Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


15 Comments

Konyol…

Saya baru aja terima pesan singkat via watsapp dari Saad.

The awkward – when u get into the bus and you shout “Assalamualaikum” very loudly.
Saya: :| U???
Saya langsung seketika senyum ditahan. Sial nich Saad!
Saad: Almost I did it. Mo bilang Bismillah eh Assalamualaikum, gak sampai kenceng si :| terus kebiasaan naik bikum* tiap turun must say: “Makasih Pak”

* Bikun = bis kuning, bis mahasiswa/i nya UI.

Hahahah…kalo Saad beneran ngucapin salam dengan suara keras di bis, astaga itu bakal lucu abis-abisan! Konyol! :D

Deva


33 Comments

Sekali dan Terakhir Kali

Tulisan ini sebenarnya sudah ingin ditulis lamaaaaa banget tapi semakin lama kok ya semakin pengen ditulis karena banyak juga orang yang mengalami kasus yang sama.

Jadi begini…

Saya belum hamil kan. Nikah baru kemarin 4 bulanan. Aman. Damai. Happy. Alhamdulillah.

Keluarga gak ada satu orang pun yang bertanya “Udah hamil atau belum” baik dari keluarga saya maupun keluarga Suami. Tapi…kalau orang lain, beuh jangan ditanya! Ujug-ujug udah lama gak berhubungan via apapun eh langsung dar der dor nanya “Udah isi belum?”

Contohnya sebuah watsaap beberapa hari lalu sebelum saya ke Pari.

A: *broadcast message permohonan bantuan sponsorship untuk kegiatan amal*

Saya: *didiemin*

A: Hi Bu, ikutan ya acara ini.

Saya: Insya Allah ya.

A: Eh gimana udah isi belum?

Saya: Belum. Doain aja ya :)

A: Makanya jangan mikirin projek mulu

Ok, enough. Saya diam saja.

Dan itu gak sekali dua kali.

Di twitter juga gitu. Seorang teman kirim twit untuk nanya: “Depaaaa udah hamil belum?”

FYI, saya udah lama gak ketemu sama dia. Udah lama pula gak smsan, teleponan, watsappa, atau apapun itu namanya.

Oh come on people, hidup itu bukan balapan. Kamu udah married, saya belum. Terus saya harus buru-buru married. Kamu punya anak terus saya belum punya anak, apakah saya juga harus punya anak?

Gak kan?!

Jadi yuk ah, belajar komunikasi yang asyik. Kalau sudah lama gak berhubungan mbok ya tanya apa kabar? Jangan langsung sodorin proposal sponsorship. Jangan juga langsung nanya hal yang pribadi banget.

Mungkin itu pertanyaan sederhana ya…udah married belum? Udah hamil belum? Tapi seriously, kamu gak akan tahu dampak terhadap orang yang ditanya.

Mau tahu dampak terhadap diri saya?

I don’t care!

Mungkin ini sekali dan akan menjadi satu-satunya tulisan mengenai “sebelnya saya ditanyain kapan hamil”. Selebihnya gak akan saya tulis lagi J

Satu hal yang penting, kebahagiaan keluarga saya gak melulu menyangkut tentang punya anak atau gak. Masih banyak rahmat di dunia ini yang bisa kami syukuri. :)

So see you in the next level of communication, yes you who asking that question to me! Cheerio!

Deva


20 Comments

Kebaikan Mbak Kasir Itasuki Kota Kasablanca

Post lanjutan tentang Sawarna dipending dulu ya…soalnya mau nulis tentang kebaikan Kasir restoran Itasuki yang kemarin saya alami hehehe…

Jadi kemarin saya dan Saad makan di Restoran Itasuki – Kota Kasablanca. Bayar dech ya ke kasir. Eh di belakang kasir, saya melihat sebuah toples bening besar, bagus dech dan bentuk seperti itu yang saya inginkan untuk dipakai sebagai celengan Rp 20 ribu.

Saya spontan bilang sama Saad: Gila Ad (sambil nunjuk toples) itu toples yang gw mau! Buat celengan. Tuch kan dipakai juga sama Mbak (maksudnya Kasir) untuk celengan…

Saad: Ooo… (datar tanpa ekspresi)

Kasir: Mbak mau?

Saya: Hah? Ya mau kalau dikasih hehehhee…(becanda, serius ini becanda)

Kasir: Yawda kalau mau saya mintain ya. Itu bekas kaleng leci.

Langsung dech Mbak Kasir minta sama waiter untuk diambilin toplesnya dan dalam waktu 1 menit kaleng itu udah di tangan saya. Saya dan Saad ketawa puas sambil bilang, “Wah beneran nich Mbak untuk saya?”

Kasir: Iya, di sini banyak kok.

Saya: Mbak makasih banyaaaaak yaaaaaa…

Kasir: Sama-sama Mbak.

Dan…saya dikasih voucher juga lho sama Mbak Kasir.

Baik banget kan Mbak Kasirnya. Keluar dari Itasuki saya dan Saad berasa abis dikasih uang segepok. Ketawa mulu sepanjang jalan. Karena masih gak nyangka dikasih toples cakep.

Nich kira-kira seperti ini:

Yang saya dapatkan: lebih besar, lebih bagus, bentuknya oval tinggi. Sayangnya belum saya foto.

Eh pas saya bersihin dan masukin uang ke dalam toples tersebut, respon Mama dan Suami sama: Kok bening sich…celengan mah jangan bening. Masak iya uangnya kelihatan.

Saya: Ya gpp…

Sebenarnya tujuan kenapa toples bening dijadiin celengan karena (dari artikel yang pernah saya baca) itu bisa memotivasi kita menabung terus. Kan sedih kalau lihat uang sendirian di dalam toples hehehe…we’ll see ya, bertahan berapa lama celengan itu diisi :D

But once again, Mbak Kasir Itasuki Kota Kasablanca, you made my day! Thank you so much! :)

Deva


25 Comments

Lucky Me!

Masih ingat tokoh Paman Gober di Donal Bebek? Sosok yang kaya raya namun pelit untuk membagi kekayaannya.

Siapa yang pernah iri dengan sosok tersebut?

Saya.

Iya, saya pernah sedemikian siriknya dengan sosok Paman Gober dan berharap suatu saat nanti bisa memiliki koin keberuntungan, seperti yang dimiliki Pamannya Donal Bebek ini. Lambat laun, saya menyadari bahwa hidupnya ternyata tidak pernah tenang meskipun mempunyai uang yang sangat melimpah. Mimi Hitam, Gerombolan Siberat, dan penjahat-penjahat lainnya selalu menjadi musuhnya yang tidak pernah tidur dan absen untuk merebut kekayaannya.

Beranjak dewasa, saya juga akhirnya menyadari bahwa demi mendapatkan kekayaannya, Paman Gober selalu berusaha setengah mati saat bekerja.

Usaha keras dan bersungguh-sungguh.

Mungkin di suatu waktu, saya pernah ingin mendapatkan keberuntungan yang selalu datang setiap saya membutuhkannya, seperti Si Untung, yang selalu beruntung saat melawan Donal Bebek.

Ah, saya kok jadi menulis tentang Donal Bebek ya…

Karena begitu kata “beruntung” terlintas dalam benak saya, pasti saya langsung mengkorelasikannya dengan Paman Gober dan Si Untung.

Tapi ya itu tadi, saya bukan mereka.

Saya bukan dari keluarga yang kaya 7 turunan dan selalu mendapatkan yang saya mau.

Jauh dari itu.

Cerita keberuntungan saya bermula saat di bangku kuliah dimana saya mendapatkan teman-teman yang baik. Merekalah yang akhirnya mengenalkan tentang organisasi kampus yang bisa menjadi wadah berekspresi saya, yang kata orang, saya ini bawel setengah mati. :D

Aktif di organisasi mahasiswa jurusan membuat saya ya…lumayanlah dikenal, paling tidak dikenal oleh penjaga warung depan kampus hehehe…Dari sanalah akhirnya datang tawaran untuk menjadi freelance  di divisi litbang sebuah media massa terbesar di Indonesia. Itu adalah pekerjaan pertama saya seumur hidup! :)

Lebih kurang setahun saya menempati posisi tersebut. Yach namanya juga freelancer ya…kerja kalau mendapatkan panggilan telepon. Tapi ketika itu, pendapatan yang saya peroleh lumayan. Kerja 2 hari dapat Rp 400.000. Jaman kuliah, dimana sebenarnya masih mendapatkan uang jajan dari keluarga.

Akhirnya masa-masa itu terlewati bersamaan dengan lulus kuliah.

Alhamdulillah dengan nilai yang bagus dan track record di divisi litbang, membuat tawaran untuk menempati posisi serupa di stasiun televisi swasta datang ke saya. Terima dong. Kenapa gak? :D

Nah, tawaran-tawaran menjadi freelancer inilah yang menjadi landasan keberuntungan saya yang lain. Kenapa? Karena inilah yang membuat saya mendapat tawaran untuk bekerja di konsultan komunikasi, tempat saya bekerja hingga sekarang. Hampir 5 tahun saya di sini. Gak berasa!

Beruntung karena ketika dihadapkan oleh 2 pilihan, menerima kerja di konsultan komunikasi atau memfollow-up proses rekrutmen reporter koran K, saya memilih pilihan pertama.

Jika tidak, mungkin saya tidak bisa seperti sekarang. Pekerjaan saya ini 50% sibuk dan 50% biasa saja.

Beruntung karena mendapatkan Bos yang bersedia menjadi coach dalam karir saya. Membimbing saya dan membiarkan saya menggali lebih dalam kemampuan diri sendiri.

Masih ingat dong tentang cerita cuti 6 bulan? :D

Dan jika sedang kondisi biasa saja, saya bisa menerima pekerjaan sampingan lain dalam bidang tulis menulis dan transletan, bisa jalan-jalan bareng teman (sampai akhirnya hobi ini mempertemukan saya dengan Suami hahahaha), dan masih bisa sering ngobrol dengan anggota keluarga.

Saya beruntung sekali. Alhamdulillah.

Selain itu siapalah saya yang dulu bermimpi bisa datang ke daerah-daerah di Indonesia dan juga dapat kesempatan melakukan riset di luar negeri.

Siapalah saya?

Jadi kalau dipikir-pikir, jalan karir saya hingga seperti ini, mungkin bisa dibilang adalah keberuntungan.

Beruntung mengenal teman-teman yang baik dan beruntung ada “invisible hand” yang membantu di saat saya membutuhkannya.

Ini keberuntungan saya.

Bukan keberuntungan seperti yang dimiliki Paman Gober dan Si Untung. :D

Deva

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Chic Blog Competition 2013. Wish me luck, people! :)


17 Comments

B.O.H.O.N.G

Saya tersentak saat baru saja, beberapa detik lalu, selesai membaca cerita pendek “Ibu Pergi Sebulan” karangan Asma Nadia di dalam kumpulan cerpen yang bertemakan pernikahan “Sakinah Bersamamu”.

Dalam cerpen tersebut diceritakan seorang Ibu yang menyuruh anaknya berkata ke tukang kredit yang menagihnya, “Bilang sama tukang kredit kalau ibu pergi ke kampung sebulan. Ngerti?” Kurang lebih seperti itu. Si anak menurut dari hari ke hari sampai akhirnya dengan jujur bilang ke tukang kredit, “Pak, kata Ibu, Ibu pergi ke kampung sebulan. Ngerti?” Tertebak dong hasilnya seperti apa. Si tukang kredit sadar bahwa Sang Ibu berbohong dan mengajari anaknya berbohong.

Sampai akhirnya Sang Ibu kena batunya. Suatu hari datanglah seorang laki-laki berpakaian rapi ke rumah Ibu tersebut untuk mencarinya. Tapi Sang Ibu yang berpikir bahwa itu tukang kredit, akhirnya bersembunyi. Suami bilang, “Sudah lunasi saja!” Ternyata Sang Ibu bilang, “Gak ada duit” dan dia sudah berhutang selama 3 bulan. Suami kaget. Istri marah-marah. Ujungnya? Suami minta anaknya untuk bilang sama tamu tersebut bahwa Ibu tidak ada. Anak menurut. Hasilnya? Ternyata yang datang adalah dari sebuah perusahaan yang mengumumkan bahwa Sang Ibu memenangkan kuis berhadiah TV 12 inchi.

Dang!

Pernah gak menjumpai hal serupa?

Mungkin seperti: kalau si A telepon Ibu bilang aja Ibu gak ada ya. Atau contoh yang lain dech…

Pernah berbohong di depan anak kecil, mungkin tanpa disadari, tidak bermaksud mengajari mereka berbohong tapi ternyata secara gak langsung kita memberi contoh tentang berbohong.

Kupasan singkat Asma Nadia di akhir cerita itulah yang membuat saya tersentak!

Semalam saat saya sedang makan, Mama minta tolong Abiil untuk mematikan kompor. Saya bilang, “Udah Cipa aja.” Mama bilang kalau Abiil udah bisa kok. Abiil tanpa ragu langsung ke dapur mematikan kompor. Saya bukannya tidak percaya Abiil bisa tapi kompor itu kan berbahaya!

Setelah mematikan kompor, Abiil balik lagi ke samping saya. Tahu gak yang saya lakukan? Saya berdiri dengan tujuan memastikan bahwa kompor sudah benar-benar mati.

Abiil: “Cipa mau kemana?”
Saya: “Ke dapur.”
Abiil: “Ngapain? Kan Abiil dah matiin kompornya.”
Saya: “Mau ambil minum kok”

Kenyataannya: Saya hidup dan matikan ulang kompornya.

Keluar dari dapur.

Muka Abiil cemberut setengah mati. “Cipa bohong! Abiil kan tadi dah matiin kompornya! Cipa gak percaya sama Abiil!”
Saya bengong dan cuma bisa bilang, “Iya maaf Bil.”
Abiil: “Bohong itu dosa tau! Biarin aja Cipa dosa!”
Saya bengong, “Iya dosa”.

Apa lagi yang bisa saya katakan ke Abiil selain bilang maaf?

Jujur saja, saya tidak menyangka reaksi Abiil akan seperti itu. Dari mukanya kelihatan banget dia kecewa sama saya.

Satu karena saya tidak percaya sama dia. Dan dua karena saya berbohong.

Amit-amit…mudah-mudahan dia gak mencontoh sifat buruk saya. *fingers crossed*
Abiil dan keponakan saya semakin besar dan pintar, yang menandakan bahwa saya tidak bisa menyepelekan kecerdasan mereka. Terus usaha biar jadi tante yang kece buat keponakan-keponakan yang bawel ini. :D

Deva


19 Comments

Liburan Panjang di bulan Maret 2013

Pada saat ingin menulis post ini, saya teringat tulisan Pandji yang intinya, “Gak peduli lo pergi kemana, yang penting siapa yang pergi dengan lo” dan tulisan dia yang lain adalah, “Terkadang saat liburan justru ingin di rumah, bukan kemana-mana”.

Nah, dua inti tulisan di atas kurang lebih sama seperti yang saya rasakan saat liburan panjang kemarin.

Jauh hari, saya dan Suami sudah berencana untuk ke Pulau Seribu, lebih tepatnya ke Pulau Tidung. Tapi ternyata hari Sabtu, Suami harus ke kantor sebentar dari jam 8 sampai jam 2 siang sedangkan jadwal kapal dari Muara Angke ke Pulau Tidung gak ada yang setelah jam 1 siang. Jadi, batal.

Terus kami ngapain aja liburan ini?

Jumat pagi Suami cangkok pohon jambu dan rambutan. Abis itu duduk santai di teras rumah dengan Mama, Papa, dan keponakan-keponakan. Sorenya saya, Abiil, dan Raihan ngintilin Suami main bola di lapangan sampai Maghrib. Sebenarnya sich pengen ajak keponakan-keponakan ke Monas tapi Jumat itu puanuas banget dech akhirnya ya batal. Terus Suami juga lagi gatal main bola, akhirnya yawda dia main bola bareng Om saya.

Malemnya kita nonton film aja di TV sampai tengah malam.

Percaya atau gak, itu seru! Spending time with your lover with do nothing, hanya leha-leha. Ngobrol ngalor-ngidul. Santai banget…relief!

Sabtu?

Suami kerja sampai siang. Rumah kosong! Karena pada jalan keluar, tinggal saya, Papa, dan Mbak. Saya? Hehehe…nyoba masak sayur sawi dan tempe, setelah ngapain? Setelah ngerjain PR kantor. Bwhahaha…abis itu ngapain? Suami pulang kantor, minta pijit sama tukang pijit langganan, dan Maghrib-Maghrib sekeluarga pergi ke…MONAS. Ada sich adegan ngambek saya yaitu karena keponakan-keponakan ingin main scooter dan sepeda, saya ditinggal di tempat penyewaan. *manyun* tapi ya gak lama sich ngambeknya…

Abis dari Monas, kita ngapain? Makan sate Padang di Radio Dalam. Beli doing sich, makannya di rumah hahaha…

Tidur malam banget karena ngobrol sana-sini.

Dan Mama ngajakin untuk ke Senayan. Apakah jadi?

Minggu?

Suami: “Bangun, katanya mau ke Senayan.”

Saya: “Ngantuk ah!” *tapi tetap ngeliat ke lantai bawah apakah ada yang udah bangun.*

Uni: “Gak jadi Dep. Mama udah berangkat senam duluan.”

Saya: *masuk kamar dan TIDUR lagi*

Hahahaha…

Baru bangun sekitar jam 10. Suami gatel liat akuarium yang kotor, bersiin dech dibantu Abiil dan Raihan. Saya akhirnya ikutan gerak juga untuk beresin buku-buku. Jadi ceritanya sama dan keluarga kan sebentar lagi mau pindahan rumah ya…nah, kita udah mulai nyicil milih-milih barang yang mana dibawa dan yang mana gak. Terus dari buku-buku yang kemarin saya beresin, ada tuch komik dan novel yang gak akan saya bawa. Ada yang mau? Hehehe…*langsung ditabok Saad yang udah booking duluan* :D

Abis keringatan, kita berdua makan. Leha-leha lagi sampai malam.

Tidur.

Kebangun seger banget.

Dan sekarang saya sudah duduk manis di ruangan kantor. Suami? Lagi kerja juga dong.

Inilah libur panjang orang Jakarta yang gak kemana-mana, Sodara-sodara. Inti dari tulisan ini apa? Ya, liburan gak musti harus jalan-jalan ke sana ke mari tapi yang penting menghabiskan waktu se-oke mungkin dengan orang yang kita sayangin. That’s all.

Carpe Diem.

Deva


7 Comments

Terminal Blok M; Riwayatmu Kini

Siapa di sini yang sering menunggu bis di terminal Blok M, Jakarta Selatan? Jika sering lewat atau masuk terminal Blok M pasti tahu secara pasti keadaannya seperti apa. Banyak Metro Mini dan Kopaja yang berbalap-balapan mencari penumpang dan terkadang (jika tidak ingin dikatakan sering) saat mereka ngebut sana-sini, nyawa para calon penumpang bisa dibahayakan. Sering saya lihat bahkan saya pernah menjadi korbannya, hampir tertabrak bis-bis tersebut yang ugal-ugalan. Jangan dibayangkan. Seram!

Ya, memang sich salah para penumpang yang masuk ke terminal tidak melalui basement terminal dan salah penumpang juga yang berdiri menunggu bis bukan di halte. Tapi polisi (mungkin sudah kelelahan) juga kadang tidak melarang para calon penumpang berdiri di sana. Pembelaan dari sisi penumpang adalah “repot jika harus lewat basement naik turun tangga karena pada saat diturunkan dari bis juga di luar terminal yang dekat dengan bis-bis”. Singkat kata: lebih efisien naik dari terminal luar.

Lalu jika diperhatikan, knalpot Metro Mini dan Kopaja sekarang lebih ganas lagi. Hitam pekat! Jadi, tidak heran jika sekarang banyak yang menjual masker, handuk kecil atau tissue. Saya yang dulu malas menggunakan masker, sekarang terpaksa harus menggunakan masker setiap lewat Blok M. Dulu, malas banget mandi ketika pulang kerja, sekarang sudah wajib untuk mandi. Bahkan terpikirkan untuk mandi di kantor saat pagi hari.

Source: Media.viva.co.id

Kemudian, bagaimana dengan kondisi Metro Mini dan Kopajanya sendiri? Layak digunakan? Jawaban saya adalah dilayak-layakan. Bayar Rp2.000 doang jadi ya harus terima nasib jika desak-desakan. Untuk kasus ini ya jatuhnya nrimo aja. Kalau ada uang lebih baru dech naik ojeg, bajaj (mmm…masih trauma karena pernah menjadi saksi nyata penjambretan tas kakak saat naik bajaj) dan taksi. Akibat dari desak-desakan? Banyak. Bisa saja tindak kriminal terjadi, pelecehan seksual, bau parfum yang berubah drastis atau efek positifnya bisa kenalan dengan laki-laki atau perempuan tampan atau cantik serta kece (oke, yang ini berlebihan. Lupakan).

Dan semakin ke sini, keamanan naik kendaraan umum semakin membahayakan. Kenapa? Pasti kalau pernah naik Metro Mini, semuanya tahu “artis” di bis tersebut. Siapa lagi kalau bukan pengamen-pengamen. Dari yang suaranya bagus, main gitarnya asik, pengamen anak kecil dan orang tuanya, sampai para pengamen dengan bau badan yang bau, menyilet badan mereka sembari minta uang kepada penumpang, dan berujung ke ngedumel gak jelas menggunakan bahasa kasar jika tidak diberi uang. Siapa yang tidak takut berhadapan sama mereka? Saya, jelas takut.

Bagaimana dengan kesejahteraan sopir dan kondekturnya? Saya tidak tahu. Tapi analisa sederhana (jika tidak mau dikatakan dodol) adalah untuk apa mereka ugal-ugalan mengejar calon penumpang jika bukan untuk pemenuhan setoran yang mungkin sekarang sudah sulit diraih. Banyak yang naik motor sekarang, euy. Coba dech perhatikan. Artinya kan, para awak transportasi ini semakin sulit mencukupi setoran mereka.

Saya berusaha untuk tidak mendumel tiada ujung. Keluhan ini pernah saya sampaikan kepada Kementerian Perhubungan melalui website mereka kalau tidak salah di tahun 2011, sudah lama banget ya. Semoga dengan di-republish tulisan ini, dengan tambahan-tambahan sedikit, akan ada perbaikan terhadap sistem transportasi di Indonesia, khususnya di Jakarta. Ini negara kita. Ayooo peduli :)

Deva

Ps: Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis Protes Publik


21 Comments

Bekal Terpenting Saat Travelling: Niat

Mas Fanabis baru saja menulis sebuah status di Twitter, yang membuat pikiran saya jauh…jauh memikirkannya.

“Apa sebenarnya bekal paling relevan ketika melakukan perjalanan?”

Seketika saya menjawab, niat.

Entah bagaimana pendapat orang lain. Mungkin ada yang menjawab koper, uang, tiket, dan sebagainya.

Tapi bukankah niat menjadi sebuah landasan paling penting dalam memutuskan sesuatu, termasuk perjalanan, dekat maupun jauh.

Perjalanan, dalam bentuk apapun.

Ketika niat itu sudah tergenapkan dalam genggaman tangan, pasti kita akan berusaha untuk mencapai niat itu semaksimal mungkin.

Saya menjadi teringat ketika dulu memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Ubud, Bali seorang diri. Niat melepaskan diri dari kepenatan, sejenak saja. Seorang diri. Dan  selama di sana, saya benar-benar jarang berhubungan dengan semua kenalan di Jakarta. Ya, karena ingin mengasing. Sekembalinya dari sana, saya merasa penuh dan lega. Lebih bahagia karena ketika pulang, mempunyai teman-teman baru, yang sampai sekarang masih berhubungan dengan baik.

Begitu pula dengan perjalanan saya beberapa bulan lalu ke Jogjakarta. Niat saya adalah hanya ingin mengunjungi kota itu saja. Serasa ada yangmemanggil. Titik.

Siapa yang menyangka bahwa pulang dari Jogjakarta, saya bertemu Hendra, laki-laki yang sebentar lagi akan mempersunting saya menjadi istrinya.

Ah, menulis tentang ini mengingatkan saya tentang filosofi koper yang pernah ditulis oleh Rahne Putri. Ia menulis bahwa memasukkan barang-barang ke koper, seperti harus menyaring barang apa saja yang memang diperlukan saat melakukan perjalanan. Sama seperti hidup. Tidak semua hal bisa dimasukkan ke dalam pikiran dan hati saat melangkah. Harus ada yang ditinggal dan dibawa.

Mari bertanya kepada diri sendiri, apa niat kita membawa semua hal tersebut di koper kita? Jika terlalu berat, seberapa rela membayar kelebihan bagasi? Seberapa ikhlas bahu kita membawa barang yang terlalu berat?

Bicara tentang koper, saya termasuk orang yang selalu membawa sebuah tas kosong saat melakukan perjalanan, yang diperuntukkan untuk membawa oleh-oleh. Mungkin bisa diartikan sebagai orang yang optimis bahwa sekembali dalam melakukan perjalanan, selalu ada buah tangan yang bisa dibagi ke orang-orang terdekat. Entahlah.

Lebih baik berhenti di sini. Tapi tunggu…

Saya menjadi teringat dengan trip selanjutnya yang sudah berada di depan mata.

Semua perlengkapan perjalanan telah tersusun dengan baik.

Sebuah perjalanan yang selama ini saya impikan.

Dengan kamu, di pelaminan.

Deva  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers