Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


39 Comments

Yes, I Can Do It!

Disclaimer: ini tulisan “terberat” yang saya tulis

*inhale exhale*

Saya pernah menulis bahwa setiap kali menstruasi, saya akan meringis kesakitan. Ada masa di mana sakit itu biasa aja, tapi tidak jarang menstruasi bisa bikin saya merintih kesakitan. Dan itu saya alami hari Kamis malam. Sakit banget. Saya merintih kesakitan sepanjang malam. Perut saya pun dikompres sebentar. Jumat pagi, saya menangis. Tidak kuat sakitnya. Ijin tidak masuk ke kantor. Dan dibawa ke RS oleh Suami.

Jumat siang ke RS. Ternyata dokter kandungan adanya sore, sekitar jam 5an. Kami pun hanya membuat akun dan mengambil nomor.

Suami pergi meeting sebentar dan kembali jam 6 sore.

Ketika baru sampai rumah, dia langsung panggil saya, yang sedang terbaring kesakitan. Suami terlihat basah kuyup, belum sholat maghrib tetapi dia tetap mendahulukan saya untuk dibawa ke RS, yang jaraknya 15 menit dari rumah.

“Solatnya di RS aja, abis kamu diperiksa ya,” kata Suami saya.

Pelan-pelan sekali Suami saya membawa motornya. Saya tahu, dia takut saya tambah kesakitan.

Tidak lama duduk di antrian, kami pun dipanggil ke ruang pemeriksaan. Saya cerita keluhan saya, riwayat sakit saya seperti apa. Dan dokter pun meminta saya untuk berbaring di kasur karena mau di USG. Dulu, sebelum saya menikah dan mengalami keluhan yang saya, saya pun di-USG tapi di-USG luar. Sedangkan kali ini, dokter melakukan USG dalam ke saya. Dan…itu sakit!

Saya tidak akan lupa reaksi dokter ketika melihat hasil USG saya. Dia menggigit bibirnya. Saya berpikir: sesuatu yang buruk akan terjadi!

Ternyata itu benar…

Dokter menjelaskan dengan sangat mendetail penyakit yang saya alami. Bukan sekedar miom. Tapi telah terjadi adenomiosis. Penebalan dinding rahim tapi bentuknya menyebar, berbeda dengan miom yang bentuknya bulat, jadi miom lebih mudah diangkat daripada adenomiosis.

“Kalau kamu sudah punya anak, pasti saya akan kasih saran untuk mengangkat rahim kamu. Tapi karena kalian mau punya anak, ayo kita lakukan sejumlah terapi.”
Dia merujuk saya ke RS Hermina dan bertemu ahli USG, untuk memastikan diagnosa ini dan setelah itu, jika beneran ada penyakit adenomiosis tersebut, saya dirujuk ke RSCM dan ditangani oleh ahli endokrin. Dokter menjelaskan penyebab penyakit ini tidak lain karena hormon yang tidak stabil. Sementara itu banyak faktor yang menyebabkan ketidakstabilan hormon di perempuan.
 ”Sekarang kita sudah tahu penyakitnya apa. Jangan menyerah. Kita bisa menangani ini. Allah itu Maha Kuasa. Dia tidak mungkin membuat penyakit, jika tidak ada obatnya.”
Itu kata-kata dokter yang menguatkan saya, ketika air mata belum bisa berhenti. Suami saya pun menggenggam tangan saya kuat sekali.
Sesampainya di rumah, saya langsung menangis…lagi di kamar. Suami saya, ya Tuhan, saya udah bikin dia khawatir setengah mati.
“Deva, kalau kamu nangis mulu, penyakitmu tambah parah. Aku cuma minta 1 hal. Bahagiain batinmu. Jangan pikir apapun yang pusing-pusing ya…positive thingking atas APAPUN. Kalau ke dokter dan keadaanmu makin parah, dokter pasti saranin kamu untuk berhenti kerja demi mengurangi tingkat stresmu.”
Banyak banget kata-kata Suami yang tulus dan bikin dada saya semakin sesak karena…saya artinya belum bisa hamil kalau masih sakit.
Dan selama weekend, emosi saya up and down banget. Suami terlihat usaha keras banget bikin saya tidak melamun. Karena kalau saya melamun, pasti ujung-ujungnya saya akan menangis. Selama weekend, dia menemani saya terus menerus. Gak beranjak dari sisi saya. Dari main raket, berenang (finally, hari Sabtu kemarin untuk pertama kalinya saya bisa berenang setelah diajari Suami hahahhaa), ke rumah mertua dan menginap di sana.
Bagaimana reaksi keluarga saya?
Mereka khawatir banget sama saya :(
Dan semua solusi dicari oleh mereka dan suami. Dari tawaran pengobatan herbal, cari second opinion, berobat di RS yang paling bagus, dan jangan menyerah!
“Semua orang saya banget sama kamu Dev. Tapi percuma semua pengobatan itu kalau kamu gak bisa handle emosimu. Lakukan apapun Dev yang bisa bikin kamu happy. Apapun. Aku di sini, di samping kamu.”
Ada saat dimana…saya melihat mata Suami saya merah dan tertahan tangisnya. Dan yang bikin saya gak tahan adalah ketika dia bilang dia akan lakuin apapun agar saya sehat, meski dengan cara operasi :(
Hah…
Saya gak akan bertanya, “WHY ME?”
Karena ya ini takdir. Dan kata Suami saya, kita gak boleh sedikit pun menyalahi takdir. Yang harus kita lakukan adalah menghadapinya bersama-sama.
“Aku adalah orang yang paling tersiksa dengar kamu sakit seperti ini Dev…janji sama aku, janji…kamu akan lakuin apapun yang bisa bikin kamu happy. APAPUN. Bahagiain batinmu. Cuma itu ya Dev…cuma itu…”
Jadi, apa yang akan saya lakuin sekarang?
Saya akan menghadapi kenyataan ini. Dan hilangkan pikiran bahwa ini semua mimpi. Ini fakta. Saya harus sembuh untuk Suami dan keluarga saya. Saya pasti sembuh. Pasti sembuh! Dan akan lakukan apapun agar bisa segera sembuh :)
Saya sempat sich mikir: Do I need to write this story in my blog? For what? To give sad story to people?
Tapi saya akhirnya tahu apa jawabannya. Karena menulis bagi saya adalah bentuk meditasi. Bentuk cerminan hidup saya untuk pelajaran di masa depan. Dan untuk sharing dengan pembaca, yang mungkin mempunyai keluhan yang sama dengan penyakit saya. Pesan saya: segera periksa ke dokter. :)
Jadi, sekarang: saya harus tanam semangat yang besar supaya bisa sembuh! Rajin olahraga, kurangi makan di luar, jam tidur harus teratur, dan lakukan apapun yang bisa bikin saya happy.
Doakan ya :) *terdengar sayup-sayup, Depa minta doa mulu* :P
Deva


10 Comments

Bersyukur: Sehat

Obrolan singkat saya dengan seorang teman membuat rasa bersyukur karena sehat terbesit dalam diri ini.

Dia menceritakan bahwa seorang temannya yang dulu ceria sekarang harus terbaring sakit karena lupus. Masih muda. Dan bukan sekali ini saja ia menceritakan kisah temannya yang saat ini sedang sakit. Beberapa hari lalu, ia juga menulis kisah temannya yang sakit kanker tulang. Sekarang kondisi temannya telah membaik, semoga, karena ia telah kembali ke tempatNya.

“Gw bersyukur banget bahwa gw sehat, Dev,” katanya kemarin saat kami mengakhiri percakapan.

Saya turut bersyukur bahwa hingga kini belum pernah dirawat inap di rumah sakit. Tapi pernah beberapa kali harus bolak-balik ke rumah sakit karena sinus dan sakit tiap menstruasi. Saya bersykur bahwa ketika badan pegal-pegal, saya bisa memanggil tukang pijit ke rumah atau datang ke salon untuk dipijat. Jika sakit, masih bisa diperiksa ke dokter atau klinik. Jika sakit, masih bisa membeli obat.

Bayangkanlah jika ada di antara kita kesakitan, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak mampu. Tidak berdaya. Karena…uang.

Ini adalah catatan untuk diri sendiri. Semoga turut berguna untuk yang lain.

Bersyukurlah bahwa kita mempunyai kemampuan untuk berusaha sembuh.

Jaga kesehatan semaksimal mungkin. Konsumsi makanan yang sehat. Sebisa mungkin dibarengi dengan minum susu. Kurangi konsumsi bahan makanan dan minuman yang dapat mengganggu kesehatan tubuh.

Sungguh, sakit itu tidak enak. Terbaring tiada daya.

Semoga kita yang sedang sakit, bisa segera sembuh. Dan yang sehat bisa terus sehat.

Jaga kesehatan ya temans! :)

Deva


35 Comments

Menjadi Orang Tua; Berpestalah!*

Saya meyakini bahwa ketika sepasang manusia memutuskan untuk menikah maka tanggung jawab selama menjalani pernikahan ada di tangan mereka, dari hal kecil hingga rencana besar untuk masa depan. Salah satunya adalah mengenai kehamilan.

Di kota besar mungkin sudah banyak masyarakatnya yang berpikiran terbuka bahwa kehamilan merupakan sesuatu yang perlu direncanakan secara matang. Jadi bukan hanya sekedar hasil dari kegiatan seksual yang perlu dilakukan selama masa pernikahan. Sayangnya, pikiran ini masih dimiliki oleh sedikit masyarakat di Indonesia.

Beberapa mungkin akan menjawab, “Maklum, namanya juga udah nikah.”

Tidak salah sich jawabannya tapi bukankah kehamilan itu hal yang besar dan istimewa ya. Ibaratnya pernikahan ya perlu direncanakan. Lebih ironisnya lagi bila ibu hamil bolak-balik ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya tanpa disertai pasangannya. Doh!

Mendadak saya seperti mendengar suara, “Kan sibuk Dev, gak bisa selalu nemenin dia ke rumah sakit untuk check-up.” Mmm…terserah sich kalau pendapatnya seperti itu tapi kok ya saya miris ya mendengar alasan tersebut. Sederhana banget alasan saya bahwa ibu hamil itu memang tidak lemah tapi ia perlu perhatian ekstra karena dia membawa 2 jiwa manusia ke mana-mana dan itu tidak mudah. Jika sesuatu terjadi di jalan, hayooo nyesel nanti ke depannya. Menurut pendapat saya, ketika seorang perempuan mengandung maka ia memerlukan perhatian ekstra tanpa perlu mengiba, tanpa perlu merengek karena sudah merupakan tanggung jawab pasangannya untuk memberikan hal tersebut kepadanya.

Saya juga masih sering melihat ibu hamil naik turun bis seorang diri. Berdiri pula! Nah, itu artinya kita semua, terlepas apakah ada hubungan dengan ibu hamil tersebut atau tidak, tetap harus bersedia memberikan tempat duduk kepadanya. Tenggang rasa, kalau bahasa PPKN-nya. :)

Love u mom!

Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah video tentang kesehatan ibu hamil. Di video tersebut, ada seorang bapak yang bercerita bahwa istrinya meninggal saat ingin melahirkan. Alasannya? Karena bidan tidak dapat menangani masalah kesehatannya sehingga sang ibu hamil harus dibawa ke rumah sakit. Tapi apa yang terjadi? Rumah sakit tidak mau menerima sang ibu karena sang suami tidak mempunyai uang cukup untuk biaya perawatannya. Maka ia pun dirujuk ke rumah sakit lain. Ketika dalam perjalanan, ibu tersebut meninggal dunia. *inhale exhale*

Masih berpendapat bahwa kehamilan tersebut tidak perlu rencana?

Nah, setelah berpikir membuat rencana untuk hamil atau tidak, yuk coba ubah pikiran bahwa kehamilan sehat hanya tanggung jawab ibu hamil seorang. Salah! Kesehatan ibu hamil merupakan tanggung jawab suaminya pula. Jadi, jangan ragu wahai para lelaki yang memiliki pasangan yang sedang hamil untuk menemaninya periksa kandungan.

Terus, jangan malas juga wahai para ibu hamil untuk periksa kandungan. Beberapa hari lalu, seorang sahabat saya mengirimkan pesan singkat via telepon ke saya. Dia bilang kalau dia mau dikuret hari itu. Saya tidak mengerti apa yang dimaksud kuret. Dia pun menjelaskan kalau kuret itu artinya memberhentikan kandungan. HAH??? Kenapa? Ternyata hasil USGnya menunjukkan bahwa rahimnya kosong tapi kantong rahim dan air ketuban masih ada. Katanya, kandungannya terkena virus sehingga janinnya tidak berkembang. Oleh karena itu, kehamilan perlu dihentikan dengan cara dikuret.

Sebelum memulai proses kuret ini, ia pun harus minum obat perangsang untuk melakukan pembukaan. Jujur saya tidak bisa membayangkan prosesnya seperti apa.

Terlepas dari apapun hasil USG, cerita tersebut menandakan betapa pentingnya untuk selalu rajin periksa kandungan jadi jika sesuatu terjadi dengan kandungan bisa segera teratasi.

Apa lagi tipsnya?

Jaga asupan makanan dan vitamin. Ada yang bilang bahwa saat hamil bawaannya mual melulu. Tapi ya memang harus dipaksakan untuk makan, sedikit demi sedikit, yang penting ada makanan bergizi yang kita konsumsi.

Selain itu, jangan memaksakan diri untuk beraktivitas seperti biasanya. Sadarlah bahwa hamil itu berbeda dengan masa tidak hamil. Mau ke mall cari sepatu? Silahkan tapi gak sampai berjam-jam juga untuk mendapatkan sepasang sepatu. Kalau sedang tidak hamil sich tidak apa-apa tapi kalau sedang hamil? Pikir lagi yuk.

Berhenti merokok jika biasanya menjadi perokok aktif. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan. Jika sedang tidak hamil masih mau merokok ya silahkan saja, toh itu hak tiap orang. Tapi coba lagi yuk pikirkan dampak ke depannya jika anak di dalam perut sudah diberikan racun dari rokok tersebut. Menurut saya, itu bukan tindakan bijak jika terus merokok saat hamil.

Olahraga juga penting dilakukan oleh ibu hamil. Saya sering melihat ibu hamil jalan kaki mengelilingi Gelora Bung Karno di hari Minggu ditemani oleh pasangannya. Sambil olahraga juga bisa berbagi cerita. Manis! Tapi ingat, jangan diporsir.

Berbagai mitos tentang ibu hamil juga banyak beredar di masyarakat kita. Yang pasti, jika merasakan sedikit hal tidak nyaman dengan kandungan, yuk segera beritahu anggota keluarga dan periksa ke dokter kandungan. SIAGA, kalau kata iklan. :)

Terakhir, be HAPPY!

Idealnya masa kehamilan adalah masa yang ditunggu oleh para wanita yang sudah berpasangan. Katanya, buah hati itu bisa lebih mendekatkan diri dengan pasangan. Semestinya hal tersebut menjadi alasan para ibu hamil untuk bahagia menikmati masa-masa kehamilan. Hal-hal buruk biasa terjadi di sekitar kita tapi yuk turunin kadar stres, kadar pusing, kadar bad mood demi calon anak tercinta. Berbahagialah! Rayakan masa kehamilan ini agar anak di kandungan juga merasakan kebahagiaan tersebut.

Tapi, semua tips, paparan, atau penjelasan tentang kehamilan menjadi sedikit sia-sia jika sang ibu dan pasangannya tidak merayakan masa kehamilan ini sepenuh hati.

Bayangkan suara tangis yang meledak saat sang bayi berada di pelukan kita pertama kalinya. Melihat wajah baru yang selama ini berada di perut.

Keajaiban!

Nah, yang juga penting adalah ketika sudah berhasil menjalani proses melahirkan dengan sebaik mungkin, yuk jangan malas untuk bangun setiap saat ketika anak membutuhkan ASI (Air Susu Ibu). Lagi, pemberian ASI ini bukan hanya tugas ibu saja tapi juga perlu peran aktif dari ayah. Bangun tengah malam untuk mengambilkan ASI yang telah disiapkan dalam botol kan bisa bikin ibu memuja ayah lho. Hehehe….

Berbahagialah para ibu yang berhasil memberikan ASI Eksklusif kepada buah hatinya. Tapi jika tidak bisa melakukan hal serupa, langsung konsultasikan kepada dokter apa langkah yang perlu diambil. Mungkin ada beberapa faktor penyebab terhambatnya proses pemberian ASI Eksklusif tersebut. Jangan takut. Pasti ada solusinya. Nah, di sini peran ayah juga penting untuk selalu meyakinkan ibu bahwa semuanya akan baik-baik saja. :)

Saya meyakini bahwa menjadi orang tua bukan hal yang mudah, untuk itulah diperlukan kesungguhan hati ketika memutuskan ingin menjadi orang tua. Akan lebih ringan jika peran tersebut dilakukan secara seimbang dengan pasangan.

Mari rayakan kehamilan dan membuat pesta kehidupan selama menjadi orang tua, yaitu ayah dan ibu! :)

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Writing Competition yang diadakan oleh Sari Husada; Nutrisi untuk Bangsa.

Deva


18 Comments

Rokok Bukan Mainan!

Silakan menonton video berikut ini:

Mungkin ada beberapa dari kalian yang sudah pernah menonton video ini. Bagaimana perasaan kalian? Bos saya lah yang pertama kali menunjukkan video ini. Waktu itu ditunjukkan bukan untuk membahas bahaya rokok tapi untuk mencontoh ide kritik sosial di video tersebut. Sewaktu saya menonton video ini, saya menghela nafas berkali-kali. Yang menjadi salah satu alasan miris adalah mengapa harus orang asing yang membuat video ini? Mengapa bukan orang Indonesia? Toh Indonesia yang dibahas cukup banyak di video ini. Tapi…ya paling tidak, toh ada yang bicara kan…

Sudah jutaan artikel, video, diskusi, dan berbagai media lain yang mengangkat satu pesan utama mengenai rokok yaitu ROKOK BERBAHAYA! Tapi hasilnya? Masih banyak masyarakat yang merokok, dan seperti di dalam video tadi, masyarakat Indonesia adalah pengkonsumsi yang sangat besar.

Seorang teman pernah mengatakan kepada saya saat kami ada di sebuah daerah, dia bilang “Setiap orang mempunyai prioritas, Deva. Ada yang dengan merokok justru bisa berpikir.”

Saat mendengar tersebut, saya masih tidak puas. Bayangkan, setiap saya pergi ke daerah, banyak sekali masyarakat kurang mampu justru memilih untuk membeli rokok ketimbang nasi! Hidup mereka sungguh tiada berpunya tapi mereka bisa membeli rokok. Pipi sampai keriput, mendorong gerobak, baju compang-camping, tapi mereka merokok! Anak kecil hanya menggunakan celana dalam, kaos dalam, ingus kemana-mana, perut buncit (yang diduga karena busung lapar), rumah beralaskan tanah, tapi ayahnya? Merokok! Apakah anak-anaknya sekolah? BELUM TENTU!

Siapa yang diuntungkan? Orang-orang berdasi dari perusahaan rokok! Apakah mereka merokok? BELUM TENTU!

Benar itu adalah HAK setiap orang untuk merokok tapi KEWAJIBAN mereka untuk tetap menjaga kesehatan orang-orang yang disayanginya. Dengan cara apa? Mungkin sederhananya TIDAK MEROKOK DI DEKAT PEROKOK PASIF.

Di antara anggota inti keluarga saya, hanya abang saya yang merokok. Jelas bahwa dia tahu saya tidak suka dengan kegiatan merokoknya. Jadi dia pun tidak akan merokok di dalam rumah. Pun, jika saat dia merokok ada anak kecil di sekelilingnya, pasti saya atau anggota keluarga yang lain akan melarangnya. Bahkan kami sudah pernah membuang rokoknya saat ia lengah. Sedikit usaha tapi paling tidak membuat ia sadar bahwa kami tidak suka dengan rokok.

Bukankah sudah menjadi pengetahuan umum bahwa asap rokok bagi perokok pasif lebih berbahaya daripada bagi perokok aktif? Dan hingga detik ini, pendapat saya tidak berubah bahwa merokok di depan anak sama saja dengan membunuhnya pelan-pelan.

Sangat ironis kan, masyarakat Amerika Serikat, sebagai masyarakat dari negara produksi rokok justru jarang ada yang menjadi perokok. Sedangkan Indonesia, yang pendapatan negara per tahunnya sangat rendah dibandingkan Amerika justru menjadi pengkonsumsi rokok dengan jumlah yang sangat besar. Propaganda iklan seperti model yang keren, tagline yang canggih, dan gaya hidup yang bahagia dan fun berhasil membuat masyarakat tergiur dan berpura-pura tidak bisa membaca bahaya merokok yang dicantumkan di setiap bungkus rokok.

Ketika isu untuk menutup perusahaan rokok berkembang di masyarakat, muncul lagi pendapat “Kalau perusahaan rokok ditutup, bagaimana dengan karyawannya? Perusahaan rokok telah menyumbangkan uang sangat besar bagi pembangunan negara.”

Oh come on! Itu artinya, perlu dibenahi sistem pemenuhan lapangan pekerjaan. Bisa! Apalagi sekarang semakin banyak usaha ekonomi kreatif di Indonesia. Perusahaan rokok banyak menyumbangkan uang bagi pembangunan negara? Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah uang tersebut BENAR-BENAR digunakan untuk pembangunan?

Negara yang kuat dimulai dari masyarakatnya yang kuat, yang sehat, segar. Dan rokok BUKANLAH vitamin untuk membuat tubuh kuat, segar dan sehat! Rokok BUKANLAH mainan untuk anak kecil dan/atau pelajar. Rokok BUKAN alat untuk membuat keren, kece, gagah, dan istilah lainnya yang positif. Rokok itu racun! Bisa membunuh!

Ah…saya sangat emosi jika ada yang merokok hanya untuk dibilang “keren”. Stop it!

Tolong, berhentilah merokok. Paling tidak, jangan merokok di dekat perokok pasif. Dan, jangan pernah meminta tolong anak kecil untuk membeli rokok. Konyol, sungguh teramat konyol.

Deva


8 Comments

Kecengklak

Saya tidak tahu asal mula kata ini dari mana. Yang saya tahu arti kecengklak itu sama dengan keseleo dan rasanya sakit luar biasa serta bisa bikin emosi! Kok saya bisa tahu? Iyalah, saya lagi menjadi korban dari kecengklak. Jadi ceritanya, waktu itu saya mau ambil air wudhu eh pas turun tangga, kaki saya pletak…kecengklak dech. Langsung mendadak tidak bisa berdiri. Ngilu banget.

Tapi saya pendam rasa sakitnya karena saat itu saya sedang menjadi peserta @akademiberbagi di Femina Office (Readers Digest Indonesia). Meredam sakit selama 2 jam itu rasanya cenat-cenut luar biasa. Dan, baru jelas betapa sakitnya saat harus berdiri untuk bergabung dengan semua peserta dalam sesi foto bersama. Saya, yang ketika itu datang bersama Ulfi, cuma bisa bilang, “Fi, gw gak bisa diri.” Ulfi kaget. “Masa sich Dev? Lo berdiri dech sekarang.”

Beneran aja lho, pas mencoba untuk berdiri eh malah sakit, ngilu, dan perih. Akhirnya ya sudah saya melewatkan sesi foto bersama tersebut. Yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika mau pulang. Perjalanan dari kursi ke pintu yang berjarak hanya 10 ubin kok berasa jauh sekali. Saya dan Ulfi bingung setengah mati. Ini gimana cara nyampe pintunya. Gak bisa berdiri, apalagi berjalan. Akhirnya dengan dipapah Ulfi, saya jalan pelan-pelan sekali dan rasanya ingin menangis. Ada sich satu panitia yang nanya tentang kondisi saya tapi ya cuma sekedar basa-basi (lho, memang apa yang diharapkan?! :P )

Ulfi yang baik hati dan tidak sombong (hehehehe) pun berbaik hati untuk mencarikan taksi keluar gedung. Masuk taksi dengan helaan nafas yang berat dan sang sopir pun bertanya mengenai kondisi saya. Langsunglah keluar resep-resep tradisional untuk obat kecengklak ini. Dari beras kencur, pijat bahkan sampai ditambahin, “Harus pijat sekarang Mbak. Kalo gak, bisa bengkak besoknya!”

Eaaa….saya yang keesokan harinya harus menjadi asisten trainer mendadak pusing! “Duh, bisa dipecat nich kalo besok gak bisa masuk kerja!” pikir saya ketika itu.

Di perjalanan pulang itu pun, saya akhirnya menghubungi orang-orang rumah untuk mengabari kondisi saya yang menjengkelkan ini. Dengan nada khawatir Mama menelepon saya, “…terus Deva gimana sekarang? Di taksi sendiri?”

Ya sudah, gak bisa alasan macam-macam. Dengan santainya saya bilang, “Iya sendiri.” Alasan yang cukup baik untuk menambah kekhawatiran keluarga saya (maaf ya…).

Sampai di depan rumah, Papa sudah menunggu untuk membuka gerbang dan membiarkan taksi masuk sampai halaman rumah saya. Dan yap, semua sudah menunggu dengan muka ngantuk yang khawatir di jam 10 malam.

Perjuangan keluar taksi luar biasa menyakitkan. Dipapah oleh Papa dan didudukkan langsung di ruang tamu sambil menunggu tukang pijit (kami menjulukinya Ibu Haji Madura) datang. Ya lumayanlah menunggu Ibu Haji Madura, kira-kira 30 menit baru datang (ternyata beliau juga sedang tidak enak badan). Pijat sana pijit sini, bikin saya meratap di tengah malam dan secara otomatis membangunkan anggota keluarga yang lain. Jadilah saya menjadi tontonan di tengah malam. Bukan karena cengeng tapi memang pijitan Bu Haji Madura maut banget. Gemetaran, muka pucat dan teriak tidak bisa saya elakkan lagi.

Ritual pijatan itu berlangsung selama 1 jam. Tibalah saatnya saya ingin ke kamar mandi. Berdiri dengan keyakinan teguh bahwa sudah oke, dan ternyata itu hanya ilusi. Yang terjadi adalah saya masih belum bisa berdiri, apalagi melangkahkan kaki. Mama pun tidak kuat memapah saya. Akhirnya om saya yang baik hati menggendong saya hingga ke kamar mandi (terima kasih Om J ).

Saat itu saya pusing setengah mati mikirin kerjaan. Dengan pikiran yang bingung dan kaki yang cenat-cenut saya pun tertidur dengan kaku (iyalah gak bisa bolak-balik kaya biasanya).

Jam 6 pagi Mama membangunkan saya. Kaget banget karena saya ada janji dengan bos untuk berangkat bareng acara media training di kantor klien jam 6.15. Saya mencoba bangun dari tempat tidur. Hasilnya NOL BESAR! Masih belum bisa berdiri. Sedih dan bingung bukan main. Saya pun menghubungi bos saya. Ya ketahuanlah reaksinya: kesal, walaupun dia bilang “Oke, cepat sembuh.”

Sejujurnya saya sedih banget. Persiapan media training ini 1 bulan saya lakukan tapi ternyata saya tidak bisa ikut :(

Bertubi-tubi datang sms, telepon dan bbm untuk bertanya tentang kelengkapan data media training. Kata teman tim saya, media training lancar. I wish I was there.

Peristiwa kecengklak ini membawa hikmah untuk saya. Selama ini saya sering membuang energi untuk hal yang tidak penting. Tapi dengan kecengklak ini, untuk melangkah 1 langkah saja tenaga saya sudah seperti mau habis. Hikmah kedua adalah perhatian keluarga selalu bikin saya terharu. Dengan tangan yang lembut, Mama membalurkan parutan biji pala di kaki saya, membawa satu piring nasi, mengambilkan saya minum, membawa tas saya, dan masih banyak lagi. Peluk Mama :)

Begitu juga dengan Papa,om, dan kakak-kakak saya. Tidak ketinggalan keponakan-keponakan saya yang kece-kece, selalu siap dimintai tolong dan selalu nanya, “Kaki Chipa sakit ya?” Lucu banget…

Sejauh ini, kondisi saya sudah cukup baik. Cara berjalan mmm…masih pincang dan kalau udah tidak kuat, akan loncat dengan satu kaki (saya optimis bisa menang 17an nanti di lomba jalan jingkring :P )

Oh, satu lagi. Saya pasrah dengan kerjaan saya. Terima nasib dech kalau nanti hari Senin dapat teguran atau apapun itu. Toh, saya sakit bukan disengaja.

Jadi, hati-hati ya saat melangkah. Kecengklak itu tidak enak, Jenderal!

Deva


6 Comments

Kupang dan Malaria

Dulu saya sempat akrab dengan malaria. Bukan karena saya pernah mengidap malaria (Alhamdulillah) tapi karena saya pernah meneliti tentang malaria untuk klien kantor, sebuah organisasi internasional yang memang berplatform mengentaskan kemiskinan di seluruh dunia.

Waktu itu, bulan Februari tahun 2009. Saya belum resmi bekerja di kantor yang sekarang tapi sudah harus pergi ke Kupang untuk penelitian ini. Luar biasa, tugas pertama langsung diminta untuk ke Kupang selama 2 minggu. Karena tugas yang mendadak ini, ketua tim peneliti pun minta saya untuk membawa seorang teman yang dapat membantu penelitian. Langsung lah saya cari teman yang bisa pergi ke Kupang selama 2 minggu. Tidak mudah, karena ketika itu banyak teman saya yang masih berjibaku dengan skripsi dan ada juga yang sudah bekerja. Serta pikiran mengenai Kupang, jelas berbeda jika saya ajak teman untuk ke Bali. Hahaha…

Tersebutlah seorang teman yang bernama “Ulfi”. Stres. Itu reaksi pertamanya saat saya telepon untuk ke Kupang. “Gila…malaria, Dev,” katanya dengan panik di telepon. Saya jawab dengan santai, “Iya, malaria. Terus?” Saat itu sungguh saya tidak ada gambaran sedikit pun tentang malaria.

Ulfi: “Yawda, gw tanya nyokap dulu ya…”

Saya: “Cepat ya Fi, soalnya kita bakal berangkat beberapa hari lagi.”

Tak lama Ulfi pun mengabari saya bahwa dia siap untuk ke Kupang dengan syarat bahwa ia harus diberi waktu ke rumah sakit untuk melakukan suntik anti malaria.

Ulfi: “Dev, lo gak mau suntik juga?”

Saya: “Hah…ngapain?” (antara jiwa metal, cuek dan bodoh gabung jadi satu).

Setelah briefing 60 menit di kantor, kami pun siap untuk ke Kupang keesokan harinya.

I have no idea about Kupang and Malaria. Really.

Silahkan baca di sini tentang cerita saya mengenai Kupang untuk pertama kalinya.

Kupang dan Malaria

Hari ini, saat saya membaca di twitter, ramai orang yang membicarakan malaria dan menjadikannya hastag #malaria. Oh…ternyata hari ini hari malaria sedunia.

Membuat saya kembali mengingat tentang penelitian itu. Mmm…gak bisa ngomong banyak sich tentang hasil penelitian, hehehee….rahasia katanya.

Paling tidak yang bisa di-sharing di sini adalah bahwa masyarakat Kupang sangat tanggap dengan masalah malaria, maklum Kupang adalah daerah endemik malaria. Penanganan pertama yang akan mereka lakukan jika ada seseorang yang panasnya naik turun adalah segera ke Puskesmas dan di sana para kader Puskesmas (ah…Pak Frans, apa kabarnya beliau?) akan segera mengadakan tes malaria. Tesnya sama seperti tes kehamilan, jika ada dua tanda maka positif dan jika hanya 1 garis merah maka negatif. Yang berbeda dengan tes kehamilan adalah bukan dengan urin melainkan dengan darah yang diambil di tangan kiri, tenang hanya 1 tetes darah kok.

Sewaktu kami meneliti desa Lapeom, kami pun mencoba tes ini hasilnya saya dan 3 orang teman negatif.

Kembali ke penanganan pertama malaria oleh masyarakat NTT. Jika kiranya mereka terindentifikasi malaria maka mereka akan mencoba meminum rebusan daun papaya. Jadi, mereka tidak langsung minum obat dokter kecuali jika selama 3 hari mereka tetap sakit, baru dech mereka minum obat dokter. Dan sebagian dari mereka ada yang mempercayai bahwa dengan memelihara ikan nila di depan rumah, maka ikan-ikan tersebut akan memakan bibit nyamuk anopheles.

Banyak cerita sedih yang berputar-putar di kepala saya ketika mereka menceritakan tentang malaria ini.

Ada NGO internasional yang memberikan kelambu untuk masyarakat tapi karena mereka membutuhkan uang, mereka pun menjual kelambunya di pasar. “Lumayan untuk makan,” kata seorang narasumber.

Ada pula masyarakat yang terlambat mendapatkan pengobatan layak saat diketahui menderita malaria. Penyebabnya klise: transportasi dan biaya.

Sungguh sulit untuk mengatakan bahwa “Yuk, jangan gantung pakaian di dalam rumah” atau “Yuk, pake obat nyamuk”.

Bicara tentang obat nyamuk, saya lupa di desa mana, saya (maaf ketika itu sungguh tidak sopan), nyamuk mengigit kaki dan muka saya. Gatal luar biasa. Seorang teman membawa obat nyamuk cair. Saya pun otomatis mengoleskan obat nyamuk itu di depan para narasumber yang sedang kami wawancarai. Seorang bapak takjub melihat saya sambil bertanya, “Nona, itu apa?” Saya pun menjawab, “Obat nyamuk cair.”

Bapak itu bingung dan bertanya bolehkah ia mencobanya. Saya pun langsung memberikan obat nyamuk cair itu dan bertanya, “Bapak belum pernah lihat?”

Bapak itu singkat menjawab “Belum” sambil membagikan obat nyamuk itu ke teman-temannya.

Saya dan teman hanya bisa tersenyum miris dalam hati. Sebuah desa yang menjadi pusat malaria, tidak pernah tahu tentang obat nyamuk cair. Miris.

Dan langkah yang saya dan tim ambil untuk menghindari malaria adalah setiap malam kami menyemprotkan obat nyamuk di hotel. Berusaha memastikan tidak ada nyamuk anopheles di hotel kami dan menggunakan baju dan celana panjang serta kaos kaki saat tidur.

Kami pun kembali ke Jakarta dengan beragam pendapat dan pikiran mengenai Kupang dan Malaria.

Saat kembali ke Kupang di tahun 2010, saya mendapat kesempatan menyenangkan untuk tinggal di sana selama 1 bulan (yeay…) dan melakukan penelitian dengan tema yang jauh berbeda dengan malaria.

Tapi Kupang tetaplah Kupang, dimana malaria masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Seorang teman yang pernah terkena malaria, hanya berkata “Aku cuek aja ah ke Kupang. Toh udah pernah kena jadi udah kebal.”

Lucu juga ya…

Satu bulan di Kupang, sakit gigi, demam, flu…rempong!

Pulang ke Jakarta, saya panik karena demam naik turun selama kurang lebih 3 hari, takut terkena malaria. Syukurlah, bukan malaria, hanya kelelahan.

Saya pun menyadari malaria di Kupang bukan sekedar penyakit tapi sudah mencakup mengenai masalah ekonomi, kemiskinan, politik, sosial dan budaya. Kompleks.

Bagaimana cara mereka aman dari malaria dengan kondisi rumah seperti ini?

Apa kabar Kupang di tahun 2011?

Deva


6 Comments

Taruhan Dimenangkan Oleh Teman Saya

Ya…teman saya, seorang laki-laki yang pecinta sepakbola mengatakan kepada saya kemarin saat kami ber-car free day-an, “Malaysia pasti menang. Timnas Indonesia udah di atas angin, susah menang.”

Saya: “Ya gak gitu kali…pasti menang!”

Teman: “Pasti kalah…”

Lanjutlah kami membicarakan pemandangan miris di hadapan kami. Antrean orang dari pagi demi tiket AFF 2010. Kami tiba di Senayan jam 6 pagi dan antrean sudah sangaaaat panjang. Bicara tentang manajemen PSSI yang tidak cerdas, bicara tentang euforia masyarakat Indonesia, membicarakan tentang “mendadak” nasionalis, membicarakan tentang Bakrie dan Nurdin Halid, dan membicarakan tentang mental masyarakat Indonesia. Miris.

Sampai akhirnya kami pulang sekitar pukul 9, kembali ke Senayan, dan antrian itu semakin menggila. Motor dimana-mana seakan-akan showroom motor pindah ke lapangan Senayan dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana cara mereka keluar dari tempat itu.

Lalu, sore saat saya menonton tv, diberitakan bahwa suasana Gelora Bung Karno ricuh, anarkis, penjarahan. Tayangan tv itu mengingatkan saya dengan suasana tahun 98. Sepupu saya yang masih bersekolah kelas 2 SD bertanya, “Itu kenapa Uni? Kok begitu banget sich?”

Apa yang bisa saya jelaskan kepada generasi muda bangsa ini? Apa saya perlu jelaskan bahwa “Iya PSSI gak becus ngurus tiket” atau perlu menjelaskan “Iya mental masyarakat kaya gitu…” atau apa…apa yang bisa dibanggakan dari berita itu?!

Malam pun akhirnya tiba dan RCTI menyiarkan pertandingan sepakbola yang ditunggu semua masyarakat Indonesia. Jalanan depan rumah saya yang biasanya berisik, mendadak sunyi.

Dan hasilnya 3-0 untuk Malaysia-Indonesia. Sepupu, kakak dan orang tua saya pun hanya bisa berkata “Jago kandang. Tapi masih ada kesempatan di GBK nanti.”

Sebelum pertandingan dimulai, saya dan teman laki-laki saya tadi smsan dan memasang taruhan. Dia pegang Malaysia dan saya Indonesia. Dengan hasil seperti ini, jelas bahwa saya kalah dan harus memenuhi taruhannya.

Keponakan dan sepupu berkumpul, bangga menggunakan kaos Timnas. Semoga hasil akhir AFF, Indonesia bisa juara :)

Deva, yang masih optimis hingga hari ini, Dec 27, 2010


2 Comments

Proud To Be Indonesian

Kapan lagi masyarakat Indonesia bangga menggunakan kaos yang bertuliskan INDONESIA atau I LOVE INDONESIA?! Biasanya kaos yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia bertuliskan I LOVE NY, I LOVE AMERICA, dsb.

Kapan lagi masyarakat Indonesia berkumpul di satu acara menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan begitu bangga dan khitmatnya hingga bulu kuduk merinding?!

Kapan lagi masyarakat Indonesia bangga untuk mengatakan, “Hei itu Indonesia, negara gw!

Di tengah carut-marutnya kondisi Indonesia saat ini, penampilan Tim Nasional Garuda benar-benar layaknya oase di tengah padang pasir. Menyuguhkan kesegaran, kebanggaan, dan kebahagiaan.

Di penghujung tahun 2010, persepakbolaan Indonesia menorehkan tinta “hampir” emas di AFF 2010. Memang, Indonesia belum menjadi juara (tanding aja belum…) tapi paling tidak dengan majunya Indonesia di babak final AFF 2010, hal itu menjadi kebanggaan yang cukup manis untuk saya pribadi. Terlepas apakah nanti Indonesia akan menjadi juara, tapi paling tidak saya, seseorang yang tidak tahu banyak tentang sepakbola dan sering mengeluh dengan kondisi Indonesia, sudah cukup merasa bangga dengan Indonesia.

Kata-kata Gonzales tadi pagi di TVOne sangat sederhana dan rendah hati, “Kalo kita kerja keras pasti bisa!” Ya…kita pasti bisa!

Kita juga pasti bisa untuk nonton bola tapi tidak buang sampah sembarangan seperti ini lho...

TimNas Garuda memang benar-benar bikin bangga! (Ups…tagline sebuah iklan diplesetin).

Deva, yang senang semalam bisa hadir di tengah Senayan dan duduk bersama ribuan pendukung TimNas Garuda, Dec 20, 2010


Leave a comment

Rokok Dihisap Rakyat Kecil, Dinikmati Kekayaannya Oleh Orang Kaya

Jelaskan judul di atas?! Setiap hari setiap saya melihat perokok dimanapun, saya langsung miris melihatnya. Bukan hanya karena asap rokok yang mengganggu tapi lebih ke materi dalam rokok itu sendiri. Materi a.k.a uang.

Source: pawiro.info

Artinya, yang menghisap rokok di Indonesia itu terdiri dari berbagai kalangan. Tapi yang menikmati uangnya yach hanya pemilik perusahaan rokok itu saja. Naik jaguar, limosin, gadget nomor 1 di dunia, dan bergaya hidup getset. Sedangkan stakeholders nya rakyat biasa, miskin malah. Tukang kaki lima, sopir, buruh, karyawan, mahasiswa, anak jalanan, dsb. Mereka mati-matian cari uang untuk rokok, bayar Rp8.000 setiap hari demi 1 bungkus rokok. Bayangkan jika uang itu mereka tabung atau untuk keperluan yang lebih bijaksana, berapa uang yang bisa terkumpul.

Saya tidak ingin menjustifikasi para perokok. Mereka punya hak. Mereka punya prioritas masing-masing. Hanya saja tulisan ini sebagai bentuk keprihatinan saya terhadap kondisi perokok di Indonesia Raya ini.

Deva, yang sering bingung sendiri dengan fenomena rokok di Indonesia, Des 3, 2010

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers