Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


27 Comments

Obama; “Negara Lain Diperingatkan Untuk Tidak Campur Tangan di Irak”

Dari sisi saya pribadi, kuote itulah yang menarik untuk dianalisa dalam artikel berita di website VOA hari Senin  (12/12/11) lalu yang berjudul “Obama, Maliki Puji ‘Babak Baru’ Tanpa Tentara AS di Irak”.

Di dalam artikel tersebut, dituliskan:

“Obama mengatakan rakyat Irak punya rekan abadi bersama Amerika, mitra yang akan menawarkan dukungan dalam membangun fondasi ekonomi, keamanan dan demokrasi. Ia memperingatkan negara-negara lain untuk “tidak campur tangan di Irak” setelah penarikan tentara Amerika. Amerika, katanya, sebaliknya tidak akan “menunjukkan kehadiran yang besar.”

Kenapa menarik? Karena peringatan agar negara lain tidak campur tangan di Irak, justru keluar dari negara yang telah ikut campur di Irak, yaitu Amerika. Hal ini mengingatkan saya, ketika itu di tahun 2007 saat masih kuliah, saya pernah membuat makalah yang dipresentasikan di depan seluruh mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia. Kalau tidak salah, pokok pembahasannya mengenai seberapa efektifnya penerapan democracy by force yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Irak pasca invasi tahun 2003.

Ya maklum lah ya, jamannya kuliah teori analisa politik internasional lumayan ingat, jangan tanya sekarang dech. Hehehhee…tapi yang saya masih pegang teguh adalah bahwa tidak ada satu pun negara yang berhak untuk memaksakan kehendaknya atau kepentingannya kepada negara lain dengan cara kekerasan. Terkesan sederhana? Memang.

Sekarang begini, kita tahu semua bahwa Amerika Serikat masih dianggap sebagai negara adidaya (meskipun hutangnya juga tidak sedikit) dan mereka merupakan salah satu negara pemegang hak veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tapi menurut saya, tetap saja mereka salah ketika menginvasi Irak tahun 2003. Masih ingat penyebab invasi mereka? Alasan utama mereka saat itu adalah kecurigaan ditemukannya Weapon Mass Destruction (WMD – Senjata Pemusnah Massal) di Irak. Alasan tambahan lainnya adalah ancaman terorisme internasional dan pembebasan rakyat Irak dari rezim Saddam Hussein. Bahkan sampai-sampai Presiden AS terdahulu, George Bush mengeluarkan pernyataan ““Either you are with us or you are with terrorist”. Serem banget ya pernyataannya Bush?!

Nah, kenapa saya bilang mereka salah? Ya, memang mereka siapaaaaaa? (sok dramatis)? Siapa mereka bisa menginvasi negara orang??? Dan belakangan diketahui bahwa WMD tidak pernah ada di Irak. Mari bersama-sama tepok jidat!

Lantas, kalau sekarang Obama membuat pernyataan bahwa jangan ada negara-negara lain yang ikut campur tangan di Irak, ya…semoga saja Amerika juga tidak repot ikut campur di Irak ya. Biarkan Irak membenahi diri sendiri. Saya rasa invasi selama 9 tahun yang dilakukan Amerika di Irak, sudah cukuplah. Ditambah lagi sosok Saddam Hussein toh sudah tidak ada di Irak. Biarkan Irak mencari sistem yang tepat untuk negara mereka.

Deva


19 Comments

Benetton Unhate Campaign

Please check this link to further information about this campaign: Benetton Unhate Campaign.

I just wonder what Obama and others said about this campaign. For me, the purpose of this campaign is a good one. Promote a message of tolerance and unity amongst individuals, factions, and parties (from here) but I don’t really like the idea to use manipulative world leader photos inside, like this one.

 

Oc, we all know that they can publish anything in their countries. But is it a good idea to use President as your model? I don’t think so. And using Pope too? Plus, manipulating the photos so we can see that their kissing each other? For me, this is a big crap.

Vatican already ask Benetton to take away Pope’s photos from their campaign but we still can see it from the website, weird. And now I really curious with the ending of this campaign. Curious what Obama and others said about this one.

Suddenly, I remember that a few days ago, Obama and Sarkozy got an “open mic” accident when they met in G-20 Summit at Cannes. At that moment, all participants can hear that Sarkozy told Obama that he can’t bear Netanyahu because he is a liar. Dang!

And Obama answer: “”You’re fed up with him, but I have to deal with him even more often than you.” – Dang, again!

Double hits for Obama and Sarkozy in this month, November. And shock therapy for others I think.

Deva


Leave a comment

ASEAN Mau Punya Mata Uang Bersama?

Wacana ini saya temukan saat membaca kolom opini di Kompas hari ini (13/5) yang ditulis oleh Muhammad Syarkawi Rauf, seorang Kepala Laboratorium Pengkajian Ekonomi dan Bisnis Unhas.

