Kemarin saya membuat post mengenai keinginan saya dan teman saya, Cicha, untuk menulis cerpen lagi. Emmm, tapi karena ini adalah project santai, we have no deadline jadi ya…santai aja. Nah, untuk sekarang, saya mau minta pendapat teman-teman nich tentang cerpen pertama saya ini. Mohon inputnya ya Kakaknyaaaaa
“Jika Cinta Jangan Lepaskan”
“Mama gak suka kamu sama Nathan! Dia itu gak jelas keluarganya!” teriak Mama begitu mendengar aku baru selesai menjawab telepon Nathan.
Aku berusaha menganggap angin lalu teriakan Mama yang semakin menjadi-jadi.
“Kamu tahu Rischa, Mama dan Papa besarin kamu semaksimal mungkin karena kami mau kamu dapetin semua yang terbaik di dunia ini. Termasuk masalah pasangan! Kamu ngerti gak sich?” teriak Mama sudah mulai frustasi karena aku hanya diam.
Aku sudah tidak bisa lagi menahan kesal dan lantang berkata, “Mama, yang aku gak ngerti adalah kenapa Mama langsung masuk aja ke kamarku tanpa Mama ngetok pintu dulu, tanpa tanya ke aku apakah Mama boleh masuk atau enggak. Aku kan udah gede Ma, udah 22 tahun! Berhak untuk dapetin privacy! Masalah Nathan, aku gak mau omongin. Itu udah pilihan aku.”
Mama menangkupkan tangannya di mulut, mungkin tidak percaya dengan keberanianku mengatakan hal ini dengan berteriak juga. “Risch, kamu kok jadi berani lawan Mama?” tanya Mama dengan pelan sembari menyentuh mukaku lembut.
Aku menapik tangan Mama. “Ma, jangan pikir Rischa kayak gini artinya Rischa gak sayang sama Mama. Rischa sayang sama Mama tapi tolong dong juga ngerti kalo Rischa udah gede. Rischa tahu yang terbaik untuk Rischa. Rischa berterima kasih banget karena Mama dan Papa udah ngasih apa pun yang Rischa mau.”
Lanjutku sambil mencoba memelankan nada suara, “Tapi pernah gak sich Mama mengerti kalau tidak semua keluarga seberuntung kita, menjadi keluarga yang utuh. Begitu juga dengan keluarga Nathan, Ma. Bukan kesalahan Nathan kok dia sekarang gak punya orang tua yang utuh di rumahnya. Bukan kesalahan Nathan Ma kalau sekarang Papanya ninggalin dia. Bukan kesalahan Nathan kalau sekarang Mamanya harus pontang-panting kerja dari pagi sampai malam, meeting di sana-sini. Toh Nathan bukan berandalan. Dia pintar. Bersih. Sayang sama Rischa. Pernah gak Mama pikirin itu?” kataku kepada Mama sambil menahan tangis.
Mama pun duduk di sampingku. Diam. Tiada bersuara sama sekali. Memandang lantai.
Aku pun mendekat ke Mama, bersuara pelan, “Ma, maafin Rischa udah ngomong kayak tadi. Teriak keras ke Mama. Rischa pengen Mama Papa kenal dulu sama Nathan, baru nilai dia seperti apa. Kan Mama Papa belum pernah ketemu Nathan. Cuma dengar cerita dari tv aja.”
“Rischa, Mama mau tidur saja. Kamu tidur juga ya, bukannya besok kamu ada kelas pagi?” ujar Mama sembari berjalan menuju pintu kamarku.
Aku hanya diam. Mengerti bahwa omongan Mama tadi memperlihatkan bahwa Mama tidak mau aku membahas Nathan lagi, dengan alasan apa pun. Ah Mama…
***
“Are you oc?” tanya Nathan sambil menyentuh bahuku.
“Yeah…” jawabku pendek.
Nathan pun duduk di sebelahku. Memandangku lekat padahal di depan matanya sedang ada pembacaan puisi oleh Taufik Ismail, idola Nathan.
“Tapi kamu keliatan kusut,” lanjut Nathan sambil berbisik-bisik.
Aku memandangnya dan berkata singkat, “Ssst, ntar aja ya sayang, gak enak ganggu yang lain.”
Nathan tersenyum sambil mengangguk. Aku sadar bahwa Nathan mengerti betapa kusutnya pikiranku malam ini. Tapi kami memilih untuk terhanyut mendengarkan bait-bait puisi indah Taufik Ismail.
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
***
“Jadi berantem lagi ya sama Mama, Risch?” tanya Nathan setelah aku menjelaskan kejadian semalam.
Sembari memandang mobil dan motor yang lalu lalang keluar dari parkiran TIM, aku hanya mengangguk memberikan jawaban bahasa tubuh kepada Nathan.
Kembali kami diam.
Malam pun semakin dingin dan Nathan setelah diam selama 45 menit, hanya berkata “Risch, ayo pulang.”
Aku tidak berkata apa pun, hanya mengangguk dan mengikuti langkah Nathan menuju parkiran motor. Kami pun pulang disertai kebekuan suasana.
***
“Udah sampai Risch,” kata Nathan sembari memberhentikan motornya tepat di gang kompleks rumahku. Ya, bukan di depan pagar rumah. Dan ya, karena tidak ingin orang tuaku tahu kalau aku diantar oleh Nathan. Aku belum siap melihat reaksi mereka.
Mendadak aku teringat suatu malam, di mana aku mendengar Mama sedang bicara dengan Papa mengenai Nathan. “Pa, Mama itu trauma Pa. Mama ini dulu pernah ada di posisi Nathan. Papa tahu secara jelas bagaimana susahnya Mama ini diajak nikah sama Papa karena takut akan sebuah pernikahan. Mama sempat tidak percaya dengan pernikahan. Papaku ninggalin keluargaku begitu saja saat Mamaku hamil 3 bulan dan karena stress dan akhirnya keguguran. Itu masa yang sungguh kelam, Pa. Dan aku harus mengalami itu semua saat umurku masih 9 tahun!” suara Mama bergetar.
“Ma, buktinya sekarang kekhawatiran Mama tidak beralasan. Kita baik-baik saja kan?” ujar Papa halus dan manis sekali sambil membelai rambut Mama.
Aku melihat Mama saat itu memeluk Papa erat sekali. Sungguh, aku belum pernah melihat Mama berurai air mata seperti malam itu. Tidak menyangka bahwa perceraian orang tua nenek kakekku dari pihak Mama memberikan trauma mendalam kepada Mama.
“Mama takut Pa. Hanya itu, takut Rischa ditinggal oleh Nathan,” pelan sekali suara Mama sambil terisak-isak.
Dengan tenang, Papa berkata, “Ma, mereka masih muda. Tenang dulu ya.”
Ah, pemandangan malam itu sempat membuat aku berpikir mengenai apakah memang sudah seharusnya aku memikirkan ulang hubunganku dengan Nathan. Tapi kenyataannya aku masih mau berjuang, meyakinkan orang tuaku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Aku pun turun dari motor, sambil melepas helm, aku berkata, “Nath, aku minta maaf ya karena membuat malam ini berantakan.”
“Seandainya aku tahu dampak dari perceraian orang tuaku adalah susah memperoleh kepercayaan orang tua pasanganku, mungkin dulu aku berteriak ke ayah agar tidak meninggalkan aku dan bunda. Mungkin dulu aku akan ke rumah istri keduanya, mendobrak pintu rumahnya, minta ia kembali ke aku dan bundaku, Risch,” jawab Nath tanpa memandangku sama sekali.
Aku sedih, merasa nista karena menempatkan Nathan di tempat yang salah. “Bukan, bukan itu maksudku. Aku gak nyalahin kamu dan keluarga atau masa lalu kamu, Sayang. Aku cuma…,” belum selesai aku bicara, Nathan sudah menyelak, “Udahlah Risch, aku paham maksud kamu. Keluarga kamu memang beda sama keluargaku. Diusahain semaksimal apa pun memang beda. Selamat malam ya Risch. Kamu istirahat ya…aku pergi…”
Nathan pun menyalakan mesin motornya lagi dan berlalu begitu saja dari pandanganku. Entahlah…aku merasa sedih sekali malam itu. Ucapan Nathan pamit tadi serasa ucapan selamat tinggal ia untuk selama-lamanya.
***
Aku terbangun saat dini hari, tepat pukul 03.00 WIB karena deringan BBM-ku yang bertubi-tubi datang.
“Risch, aku gak bisa kayak gini lagi…”
“Bukan salahku kalau orangtuaku bercerai”
“Bukan salah kamu kalau orang tua kamu tidak menyetujui hubungan kita”
“Tapi mungkin kita yaitu kamu dan aku bertemu di waktu yang belum tepat.”
“Selamat tinggal Rischa. Aku sayang kamu. Tapi aku lelah untuk berhadapan dengan masalah ini selama 2 tahun.”
“Dua tahun tanpa persetujuan orang tua kamu. Dua tahun aku tidak pernah sama sekali ke rumah kamu. Dua tahun harus bersembunyi. Dua tahun mendengarkan cerita ketidaksetujuan orang tuamu ke hubungan kita. Dua tahun yang terus berulang. Aku lelah.”
“Bye”
Aku langsung mengusap-usap mataku, berusaha membacanya semua sekali lagi, sekali lagi, berulang kali. Tunggu, inikah jawaban firasatku. Inikah perpisahan dari Nathan?
Aku langsung berusaha menghubungi telepon Nathan tapi tidak aktif. Aku balas BBMnya tapi hanya tanda merah kotak yang artinya tertunda pengiriman BBMku.
Air mataku pun tumpah satu per satu tanpa aku minta. Lemas sekujur badanku.
Siapa yang bisa aku hubungi? Nathan tidak punya teman dekat. Semua hanya teman kuliah dia yang biasa-biasa saja, hanya ya sekedar teman. Apa aku harus menghubungi bunda di dini hari ini? Ah, tidak bisa.
Aku pun menunggu pagi dengan isak tangis yang tiada kunjung berhenti.
Dan bib, BBMku berbunyi lagi, singkat sekali dari Nathan.
“Risch, aku udah tinggalin buku kamu yang aku pinjam di gerbang rumahmu. Terima kasih ya.”
Aku pun langsung berlari ke gerbang rumahku. Sial! Tidak ada Nathan! Dia kemana? Hanya ada buku kumpulan puisiku saja yang 1 minggu lalu Nathan pinjam karena dia tertarik menjadikan puisiku sebagai materi musikalisasi puisinya.
Setelah membolak-balikkan buku itu, tidak ada satu petunjuk pun dari Nathan. Tidak ada. Aku telepon lagi handphone Nathan tapi tidak aktif. BBM yang tadi pun masih pending. Aneh…!
Entah, apa yang terjadi, kakiku lemas….lemas sekali…
***
“Risch, kamu dah bangun?” tanya Mama lembut sambil membelai rambutku.
“Ma, Mama, Mama, ….” Kataku terputus karena menyadari keputus-asaanku membicarakan Nathan kepada Mama.
“Tadi kamu pingsan Nak di gerbang. Ada apa?” tanya Mama lagi.
Aku diam, memandang Mama lekat-lekat dan menjawab sinis, “Memang ya Ma, restu orang tua itu dahsyat kekuatannya. Cuma orang kuat yang bisa melawan ketidakrestuan itu. Mama mungkin lega sekarang. Rischa dan Nathan putus.”
Mama pun kaget. Mungkin masih ingin melanjutkan pertanyaan tapi sudah aku sela, “Nathan capek Ma berhubungan sama Rischa. Capek menghadapi keluhan Rischa, keluhan yang sama selama 2 tahun. Besok kalo Rischa cari pacar, Rischa akan tanya pertama kali ke cowok-cowok, lo anak broken home atau enggak? Kalau broken home, jangan dekatin gw! Gitu lebih gampang ya Ma?”
“Rischa….” Ujar Mama.
“Ma, Rischa mau tidur aja,” kataku sambil membalikkan badan.
Mama pun menunggu aku bicara lagi. Tapi Mama sadar bahwa secara tidak langsung aku sudah mengusirnya dari kamar. Mama pun keluar dengan diam dan helaan nafas yang berat.
Aku pun langsung segera mengambil handphone dan menghubungi Nathan. Masih tidak aktif. Dengan keberanian penuh dan mengingat bahwa ini sudah jam 10, aku pun menghubungi bundanya Nathan.
“Halo Bunda,” kataku memulai pembicaraan.
“Hi Risch,” jawab Bunda singkat.
“Bunda apa kabar?” tanyaku.
“Rischa, Bunda baik dan Bunda tahu untuk apa kamu menghubungi Bunda. Risch, Bunda sedih kamu putus dengan Nathan. Memang Nathan tidak cerita detail ke Bunda tapi paling tidak Bunda tahu apa penyebabnya secara garis besar. Bunda minta maaf Risch telah membuat nilai Nathan tidak ada di depan keluarga kamu. Sungguh, Bunda minta maaf. Sekarang, kamu tenangkan diri kamu dulu. Biarkan Nathan melakukan yang dia mau, paling tidak biarkan ia menjadi dirinya sendiri tanpa harus mempertanggung jawabkan masa lalu keluarga kami,” kata Bunda dengan cepat dan penuh emosi.
“Bunda, aku gak nyalahin keluarga Bunda…gak Bunda. Aku sayang sama Bunda dan Nathan,” jelasku sambil menangis. Pedih sekali…
“Risch, Bunda tahu itu….”kata Bunda.
“Gak, Bunda gak tahu. Gak ada yang tahu betapa besar sayang Rischa ke Nathan!!!” teriakku lepas kendali.
“Nathan kemana Bunda? Kemana?????????” kembali aku berteriak.
“Nathan ke Jogjakarta, Risch. Dia mau ikut sanggar di sana. Sudah ya Risch. Bunda harus tutup teleponnya.”
Klik. Telepon pun mati.
***
Seketika, aku tersadar bahwa memang Nathan telah pergi. Melepaskan semua impian kami. Tanpa aku sadari, aku lupa betapa lelahnya Nathan menghadapi ini semua. Lupa bahwa masih ada yang ingin ia raih dan aku hanya sebagai batu penahannya selama ini. Lupa bahwa ia juga tersakiti dengan ini semua.
Lupa bahwa Nathan sejak kecil telah menderita karena perceraian kedua orang tuanya akibat orang ketiga. Ayahnya yang sutradara terkenal di Indonesia terungkap di media bahwa telah menikah lagi dengan artis papan atas Indonesia dan rela melepaskan istri pertamanya, yang tak lain adalah bundanya Nathan. Lupa bahwa betapa sakitnya hati Nathan melihat bundanya sering diterpa gosip sebagai tante-tante penggoda rumah tangga orang lain hanya karena ia bertugas sebagai sekretaris pribadi direktur utama di tempatnya bekerja. Lupa betapa inginnya Nathan melanjutkan mimpinya menjadi pemain teater dan kecintaannya dengan puisi dapat ia raih di Jogjakarta, sebuah kota yang kaya akan kesenian. Lupa bahwa Nathan selama ini telah berusaha keras meyakinkan diriku untuk diijinkan bertandang ke rumahku, tapi aku selalu menolak.
Ah Nathan…
Aku pun memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat ke handphone-nya Nathan tanpa mengharapkan balasan apa pun.
“Jika cinta jangan lepaskan….”
END
Deva