Masih ingat tokoh Paman Gober di Donal Bebek? Sosok yang kaya raya namun pelit untuk membagi kekayaannya.
Siapa yang pernah iri dengan sosok tersebut?
Saya.
Iya, saya pernah sedemikian siriknya dengan sosok Paman Gober dan berharap suatu saat nanti bisa memiliki koin keberuntungan, seperti yang dimiliki Pamannya Donal Bebek ini. Lambat laun, saya menyadari bahwa hidupnya ternyata tidak pernah tenang meskipun mempunyai uang yang sangat melimpah. Mimi Hitam, Gerombolan Siberat, dan penjahat-penjahat lainnya selalu menjadi musuhnya yang tidak pernah tidur dan absen untuk merebut kekayaannya.
Beranjak dewasa, saya juga akhirnya menyadari bahwa demi mendapatkan kekayaannya, Paman Gober selalu berusaha setengah mati saat bekerja.
Usaha keras dan bersungguh-sungguh.
Mungkin di suatu waktu, saya pernah ingin mendapatkan keberuntungan yang selalu datang setiap saya membutuhkannya, seperti Si Untung, yang selalu beruntung saat melawan Donal Bebek.
Ah, saya kok jadi menulis tentang Donal Bebek ya…
Karena begitu kata “beruntung” terlintas dalam benak saya, pasti saya langsung mengkorelasikannya dengan Paman Gober dan Si Untung.
Tapi ya itu tadi, saya bukan mereka.
Saya bukan dari keluarga yang kaya 7 turunan dan selalu mendapatkan yang saya mau.
Jauh dari itu.
Cerita keberuntungan saya bermula saat di bangku kuliah dimana saya mendapatkan teman-teman yang baik. Merekalah yang akhirnya mengenalkan tentang organisasi kampus yang bisa menjadi wadah berekspresi saya, yang kata orang, saya ini bawel setengah mati.
Aktif di organisasi mahasiswa jurusan membuat saya ya…lumayanlah dikenal, paling tidak dikenal oleh penjaga warung depan kampus hehehe…Dari sanalah akhirnya datang tawaran untuk menjadi freelance di divisi litbang sebuah media massa terbesar di Indonesia. Itu adalah pekerjaan pertama saya seumur hidup!
Lebih kurang setahun saya menempati posisi tersebut. Yach namanya juga freelancer ya…kerja kalau mendapatkan panggilan telepon. Tapi ketika itu, pendapatan yang saya peroleh lumayan. Kerja 2 hari dapat Rp 400.000. Jaman kuliah, dimana sebenarnya masih mendapatkan uang jajan dari keluarga.
Akhirnya masa-masa itu terlewati bersamaan dengan lulus kuliah.
Alhamdulillah dengan nilai yang bagus dan track record di divisi litbang, membuat tawaran untuk menempati posisi serupa di stasiun televisi swasta datang ke saya. Terima dong. Kenapa gak?
Nah, tawaran-tawaran menjadi freelancer inilah yang menjadi landasan keberuntungan saya yang lain. Kenapa? Karena inilah yang membuat saya mendapat tawaran untuk bekerja di konsultan komunikasi, tempat saya bekerja hingga sekarang. Hampir 5 tahun saya di sini. Gak berasa!
Beruntung karena ketika dihadapkan oleh 2 pilihan, menerima kerja di konsultan komunikasi atau memfollow-up proses rekrutmen reporter koran K, saya memilih pilihan pertama.
Jika tidak, mungkin saya tidak bisa seperti sekarang. Pekerjaan saya ini 50% sibuk dan 50% biasa saja.
Beruntung karena mendapatkan Bos yang bersedia menjadi coach dalam karir saya. Membimbing saya dan membiarkan saya menggali lebih dalam kemampuan diri sendiri.
Masih ingat dong tentang cerita cuti 6 bulan?
Dan jika sedang kondisi biasa saja, saya bisa menerima pekerjaan sampingan lain dalam bidang tulis menulis dan transletan, bisa jalan-jalan bareng teman (sampai akhirnya hobi ini mempertemukan saya dengan Suami hahahaha), dan masih bisa sering ngobrol dengan anggota keluarga.
Saya beruntung sekali. Alhamdulillah.
Selain itu siapalah saya yang dulu bermimpi bisa datang ke daerah-daerah di Indonesia dan juga dapat kesempatan melakukan riset di luar negeri.
Siapalah saya?
Jadi kalau dipikir-pikir, jalan karir saya hingga seperti ini, mungkin bisa dibilang adalah keberuntungan.
Beruntung mengenal teman-teman yang baik dan beruntung ada “invisible hand” yang membantu di saat saya membutuhkannya.
Ini keberuntungan saya.
Bukan keberuntungan seperti yang dimiliki Paman Gober dan Si Untung.
Deva
*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Chic Blog Competition 2013. Wish me luck, people!