Dituliskan bahwa diantara 10 anggota ASEAN yang diperkirakan sudah memenuhi syarat membentuk mata uang tunggal yaitu Malaysia, Thailand dan Singapura. Sementara anggota lainnya diperkirakan belum siap karena derajat integrasi keuangan yang rendah.

Yang membuat menarik (buat saya) adalah dituliskannya Thailand sebagai negara yang sudah “mapan”. Wah…bukankah Thailand dengan kekisruhan politik internalnya kemarin dijuluki sebagai failed state? Dan hebatnya lagi, menurut Laporan Pembangunan Manusia PBB 2010, persentase orang miskin di Thailand hanya 2%. Bukankah itu hebat? Sebuah negara yang sering melakukan kudeta pemimpin negaranya tapi ternyata cukup stabil dalam perekonomiannya? Resepnya apa ya?

Indonesia?! Ya…mari berpikir. Sebagai Ketua ASEAN, Indonesia mempunyai berbagai tantangan. Pertanyaan sederhana: mau dibawa kemana ASEAN di bawah kepemimpinan Indonesia dan seberapa penting wacana pembentukan mata uang bersama sesama anggota ASEAN?

Deva


6 Comments

Muhammad Yunus pun Diusir Pergi dari Bank-nya Sendiri

Entah, judul apa lagi yang cocok untuk tulisan saya ini. Sungguh, sedih sekali membayangkan kondisi Muhammad Yunus, idola saya, yang telah mendirikan Grameen Bank sejak tahun 1983-an (yang diinspirasi dari perjalanan Muhammad Yunus dan murid-muridnya di desa-desa miskin Bangladesh) dan kini harus pergi dari Grameen Bank. Untuk kali ini, saya belum bisa menulisnya di blog ini. Mudah-mudahan lain waktu saya bisa menulis sedikit tentang sejarah berdirinya Grameen Bank.

Saya masih ingat dulu apa yang membuat saya tertarik menjadikan Muhammad Yunus dan Grameen Bank sebagai materi skripsi saya. Bermula dari percakapan tengah malam dengan Papa. Waktu itu saya sudah (maaf ya…) muak dengan isu global warming. Yup, sejak semester 7 saya sudah terobsesi untuk membahas global warming untuk jadi skripsi saya (global warming dari sudut HI, pastinya). Saking terobsesinya, setiap tugas mata kuliah pasti saya bahas tentang global warming. Dannn, giliran mau skripsi, obsesi itu berubah menjadi rasa bosan ditambah rasa muak karena setiap sudut kota Jakarta pasti membahas global warming (muak disini bukan dikategorikan sebagai tidak suka dengan isu ini tapi karena sudah sangat bosan membahas global warming dari sudut ilmu pengetahuan a.k.a kehabisan ide bahasan). Akhirnya, waktu itu tengah malam saya ngobrol dengan Papa.

Saya: “Deva masih belum tahu nich ngebahas apa untuk skripsi.”

Papa: “Kok bisa? Eh Papa tadi baca tentang Grameen Bank di Bangladesh, itu bagus Dev. Bank untuk orang miskin.”

Ting…ting…ting…saat itu juga saya langsung “Wow….itu apa?”

Karena tidak sabar, saya pun bertanya ke seorang teman untuk tahu lebih lanjut tentang Grameen Bank. Akhirnya setelah mendapatkan penjelasan garis besar dari teman saya, saya pun langsung membeli buku Grameen Bank di Depok. Baca…baca…baca sampai akhirnya saya jatuh cinta dengan sosok Muhammad Yunus.

Meramu judul, berikan kepada pembimbing saya dan lolos. Bahkan saya sampai minta dikirimkan buku Muhammad Yunus edisi English yang baru beredar di Amerika kepada kakak saya (makasih ya Kak).

Kenapa saya jatuh cinta dengan Muhammad Yunus? Sangat sederhana, karena ia berani menciptakan sebuah sistem yang sungguh sangat sederhana bagi rakyat menengah ke bawah demi meningkatkan taraf hidup mereka. Bukankah itu luar biasa?! Lebih dalam daripada itu, beliau berani mendobrak budaya Bangladesh yang masih tabu untuk mempercayakan pengelolaan keuangan kepada perempuan. Yup, sasaran sistem Muhammad Yunus adalah kaum perempuan, kaum yang dinomorduakan di Bangladesh.

Saya pernah men-twit beberapa status terkait keadaan Muhammad Yunus saat ini, yang diusir keluar dari banknya sendiri. Alasannya karena usia Muhammad Yunus yang sudah 70 tahun seharusnya sudah pensiun 10 tahun lalu. Usia pensiun di Bangladesh adalah 60 tahun. Tapi kenapa baru sekarang ada pemberitahuan itu? Bahkan usaha naik banding Muhammad Yunus gagal. Ada kabar yang mengatakan bahwa ada percecokan politik penguasa Bangladesh dengan Muhammad Yunus. Entahlah.

Saat ini, sungguh saya sangat bersimpati dengan Muhammad Yunus, seorang pejuang kemiskinan yang meraih nobel perdamaian 2006.

Jika tertarik untuk tahu tentang Grameen Bank silahkan klik ini.

Deva


4 Comments

Afrika; Jutaan Foto

Jangan mengira bahwa saya akan menayangkan sebuah post foto yang berisi teman-teman di Afrika. Salah besar. Justru saya ingin sedikit mengungkapkan pikiran-pikiran saya mengenai berbagai foto yang menggunakan model masyarakat Afrika. Tidak terlalu senang. Itu reaksi saya. Maaf, mungkin reaksi ini berbeda dengan pandangan kalian.

Entahlah, buat saya, masyarakat Afrika sudah terlampau dieksploitasi dari berbagai segi. Saya tidak ingin membahas lebih lanjut tentang peng-eksploitasi-an tersebut. Saya hanya merasa bahwa muka mereka yang sungguh khas sudah terlalu sering muncul di berbagai media massa. Kadang, saya sungguh miris. Setiap membuka website tentang apa pun yang berhubungan dengan kematian, poverty, tragedy kemungkinan besar akan ada wajah-wajah masyarakat Afrika di dalamnya. Sama seperti Kupang dan Irian Jaya. Mereka juga banyak terpampang di media massa dengan tema kemiskinan.

Sudahlah, ini hanya ungkapan pribadi saya.

Deva


11 Comments

Demi Minyak atau Perlindungan Masyarakat Sipil?

Jika dibahas dari sisi realis dan unsur berburuk sangka, jelas bahwa kedatangan NATO di Libya bukan untuk hanya sekedar melindungi warga sipil tapi demi minyak. Kemungkinan itu tetap ada. Sama persis seperti yang terjadi di Irak. Saya masih ingat sekali, ketika itu mendapat tugas menyampaikan materi democracy by force dengan studi kasus invasi Amerika Serikat di Irak. Katanya (lhoo…) karena Irak mempunyai WMD (Weapon Mass Destruction) dan akan membahayakan Irak khususnya dan dunia umumnya. Tapi setelah Irak hancur, tetap tidak ditemukan WMD tersebut. Ah, sutralah…saya pikir cukup Irak yang dibodohi seperti ini. Ternyata, sejarah berulang lagi di Libya di bawah rezim Khadafi.

Okelah, bahwa Khadafi adalah pemimpin otoriter dan telah berkuasa selama puluhan tahun. Okelah, bahwa Khadafi dikabarkan menimbun kekayaan di atas penderitaan rakyat dan okelah jika ia tidak mau mundur dari kepemimpinannya sekarang. Permasalahannya sekarang ada 2 hal. Satu, jika Khadafi mundur lantas siapa yang menggantikan? Kosong?! My goodness, itu bisa CHAOS! Kedua, legitimasi apa yang membuat NATO melakukan penembakan serangan udara?! Menurut pendapat saya, seorang yang tidak mempunyai bangku apapun di dalam dunia hubungan internasional secara profesional, NATO melakukan kesalahan ketika ia melakukan serangan udara. Di berita tadi pagi yang saya dengar, masyarakat sipil menyiapkan dirinya menjadi perisai hidup untuk Khadafi. Dan serangan udara bisa mengenai SIAPAPUN. Entah itu wartawan, masyarakat sipil atau pecinta setia Khadafi.

Dan, legitimasi apa yang dimiliki NATO untuk datang ke Libya? Libya bukan negara anggota NATO. Artinya NATO tidak punya hak sedikit pun untuk datang ke Libya. NATO adalah sebuah pakta pertahanan dengan konsep collective security, artinya jika ada sebuah negara menyerang negara anggota NATO maka seluruh kekuatan NATO berhak dikerahkan demi melindungi negara anggota tersebut. Tolong koreksi saya jika pemahaman saya salah.

Saya menemukan data ini di Wikipedia:

Negara pendiri NATO: Amerika Serikat, Belanda, Belgia, Britania Raya, Denmark, Islandia, Italia, Kanada, Luksemburg, Norwegia, Perancis, Portugal.

Dan sekarang anggota NATO bertambah menjadi Yunani, Turki, Jerman, Spanyol, Ceko, Polandia, Hungaria, Bulgaria, Estonia, Latvia, Lituania, Rumania, Slovakia, Slovenia, Albania, Kroasia.

Tidak salah rasanya jika ada yang berpikir menyamakan Obama dengan George W. Bush Junior. Tidak salah rasanya jika ada yang berpikir, “Oke, ini bukan sekedar tentang perlindungan masyarakat sipil tapi sudah menyangkut kekayaan minyak yang dimiliki Libya.”

Tidak ada salahnya pula, menurut saya, untuk berteriak “Tentang serangan udara NATO di Libya.” Ah, tapi apalah saya, hanya lulusan hubungan internasional. Tidak ada apa-apanya dengan Obama. Iyalaaaaahhhhh :P

Deva, yang akhirnya berdiskusi dengan seorang teman lama yang berbeda universitas tentang isu ini. Ah…kangen banget dengan kampus :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers