dari Saad.

Di telepon…

Saya: Lagi ngapain?

Saad: Lagi baca…(suara males ngomong)

Saya: Baca apa?

Saad: Tereliye…

Saya: Hah? Apaan tuch?

Saad: Ya buku

Beneran, gak asyik ngajak ngobrol Saad kalau dia lagi serius baca buku. Hahaha…salah saya juga sich ya…

Nah, terus si Saad beberapa kali selalu bilang buku Tere Liye itu bagus, apa lagi yang judulnya Hafalan Sholat Denia. Mmm…apa lagi itu…setahu saya itu kan judul film dan saya juga gak nonton sich…

Sampai akhirnya semalam saya dan Ndra ke Gramedia.

Udah berkali-kali batal untuk beli novel Partikel-nya Dee Lestari. Ya berhubung saya belum pernah baca Supernova sebelumnya jadi pengen beli dari nomor 1.

Nemu. Pegang.

Terus jalan-jalan lagi. Eh, duduk cantiklah saya di deretan buku Tere Liye.

Ada sebuah buku yang judulnya membuat saya penasaran yaitu ‘Ayahku (Bukan) Pembohong’.

What kind of this book?

Saya baca referensi di belakangnya. Ternyata Tere Liye penulis favorit di Goodreads Indonesia. Wow…

Saya ubek-ubek untuk tahu siapa Tere Liye tapi gak nemu.

Entah kenapa saya jadi penasaran banget sama sosok Tere Liye.

Novel Supernova no 1 dan 2 saya tinggal. Saya ganti dengan Tere Liye saja.

Laporan dong ke Saad via wats up.

Saya: Gw beli Tere Liye akhirnya.

Saad: Hahhaa…beli juga. Judulnya apa?

Saya: Ayahku (Bukan) Pembohong. Doi orang mana sich?

Saad: Gak tau tapi settingnya kebanyakan di Indonesia.

Saya: Ooo…soalnya di buku yang ini gak tertulis jelas setting lokasinya.

Asli. Saya penasaran.

Karena saya tuch tipe orang saat baca novel sering banget membayangkan “kok bisa ya penulisnya bikin cerita kayak gini? Apa alasan dia sampai mau membuat cerita kayak gini?”

Saya termasuk orang yang percaya kalau buku itu ya curhatan penulis, sekalipun hanya fiksi.

Googling-lah saya. Ternyata Tere Liye ini kelahiran Palembang. Ada website pribadinya di multiply atau facebook nya.

Terus gimana isi buku Ayahku (Bukan) Pembohong?

Menarik. Seorang anak yang mempunyai ayah yang hobi bercerita (persis seperti papaku). Tapi entah kenapa anak ini sekarang tidak suka mendengarkan ayahnya bercerita sedikitpun.

Kok belum tahu? Ya iyalah, saya aja bacanya baru sampai bab 6 :D

Deva


22 Comments

Bermain Kata di T(W)ITIT!

“Jantung Sumali semakin terasa berdebar. Namun ia masih mencoba bersabar. Pandangannya pun berpendar-pendar. Maka dihirupnya napas dalam-dalam demi mendapat udara segar. Namun tindakannya itu tidaklah membantu benar. Karena Sumali malah jadi sadar jika penantiannya hanyalah sebuah kelakar. Seharusnya sudah sejak awal Sumali tahu diri jika dirinya kemungkinan besar hanya dipandang layaknya ulat tua yang rindu menyantap daun segar.”

(UGD – hal 3)

Apa yang menarik dari contoh cuplikan cerita pendek di atas? Saat menyadari keunikannya, saya merasa kecanduan untuk terus membaca kumpulan cerita pendek Djaenar Maesa Ayu ini. Kalimatnya yang berima, tidak lantas membuat kalimat terajut secara dipaksa. Semua mengalir tanpa terasa dibuat pola. Keunikan ini ternyata saya temui hingga halaman terakhir T(W)ITIT! meskipun tidak di semua paragraf.

Keunikan lainnya adalah semua nama tokoh utama di dalam cerita pendek ini adalah Nayla. Satu nama berbeda cerita, tema, dan latar belakang. Satu pesan yang saya tangkap dari pemberian nama tokoh utama ini adalah tiap orang selalu mempunyai cerita yang berbeda sekalipun nama mereka sama. Sekalipun nama mereka diharapkan dapat membawa bau yang harum sepanjang hidup.

Selain dua keunikan tersebut, jalan cerita di tiap judul selalu memberikan kejutan bagi saya. Terutama karena saya merupakan tipe pembaca yang menjauhi sebuah cerita yang terasa sudah bisa ditebak alurnya. Dan ada satu cerita yang saya pikir, ini mungkin adalah ‘cerita colongan’nya Djaenar. Terasa bahwa Nayla kali ini adalah Djaenar itu sendiri. Entah benar atau tidak.

Yang membuat buku ini semakin menarik adalah di tiap ceritanya akan diawali dengan status Twitter Djaenar yang selama ini berkeliaran di timeline saya. Ternyata dari tiap status adalah dasar dari setiap cerita pendek di T(W)ITIT!

Dari 11 cerita pendek di buku ini, termasuk cerita dengan judul buku ini, ada satu cerita yang benar-benar saya sukai, judulnya adalah Nayla.

Status twitter untuk mengawali cerita ini adalah “Deeper than my fear of what might happen to this country is my despair.”

Kali ini Nayla berperan sebagai seorang anak perempuan kelas 6 SD yang sudah berkali-kali diminta oleh pihak sekolah untuk mengganti rok sekolahnya yang sudah terlalu pendek dan ‘bisa menimbulkan nafsu’.

Konflik dalam cerita ini bukan hanya tentang ibunya yang tidak bisa mengganti rok sekolahnya tapi lebih dalam daripada itu, ibunya mengganti profesi ibu rumah tangga menjadi pelacur sejak ayah Nayla pergi dari rumah, begitu saja. Seorang pria yang memilih untuk pisah dengan istrinya karena istrinya ‘berpenampilan tak ubahnya dengan babu’. Sederhana kan? Tapi sangat logis.

Konflik tersebut teramu dengan kalimat yang berima satu sama lain. Sampai akhirnya paragraf terakhir cukup membuat saya tersenyum satir.

“Gemetar tangan Ibu kala memegang selembar kertas di tangannya. Merah mata Ibu kala menghadapi petugas berseragam di depannya. Basah mata Ibu kala petugas itu mengatakan jika anaknya harus tinggal semalam lagi demi menuntaskan pemeriksaan atas laporan pemerkosaan yang dialaminya dalam angkutan umum karena keterangan saksi mengenai rok seragam sekolah yang dikenakan Nayla di atas tumit harus benar-benar diusut demi terlaksananya keadilan dalam penegakan hukum.”

(Nayla, hal 16)

Saya tidak akan membahas apa yang ada di kepala saya saat membaca kalimat terakhir ini. Tapi setelah membaca cerita ini, saya perlu mengambil jeda sejenak sampai akhirnya tersadar betapa nyata cerita ini di sekitar kita.

Kembali ke keseluruhan cerita di T(W)ITIT!

Sebagai seorang pembaca yang baru pertama kali membaca karangan Djaenar, saya akhirnya bisa mengatakan bahwa buku T(W)ITIT! layak dibaca sebagai teman minum kopi. Bahkan mungkin ada beberapa cerita di buku ini yang dapat dijadikan sebagai awal diskusi dengan seorang teman…di kedai kopi.

Sama seperti Djaenar yang menulis Coffeewar di akhir tiap ceritanya, kecuali saat di Mimpi Nayla.

Deva


14 Comments

Tiga Buku Beda Gendre

Jika kalian merupakan followernya Djaenar Maesa Ayu di Twitter pasti tahu kalau sudah ada kumpulan cerpen terbaru darinya yang berjudul T(w)ITIT! Yaitu kumpulan cerita pendek yang dilatarbelakangi dari status-statusnya di Twitter. Saya lumayan penasaran karena sebelumnya saya belum pernah sekali pun membaca karya Djaenar padahal namanya sudah terkenal kan dengan karyanya yang berjudul “Mereka Bilang Saya Monyet” atau “Satu Perempuan 14 Laki-Laki”. Tertarik sich tapi belum pernah membacanya.

