Wohoooo….Akademi Berbagi akhirnya benar-benar jadi mengadakan kelas intensif setiap minggunya yang membahas tentang Public Speaking, dengan Kakak Guru Prabu Revolusi!
Saya tahu tentang hal ini sebenarnya dari Kibot pada hari Senin. Saat itu saya sedang tidak tune in di Twitter. Langsunglah saya ubek-ubek timeline-nya Akademi Berbagi dan menemukan info tersebut. Klik link dan bingung “Wow, ternyata harus nulis penjelasan kenapa harus kita yang terpilih di kelas ini ya?” terus muncul lagi pikiran “ooo…soalnya ini kelas intensif makanya harus ada seleksi!” — yak, sodara-sodara ini perbincangan diri sendiri yang tidak penting, padahal kan sudah ada penjelasan di atas kalau ini kelas intensif dan memang akan diseleksi 10 orang saja. Duh!
Saya pun langsung menyebarkan informasi ini kepada Ulfi dan Danna, yang memang beberapa kali selalu ikut kelas Akademi Berbagi. Mereka pun daftar. Sebenarnya kami (saya, Ulfi, Danna dan Kibot) sempat bingung, kalau ini diseleksi kenapa kita langsung mendapatkan undangan saat selesai mendaftar? Ubek-ubek timeline Akademi Berbagi lagi. Dan ya, again, memang akan diseleksi dan pengumumannya hari Rabu via email dan telepon.
Dua hari menunggu kabar tentang kelas yang (diasumsikan) asyik ini bisa membuat penasaran kelas kakap lho. Hehehe…
Rabu jam 9 pagi. Telepon saya berbunyi. Saya angkat. Seorang laki-laki bertanya apakah ini “Ananda Ladeva?” Saya jawab “Iya”. Dalam hati menebak, yang menelepon ini sales, CS Three (dimana saya sempat membuat surat pembaca berisi keluhan mengenai Three), atau orang yang mau meng-interview saya di sebuah perusahaan. Ternyata itu semua salah! Telepon tersebut berasal dari Mas Karmin, Kepala Sekolah Akademi Berbagi Jakarta yang menginformasikan bahwa saya lolos seleksi kelas Kakak Guru Prabu. Asyik! Saya pun langsung membuat multichat dengan Ulfi, Danna dan Kibot. Duh! Ternyata mereka tidak mendapatkan kabar gembira seperti saya.
Singkat cerita, malam sekitar jam 6.30 saya sudah sampai di Sequis Center untuk mengikuti kelas Public Speaking tersebut. Kenalan sana-sini. Daaar! Saya lupa membuat surat pernyataan tentang komitmen untuk selalu hadir di setiap minggu di kelas ini. Tidak boleh tidak hadir. Satu kali tidak hadir, coret! Kejam? Ember. Katanya karena banyak yang mau daftar jadi harus sangat berkomitmen untuk hadir di kelas ini. Mumpung Kakak Guru Prabu belum datang, yawdalah ya saya membuat surat pernyataan dengan tulisan tangan! Eaa….kembali ke jaman batu,menulis surat pernyataan dengan tulisan tangan.
Selagi menunggu kelas dimulai, peserta pun semakin gencar kenalan satu sama lain. Dinna yang mulai untuk mengajak tukeran kartu nama. Saya, Asya, Sasya, Brian, Dinna, Umar (Kepala Sekolah Tangerang Selatan, yang saat itu jadi moderator), dan Adit pun bertukar kartu nama. Hanya saya tampaknya satu-satunya orang yang memberikan kartu nama personal. Sedangkan yang lain ada nama perusahaannya. Saya jadi ingat waktu itu ada teman yang bertanya kenapa nama perusahaan tidak saya tulis di kartu nama. Penjelasan saya singkat sich, saya hanya ingin orang mengenal saya ya sebagai Deva, bukan sebagai Deva yang bekerja di A, B, C, D, atau E. Deva ya Deva. Hehehe…
Akhirnya, sekitar pukul 7 kurang 15 menit (seingat saya) Kakak Guru datang dong. Tidak sendiri. Dengan istrinya. Cieee….(heboh sendirian).
Kelas dibuka. Kakak Guru pun mulai dengan menceritakan latar belakangnya hingga menjadi seperti sekarang ini. Ternyata dulu, Kakak Guru merupakan orang yang tidak bisa bicara lancar, mempunyai kelemahan di struktur mulut, gugup jika harus bicara di depan banyak orang. Saya menangkap maksud ceritanya Kakak Guru. Intinya setiap orang bisa menjadi pembicara di publik jika mau belajar.
Gugup merupakan masalah yang biasa dihadapi siapa pun, sekalipun oleh seorang pembicara ulung. Tapi yang paling penting adalah kita harus tahu bagaimana cara mensiasati rasa gugup kita sendiri. Katanya, dulu Kakak Guru pernah diajari supaya tidak gugup saat membaca berita adalah dengan memejamkan mata dan memvisualisasikan sejelas mungkin gambaran kita saat menjadi pembicara paling hebat. Dan kedua, buatlah konektivitas dengan ruangan tempat kita bicara.
Terdengar konyol ya untuk bagian kedua? Tapi Kakak Guru Prabu bilang, “Waktu gw harus mendadak (pertama kalinya) diminta jadi anchor di Trans TV, gw sentuh tiap kamera yang akan menshoot gw. Bahkan gw memberikan nama untuk 3 kamera tersebut. Gw sentuh meja dan bilang “Please be nice to me”. Karena aura positif ruangan akan mengalir ke kita dan ketegangan kita akan terbagi ke mereka. Release your stress.”
Kelas pun semakin asyik nich. Dan saya juga paham kenapa Kakak Guru harus memulai kelas tersebut dengan menceritakan ‘who is he?’. Karena ya agar para peserta bisa lebih mengenal pembicara dan konektivitas pun dapat tercipta. Saya jadi ingat Pak Charlie, bos saya. Setiap ada seminar, meeting, penelitian di mana pun, pasti Pak Charlie akan memulai percakapan dengan meminta maaf jika bahasa Indonesianya tidak lancar, meskipun ia sebenarnya orang Indonesia tulen. Dulu, saya tidak mengerti kenapa dia harus terus mengulang cerita tersebut setiap bertemu dengan orang baru, sampai akhirnya Pak Charlie bilang ke saya, “Kamu bandingkan jika saya tidak menceritakan latar belakang saya ke klien, pasti mereka akan kaku ke kita!” Benar lho, Kakak Guru juga bilang hal yang sama. Makanya setiap saya bertemu dengan orang baru dan mewajibkan saya untuk bicara di depan umum, saya pun akan melakukan hal yang sama.
Nah, setelah Kakak Guru selesai menceritakan dirinya, dia pun meminta beberapa peserta untuk mengenalkan dirinya sendiri. Semalam, yang mengambil kesempatan pertama adalah Adam, seorang penyiar radio di Karawang (Man oh man, jauh banget tempatnya dari Sudirman! Juara! Angkat topi) dan sudah mempunyai beberapa pengalaman di Public Speaking. Latar belakang pendidikan adalah akuntansi. Alasan mau ikut kelas ini karena dia belum pernah mendapatkan teori Public Speaking secara formal. Selama ini ia belajar Public Speaking secara otodidak. Ciri khas Adam itu suara nge-bass-nya! Selesai di sini? Tidak! Kakak Guru minta Adam untuk bernyanyi. Adam pun sukses melewatkan ujian tersebut.
Kedua adalah Brian. Masih kuliah di jurusan akutansi dan juga bekerja di sebuah kantor distributor obat-obatan. Rumahnya di Kelapa Gading (angkat topi lagi, sodara-sodara!). Brian pun bisa mempresentasikan dirinya dengan cukup baik. Eh, ternyata diminta untuk nyanyi lagi oleh Kakak Guru. Brian tertatih-tatih tapi bisa! Yeay….!
Dalam hati, saya berdoa, duh kutukan banget kalau saya diminta untuk nyanyi. Serius, parah banget suara saya kalau nyanyi. Mendingan diminta lari keliling Gelora Bung Karno 5 kali dech.
Seingat saya, saat masuk bagian ini sudah pukul 8 malam. Akhirnya Kakak Guru memutuskan bahwa karena keterbatasan waktu, tidak semua peserta bisa mempresentasikan dirinya mala mini. Jadi bergilir lah ya. Merdeka! Selamat dari kutukan nyanyi!
Kakak Guru pun menyampaikan materi inti untuk pertemuan pertama, yaitu tentang power suara. Sebuah teknik untuk membuat suara lebih kuat tanpa harus berteriak. Caranya adalah dengan menggunakan suara perut saat berbicara. Nah, suara perut ini bisa membuat tegang kita berkurang. Melatih suara perut mungkin tidak mudah tapi bisa.
Langkahnya: berdiri dan tangan kiri memegang perut. Tarik nafas, tahan dan keluarkan suara “HU-HA-HI”. Bukaaaan, ini bukan manggil arwah suster ngesot tapi memang begini caranya, eh!
Kakak Guru meminta bantuan seorang peserta untuk memimpin latihan ini. Dinna pun merelakan dirinya untuk dirajam. Eh, salah untuk memimpin latihan hehehe… Yuk mari maju.
Langkah pertama, Dinna diminta bicara biasa saja dan menceritakan latar belakangnya. Ternyata oh ternyata Dinna adalah karyawan swasta dan sekaligus ibu. Tujuan dia untuk ikut kelas ini adalah karena ia ingin punya kemampuan untuk bicara dengan anaknya dengan lebih baik, memberikan contoh ke anaknya tentang berbagai hal yang pernah Dinna lakukan. Ia bilang, “I want to be hero for my son/daughter”. Hajar!
Nah, setelah itu, Dinna diminta untuk memimpin latihan “HU-HA-HI” dan Dinna diminta untuk bicara sekali lagi tapi dengan suara perut. Hasilnya? Beda, sodara-sodara! Suara Dinna yang semula kecil, sekarang sudah lumayan besar. Tidak instan tapi memang ada perubahan sedikit di power suaranya sich. Teknik kece!
Setelah Dinna, Brian maju lagi untuk mempraktekkan suara perutnya. Hasilnya? Bisa lho!
Oya, tambahan: Kakak Guru bilang pada saat kita sudah tenang, tidak tegang, bahan pembicaraan pun akan mengalir begitu saja. Sedangkan kalau kita tegang, dooor semua bahan jadi berantakan. Kadang, kita terlalu mementingkan isi pembicaraan padahal cara menyampaikan justru yang sebenarnya penting. Hehehe…again, communication is about how you massage your message – Rene Suhardono. Dan jangan lupa, untuk membuat eye contact ke tiap peserta. Tidak perlu melotot ya (iya lah Devaaaa!).
Rencana kelas yang semula dijadwalkan selesai pukul 8.30 eh baru selesai pukul 09.05 malam aja gitu kan? Tapi tidak terasa sich. Yang terasa buat saya adalah lapaaar! Semoga di kelas semalam, suara cacing di perut yang protes tidak kedengaran sama siapa pun. Hehehe…
Last but not least, saya merasa sungguh beruntung untuk dapat kesempatan di kelas ini. Beneran dech. Coba kalau kursusnya bayar, beuh mahal banget. Again, again and again, thank you Akademi Berbagi.
PS: Bisa lihat juga beberapa materi semalam yang di-share di sini , di sini .
Deva