Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


20 Comments

Yesterday was Your Day, Dad

Don’t ask how many times me and dad gets fights. Don’t ask how many opinions that we argue. Don’t ask how many times we spoke in a day.

The fact is me and Dad not always in the same side. Only one idea that we can share together, is just about politics. Is there anything else?

If, there is, I’d prefer to be good listener rather than share my idea to him.

I still remember how he can dealing with my teacher when I was kids and make a problem in the school.

I still remember too when he cheering me up when I was sad about one and two problems, even only with the simple sentences, “Everything gonna be oc”.

He still always drops me in the airport every time I need to go to vacancy or working in another place. Meet my boss and said, “Please, take care of her.” Yes, he still did it. Can you believe it?

He will shut his mouth up in front of my friends, if he doesn’t like them but he will tell my Mom what his thought. But yeah, he still gives me permit to get fun with my friends. May be he think that “At least, you know my mind.”

He’s not romantic daddy, who always say “I love you” everyday. But if we are in the good mood (hahaha…) he will call me “Sayang…” Sweet! Don’t you think?

Dad…

Let me say it. No matter how different we are. No matter how much energy we spent to argue. You need to know and believe that I love you, I love you and I love you. No exceptions.

Yesterday, I was kissing you with all my heart. Hope you can feel it. Even today, when we are in the different side, again and again. This is not easy to maintain this life in a good way. You know what I mean, Dad. If you read this post, believe me is not an easy to tell the world that I always adore you.

Do you still remember in one night when I asking you about the foreign aid in Soekarno’s era? Yeah, because of you, yes your information, I can get A in my task when I was in college. Oh my God, get A in the class soooo challenging. And my friends? Knock knock, they even don’t know what the idea that I wrote and they ask where I get this information. And I said, “From my Dad.” I’m proud of you Dad. You are my encyclopedia.

Once more. Do you still remember when I l was lying down beside you and told you how difficult for me to find the issue to my thesis? And voila! You was told me story about the bad cooperative system in Indonesia. People still poor and the system not working as well. And suddenly I remember about the Grameen Bank system in Bangladesh, which created by Muhammad Yunus. And then I got fully energy to wrote about that, to share the idea about how Bangladesh can decrease their poverty number.

You always inspire me. And when I got done with my thesis, did you read my thesis? Nope! You just put my thesis in your desk. But it was oc. I wasn’t expecting anything beside you can come to my graduation day to give a little speech there.

Oh…my God. I suddenly remember too. When I was in Kualuh Leidong, North Sumatera, me and team, include my boss for sure, need to go to Simandulang Village and to reach that village, we need to pass some of the challenges. Come there with a small boat and after that we need to walk in very old wood bridge. If we put our feet in the wrong side, we can fall to the river and the problem was I can’t swimming! Man…I feel so scare. But my boss said, “Deva, your dad ask me to make sure that you gonna be oc beside me, so don’t feel afraid. I will always make sure that you oc in this trip.” And when he was said that, I feel like the kindergarten children. Ckckckc…not funny at all. Now, I miss that place, the beautiful and unique Simandulang village.

So…

Dad…let me loving you with my way. All that you need to know is love still and always be here, in my heart for you, with no exceptions.

I love you, Dad. Happy birthday!

Hope you like this surprise, Dad

Deva


26 Comments

People (Just) Change

Pernahkah saya tulis di sini kalau hubungan saya dengan kakak itu dekat sekali? Saking dekatnya waktu dia ada masalah dia selalu cerita kepada saya padahal usia kami berjarak 9 tahun. Di sela-sela ceritanya, ia mengatakan “Ya, because people change, Dev.” Saat dia mengatakan itu, saya hanya manggut-manggut karena belum terlalu paham kenapa seseorang bisa berubah. Iyalah, ketika itu saya masih duduk di bangku SMU, apa yang saya pahami…

Tapi akhirnya saya paham maksud kakak. Tiap orang berproses.

Pernahkah kamu bertemu dengan teman-teman lama, bicara dengan mereka, menghabiskan waktu dengan mereka tapi yang kamu rasakan justru berbeda. Tidak bisa lagi tertawa untuk lelucon yang mungkin dulu membuat kamu terpingkal-pingkal? Tidak ada lagi bahasan yang bisa mengambil perhatianmu? Masing-masing bicara tentang hidupnya dari kulit luar. Tidak ada lagi kehangatan yang bisa dirasakan bersama. Dan yang kamu lakukan justru terus menerus melihat jam dan menunggu kapan akan bisa pulang.

seeing people change isn't what hurts. what hurts is remembering who they used to be.

Teman yang dulu biasa menjadi teman bicara paling seru tapi karena keterbatasan intensitas pertemuan, menjelma menjadi orang lain di hadapanmu. Teknologi yang sedemikian canggih, jika memang tidak ada keinginan untuk digunakan maka akan terbuang percuma.

Begitu juga dengan dirimu. Mungkin orang lain merasa mereka tidak lagi mengenal dirimu. Jarak pun tercipta tanpa ada usaha untuk mendekatkannya kembali.

Ketika titik ini terasa, mungkin teori bahwa tiap orang berubah, ada benarnya. Termasuk diri sendiri.

Tanyakan ke diri sendiri, kapan terakhir kalinya menghubungi seorang teman  via broadcast messange blackberry hanya untuk bertanya, “Apa kabar?”

Deva


13 Comments

Diam; Tidak Akan Mati

Pernah mengalami situasi dimana pekerjaan kita dipandang sebelah mata oleh seseorang?

Saya baru aja ngalamin ini beberapa hari lalu.

Seseorang bilang ke saya, “Ah, kerjaan lo tuch enak banget. Gampang banget. Cuma tinggal duduk manis terus ngetik. Gak pake otak! Lah gw? Susah! Kudu orang ahli yang ngerjain! Selain pake otak juga pake tenaga…!”

*nelen ludah banyak-banyak sambil tarik nafas dalam-dalam, terus cuci otak sendiri sambil ngomong dalam hati “Yang waras yang ngalah” sambil mikir “Ini hari apa ya? Kok nich orang emosi banget sama saya?”*

Atau seperti ini,

“Ah, lo mah enak. Bisa kerja sambil browsing. Gw? Gak! Repot setiap menit. Gak bisa nafas. Lo juga jarang lembur kan? Kalo gak ada gw di kantor, stuck tuch operasional.”

Saya diam seribu bahasa. Hanya mendengarkan. Benar-benar mendengarkan.

Membiarkan tipe-tipe orang seperti ini menceritakan kisahnya dari A sampai Z.

Yang saya tangkap bahwa mereka sedemikian bangganya dengan pekerjaannya. Bagus dong ya! Bangga dengan profesinya. Langka nich orang-orang seperti ini.

Kesan kedua adalah ia sedang sangat lelah dengan pekerjaannya dan membutuhkan suntikan “pujian”.

Nah, jika ada yang mengalami situasi seperti saya ini, saran saya ada dua yaitu mendengarkan tanpa membela diri atau pergi meninggalkan pembicaraan tersebut. Tidak ada gunanya memberikan pembelaan dari penilaian subjektif tersebut. Membela diri sambil bilang, “Kerjaan gw tuch ini, itu, bla ble blo…”? Tidak akan didengarkan kok. Lebih baik mengalah dengan diam atau pergi.

Coba dech, sesekali, hindari situasi yang menjerumuskan diri ke perdebatan. Memilih untuk diam, tidak seketika mati kok.

Deva


14 Comments

Bahagia Itu Tidak Sederhana

Saya perhatikan beberapa hari ini banyak yang menulis kalimat “bahagia itu sederhana”…sesederhana apa ya?

Misalnya,

“Makan pake pecel lele” —- gak sederhana. Coba bayangin kalau tidak ada uang untuk membeli makanan tersebut atau jika pengusaha lele sedang tidak memanen lele.

“Berkumpul dengan anggota keluarga” — sama sekali gak sederhana. Setiap anggota keluarga punya kesibukan masing-masing. Bahkan tidak jarang kalau sedang berkumpul, yang ada malah ribet dengan handphone.

“Berkumpul dengan sahabat dan pacar” — oke, ini juga tidak sederhana. Apa benar jika sudah berkumpul dengan sahabat bisa bahagia? Siapa tahu malah asyik curhat via Twitter, jarang bertatap-tatapan mata, jarang tertawa lepas layaknya di Twitter, dan siapa tahu yang ada berujung kepada penguatan “ini lho gw sekarang”.

“Saat dimana bisa melakukan hal yang dikira gak bisa dilakukan” — ini apa? Masih belum jelas halnya apa. Sama sekali tidak sederhana. Bayangkan jika tidak punya keyakinan, pasti susah mewujudkan ini. Keyakinan bukan hal yang sederhana.

“Dikangenin sama seseorang” — beuh ini usaha keras banget! Tidak ada standarisasi satu pun yang digunakan orang untuk kriteria ‘dikangenin’.

“Libur, bangun siang, langsung ada sarapan di depan mata” — enak banget ya hidupnya. Sederhana sich tapi sama sekali tidak sederhana jika dipikirkan bahwa mbak atau siapapun usaha banget untuk menyenangkan hati kita demi dapat pujian atau sekedar menjalankan tugas, sedangkan kita? Jarang memuji dia. Ndak sederhana at all.

“Beli sepatu yang mahal tau-taunya diskon” — oke, ini suara hati saya sich, heheheseneng tapi tidak sederhana. Coba dech rasanya gimana kalau benar-benar mau beli nich, sedikit pasti ada rasa pengen makan isi dompet karena harganya yang mahal walaupun sudah didiskon. Akuilah, wahai kaum perempuan.

Apa lagi ya…

Masing-masing punya standarisasi bahagia, gak ada yang salah kok. Saya iseng aja bikin seperti ini hehehe…karena saya merasa bahwa bahagia itu gak sederhana. Perlu usaha untuk menjadi bahagia, ya kan? Dan sangat merasa kesal jika ada yang mengganggu kebahagiaan tersebut. Am I right?

Jadi, jika merasa bahagia, berbahagialah. Hargai kebahagiaan tersebut…pedihnya adalah ketika rasa ini hilang sebelum kita menyadari bahwa sebenarnya ‘we are happy’.

If you feel happy, just feel it! You don’t need to ask why you are so happy today…but when you feel angry or sad, you need to ask yourself what’s the reason.

Live for today not for tomorrow, and don’t be regret too much for what was happen yesterday. Live! Now! ;)

Deva


20 Comments

Apresiasi

Disclaimer: Tulisan ini merupakan ‘tantangan’ Radinka kepada saya setelah kami berdiskusi cukup panjang tentang Free Hug Campaign di Indonesia.

Radinka (via BBM): Mentalitas timur kita beda ama barat punya. Di barat banyak dianjurkan utk mengungkapkan affection yaitu bentuk kasih sayang, like hugging. Di timur, kita cenderung tertutup. Knalan2 gw yg westerners juga suka berapresiasi scara verbal. Misalnya klo anak mrk juara, mrk akan bilang, “yes, my daugther is a swimming champion”…di kita, “iya anakku memang juara tapi skolahnya itu lho jjdnya brantakan…” Knapa harus ada kata “tapi”…anak loe juara ya juara aja. Titik. Enjoy the moment. Bener? Di kita, sbuah complain dipandang sbg motivasi agar kita ga gampang puas. Pdhal nothin wrong with bein puas man, puas khan apresiasi. Loe menghargai diri loe, pencipta loe, dsb.. Mnrt gw hidup di indonesia nantang keseimbangan jiwa..u wanna appreciate others but there’s this fear that ppl will walk all over u, nipu loe, dsb…makanya kita serba cueks and cenderung nginget yg salah…kasian mentalitas kita, parnoan smua…

Ada yang setuju? Ada yang tidak setuju?

Begini, saya mempunyai pengalaman tentang perbandingan 2 budaya yang memang terlihat secara kasat mata.

Kakak saya yang tinggal di Washington DC bulan Juli lalu pulang ke rumah selama 1 bulan. Perbedaan nyata antara dia dengan kakak-kakak saya yang tinggal di Jakarta adalah ‘gaya apresiasi terhadap apapun’.

Kakak jika sedang menemani anaknya menggambar atau bermain pasti akan keluar kata pujian, “You did a great job, Cat” atau “Gambar kamu bagus banget, Lil” atau yang lainnya. Sedangkan kedua kakak saya yang ada di Jakarta akan mengatakan, “Bagus tuch gambarnya tapi coba dech gak keluar garis kalo ngewarnain.”

Sounds familiar?

Apresiasi yang paling sederhana adalah mengucapkan terima kasih kepada pihak yang membantu kita.

Seperti ketika saya hanya sekedar mengambilkan remote tv untuk kakak saya, dia akan bilang “Thank you, Dev.” Bahkan saat Mbak selesai menggosokkan bajunya, Kakak saya akan bilang “Mbak rapi banget kerjaannya. Makasih ya.” Reaksi Mbak saya? Wuidih…senyum gak ilang-ilang. Beneran. Sampai saya ledekin “Giginya kering lho Mbak ntar hehehe…”

Begitu juga dengan bos saya. Dulu sebelum bekerja di kantor yang sekarang, mungkin saya hanya bisa dihitung pakai jari untuk bilang “terima kasih” ke setiap orang yang membantu saya.

Tapi di hari pertama saya bekerja, bos saya selalu mengucapkan “terima kasih” kepada siapa pun yang membantunya. Disediain minum, dia akan bilang “makasih”, jika saya selesai minjam flashdisknya dia yang akan lebih dulu bilang “makasih” daripada saya. Bahkan jika di lift hanya ada kami berdua dan 1 orang lain yang akan keluar di lantai lebih tinggi dari kami, dia akan bilang “Duluan ya. Makasih”. Terkesan aneh? Senyum selalu terlihat di setiap orang yang ia ucapkan “terima kasih”.

Bos saya asli Indonesia tapi puluhan tahun tinggal di Kanada. Yup, saya cukup meyakini bahwa ini berhubungan dengan latar belakangnya yang tinggal di Kanada. Jika dibandingkan dengan teman-teman kantor dan saya yang asli dan besar di Indonesia, lidah terkadang berat untuk mengucapkan “terima kasih” atau pujian untuk hal yang dinilai sederhana.

Coba dech perhatikan jika mengantri di kasir, berapa banyak pembeli yang mengucapkan “terima kasih” kepada kasir? Selalu kasir yang mengucapkan kalimat tersebut kan?

Saad pernah bilang kepada saya betapa senangnya ia memuji keponakan-keponakannya. Bukan karena ingin dinilai sebagai tante yang baik tapi karena pujian itu bisa memotivasi siapapun. “Lo senang kan dipuji Dev? Apalagi anak-anak. Mereka akan lebih percaya diri dengan apapun yang mereka lakuin,” kata Saad.

Hal tersebut memang benar adanya. Saya akan senang seharian jika menerima email dari bos atau klien dengan kata pujian di awal paragraf. Rasa lelah dan pusing bisa hilang seketika ketika ada pihak yang menghargai jerih payah orang lain.

Tapi, begitu ada kesalahan yang dilakukan kita, setiap orang tidak akan ragu membuat daftar dan melempar daftar kesalahan tersebut di muka kita. Menyedihkan ya?

Mari kita mencoba untuk memanusiakan manusia tanpa tapi.

Pertanyaan yang masih mengganjal di pikiran saya, apakah tingkat apresiasi seseorang tergantung dimana ia dibesarkan? Saya, cukup meyakini hal tersebut.

Deva


19 Comments

Percakapan…

Pukul 11 malam saya baru sampai rumah. Buka pintu. Ternyata Mama masih bangun.

Saya: “Lho kok Mama masih bangun?”

Mama: “Kan nungguin Deva pulang.”

*meleleh*

***

Saya menelepon klien untuk menanyakan data yang membingungkan.

Saya: “Kok aneh ya data yang ini?”

Klien: “Ya udah, itu tinggal aja dulu. Lo move on dengan data yang lain.”

Move on? *mendadak menelan ludah yang sangat banyak serasa diminta move on dengan perasaan* #eh!

Deva


10 Comments

Toko Kelontong [Bukan] Alfamart atau Indomart

Saya tinggal di sebuah daerah yang padat penduduk di Jakarta Selatan. Kata orang tua saya, sejak lahir kami selalu tinggal di daerah ini meskipun beberapa kali pindah rumah. Sempat tergoda untuk keluar dari daerah yang sekarang tapi karena pertimbangan lokasi yang sudah sangat strategis maka godaan tersebut berhasil dimusnahkan.

Nah, di lingkungan rumah saya sejak jaman dulu, sudah berdiri sebuah toko kelontong yang ukurannya besar. Semua tetangga jika ingin membeli kebutuhan pribadi hanya perlu ke sana. Tidak perlu ongkos dan murah. Omset toko kelontong tersebut, dulu, mungkin bisa jutaan dalam sehari. Tapi sekarang, saya ragu.

Bayangkan rumah saya hanya terpisah 1 rumah dengan Alfamart. Di depannya adalah toko kelontong turunan dari yang besar tadi (saking jayanya mereka, toko kelontong tadi buka cabang yang  khusus menjual alat-alat tulis dan listrik). Sejak adanya Alfamart, orang-orang membeli pensil lebih memilih ke Alfamart. Meskipun hanya 1 buah pensil. Apalagi untuk membeli sabun, shampoo, roti, dan sebagainya. Jelas, bahwa toko kelontong menjadi pilihan kedua setelah Alfamart.

Dulu, parkiran toko kelontong utama atau cabangnya tersebut padat. Sekarang, semua pindah ke Alfamart. Lebih ironis lagi, beberapa waktu lalu Indomart juga masuk ke wilayah saya. Jadi bayangkan dalam sebuah daerah perumahan penduduk ada 3 toko yang menjual barang kebutuhan yang sama dengan radius yang sangat berdekatan dan beberapa warung kecil yang juga ikut bersaing. Konsumen pasti senang. Tapi jika dilihat dan dirasakan dari sudut toko kelontong legendaris tersebut, sungguh miris.

Beberapa kali saya masih sering beli barang kebutuhan di toko kelontong tersebut. Alasannya hanya satu, hanya ingin ikut meramaikan penjualan mereka walaupun saya tidak belanja banyak.

Apa yang saya temui? Dulu, mereka tidak menggunakan komputer untuk ‘gaya’ di kasir mereka. Sekarang? Yup, mereka menggunakan komputer. Apakah efektif? Sama sekali tidak!

Kenapa? Karena daftar harga barang terkadang belum di-input oleh mereka, ujung-ujungnya ya repot nanya sana-sini untuk harga sebuah barang. Kedua, tidak semua karyawan di sana mengerti cara penggunaan komputernya. Pelayanannya jadi sungguh lama. Kertas bon apakah ada? Pasti ada tapi tulisannya tidak jelas. Jika saya sedang terburu-buru, saya memilih untuk bayar tunai tanpa harus dilihat daftar harganya di komputer.

Terkadang, karyawan di sana hanya berdiri dengan muka yang tidak ceria. Pernah saya tanya ke pemiliknya, kenapa barang-barang di sini berdebu? Bisa-bisa pembeli tidak mau datang karena debu ini. Pemiliknya menjawab, “Ya, namanya juga di pinggir jalan Mbak. Padahal udah kita beliin lemari. Tapi tetap berdebu. Kalau beli AC, duh pengeluaran lagi Mbak. Tapi barang-barang kita gak kadaluarsa kok.”

Akhirnya pikiran saya seperti ditarik ke bangku sekolah, saat guru Biologi saya menjelaskan tentang teori evolusi. Beliau bilang bahwa mahluk hidup yang tidak kuat tidak akan bisa bertahan lama di dunia atau lebih sederhana ‘ada sebuah seleksi alam’.

Sejauh ini, toko kelontong tersebut masih bertahan dengan jumlah karyawan yang tidak sedikit. Perlahan-lahan mereka membenahi diri untuk menarik pelanggan yang sudah semakin jarang ke sana. Tapi entah sampai kapan bisa bertahan.

Perlombaan kan selalu ada garis finish-nya…

Deva


18 Comments

Percaya

Tadi pagi saya mengantarkan Abiil ke sekolahnya. Layaknya TK biasa, pasti ada berbagai mainan di lapangannya. Ada ayunan berbagai jenis, perosotan, dan beberapa mainan lagi yang saya tidak tahu namanya. Saya duduk, memperhatikan Abiil bermain. Sempat terkaget begitu Abiil hendak jatuh, tapi begitu saya berdiri, Abiil tidak memberi kesempatan kepada saya untuk membantu. Dalam sedetik, ia bisa bangun kembali.

Saya berpikir.

Apakah ini adalah sebuah latihan bagi saya untuk lebih percaya kepada seseorang, seperti Abiil misalnya. Percaya bahwa semua mainan di sekolah ini aman untuk Abiil. Percaya bahwa sekalipun ia terjatuh, ia akan bisa bangkit lagi. Percaya bahwa dia akan baik-baik saja. Percaya bahwa pasti pihak sekolah sudah mendesain dan memikirkan keamanan dari setiap mainan di sekolah ini.

Percaya.

Selama duduk dan memperhatikan Abiil di sekolah saya bertanya ke diri saya sendiri. Sedemikian takutnya saya melihat Abiil terluka. Dan sedemikian kecilnya kepercayaan saya ke Abiil. Bukankah seharusnya saya percaya dia?

Itu adalah hal kecil di hidup saya. Percaya kepada seorang anak kecil bahwa ia dapat menjaga dirinya sebaik mungkin. Bukankah itu sudah naluriah di setiap orang? Memastikan bahwa dirinya akan aman.

Mungkin kepala saya tadi pagi sedemikian kosongnya sampai harus berpikir mendalam tentang rasa percaya.

Kepercayaan.

Menyadari bahwa ini merupakan harga paling mahal yang diberikan seseorang kepada kita.

Orang tua percaya kepada anaknya bahwa di luar, anaknya tidak akan membuat ulah. Mules perut saya untuk membayangkan kemungkinan terburuk, jika kelak saya membuat kepercayaan mereka luntur.

Pasangan saling percaya satu sama lain, percaya bahwa satu sama lain tidak akan mencederai hubungan. Sulit. Apalagi jika pernah dicederai sebelumnya. Mungkin jika ini terjadi, kita harus berkenalan dengan yang namanya ikhlas.

Pimpinan perusahaan percaya kepada timnya bahwa tidak akan ada khianat di antara mereka.

Dan sebagainya.

Harga mahal yang harus dijaga sekuat tenaga.

Harga mahal yang jika dilanggar, mungkin tidak akan dapat diraih kembali. Hilang dalam genggaman. Musnah tanpa tersadari. Menyesal tempatnya memang di belakang.

Percaya.

Lebih mahal dari semuanya adalah percaya terhadap diri sendiri. Bagaimana bisa memberikan kepercayaan kepada orang lain, jika tidak percaya terhadap diri sendiri?

Bagaimana bisa percaya kepada seseorang untuk membawa kebahagiaan bagi diri kita, jika kita tidak percaya bahwa sebenarnya diri sendiri berhak dan mampu untuk bahagia.

Dan pagi ini, saya mendapatkan kepercayaan dari Abiil untuk mengantarkannya ke sekolah. Sama seperti semalam. Saat neneknya ingin membantu ia mengerjakan PR tapi Abiil menolaknya, dengan alasan karena ingin menunggu saya pulang agar bisa belajar bersama saya.

Percaya bahwa saya pulang.

Percaya bahwa saya akan sediakan waktu untuknya.

Percaya bahwa saya mau.

Akhirnya, saya menelan ludah dan menyadari bahwa kepercayaan Abiil kepada saya, terlalu besar.

Deva


14 Comments

Kasih Tahu!

Banyak orang yang bilang “Padahal gw bisa tuch ngerjain tugas tapi gw malu bilang sama bos gw, jadinya ya gw gini-gini aja dech posisinya…”

Ya, solusinya cuma tinggal bilang ke atasan dong kalau kita bisa kerjain tugas tersebut meskipun belum pernah dicoba di depan mata mereka. Misalnya, kita punya kemampuan bikin desain. Ya bilang dong ke pimpinan kalau kita bisa. Kita tidak bisa mengharapkan bahwa orang lain punya kemampuan meramal, ya kan?

Terlepas dari hasilnya bagus atau tidak, yang penting beritahu.

Sama seperti jika kita mau seseorang melakukan hal yang spesial untuk kita, ya bilang dong maunya apa meskipun memang lebih senang kalau mendapatkan kejutan tanpa kita minta.

Tapi sering gak akhirnya mengelus dada karena apa yang kita harapkan dari seseorang tidak tercapai? Kita yakin banget bahwa pasangan akan memberikan pesta kejutan ulang tahun, misalnya, eh kenyataannya pasangan kita justru lupa hari ulang tahun kita. Nah lho! Salah siapa dong?

Kebanyakan orang merasa “gak enakan” tapi jika berpikir seperti itu, jujur aja dech, kita sering makan ati kan jadinya? Merasa yakin bahwa semua orang tahu kita seperti apa. Kenyataannya orang-orang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri untuk ambil pusing dengan hal-hal di luar urusannya.

Buat saya komunikasi adalah jalan keluarnya.

Komunikasikan apa yang ada di kepala kita dengan gaya yang sebaik mungkin, kepada siapapun. Toh itu fungsinya mulut dan telinga kan? Untuk bicara dan mendengar.

Bahkan seorang teman pernah bilang “communication or die!”

Ekstrim tapi betul.

Deva

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 158 other followers