Bukan, ini bukan tentang jalan pikiran saya yang semakin absurd belakangan ini tapi tentang judul berita atau bahkan isi berita di media-media Indonesia, entah itu media online atau media cetak, tapi keseringan sich saya lihat judul absurd ini banyak tersebar di media online.
Di Twitter, saya hanya mem-follow 3 akun media (kalau tidak salah), yaitu Metro TVNews, VOA dan National Geography. Sedangkan untuk media lain ya biasa saya klik sajalah ya. Namanya Twitter, berita dengan mudah datang dan pergi. Jika seseorang meng-RT link berita yang tidak kita follow, otomatis kita lihat dong ya. Nah dari sanalah saya memperhatikan judul-judul artikel di media online yang semakin tidak bermutu!
Contohnya adalah sebuah berita yang tersajikan di Tempo.Co “Lama Tak Ngetweet Rahmad Darmawan Lupa Password” dan “Abraham Samad Hanya 3 Kali Pacaran”.
Jika ada pikiran bahwa saya tidak menyukai Tempo, pikiran tersebut salah. Justru, saya telah dicekoki untuk baca Majalah Tempo oleh Papa sejak SMA sampai sekarang dan imbasnya saya jadi pecinta Tempo, bahkan pernah melamar jadi reporter di Tempo tapi tidak lolos, hehehe…ini curhat kelas kakap!
Oc, back to topic.
Sebagai majalah yang mempunyai value tinggi di kalangan masyarakat Indonesia, terutama kalangan menengah ke atas dan educated people, bukankah seharusnya isi bahkan judul berita yang tersajikan telah tersaring sedemikian baik di meja editor atau meja redaksi ya sehingga isi dan judul dapat mengenai sasaran dengan tepat. Tidak akan dicemooh pembaca jika judul dan isi berita terkesan dangkal.
Jika contoh berita di atas tersajikan di koran kuning ya tidak apa-apa karena memang gaya penulisan mereka seperti itu dan segmentasi pembaca mereka ya menyukai hal yang seperti itu. Tapi jika Tempo melakukan hal serupa, ya muncul pertanyaan di benak saya, “Kenapa judulnya harus seperti ini? dan “Mengapa isi beritanya harus se-soft ini?”
Ada seorang teman yang berpendapat, “Mungkin pihak Tempo pengen menggaet kalangan itu (kalangan uneducated atau less-educated) maka dikemaslah hardnews tadi dengan soft, dimulai dengan judul.”
Ada pula seorang teman yang menyayangkan bahwa seringkali isu yang belum valid dan tersebar di media sosial justru kini dijadikan berita di media nasional.
Pembahasan mengenai pendapat teman saya yang terakhir akan sangat menarik, tapi mungkin akan sedikit bias dengan tulisan di sini. Begini, saya sich menyambut hangat dengan isi timeline yang penuh dengan ide-ide kreatif dan undangan acara-acara bermutu karena dengan itulah kita bisa memperluas pengetahuan kita kan? Bahkan sudah menjadi bukti tersendiri bagaimana Twitter bisa menjadi senjata publik untuk menyuarakan ketidak adilan. Bahkan di Mesir, Facebook menjadi alat komunikasi untuk menyuarakan revolusi.
Nah, untuk itulah diperlukan kerjasama apik antara media online, media cetak, media elektronik dan media sosial. Bukankah ada sebuah standarisasi yang digunakan untuk membuat judul atau isi sebuah berita di media?
Saya jadi ingat beberapa waktu lalu sempat mengikuti sebuah workshop penulisan skenario. Saat itu ada seorang penulis skenario sinetron yang menjawab protes peserta tentang mutu sinetron Indonesia. Ketika itu, penulis tersebut menjawab “Rating adalah raja. Mau sepintar apa pun sebuah skenario disajikan tapi rating tetap jelek ya sinetron tersebut akan mati! Lagipula para penonton yang banyak menyaksikan sinetron ya kelas menengah ke bawah. Skenario sempat dibuat sedikit lebih cerdas tapi justru diprotes oleh mereka.”
NAH LHO!
Mungkin kondisi tersebut sama seperti kondisi media saat ini. Di belakang media ada owner, ada stakeholder, ada investor dan sebagainya. Masing-masing mempunyai kepentingan. Ini pikiran jahat saya, ketika ada kepentingan atas sesuatu hal, pasti harus ada yang dikorbankan. Dalam hal ini, siapa yang dikorbankan? Silahkan menganalisa sendiri.
Teman saya mengemukakan pendapat, “Twitter sekarang ini sebenarnya bagus buat mulai perubahan. Soalnya benar-benar jadi acuan tren media lain. Tinggal trenmakernya aja gimana…”
Setuju banget saya dengan pendapatnya. Di atas semua itu, perubahan tidak akan benar-benar dapat disebut perubahan jika tidak ada perubahan. Untuk membuat perubahan alur informasi di Indonesia agar dapat lebih baik (dalam segala sisi) ya tidak cukup jika hanya sekedar niat. Bukankah kita punya power yang namanya pendidikan? Mungkin terkesan idealis, tapi seandainya ada seorang yang cerdas dan mau berbagi pengetahuan positif yang ia punyai, bukankah itu telah menambah orang pintar lainnya di Indonesia ini?
Cara ini terkesan biasa? Memang. Cara yang luar biasa adalah jika ada dari kita berhasil bertemu dengan para pengambil keputusan (decision maker) dan menyadarkan mereka untuk membuat keputusan yang (sekali-kali) berpihak kepada rakyat, contohnya di bidang media seperti minta mereka untuk membatasi tayangan infotainment di televisi.
Susah? Memang susah! Makanya mulai yuk dengan cara yang biasa. Lama prosesnya ya kan? Memang! Tapi bukankah hal baik memang tidak berproses dengan instan? Bahkan untuk makan mie instan pun harus dimasak kan?
Mungkin sulit karena beralasan “Siapa sich kita di Indonesia ini? Cuma masyarakat biasa” ya…kalau mengganggap diri sebagai masyarakat biasa ya selamanya akan jadi biasa. Bukankah kita ini owner negara ini ya? Tidak bermaksud memotivasi tapi this is the reason why all the educated people must to share knowledge to others. To make this country more strong. Kalau bukan kita, siapa lagi? Dan harus diingat lho, bahwa masalah seperti ini bukan cuma di majalah hardnews seperti Tempo tapi di banyak media….mmm….
Deva