Pun ketika saya bertemu dengannya di Ubud Writer and Reader Festival yang lalu, saya benar-benar tidak tahu hasil karyanya, hanya sekedar tahu judulnya saja. Ada yang menarik saat Djaenar menjadi pembicara di UWRF kemarin. Dia adalah penulis Indonesia pertama yang berada di venue saya yang menggunakan bahasa Indonesia! Yang lainnya kan ya menggunakan bahasa Inggris. Alasan Djaenar waktu itu adalah dia cinta dengan bahasa Indonesia. Pembawaan Djaenar juga unik di mata saya. Lagi, dia satu-satunya pembicara yang membawa dan meminum bir saat di hadapan para penonton. Santai sekali. Kalau tidak salah, tema yang diusung saat dia menjadi pembicara adalah keberadaan penulis wanita di Indonesia. Saat itu, Djaenar hadir bersama Julia Suryakusuma dan seorang penulis perempuan lain (hehehe saya lupa namanya). Nah, Djaenar mengawali ceritanya dengan latar belakang keluarga dia yang menjunjung tinggi kebebasan bahkan dia juga sempat menyinggung sedikit tentang keadaan rumah tangganya. Sampai akhirnya dia bicara tentang novelnya yang berjudul “Ranjang” yang belum selesai ia tulis. Saat itu, ia mengatakan bahwa salah satu kendala belum selesainya novel “Ranjang” mungkin karena sampai saat ini ia hanya tidur dengan satu laki-laki. Eaaa….perkataan-perkataan Djaenar ini langsung menuai protes seorang bapak yang menjadi peserta seminar tersebut. Ya biasalah selalu ada kontroversi di setiap pandangan yang tidak biasa. Itu kan tergantung pikiran kita mau mengartikannya seperti apa. Saya tidak ambil pusing dengan hal-hal seperti itu. Buat saya, setiap orang bebas melakukan apa saja asal tidak merugikan orang lain. Aman kan? :)

Nah, selain di UWRF saya juga pernah mendengar seminarnya Mbak Djaenar di Wordisme lalu. Sama lah dengan gayanya di Bali, jadi ya memang itulah Djaenar. Karena itulah akhirnya kemarin saya membeli bukunya. Ingin tahu hasil karyanya. Ingin mencoba tenggelam ke pikirannya saat menulis sebuah cerita yang sering disalah artikan oleh orang-orang, yang terlanjur mencap Djaenar “terlalu berani” untuk ukuran norma Indonesia.

Nemu! Tapi belum dibaca hehehe…kenapa?

Karena saya mendahulukan membaca Conan nomor 65!!! Wohoooo….penasaran gila dengan kelanjutan cerita Conan nomor 64 kemarin yang ceritanya tentang Kid Si Pencuri! Hehehe…jadi heboh sendiri. Hidup Sinichi Kudo! Eh, shock dong, baru buka Google nemu web Mangareader — saya bisa baca Conan semuanya donggggg!!! Iya ya? *nanya ama siapa coba*

Terus, selain T(w)ITIT! dan Conan, kemarin saya juga membeli novel Ahmad Fuadi yang judulnya Ranah 3 Warna, yang merupakan sekuel dari Negeri 5 Menara. Buku ini sudah lama sich terbitnya tapi saya baru beli kemarin.

shop-R3W-sfSMS

Sebenarnya saya juga lagi mau membaca novelnya Paulo Coelho atau Haruki Murakami. Tapiiii kemarin gak ada tuch bukunya, yang ada novel terjemahan Paulo Coelho yang judulnya 11 menit (judul asli: 11 minutes). Mmm…saya lagi pengen baca versi aslinya, bukan terjemahan hehehe…

Jadi, ya itu dech 3 buku beda gendre yang saya beli kemarin. Siap dibaca!

Deva


12 Comments

Buku Pertama 2012

Sebenarnya ini seharusnya ditulis buku pertama yang selesai dibaca tahun 2012, tapi berhubung kepanjangan untuk menjadi sebuah judul jadi ya ditulis seperti di atas saja ya. Judul bukunya adalah “Your Journey to be the Ultimate U” yang ditulis oleh Rene Suhardono. Buku ini saya beli di akhir bulan Desember tapi baru selesai dibaca menjelang tahun baru 2012.

Bicara tentang Rene Suhardono pasti tidak akan terlepas dari sebuah kata yaitu ‘passion’. Dari Rene-lah saya baru tersadar tentang pentingnya sebuah ‘passion’ dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dan akhirnya semakin yakin bahwa kalau title pekerjaan ya bukanlah akan seumur hidup menjadi karir kita. Hidup kita lebih luas dari sekedar job description, berangkat kerja setiap hari. Hidup kita lebih berharga dari semua gaji yang dikumpulkan seumur hidup kita.

Rene Suhardono sudah membuat 2 buku dan semuanya tentang passion. Tapi buku pertama yang berjudul “Your Job is not Your Career” (yang didalamnya juga ada buku berjudul “Career Snippet”) tidak saya beli karena saya sok tahu! Hahaha…iya, saya sudah sering mendengarkan, bertemu dan membaca banyak tentang materi buku tersebut sampai saya mikir “Ah, ngapain beli bukunya toh isinya saya sudah tahu!”. Hahaha…sok tahu banget ya!

Nah, kenapa akhirnya saya beli buku “Your Journey to be the Ultimate U”? Karena sejujurnya saya penggemar tulisan-tulisan Rene di Kompas setiap hari Sabtu yang ada di kolom Ultimate-U. Karena sangat suka dengan tulisan-tulisannya, saya sampai sempat mengkliping artikel ini tapi ya namanya juga Deva, jadi sering datang malasnya. Kliping gak lancar dech. Makanya ketika saya tahu Rene mengumpulkan semua tulisannya di kolom Kompas dalam bentuk buku, ya saya senang banget! Tidak usah repot lagi dech..

Cara Rene menulis tentang karir, hidup dan passion bukanlah seperti seorang motivator yang menggunakan kata-kata indah dan saya juga bukan penggila kata-kata mutiara. Rene menulis sesuatu yang memang nyata terjadi sehari-hari dan berdasarkan pengalamannya sendiri. Pindah dari profesi banker. Gagal membuat restoran padahal itu adalah salah satu passionnya. Dan sekarang mempunyai banyak karir yang bertujuan untuk membuat dirinya lebih berguna buat sekitarnya.

Pemaparan buku ini mungkin santai tapi tiap selesai membaca satu artikel, saya harus rehat sebentar untuk mencerna isi buku ini. So, jika ada yang tertarik membeli buku ini saya saranin sich tidak perlu terburu-buru menamatkan bab per bab. Just enjoy the words.

Satu kalimat yang mungkin sebenarnya bisa menjadi kunci pembahasan buku ini adalah Rene ingin menyadarkan kita bahwa masing-masing dari tiap manusia itu unik dan tidak perlu berlomba-lomba untuk menjadi orang lain. Just be the best version of you and invest your time to be more useful to your environment.

Deva


4 Comments

Sisi Lain Greg Mortenson

Di blog ini saya pernah mengulas dua buku dari Greg Mortenson yang berjudul Three Cups of Tea dan Stones Into Schools. Kenapa saya mengulas kedua buku tersebut? Karena saya menyukai semangat penulis untuk membangun sekolah-sekolah di pelosok Afganistan dengan tujuan melawan pembodohan, kemiskinan dan terorisme. Terlebih lagi Greg Mortenson adalah seorang Amerika dan “hanya” seorang perawat yang kebetulan datang ke Afganistan untuk mendaki gunung K2 sebagai penghormatan terakhir adiknya yang meninggal dunia.

Kurun waktu yang saya habiskan untuk membaca Stones Into Schools jauh lebih lama ketimbang saat membaca Three Cups of Tea. Alasannya hanya satu, malas. Bukan karena tidak menarik tapi karena belakangan ini mata saya sulit bekerjasama jika membaca buku di bis dan itu satu-satunya kesempatan saya membaca buku (jika sudah malam, saya lebih baik tidur mengistirahatkan mata ketimbang harus membaca buku dan membuka laptop terus). Nah, buku Stones Into Schools baru saya tamatkan saat berada di Bali kemarin. Uda Ed melihat buku tersebut dan bertanya, “Why you read this book, Deva?”

Dan saya jawab singkat banget, “Coz I like the spirit inside this book, Uda.”

Setelah itu tidak ada obrolan lanjutan tentang buku ini. Sampai akhirnya kemarin saat menunggu Kakak saya check in di bandara. Saya dan Uda Ed serta Mama sedang duduk di luar ruangan check in.

Saya: “Uda, pas Uda di Afgan pernah ketemu Greg Mortenson gak?” — Uda Ed bisa bahasa Indonesia kok :)

Uda Ed: “Belum pernah.”

Saya: “Dia terkenal gak sich di Amerika?”

Uda Ed: “Yes, he is famous but not in a good way.”

Saya: (kaget) “Why?”

Uda Ed: “Kamu belum tahu memangnya?”

Saya: “Apa?” (intensitas penasaran meningkat).

Uda Ed: “Apa yang dia tulis di novelnya Three Cups of Tea dan Stones Into Schools tidak semuanya benar, Deva.  Enam atau delapan bulan lalu terkuak kabar dia itu melakukan penipuan uang donor. Jadi, tidak semua uang donor ia gunakan untuk membangun sekolah, jumlah sekolahnya pun tidak sesuai dengan apa yang ada di buku, beberapa sekolah ada yang sudah tutup yang mungkin disebabkan tidak ada guru, meja, fasilitas, dan si Greg katanya sering menginap di hotel bintang 5.”

Saya: “REALLY????????” (saya kaget setengah mati mendengar kisah ini).

Uda Ed: “Browsing aja, Dev.”

Akhirnya saat itu juga saya browsing dan benar atas semua informasi yang dikatakan Uda Ed. Ternyata bulan April ada pukulan berat yang dialami Greg Mortenson. Pencarian informasi ini terus saya lakukan hingga kemarin. Dan ini linknya:

  1. http://ikat.org/wp-includes/documents/60minutesresponses.pdf
  2. http://ikat.org/wp-includes/documents/gmresponse.pdf
  3. ‘Three Cups Of Tea’ Author Greg Mortenson Still Being Burned By Fraud Scandal”
  4. Greg Mortenson Speaks

Hah…saya tidak bisa mengatakan apapun lagi. Hanya kaget dan menunggu, mudah-mudahan ada buku ketiga dari Greg Mortenson yang bisa menjelaskan secara clear tentang permasalahan ini. Saya tidak ingin mengambil kesimpulan siapa yang benar dan siapa yang salah. Paling tidak, buku-bukunya Greg Mortenson telah pernah menginspirasi saya dan pernah menjadi penguat keyakinan saya bahwa kemiskinan, pembodohan dan terorisme bisa dilawan dengan pendidikan.

Anyway, novel Three Cups of Tea saya dihilangkan oleh sahabat saya dan baru saja saya sms minta untuk diganti, hehehe…

Deva


12 Comments

Indra Herlambang Berkicau Secara Kacau?

Enggak! Iya, enggak! Justru sebaliknya Indra Herlambang, yang menjuluki dirinya sebagai penulis galau, justru menulis dengan kece banget. Sebuah buku yang berisikan pikiran-pikiran Indra Herlambang tentang teman, life style, relationship, Indonesia dan keluarga.

Covernya segar banget :)

Di antara berbagai tema yang dibahas oleh Indra dalam buku ini, bab mengenai relationship dan keluarga justru nembak saya banget. Bukan berarti saya tidak suka dengan bagian yang lainnya, cuma ini tentang “bab apa yang paling saya suka”. Duile…

Sebagai seseorang yang sama-sama pernah merasakan perselingkuhan (tepok jidat) saya ngerti posisi Indra saat ada temannya yang curhat tentang dia sedang berselingkuh dan menjadikan perselingkuhan itu sebagai bumbu-bumbu asmara. Sahabat saya pun bercerita dengan detail bagaimana cara dia bermain di belakang pasangannya. Ya, paling yang bisa saya lakukan adalah ngomong hal normatif dengan cara yang tidak bernorma (hahaha…) atau paling mentok mendengarkan saja cerita kelamnya itu.

Titik persamaan Indra dengan saya adalah kita berdua sama-sama menyadari bahwa siapa pun tidak berhak untuk menilai apakah perselingkuhan itu salah atau tidak, kecuali orang yang sedang menjadi subjeknya ya. Karena kita tidak pernah tahu alasan sebenarnya, mengapa ia melakukan perselingkuhan tersebut. Yang pasti sakit ya kalo menjadi korban perselingkuhan.

Siapa pun yang pernah menjadi korban perselingkuhan pasti akan mengalami 3 pilihan hidup. Yang pertama, menjadi peselingkuh (teori junior yang dulu dikasarin senior, eh akhirnya kelak menjadi senior yang kasar kepada junior) atau menjadi orang yang sangat hati-hati dalam memilih pasangan (syukur-syukur tidak menjadi protektor yang berlebihan) dan pilihan ketiga adalah santai saja menjalani hubungan (intinya: sudah berhasil mengobati diri sebagai korban perselingkuhan). Terus, pilihan saya apa? Syukur bahwa saya pernah menjalani 3 pilihan itu dan sekarang sudah nyaman berada di fase pilihan yang ketiga. Entah, apa pilihan Indra Herlambang.

Lalu tentang bab yang membahas keluarga. Sempat keluar air mata, ya sedikit aja sich. Lebih merasa ngilu saat membaca bab ini. Memang dech, kasih sayang orang tua tidak ada habisnya. Terkadang mata dan hati anak yang terlalu buta untuk melihat hal ini.

Ternyata oh ternyata orang tua Indra Herlambang masih setia menunggu dia pulang, sedini apa pun. Sama lagi dengan saya. Nah, pernah suatu ketika saya pulang malam banget, sekitar jam 12 malam (lembur parah sodara-sodara!!!). Buka gerbang ternyata Mama dan Papa saya masih duduk di teras rumah. Menunggu dan memastikan bahwa saya pulang masih utuh (maksudnya otak tidak tercecer di jalan, hahahahhaa). Tapi terkadang, saya masih sering alpa memberikan mereka kasih sayang dan perhatian yang cukup. Dengan alasan penat karena pekerjaan, saya lebih memilih menghabiskan akhir pekan bersama teman-teman dibandingkan dengan keluarga (tapi sekarang  sudah hampir 2 bulan lho saya weekend lebih sering di rumah :) ). Saya juga masih ingat ketika putus dengan pasangan, subuh-subuh masuk ke kamar orang tua hanya untuk minta dipeluk sama Mama. Yeap, ini pengakuan bahwa saya anak manja!

Halaman demi halaman dalam bab keluarga benar-benar menyadari saya bahwa saya masih kurang sekali mengambil peranan sebagai anak yang baik di keluarga. *malunya…*

Mau bahas tentang bab Indonesia? Mmm…gaya bahasanya masih santai, fenomena yang diambil pun luar biasa sederhana tapi nusuk, bagus kok. Dengan adanya bab mengenai Indonesia di buku ini, memperlihatkan kalau Indra Herlambang adalah seorang artis yang tidak apatis kok dengan isu-isu Indonesia. Saya paling ingat dengan bahasa Indra saat membahas tentang demonstrasi 98 dan tentang Arthalita Suryani (dan penjara mewahnya). Di artikel tentang demo 98, Indra menceritakan bagaimana dulu ia juga ikutan demo saat masih kuliah di ITB dan bagaimana pandangannya dengan demonstrasi yang marak terjadi sekarang. Sedangkan tentang Arthalita, Indra bertanya di akhir paragrafnya (kira-kira seperti ini) “sebenarnya yang merdeka itu siapa, kita yang di luar penjara atau mereka yang di dalam penjara?”

Ya, masih banyak lagi yang dibahas Indra Herlambang dalam buku ini. Buat saya buku ini buku penulis galau yang berkicau dengan tidak kacau, tidak seperti para pengicau kacau dalam sinetron politik di televisi.

Deva


17 Comments

Pernikahan Dini

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah artikel di National Geographic Indonesia edisi Juni 2011.

Source: National Geographic Indonesia

Dulu, sewaktu saya masih SMU, saya pernah mengikuti lomba debat SMU se-Jakarta mengenai pernikahan dini. Ketika itu, pernikahan dini mengandung makna sebuah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang berusia belia, sekitar 18-22 tahun, yang belum berpenghasilan stabil. Tapi kemarin, ketika saya membaca NGIndonesia, pernikahan dini artinya pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang memang benar-benar dini usianya, dimulai dari umur 5 hingga di bawah 18 tahun. Dan fenomena ini bukan saja terjadi di satu negara tapi telah terjadi di beberapa negara berkembang, seperti di Yaman Utara, India, Pakistan atau Bangladesh. Jelas, bahwa fenomena ini melanggar aturan negara. Oleh karena itu, banyak yang menggelar pernikahan dini di malam hari untuk menghindari polisi dan petugas keamanan lainnya.

Saya bukanlah orang yang paham seluk beluk peraturan negara dan agama, dalam hal ini agama Islam yang menjadi agama mayoritas di negara-negara tersebut di atas. Ada berbagai jenis pernikahan dini yang terjadi, misalnya mempelai perempuan berusia 5,6,7, dan seterusnya menikah dengan laki-laki berusia sebaya atau bahkan berusia 20, 30, 40 tahun. Di titik ini, saya merasa bahwa pernikahan dini yang dimaksud adalah pernikahan dengan mempelai perempuan yang berusia dini. Karena dari keseluruhan artikel, yang berusia dini ya perempuannya. Sedangkan usia laki-lakinya bervariasi.

Saya sempat bertanya dalam hati, “Jika pengantin perempuannya masih semuda itu, bagaimana dengan malam pertamanya?”

Dan saya pun menemukan paragraf yang menjawab pertanyaan tersebut, “Tentu saja setiap anak perempuan pasti takut menghadapi malam pertamanya, lama-lama juga terbiasa, dan kehidupan berjalan terus.” (Kepala Daerah Yaman hal 73).

Sungguh mengejutkan jawaban dari narasumber tersebut.

Ada pula yang menjelaskan bahwa sekali pun mereka menikah muda, hubungan intim akan dilakukan jika mereka sudah memasuki masa akil balig, jadi selama menunggu, mereka akan tinggal di rumah yang terpisah.

Merasa tidak setuju dengan pernikahan seperti ini? Saya juga tidak setuju. Tapi ada beberapa alasan yang menyebabkan terjadinya pernikahan ini, antara lain karena hutang piutang dan ada juga karena “kekhawatiran orang tua jika anak perempuannya diperkosa sebelum menikah”.

Banyak penjelasan yang menarik dalam artikel ini di NGIndonesia. Membuat saya terkaget-kaget, geleng-geleng kepala dan menghela nafas panjang.

Saya sempat men-tweet beberapa pendapat saya di akun twitter saya, antara lain:

  1. Pernikahan dini ternyata banyak terjadi di berbagai benua,penyebab utama: HUTANG KELUARGA!!!
  2. Ada yang berusia 14thn sudah punya anak usia 2 tahun dan satu lagi berusia 2 minggu. Dan ada yg menikah usia 5thn!
  3. Penyebab lain penikahan dini: pencegahan spy keperawanan perempuan tidak direnggut oleh laki2 yg bukan suaminya.
  4. Di titik inilah nilai perempuan dinilai rendah, ortu gak mau repot2 nabung untuk biaya pendidikan anak perempuannya.
  5. Ketimbang untuk biaya pendidikan anak perempuan, ortu cenderung memilih menikahi anak perempuan tsb dgn laki2 kaya.
  6. Padahal sejatinya, pernikahan adalah sebuah wujud dari komitmen penuh yg berasal dari keikhlasan dan kesadaran penuh, bkn dari paksaan.
  7. Karena melanggar aturan negara, keseringan pernikahan dini dilakukan di malam hari.
  8. Ironisnya, bnyk yg trauma akan pernikahan dini ini dan memutuskan untuk membakar diri sendiri.

Bagaimana pendapat anda?

Deva

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 157 other followers