Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


16 Comments

Senang

Sebenarnya suasana hati saya lagi senang banget dengan berbagai alasan. Tapi karena satu dan lain hal, mmm..kesenangan utamanya belum saya bagi di sini. Nanti ya….*sok eksis ya bok*

Anyway…

Kesenangan lainnya adalah saat saya tahu kalo saya menang lomba nulis di Chic Magazine. Finalis ke-3 sebutannya. Pemenang utamanya masih lama diumuminnya, akhir tahun katanya.

Kok bisa menang? Karena ikut buat tulisan. Hehehe… ini linknya.

Hadiahnya apa? Lumayan. Ada 2 buku. Tapi saya lupa judulnya. Yang saya ingat novel dan buku traveling gitu kan.

Jadi, meski pun saya belum sharing di sini kenapa saya senang banget…tolong doakan ya man teman semua rencana saya lancar jaya! :D

Deva


34 Comments

Akber Jakarta: Get a Life Not a Job

Disclaimer: Tulisan ini dibuat oleh penulis tanpa berbekal catatan di sebuah kertas atau media manapun, jadi hanya ingatan semalam.

Reneeeeeee Juara!

Kalau teman-teman suka baca beberapa tulisan saya di blog ini, pasti ada yang bisa menebak kalau saya ini penggemarnya Rene Suhardono. Jadi kalau ada acara dimana pembicaranya Rene pasti saya usahakan untuk datang. Gak ada maksud perez, kakak :)

Kali ini, Rene hadir di depan mata saya di acara Akademi Berbagi Jakarta di Annex Building, Wisma Nusantara untuk membicarakan tema “Get a Life Not a Job”. Pasti, jika ada Rene, kata passion tidak akan tidak disebut dong ya.

Kakak atau Om mmm mungkin Opa Rene Suhardono :P (Source: @akberJKT)

Rene mengawali diskusi semalam dengan kalimat “Setelah sharing ini tolong jangan ada yang langsung keluar kerjaan dengan alasan karena Rene bilang harus kejar passion!”

 Hahaha…lucu juga karena jika baru sekali mendengar penjelasan Rene pasti langsung mikir “Ooo…kantor itu bukan passion jadi harus cari pekerjaan baru.” Ternyata tidak sesederhana itu. Itu adalah hak seseorang untuk memutuskan untuk keluar atau menetap di sebuah perusahaan tapi yang paling penting adalah seberapa efektifnya keputusan kita. Dan harus diingat bahwa tidak ada yang namanya “Dream Job”!

Passion tidak perlu dicari. Passion itu sudah ada di dalam diri masing-masing orang. Syaratnya cukup mudah untuk menyadari apa passion kita itu. Think less feel more. Think less feel more. Think less feel more. Ini mantera kakak hehehe

Jika kita hanya menggunakan akal untuk membuat sebuah keputusan ya otak kita akan terlalu bising dan akhirnya bisa seperti zombie. Pagi ke kantor, pulang langsung ke rumah. Gajian langsung habis untuk keperluan A-Z. Tapi hati? Kosong! Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran diri bahwa apakah yang kita lakukan ini telah dengan sepenuh hati?

Passion is what you good at and what you enjoy the most. Apa takaran “good at”? Tidak perlu takaran dari perspektif orang lain. Bagi Rene, selama apa yang kita kerjakan benar-benar tulus dari hati maka pasti hasilnya maksimal, paling tidak usaha setengah mati.

Mari lesehan (Source: @AkberJKT)

Pertanyaan selanjutnya adalah “uang gimana??? Karena gak selamanya passion mendatangkan uang kan.” Nah, itu dia. Rene bilang “The more you ignore money, the more money comes to you.” Saya percaya bahwa the great money will follow the great value. Sekali lagi, usaha saja semaksimal mungkin maka hasil (jika ini dikorelasikan dengan uang) pasti akan maksimal juga datangnya. Bahkan dia bercerita bahwa ada seorang temannya yang mempunyai penghasilan ribuan dolar per bulan tapi dia tidak mengerjakan aktivitasnya dengan hati, toh dia tetap saja kesepian dan merasa kosong. Jadi, semua itu kembali ke hati masing-masing orang dan yang dapat membuatnya bahagia ya diri sendiri.

Nah, Rene juga sempat sharing bahwa kita memerlukan pondasi untuk memperkuat passion kita. Perdalam lagi passionnya. Cari tujuan dari passion kita apa. Misalnya saya suka nulis. Tujuan dari nulis itu untuk apa? Inspirasi orang? Membuat diri terkenal atau apa? Find your purpose.

Setelah ketemu purpose-nya apa maka kita harus melakukan sebuah tindakan untuk mewujudkan hal tersebut. Setahap demi setahap. Kita tidak perlu meyakinkan setiap orang atas keputusan kita. Satu-satunya orang di muka bumi yang perlu diyakinkan atas semua keputusan kita adalah diri kita sendiri.

Ada seorang peserta yang bertanya “lantas bagaimana jika ada anggota keluarga yang tidak setuju dengan keputusan kita?” Rene jawab: “Speak with love language.” Intinya, kita gak bisa bicara tentang keputusan seperti ini dengan emosi yang tinggi. Harus perlahan-lahan menjelaskan kenapa dan bagaimana cara mewujudkan passion kita. Itu alasan kenapa kita harus yakin dulu terhadap diri sendiri atas setiap keputusan pribadi. Jika kita tidak yakin, bagaimana orang lain bisa mendukung?!

Dan be happy! Happy is not expensive. Happy is in here, in our heart.

“Untuk apa mati-matian masuk ke perguruan tinggi negeri? Untuk jadi karyawan di perusahaan terkenal? Untuk jadi PNS? Oke, setelah itu apa? Untuk jadi anak yang dibanggakan orang tua? Untuk dipandang keren oleh mertua? Oke, setelah itu apa? Ya, kalau orang tua senang maka saya akan senang juga?”

Sounds familiar ya kutipan di atas.

Rene: Repot ya…hanya untuk sekedar bahagia. Padahal bahagia itu ada di sekitar kita. Think less feel more. That’s it.

Berikut ini beberapa twit yang saya ambil dari akun Akber Jakarta:

Measurement is fine. untuk memberikan indikasi bukan kepastian hasil.

Worry less! if u cannot change the solutiion, change the problem.

Discovering ur strength | significance.

Discovering ur strength | growth. get ur depth!

Discovering ur strength | be spesific on what’s ur passion

Passion dan purpose adalah produk hati. bersihkan dan tenangkan hatimu. think less, feel more.

Discovering ur strength | 1st of all – focus on ur breathing

If u care, u will simply do it more. jadi, sudahkah anda melihat dunia dengan mata yang baru?

U don’t have to convince the world. 1st of all, convince urself! passion is something u do it because u care.

Do u know what u love?

“Passion is not skills or competencies.”

Jangan terjebak dengan angka-angka atau citra yang terlihat di permukaan. temukan jauh di dalam hatimu.

“Passion is not about the job, passion is about the activity.”

Find your true strength. passion is your significant strength.

So, are u in a dead zone? a walking zombie that have no significant achievement

If u want to change your life, transform ur belief system.

Zombie syndrom: Tidak happy dg pekerjaan, gaji tdk cukup, jabatan mandeg, bos galak dan penuntut

“Forget what u think you know everything

“You are what you believe”

The more you ignore money, the more money comes to you |

Worries & fear in our modern live: money, power, jobs, title, benefits achievement

“The 1st thing: to know how u feel. think less, feel more.”

Terakhir, dari semua slide, sharing yang sangat atraktif yang telah dilakukan, saya jadi ingat kutipan sederhana yang berbunyi “If there is a will there is a way”. Jangan terlalu bising dengan “What if…”. Benar bahwa kita harus selalu sedia payung sebelum hujan tapi tidak ada salahnya jika membiarkan hujan membasahi tubuh kita sekali-kali. Tidak ada yang terkena hujan (kecuali disamber petir dan tertimpa pohon tua yang jatuh) langsung mati kan?

Life is journey, not destination.

Deva


10 Comments

Public Speaking di Akber (part 2)

Yup, acaranya kemarin , masih di tempat dan waktu yang sama. Jumlah peserta juga tetap lho (Kakak Guru sampai harus angkat topi ke akademi berbagi karena pesertanya benar-benar komitmen untuk datang lagi) ditambah dengan beberapa orang volunteer Akber.

Courtesy: twitter akber

Kelas dibuka dengan video Steve Jobs saat meluncurkan Ipad di hadapan para calon investor. Dengan video tersebut, Kakak Guru menjelaskan bahwa presentasi yang sebenarnya materinya berat tidak perlu disampaikan dengan rumit. Semakin ringkas menjelaskan materi (dibantu dengan power point) maka peserta akan semakin mengerti. Less more better. Dan harus tenang. Gaya Steve Jobs saat presentasi sangat tenang dan setiap body language-nya pasti sudah diatur tapi terlihat tidak kaku karena dia tenang. Tenang itu adalah pilihan, setiap orang mempunyai cara sendiri untuk menenangkan dirinya sendiri. Ada yang perlu merokok dulu (seperti Kakak Guru dulu sewaktu awal jadi presenter), ada yang mensugesti dirinya bahwa dia adalah Diva (seperti Beyonce Knowles), dan sebagainya. Gugup itu manusiawi kok bahkan sekelas Bung Karno pun masih sering gugup untuk pidato bahkan bisa tidak tidur semalaman (kata Ibu Rachmawati yang pernah menjelaskan ke Kakak Guru).

Nah,kalau di kelas sebelumnya, Kakak Guru menjelaskan tentang power suara, kali ini Kakak Guru akan sharing ilmu tentang intonasi. Percuma isi pembicaraan berbobot jika tidak diimbangi dengan jelasnya kata per kata.

Dan sodara-sodara, saya pun jadi sukarelawan pertama untuk maju ke kelas membacakan berita dari majalah yang saya bawa, yaitu Tempo. Berhubung artikel yang paling pendek di Majalah Tempo adalah catatan pinggirannya Goenawan Mohammad, ya saya baca itu saja. Masalahnya adalah saya belum membaca ini sebelumnya. Matilah! Tidak tahu ceritanya tapi harus menceritakan isinya kepada para peserta.

Courtesy: twitter akber

Lumayan gugup tapi tetap bersyukur bahwa kutukan menyanyi di depan kelas tidak diadakan malam itu. Setelah membacakan cerita, teman-teman di kelas diminta Kakak Guru untuk menilai penampilan saya. Dan ini adalah hasilnya:

Irama suara bervariasi, volume suara cukup, kecepatan berbicara dinilai terlalu cepat, energi suara dinilai biasa saja, dan kesimpulannya: kurang meyakinkan menjadi pembicara.

Yuk mari sembunyi di bawah meja. Hahahaa….

Apakah hanya saya saja yang maju? Gak dong. Ada lagi yang maju, namanya Sabrina. Ia mau membawakan berita tentang sub-prime mortgage. Berhubung di kelas, sebagian besar tidak tahu tentang berita ini, Sabrina diminta untuk menjelaskan terlebih dulu apakah sub-prime mortgage tersebut.

Hasil penampilan Sabrina tidak jauh berbeda dengan saya, yang menjadi pembedanya adalah di kesimpulan. Dia mendapat nilai: perlu peningkatan.

Penampilan kami berdua pun di-review oleh Kakak Guru. Setelah itu, kami berdua diminta untuk mengulang kembali penampilan kami. Saya yang pertama maju (lagi). Masih gugup. Masih tidak mengerti konten tulisan yang saya baca. Kakak Guru pun membimbing saya. Tapi karena saya yakin bisa asal beritanya diganti, saya pun bertanya “Boleh ganti isi pembicaraan gak?”

Kakak Guru pun bilang, “Boleh, terserah kamu, Dev.”

Hajar! Saya pun menceritakan pengalaman saya memotong ayam di Kupang.

Dan hasilnya ini:

Irama suara masih sama, bervariasi. Volume suara cukup, kecepatan bicara dinilai masih terlalu cepat (ini memang kelemahan saya, kalau saya diminta ngomong lebih pelan, justru saya lupa isi pembicaraan yang ingin saya sampaikan). Yang menjadi pembeda di penampilan pertama dan kedua saya adalah energi suara di penampilan kedua dinilai membangkitkan semangat dan kesimpulannya saya dinilai cocok menjadi public speaker.

Mana tepuk tangannya? LHO?! Hehehe

Jadi, sebenarnya yang harus dilakukan oleh pembicara, selain berlatih bicara dan tampil di depan umum, riset mengenai konten berita itu tidak bisa tidak dilakukan, a.k.a HARUS dilakukan riset tentang materi dan juga riset tentang peserta yang hadir. Sampaikan materi pembicaraan dengan gaya yang sesuai umur peserta. Jika yang hadir adalah anak muda tapi disampaikan dengan gaya terlalu formal ya pesannya tidak akan sampai.

Intonasi, gerak tubuh dan power suara akan keluar dengan alami JIKA kita tenang.

“Deva tadi gak bermaksud ngelucu kan di depan? Tapi karena Deva membawakan ceritanya dengan santai, tenang, dia gak sadar bahwa gayanya itu lucu. Kamu juga gak sadar kan Dev kalau tadi badan kamu itu naik turun pas ngomong?” kata Kakak Guru.

Saya pun menggeleng polos, “Gak sadar…”

Dan memang itu terasa banget bedanya. Ketika kita membicarakan hal yang kita mengerti pasti cara bercerita kita juga lebih enak didengar. Di penampilan kedua, Sabrina juga menghasilkan nilai yang sama. Yeay :D

Terus, kita juga sempat membahas tentang SBY saat marah kepada para gubernur yang tidur saat SBY pidato. Kata Kakak Guru, “Jangan pernah salahkan peserta jika mereka tidak suka bahkan sampai tertidur saat kita berpidato. Justru nilailah diri sendiri kenapa mereka bisa tidur? Apakah pidato kita membosankan? Kenapa bisa terjadi?”

Tips yang dilakukan Kakak Guru untuk siapapun yang diminta menjadi pembicara, baca terus materinya, jangan sampai tidak dibaca dan datang lebih awal daripada semua peserta. Kalau kata buku Sinar Dunia, practice makes perfect.

Deva


16 Comments

Public Speaking di Akber

Wohoooo….Akademi Berbagi akhirnya benar-benar jadi mengadakan kelas intensif setiap minggunya yang membahas tentang Public Speaking, dengan Kakak Guru Prabu Revolusi!

Saya tahu tentang hal ini sebenarnya dari Kibot pada hari Senin. Saat itu saya sedang tidak tune in di Twitter. Langsunglah saya ubek-ubek timeline-nya Akademi Berbagi dan menemukan info tersebut. Klik link dan bingung “Wow, ternyata harus nulis penjelasan kenapa harus kita yang terpilih di kelas ini ya?” terus muncul lagi pikiran “ooo…soalnya ini kelas intensif makanya harus ada seleksi!” — yak, sodara-sodara ini perbincangan diri sendiri yang tidak penting, padahal kan sudah ada penjelasan di atas kalau ini kelas intensif dan memang akan diseleksi 10 orang saja. Duh!

Saya pun langsung menyebarkan informasi ini kepada Ulfi dan Danna, yang memang beberapa kali selalu ikut kelas Akademi Berbagi. Mereka pun daftar. Sebenarnya kami (saya, Ulfi, Danna dan Kibot) sempat bingung, kalau ini diseleksi kenapa kita langsung mendapatkan undangan saat selesai mendaftar? Ubek-ubek timeline Akademi Berbagi lagi. Dan ya, again, memang akan diseleksi dan pengumumannya hari Rabu via email dan telepon.

Dua hari menunggu kabar tentang kelas yang (diasumsikan) asyik ini bisa membuat penasaran kelas kakap lho. Hehehe…

Rabu jam 9 pagi. Telepon saya berbunyi. Saya angkat. Seorang laki-laki bertanya apakah ini “Ananda Ladeva?” Saya jawab “Iya”. Dalam hati menebak, yang menelepon ini sales, CS Three (dimana saya sempat membuat surat pembaca berisi keluhan mengenai Three), atau orang yang mau meng-interview saya di sebuah perusahaan. Ternyata itu semua salah! Telepon tersebut berasal dari Mas Karmin, Kepala Sekolah Akademi Berbagi Jakarta yang menginformasikan bahwa saya lolos seleksi kelas Kakak Guru Prabu. Asyik! Saya pun langsung membuat multichat dengan Ulfi, Danna dan Kibot. Duh! Ternyata mereka tidak mendapatkan kabar gembira seperti saya.

Singkat cerita, malam sekitar jam 6.30 saya sudah sampai di Sequis Center untuk mengikuti kelas Public Speaking tersebut. Kenalan sana-sini. Daaar! Saya lupa membuat surat pernyataan tentang komitmen untuk selalu hadir di setiap minggu di kelas ini. Tidak boleh tidak hadir. Satu kali tidak hadir, coret! Kejam? Ember. Katanya karena banyak yang mau daftar jadi harus sangat berkomitmen untuk hadir di kelas ini. Mumpung Kakak Guru Prabu belum datang, yawdalah ya saya membuat surat pernyataan dengan tulisan tangan! Eaa….kembali ke jaman batu,menulis surat pernyataan dengan tulisan tangan.

Selagi menunggu kelas dimulai, peserta pun semakin gencar kenalan satu sama lain. Dinna yang mulai untuk mengajak tukeran kartu nama. Saya, Asya, Sasya, Brian, Dinna, Umar (Kepala Sekolah Tangerang Selatan, yang saat itu jadi moderator), dan Adit pun bertukar kartu nama. Hanya saya tampaknya satu-satunya orang yang memberikan kartu nama personal. Sedangkan yang lain ada nama perusahaannya. Saya jadi ingat waktu itu ada teman yang bertanya kenapa nama perusahaan tidak saya tulis di kartu nama. Penjelasan saya singkat sich, saya hanya ingin orang mengenal saya ya sebagai Deva, bukan sebagai Deva yang bekerja di A, B, C, D, atau E. Deva ya Deva. Hehehe…

Akhirnya, sekitar pukul 7 kurang 15 menit (seingat saya) Kakak Guru datang dong. Tidak sendiri. Dengan istrinya. Cieee….(heboh sendirian).

Kelas dibuka. Kakak Guru pun mulai dengan menceritakan latar belakangnya hingga menjadi seperti sekarang ini. Ternyata dulu, Kakak Guru merupakan orang yang tidak bisa bicara lancar, mempunyai kelemahan di struktur mulut, gugup jika harus bicara di depan banyak orang. Saya menangkap maksud ceritanya Kakak Guru. Intinya setiap orang bisa menjadi pembicara di publik jika mau belajar.

Gugup merupakan masalah yang biasa dihadapi siapa pun, sekalipun oleh seorang pembicara ulung. Tapi yang paling penting adalah kita harus tahu bagaimana cara mensiasati rasa gugup kita sendiri. Katanya, dulu Kakak Guru pernah diajari supaya tidak gugup saat membaca berita adalah dengan memejamkan mata dan memvisualisasikan sejelas mungkin gambaran kita saat menjadi pembicara paling hebat. Dan kedua, buatlah konektivitas dengan ruangan tempat kita bicara.

Terdengar konyol ya untuk bagian kedua? Tapi Kakak Guru Prabu bilang, “Waktu gw harus mendadak (pertama kalinya) diminta jadi anchor di Trans TV, gw sentuh tiap kamera yang akan menshoot gw. Bahkan gw memberikan nama untuk 3 kamera tersebut. Gw sentuh meja dan bilang “Please be nice to me”. Karena aura positif ruangan akan mengalir ke kita dan ketegangan kita akan terbagi ke mereka. Release your stress.”

Kelas pun semakin asyik nich. Dan saya juga paham kenapa Kakak Guru harus memulai kelas tersebut dengan menceritakan ‘who is he?’. Karena ya agar para peserta bisa lebih mengenal pembicara dan konektivitas pun dapat tercipta. Saya jadi ingat Pak Charlie, bos saya. Setiap ada seminar, meeting, penelitian di mana pun, pasti Pak Charlie akan memulai percakapan dengan meminta maaf jika bahasa Indonesianya tidak lancar, meskipun ia sebenarnya orang Indonesia tulen. Dulu, saya tidak mengerti kenapa dia harus terus mengulang cerita tersebut setiap bertemu dengan orang baru, sampai akhirnya Pak Charlie bilang ke saya, “Kamu bandingkan jika saya tidak menceritakan latar belakang saya ke klien, pasti mereka akan kaku ke kita!” Benar lho, Kakak Guru juga bilang hal yang sama. Makanya setiap saya bertemu dengan orang baru dan mewajibkan saya untuk bicara di depan umum, saya pun akan melakukan hal yang sama.

@praburevolusi di #KelasIntensive Public Speaking

Kakak Guru dan Para Peserta Akber (Image Source: http://twitpic.com/7t578b)

Nah, setelah Kakak Guru selesai menceritakan dirinya, dia pun meminta beberapa peserta untuk mengenalkan dirinya sendiri. Semalam, yang mengambil kesempatan pertama adalah Adam, seorang penyiar radio di Karawang (Man oh man, jauh banget tempatnya dari Sudirman! Juara! Angkat topi) dan sudah mempunyai beberapa pengalaman di Public Speaking. Latar belakang pendidikan adalah akuntansi. Alasan mau ikut kelas ini karena dia belum pernah mendapatkan teori Public Speaking secara formal. Selama ini ia belajar Public Speaking secara otodidak. Ciri khas Adam itu suara nge-bass-nya! Selesai di sini? Tidak! Kakak Guru minta Adam untuk bernyanyi. Adam pun sukses melewatkan ujian tersebut.

Peserta sedang sharing di dpn kelas u/ melatih kemampuan public speakingnya #KelasIntensive

Adam dengan suara bass (Image Source: http://twitpic.com/7t5m8d)

Kedua adalah Brian. Masih kuliah di jurusan akutansi dan juga bekerja di sebuah kantor distributor obat-obatan. Rumahnya di Kelapa Gading (angkat topi lagi, sodara-sodara!). Brian pun bisa mempresentasikan dirinya dengan cukup baik. Eh, ternyata diminta untuk nyanyi lagi oleh Kakak Guru. Brian tertatih-tatih tapi bisa! Yeay….!

Dalam hati, saya berdoa, duh kutukan banget kalau saya diminta untuk nyanyi. Serius, parah banget suara saya kalau nyanyi. Mendingan diminta lari keliling Gelora Bung Karno 5 kali dech.

Seingat saya, saat masuk bagian ini sudah pukul 8 malam. Akhirnya Kakak Guru memutuskan bahwa karena keterbatasan waktu, tidak semua peserta bisa mempresentasikan dirinya mala mini. Jadi bergilir lah ya. Merdeka! Selamat dari kutukan nyanyi!

Kakak Guru pun menyampaikan materi inti untuk pertemuan pertama, yaitu tentang power suara. Sebuah teknik untuk membuat suara lebih kuat tanpa harus berteriak. Caranya adalah dengan menggunakan suara perut saat berbicara. Nah, suara perut ini bisa membuat tegang kita berkurang. Melatih suara perut mungkin tidak mudah tapi bisa.

Langkahnya: berdiri dan tangan kiri memegang perut. Tarik nafas, tahan dan keluarkan suara “HU-HA-HI”. Bukaaaan, ini bukan manggil arwah suster ngesot tapi memang begini caranya, eh!

Kakak Guru meminta bantuan seorang peserta untuk memimpin latihan ini. Dinna pun merelakan dirinya untuk dirajam. Eh, salah untuk memimpin latihan hehehe… Yuk mari maju.

Langkah pertama, Dinna diminta bicara biasa saja dan menceritakan latar belakangnya. Ternyata oh ternyata Dinna adalah karyawan swasta dan sekaligus ibu. Tujuan dia untuk ikut kelas ini adalah karena ia ingin punya kemampuan untuk bicara dengan anaknya dengan lebih baik, memberikan contoh ke anaknya tentang berbagai hal yang pernah Dinna lakukan. Ia bilang, “I want to be hero for my son/daughter”. Hajar!

Nah, setelah itu, Dinna diminta untuk memimpin latihan “HU-HA-HI” dan Dinna diminta untuk bicara sekali lagi tapi dengan suara perut. Hasilnya? Beda, sodara-sodara! Suara Dinna yang semula kecil, sekarang sudah lumayan besar. Tidak instan tapi memang ada perubahan sedikit di power suaranya sich. Teknik kece!

Setelah Dinna, Brian maju lagi untuk mempraktekkan suara perutnya. Hasilnya? Bisa lho!

Oya, tambahan: Kakak Guru bilang pada saat kita sudah tenang, tidak tegang, bahan pembicaraan pun akan mengalir begitu saja. Sedangkan kalau kita tegang, dooor semua bahan jadi berantakan. Kadang, kita terlalu mementingkan isi pembicaraan padahal cara menyampaikan justru yang sebenarnya penting. Hehehe…again, communication is about how you massage your message – Rene Suhardono. Dan jangan lupa, untuk membuat eye contact ke tiap peserta. Tidak perlu melotot ya (iya lah Devaaaa!).

Rencana kelas yang semula dijadwalkan selesai pukul 8.30 eh baru selesai pukul 09.05 malam aja gitu kan? Tapi tidak terasa sich. Yang terasa buat saya adalah lapaaar! Semoga di kelas semalam, suara cacing di perut yang protes tidak kedengaran sama siapa pun. Hehehe

Last but not least, saya merasa sungguh beruntung untuk dapat kesempatan di kelas ini. Beneran dech. Coba kalau kursusnya bayar, beuh mahal banget. Again, again and again, thank you Akademi Berbagi.

PS: Bisa lihat juga beberapa materi semalam yang di-share di sini , di sini  .

Deva


7 Comments

Wordisme

Berhubung saya sedang tidak enak badan – sungguh ini penting banget dan semua orang musti tahu tentang ini – saya hanya ingin memberikan link tentang Wordisme , sebuah acara penulisan yang dilaksanakan Sabtu (19/11) lalu di Gedung Gramedia Kompas, Jakarta. Pencetusnya itu adalah Mbak Albertaine Endah. Sebenarnya, saya ingin menulis panjang tentang acara ini dari perspektif saya tapi berhubung flu berat – beneran dech ini penting banget untuk semua orang tahu – jadi monggo baca ringkasan Wordisme ini di linknya Ifnur.

Foto-foto ada di sini flickrnya Mbak Ollie. Katanya sich, Wordisme ini akan dilakukan secara rutin oleh panitia, entah akan kapan lagi. Sila ikuti perkembangannya di #wordisme (taghar twitter ya).

Doakan semoga saya sembuh, kasihan tissue habis hampir 1 bundel (istilah yang tepat untuk tissue apa sich?). Oke, otak saya mulai berantakan. Ciao.

Deva


26 Comments

Akber Jakarta Lagi

Saya bingung mau judulnya apa tentang materi ini. Intinya sich ingin sharing tentang materi Akademi Berbagi (Akber) Jakarta kemarin yang topiknya “Online Community Engagement” dan pembicaranya adalah Waraney, Digital Managernya Indo Pasific Edelman. Materi ini buat saya menarik karena ya berhubungan gitu kan ya sama kerjaan :D

Sayang materinya belum diupload oleh admin Akber tapi ijinkan memori lemah saya ini menguraikan di blog ini.

Jadi, Online Community Engagement ini merupakan sebuah proses interaksi dengan komunitas online, yang biasanya digunakan oleh brand untuk kenal lebih dekat komunitas mereka. Prosesnya si brand ini akan datang ke Public Relation (PR) mereka untuk bilang “Hei, saya mau masuk ke ranah sosial media. Entah itu di FB, Twitter, Kaskus atau lain sebagainya.” Nah, sebelum seorang PR atau social media division membuat keputusan apakah brand itu akan buat akun di media sosial, kita harus tahu dulu komunitas brand ini banyak berinteraksinya dimana. Karena tidak semua media sosial bisa digunakan lho. Ada satu komunitas brand A yang justru lebih sering main di milis daripada di FB, Twitter atau Kaskus. Begitu juga sebaliknya.

Oleh karena itu, harus ada research terlebih dulu.

Kemudian, setelah media sosialnya sudah ditentukan, PR mengatur waktu untuk bertemu dengan para komunitas ini. Misalnya saat sebuah brand handphone terkenal mau membuat page di FB. PR mereka pun mengundang beberapa komunitas independen mereka yang sudah terlebih dulu eksis di FB. Mereka tidak meminta komunitas independen ini menutup akun mereka, tapi PR mendengarkan apa masukan, pertanyaan, saran, dan kritik mereka. Dan voila! Page FB resmi brand ini akhirnya sukses di-launching dan banyak masyarakat yang menjadi anggota page mereka serta semua komunitas independen mereka itu tetap eksis dan menjadi anggota page FB yang resmi.

Nah, untuk tahu komunitas yang cocok bagi klien yang pasti kita harus eksis di dunia maya. Ikut media sosial mana pun dan penting nich, ternyata berguna banget untuk follow blog-blog orang.

Masing-masing brand mempunyai cara tersendiri untuk mendekati komunitasnya. Kalau dulu, mereka terbiasa bikin acara off air tapi sekarang lebih ke media sosial. Caranya pun bisa bikin akun sendiri atau mendekati artis-artis untuk jadi brand ambassador mereka. Bahkan ada lho yang katanya sekarang beli akun twitter yang follower-nya jutaan terus ganti nama jadi nama sebuah brand. Astaga.

Hehehe…saya membahasnya lebih ke sudut PR ya…lalu Waraney juga membahas etika bersosial media. Ya sama saja sich dengan etika offline. Jujur, be authentic, and be ur self. Sama kan, tidak ada bedanya.

Ya kurang lebih seperti itu materinya. Ohya, kalau tertarik dengan materi-materi Akber, sila unduh di sini dan jika ingin tahu Akber Jogja yang digelar di hari yang sama sila baca di blognya Mas Jarwadi :)

Deva


16 Comments

Bukan Mereka yang Belajar, Tapi Saya

Jadi ceritanya begini. Sebagai salah satu rekanan bisnis dengan Coca-Cola, kemarin kantor saya diundang ke acara mereka yaitu “Employment Volunteering Day” di Museum Tekstil. Nah, saya dan Pak Supadi mendapat mandate untuk menjadi perwakilan kantor sebagai salah satu volunteer di acara tersebut. Tugasnya tidak susah sama sekali. Bersenang-senang dengan teman-teman dari Sanggar Akar. Saat pertama saya menerima tugas ini dari bos, saya hanya berpikir, “Asyik, bisa di luar kantor.” Hehehe…

Dan semakin antusias saat membaca runtutan daftar acaranya, “Wah ini asyik banget acaranya. Bikin majalah dinding dari hasil menjadi jurnalis warga. Ya gak jauh-jauh dari ngeblog.” Makin kece! Sedihnya, bos saya pun sampai harus mengirim email berkali-kali mengingatkan untuk tidak terlambat. Padahal saya paling terlambat kalau ke kantor, sedangkan kalau acara khusus seperti janjian di bandara jam 4 pagi pun, saya tidak akan terlambat (pembelaan…). Maklum acaranya akan dimulai dari GKBI jam 7.45 WIB dan bersama-sama tim Coca-Cola menuju Museum Tekstil. Saya cuma balas singkat, “We will, Pak.” Maksudnya kami tidak akan terlambat kok. Tenang saja…

Saya pun berangkat ke GKBI bersama dengan Pak Supadi. Janjian di Blok M jam 7 pagi, sodara-sodara! Dan tahukah yang terjadi? Saya dan Pak Supadi bertemu di Blok M jam 6.30 dan sampai di GKBI jam 7.03 WIB. Juara! Bos saya pun saat saya BBM langsung balas: “Wohooooo….klirkom!” Hahaha…heboh ya saya dan bos saya :)

Berhubung masih terlalu pagi, saya dan Pak Supadi pun sarapan bubur (penting banget ya dibahas) dulu di GKBI. Jam 7.20 kami menuju kantor Coca-Cola dan ternyata belum ada orang selain 2 bule yang tampan. Asyik…heeem balik ke topik awal. So, setelah menunggu beberapa menit, datanglah Ibu Olovia yang memberikan saya t-shirt volunteer Coca-Cola. Dan kami pun langsung masuk bis menuju Museum Tekstil di KS Tubun.

Gedung utama Museum Tekstil

Sesampainya di sana, kami langsung bertemu dengan anak-anak Sanggar Akar. Turun bis, dengan pedenya saya salami beberapa dari mereka. Ya, karena harus ada yang mulai menyapa dong ya :)

Setelah berkenalan dengan beberapa dari mereka, kami yang sudah dibagi kelompoknya pun diberi arahan oleh tim EOnya. Masing-masing tim diberi nama berbagai daerah penghasil batik. Saya berada di kelompok Batik Solo Keraton. Seru!

Pertama-tama, kita diberi arahan oleh seorang dosen jurnalistik UnPad (saya lupa namanya) tentang bagaimana cara menjadi jurnalis yang baik dan benar. Nah, kita diberi tugas untuk datang ke area-area yang ditunjuk untuk mengumpulkan berbagai informasi dengan berbagai cara. Semua anggota tim harus bekerjasama.

Orientasi dilakukan sebelum terjun ke lapangan

Bermacam permainan membuat suasana cair. Tidak ada lagi canggung, jarak, dan jaim-jaiman. Semua lebur jadi satu. Yang menarik adalah anak-anak Sanggar Akar sama sekali tidak pemalu, terbuka, cerdas, jago ngomong, dan jago bahasa Inggris. Luar biasa! Terlepas dari bahasanya benar atau enggak, mereka percaya diri dan tidak pemalu. Buat saya, itu yang terpenting. Meskipun kami baru berinteraksi selama beberapa jam, tapi serasa sudah kenal lama.

Setelah orientasi, kami pun langsung membagi tugas (Ini tim saya - Batik Solo Keraton)

Halang Rintang - salah melangkah, basah dong! Ucup dan Andrew berhasil menjadi pemenangnya

Nisa basah :D

Batik Solo Mangkunegaraan dan Keraton yang seharusnya berkompetisi malah justru kerjasama dalam permainan ini

Andrew dan Adnan berhasil mengubah botol Coca-Cola dan Ades yang sudah tidak terpakai menjadi hasil kreasi menarik (Bengkel Ide Kreatif)

Hasil kreasi Batik Solo Keraton

Pak Eddy sedang menerangkan tentang proses pembuatan batik kepada Lia, salah satu anak Sanggar Akar

Setelah semua permainan dan observasi keliling museum, hasilnya kita buat dalam bentuk majalah dinding, yang bahan-bahannya telah disediakan oleh panitia.

Voila! Ini hasil kreasi tim kami. Rada susah ya nempel kalengnya tapi ya bagus juga ah hasilnya :D

Saat makan siang, saya sengaja duduk dengan anggota tim agar bisa tahu cerita tentang Sanggar Akar. Berbagai cerita terlontar dari mulut mereka. Berbagai kisah. Ada yang kabur dari rumah karena orang tuanya selalu bertengkar, ada yang jauh-jauh datang ke Jakarta dari Wonosobo dengan naik sepeda selama 4 hari dan saat lapar di Jakarta, sepedanya pun dijual, ada yang memang kurang mampu, dan sebagainya. Andrew, seorang tim Coca-Cola bilang, “Kalian lebih kuat daripada kami.” Dan saya pun cuma bisa bilang, “Bukan cuma kalian yang belajar hari ini, tapi aku juga belajar dari kalian. Belajar untuk percaya diri, mandiri. Kalian hebat banget lho.”

Mereka pun bercerita tentang biaya yang digunakan dalam sehari-hari itu berasal dari mana. “Ada yang nyumbang mie sekardus, nyumbang 50ribu sebulan, ya macem-macem Kak. Kalau kita pentas dimana ya uangnya itu untuk kehidupan kita sehari-hari.”

Saat bercerita ini, kita kewalahan menghabiskan menu makan siang dengan 5 jenis lauk pauk. “Biasanya kita cuma makan 1 atau 2 lauk pauk, eh ini ada banyak banget. Jadi bingung ngabisinnya,” kata Adnan, 18 tahun.

“Ah kamu nan, jangan disisain. Kita aja makan susah,” kata Lia.

“Iya, aku tahu. Ini aku gak mau buang. Liat kan aku lagi ngapain. Di luar masih banyak yang lebih kelaparan dari kita,” lanjut Adnan.

Saya diam saja sambil memperhatikan mereka.

Dan Andrew nanya, “Nich kalian kan udah belajar tentang jurnalistik, kalian mau ngapain abis ini?”

Lia: “Ya, kita jadi lebih berani untuk nanya sama orang lain tentang sesuatu. Terus kan si Adnan juga punya blog kak.”

Saya dan Andrew kaget! Langsunglah saya minta alamat blog Adnan dan ternyata Adnan juga menjadi moderator di blog Jurnal Sekolah Otonom. Hebat!

Mereka pun bertanya blog dan facebook saya. Hajar! :)

Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan penampilan Sanggar Akar, yel-yel kelompok dan pengumuman pemenang mading. Ya, memang sich kelompok kami tidak menang lomba mading tapi kami puas, paling tidak saya puas.

Penampilan yel-yel tim Batik Solo (Mangkunegaraan dan Keraton)

Inilah penampilan Sanggar Akar "Kalo bermimpi harus usaha, kalau tidak ya jalan di tempat" --- seperti itulah liriknya

Akhirnya ada foto kelompok juga :)

Bertemu dengan anak-anak yang percaya diri, mandiri, tidak manja, kritis, jago ngomong, membuat saya sadar bahwa generasi Indonesia masih ada yang sehat jasmani dan rohani. Mereka pun tidak bosan-bosannya mengingatkan setiap orang untuk datang ke pentas mereka di TIM tanggal 20-23 November 2011 ini. Tiket masuk untuk mahasiswa sebesar Rp 30,000 dan umum Rp 50,000. Datang ya :)

Dalam acara ini pun, Coca-Cola memberikan bantuan dua buah speaker aktif kepada Museum Tekstil dan dua buah komputer serta printer kepada Sanggar Akar. Ah, berbagi itu memang menyenangkan. Semakin banyak aura positif yang tertangkap oleh saya. Saya belajar banyak dari mereka, yang tidak bisa saya gambarkan secara jelas. Yang pasti, hati ini serasa adem bersama mereka.

Lia (cocok jadi leader dari cara dia bicara dan me-leading teman-temannya) dan Angga (pendiam tapi rajin mengerjakan tugas untuk tim)

Pak Supadi mukanya tegang banget :P

“Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu banyak sekali. Semua-semua semua dapat dikabulkan, dapat dikabulkan bersama dengan sanggar akar. Aku ingin keliling dunia. Aku ingin menjadi musisi. Aku ingin jadi penulis. La…la…la…(Yel-yel kelompok batik Solo, kelompok saya, Lia, Andrew, Adnan, Angga dan Hilda, dan teman-teman dari tim Batik Solo Mangkunegaraan)

Coca-Cola team+Sanggar Akar

Deva 


9 Comments

Sabtu Di Ubud

Well, maaf ya kalau judulnya selalu Ubud belakangan ini. Sindrom nich.

Saat ini saya masih duduk di tempat yang sama selama 4 jam. Ditemani laptop, kabel, handphone, dan diiringi suara sungai dan lagu dari laptopnya Trina. Berhubung saya dan Trina mendapatkan shift siang jadi kami masih bisa santai di hostel ini sedangkan Christina, dia sudah keluar dari pukul 07.00 WITA.

Jadi, begini saya mendapatkan tugas di Indus Restaurant, Trina MC di Neka Museum dan Christina adalah volunteer untuk kids and youth programs. Besok adalah hari terakhir Ubud Writer and Reader Festival 2011. Bagaimana ya saya bisa menjelaskan tentang acara ini?

Mmm…ya layaknya sebuah acara pasti ada kekurangan di sana-sini dan hal tersebut saya rasakan di hari pertama bekerja. Pagi-pagi sudah harus berlari ke sana ke mari untuk mencari jawaban dari hal yang krusial yang seharusnya sich ada penjelasan di saat orientasi. Tapi ya maklumin aja dech, mungkin terlalu banyak hal penting yang diurusi oleh panitia inti acara ini. Try to be positive thingking.

Orientation on Oct 4, 2011 at Left Bank

Keuntungan menjadi volunteer adalah kami mendapatkan free pass untuk berbagai acara di main venue tapi ya emang dasarnya saya saja sich yang pemalas. Selama saya di sini, saya baru datang satu kali di acara selain di Indus Restaurant, yaitu book launching-nya Ahmad Fuadi untuk edisi bahasa Inggris novel “Negeri 5 Menara”. Yes, I met him again. Lucky me!

Kenapa saya tidak datang ke acara lainnya? Karena kemarin saya jalan-jalan keliling Ubud sama Elisabeth (volunteer dari Jogjakarta). Kami pergi ke Ibah, trekking ceritanya nich. Subhanallah, saya speechless, itu cantik pemandangannya.

Nyeker di Ibah

Lantas, hari ini kan ada waktu kosong, kenapa tidak datang ke acara di main venue? Karena sodara-sodara, saya hanya ingin ada di hostel ini dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Menikmati suara sungai. Hahhaa….sok mellow.

Tapi bukan berarti saya kurang bersosialisasi dong. Pastinya tidak. Jadi acara UWRF 2011 ini kan berlangsung hingga malam. Nah, itulah waktunya saya hang out dengan teman-teman baru. Sudah 2 malam berturut-turut kami hadir di acara art performance, poem slam, dan special event.

Oiya, jujur saja saya tidak tahu banyak tentang penulis internasional yang hadir di acara ini tapi melihat antusiasme dari para peserta, saya percaya bahwa mereka sudah berhasil ter-influence dengan buku-buku yang penulis ini ciptakan. Ada lho yang bela-belain beli buku baru untuk ditanda-tangani oleh penulisnya. Dan para penulis pun ramah-ramah melayani berbagai sapaan, pertanyaan di pinggir jalan, di mana pun dari para peserta. Lumer. Cair. Hangat.

Rob Lilwall and his readers

Ada pemandangan yang menarik saat poem slam semalam. Jadi itu adalah acara tanding puisi dan siapapun boleh ikut sumbang puisi dan akan dinilai oleh juri. Nah, ada perbedaan antara author dari luar dengan dalam negeri. Kalau yang dari luar, nulis puisinya di kertas. Sedangkan kalau dari dalam negeri, mereka nulisnya di Blackberry. Hahaha…dan pesertanya pun seperti itu. Kalau dari Indonesia, rempong dengan handphone sedangkan kalau dari luar negeri mereka jarang pegang handphone.

Lucu melihatnya.

Well, I gotta go now. Get lunch. Attending one event. Working. Shopping. Hang out. Sleeping. Life.

Deva


26 Comments

Berbagi Bikin Happy

Itu tagline dari akademi berbagi, sebuah komunitas yang baik hati serta tidak sombong dan pekerjaan utamanya adalah berbagi ilmu kepada setiap orang, tanpa terkecuali. *Duh, bahasa saya* :D

Saya sudah 3 kali ikut kelas akademi berbagi, salah satunya adalah “kelas tidak biasa” yang semalam digelar di event Social Media Festival di FX. Nendang banget acaranya dan para pembicara+moderatornya megang dech!

Oke, jadi gini, pembicaranya adalah Pidibaiq dan GlennMars. Sedangkan moderatornya adalah Prabu Revolusi. Kalau ada yang belum tahu Pidibaiq dan GlennMars monggo di-browsing yak. Singkatnya Pidibaiq adalah penulis dari Drunken Molen (hehehe…saya minjem buku ini dari Saad), Drunken Molen, dan 2 buku lainnya (lupa saya judul bukunya). Sedangkan GlennMars atau Glenn Marsalim adalah freelancer dalam bidang advertising yang sudah mendapatkan banyak penghargaan. Nah, kalau Prabu Revolusi adalah laki-laki tampan yang enak dipandang…hahaha…iya iya, dia anchor 811 di Metro TV.

Yak, gak salah kan kalau saya bilang moderatornya kece?! :P

Temanya apa? Di undangan sich tertulis: “Menjadi Tidak Biasa dengan Orang-Orang Luar Biasa”.

Nah, tapi jangan sekali-kali berpikiran bahwa ini acara serius. Ini acara yang jauh dari serius. Selama 2,5 jam berada di dalam kelas, saya tidak berhenti tertawa. Pidi Baiq dan GlennMars megang panggung banget.

Panggung milik mereka (Dari kiri-kanan: Prabu Revolusi, Pidibaiq, dan GlennMars)

Memang sich acaranya terkesan “Kok tertawa melulu?” ya karena memang lucu tapi bukan berarti isinya dangkal. Nich, saya kutip beberapa perkataan narasumber ya…ya tidak mirip-mirip banget tapi intinya sama kok (hei, saya bukan penghafal lho. Dari kecil susah menghafal. Lebih ke pemahaman hehehe…).

  1. Kita bekerja untuk popularitas – Pidibaiq. Maksudnya: selama ini kita tanpa disadari bekerja hanya untuk mengejar popularitas. Padahal hal tersebut bukan apa-apa.   Makanya banyak dari kita yang merasa kurang bahagia, malas-malasan kalau berangkat kerja, dan tidak bergairah.
  2. Jadi dirimu sendiri – Pidibaiq. Mungkin ini terkesan klise ya. Tapi cocok  untuk menjawab pertanyaan seorang penanya, “Bagaimana caranya kita bisa berpikir out of the box”. Pidibaiq: “Kalau semua orang berada di luar kotak, maka itu akan jadi hal yang umum. Ketika semua orang berada di luar kotak, saya akan milih masuk ke kotak. Bukan karena ingin berbeda tapi ya saya cuma mau jadi diri sendiri. Tidak usahlah membuat pola-pola.” GlennMars: “Singkirin kotak itu. Saya tidak pernah merasa ada kotak. Kotak itu tidak ada. Udah, kerja sebaik mungkin sesuai jati diri. Itu cukup.
  3. Tentuin strategi – GlennMars. GlennMars bercerita bahwa awal mula dia menjadi freelancer karena uang dia habis, tinggal 300ribu. Terus dia bikin SWOT. Nah, ketemu dech ide kalau dia harus jadi freelancer. Langsunglah dia ambil depositonya (teteup ya, semiskin-miskinnya Glenn, dia masih punya deposito, hehehe) dan menjadikan itu sebagai modal awal menjadi seorang freelancer. Langkah keduanya adalah memberdayakan anak-anak magang yang waktu itu magang di tempat dia. Simbiosis mutualisme.
  4. Kemalasan adalah asal dari kreativitas – GlennMars. Ini untuk menjawab pertanyaan, “Kok saya tiap bangun tidur malas banget kerja?” Glenn: “Justru dari kemalasan timbul ide-ide kreatif. Coba mikir tentang remote. Orang malas ganti-ganti channel kalau harus ke tivi dulu. Makanya dibuat remote. Terus, orang malas mindahin barang-barang berat, makanya dibuat benda yang pakai roda. Nah, kelola malas itu jadi hal yang kreatif.”
  5. Malas karena hal yang berasal dari luar diri – Pidibaiq. Ini juga untuk menjawab pertanyaan yang di atas. Banyak orang yang selalu merasa “tertuntut”. Kerjainlah hal yang sesuai minat diri sendiri. Jangan berharap bisa akan sama tinggi dengan orang lain. Masing-masing kita mempunyai kekuatan, kemampuan, dan daya masing-masing. Tidak akan pernah sama dengan orang lain.
  6. Filsafat itu mencari kebenaran di luar definisi – Pidibaiq. Ini ketika dia menjelaskan tentang latar belakang sekolah filsafat dia dulu di Belanda.
  7. Gagal itu karena ada orang yang sukses – GlennMars. Ini untuk menjawab pertanyaan teman saya, Kibot. Dia bertanya, “Bagaimana caranya supaya kita bangkit dari keterpurukan atau kegagalan?” GlennMars: “Pikirlah bahwa kita gagal maka kita telah membuat orang lain sukses. Marah boleh. Kesal juga boleh. Yawda. Jangan lama-lama. Setelah marah dan kesal itu selesai, pikirkan cara supaya kita dapat berhasil lagi.”
  8. Happiness is nothingness – GlennMars. Ada seorang penanya menanyakan, “Arti kebahagiaan bagi Glenn dan Pidibaiq apa sich?” Glenn: “Happiness is nothingness. Kebahagiaan adalah dengan melupakan diri sendiri.” —- nah, tentang ini saya masih belum jelas. Mau nanya tapi waktu sudah habis. Ada yang mengerti maksudnya apa?  Sedangkan Pidibaiq menjawab: “Kebahagiaan itu bukan dicari tapi diciptakan. Orang capek-capek ke Bandung untuk liburan, eh balik ke Jakarta jadi stres lagi karena kecapekan. Apa maknanya? Ciptakanlah kebahagiaanmu sendiri. Tidak usah mikir terlalu repot.”

Ya itu hanya kutipan-kutipan seingat saya ya :)

Lebih seru lagi kalau dengar langsung dari para pembicaranya. Terima kasih untuk akademi berbagi yang menyadarkan saya bahwa berbagi itu tidak akan mengurangi apapun, justru menambah kebahagiaan dengan berbagai makna. Dengan berbagi acara ini, saya pun jadi semakin banyak waktu menghabiskan waktu dengan teman-teman dekat saya. Kecup Kibot, Danna dan Ulfi.

Kami murid akademi berbagi Jakarta (Dari Ki-Ka: Danna, saya, Ulfi, dan Kibot)

Oiya, saya juga dapat bertemu langsung dengan Bang Fuadi, penulis Negeri 5 Menara dan InsyaAllah akan bertemu lagi di Ubud Writer and Reader Festival 2011. :)

Yeay, bisa foto bareng Bang Fuadi.

Deva

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 157 other followers