Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


28 Comments

Online Shopping

Hayooo siapa yang suka belanja online? Beli gadget, properti rumah, baju, sepatu, ampe kue juga online?

Teman-teman kantor saya bisa dibilang orang yang sering ikutan online shopping. Banyak jenis yang dibeli.

Kalau saya? Baru sekali. Hehehe…itu pun hanya tas organizer.

Kenapa? Ya, saya gak terlalu percaya online shopping.

Maap…bukan berarti online shopping itu jelek tapi ya maklumlah kadar saya untuk percaya sama sesuatu itu kayaknya masih minim. Jadi mendingan langsung ke mall kalau ada keperluan yang harus dibeli.

Lagian, mikirnya sich kalau belanja baju, sepatu, atau celana itu kan kita harus pasti dulu tentang bahan dan ukurannya.

Kalau tas lebih aman lah. Ya, bahan juga menjadi pertimbangan tapi gak terlalu utama. Kalau ditulis bukan kulit ya artinya bukan kulit kan. Kalau ditulis kulit, pasti saya gak beli. Karena ya itu tadi, gak percaya.

Buku? Mmm…beberapa kali beli online. Itu pun karena buku yang ada tulisan saya-nya. Hahaha…

Saking seringnya teman-teman kantor belanja online, itu jadi joke sendiri aja di kantor. TIKI JNE langganan dech ke kantor. Keseringan sich mereka belanja di Kaskus. Kalau bos saya kayaknya lebih ke ebay dech. Hahaha…beda kelas ya…

Tapi ternyata bukan cuma saya yang gak doyan belanja online. Teman saya, Henny, dia juga gak suka tuch belanja online. Alasannya: kadang apa yang di foto dengan aslinya beda. Nah! Sama tuch poinnya.

Ya, gak bisa ditutupi juga kalau keuntungan belanja online itu lebih mudah ya. Tinggal klik langsung bisa beli. Ya palingan nunggu 1-3 minggu lah sampai barang ada di tangan kita.

Terus kalau gak suka doyan online shopping, kenapa saya dari tadi liat-liat online shopping? Cuci mata aja kok. #eh :D

Deva


24 Comments

BLOG itu…

Saya mengambil nafas cukup dalam saat membaca tulisan Mbak Mayya yang berjudul Blogging is Healing. Terasa ‘dalam’ dan entah ada magnet apa tapi saya merasa larut di dalam ceritanya.

Sama seperti Mbak Mayya, buat saya menulis itu bisa melepaskan rasa penat, gelisah, membagi kebahagiaan, atau bahkan melepas sedih. Medianya bisa bermacam-macam. Bisa melalui blog, menulis di agenda, menulis email ke teman, atau sekedar menulis di komputer dan menyimpannya hanya untuk konsumsi pribadi.

Dengan menulis di blog, kita mempunyai dokumentasi online atas semua tulisan-tulisan kita. Bersamaan dengan itu, kita bisa tahu pula reaksi para pembaca dan bagi yang ingin memperdalam kemampuan menulis, blog bisa juga menjadi media yang tepat. Kita bisa semakin terlatih menulis kalimat sesuai sistematika yang baik dan benar. Percaya dech, ini berguna banget buat saya, walaupun ya masih sering salah :P

Ada orang yang dengan mendengarkan musik maka suasana hatinya bisa berubah menjadi ceria dan segar.Tapi ada juga yang meredakan luka, memperbaiki suasana hati atau membagi kebahagiaan dengan menari, berolahraga, bernyanyi atau sekedar berteriak. Jelas bahwa tindakan terakhir tidak berguna untuk saya.

Seorang teman, ada yang meredakan kekecewaan atau marah dengan berbelanja barang-barang mahal. Harus mahal. Kalau tidak mahal, marahnya masih terasa. Ada lagi yang jika marah, dia akan mendengarkan musik. Bukan untuk bernyanyi tapi untuk berjoget. Ya, kalau saya lagi marah sich paling cuma nulis dan makan. Hahaha…murah kan? :P

 

Dulu saya pernah dengar dari siapa gitu, lupa euy…katanya kalau lagi marah dengan seseorang coba dech nulis surat ke dia. Tapi jangan dikirim. Simpan. Terus besoknya baca lagi. Kemungkinan besar perasaan marah kita berkurang.

Percaya gak saya sama hal itu? Gak. Sampai saya praktekkan sendiri. Ternyata benar lho. Saya tulis dengan marah-marah eh besoknya pas dibaca lagi kok ya sedikit merasa konyol.

Balik lagi tentang blog. Saya salut banget dengan orang-orang yang nulis blog sampai bertahun-tahun lho dan setiap ceritanya itu panjang serta detail. Mau repot-repot masukin foto yang bagus-bagus. Juara! :) —- ini kok ya Om Arman banget ya…*fans garis berat Emma*

Terus juga sampai ada yang mau nulis dengan 2 bahasa. Walah! Keren…! —nah, ini Zilko banget :)

Banyak jenis blog yang saya suka dech. Bacanya sampai gak bosen. Repot ya kalo harus nulis satu-satu nama narablognya :D

Singkatnya…saya setuju dech sama Mbak Mayya kalau blog itu media yang bagus untuk menyalurkan emosi. *pengen peluk Mbak Mayya*

Deva


22 Comments

Syahrini

Tadi pagi saat bersiap-siap mau ke kantor, saya sempat menonton infotainment yang sedang memberitakan tren jambul Syahrini yang saat ini sedang nge-hits dan diikuti oleh artis-artis lain, seperti Soimah (I even don’t know who is she) dan Nunung OVJ. Beberapa hari lalu juga sempat ada berita Rangga Sm*sh akan menciptakan tren rambut 2012 seperti Syahrini. Man oh man!

Berita tentang fenomena keberanian Syahrini mengusung tren jambul Khatulistiwa itu pertama kali muncul saat ia menyambut David Beckham bulan November lalu.

Masih segar juga di kepala saya, betapa besarnya pemberitaan media di Indonesia ketika itu. Komentar pun bertebaran. Ada yang memuji keberaniannya, menggelengkan kepala melihat tingkah laku Syahrini, menyindirnya bahkan ada pula yang frontal untuk mengatakan kelakuan Syahrini itu sangat memalukan.

Tapi hari ini, di bulan Desember, beberapa artis justru tertarik untuk menciptakan tren rambut yang menyerupai Syahrini. Saya bukanlah penggemar Syahrini apalagi membela dia tapi saya iseng saja memikirkan bahwa Syahrini cerdas menciptakan tren.

Source: katealexandramcleish.blogspot.com

Terlepas dari tren tersebut bagus atau tidak, tapi kenyataannya beberapa artis (walaupun terkesan bercanda) tetap saja berniat mengikuti tren rambut Syahrini. Banyak yang tidak suka dengan gaya bicara Syahrini, tapi tetap saja diikuti gaya bicaranya dan pilihan kalimatnya.

Seru juga ya. Syahrini yang dibenci, dicaci, dan diikuti trennya.

Deva


11 Comments

Makin Lama Makin Absurd

Bukan, ini bukan tentang jalan pikiran saya yang semakin absurd belakangan ini tapi tentang judul berita atau bahkan isi berita di media-media Indonesia, entah itu media online atau media cetak, tapi keseringan sich saya lihat judul absurd ini banyak tersebar di media online.

Di Twitter, saya hanya mem-follow 3 akun media (kalau tidak salah), yaitu Metro TVNews, VOA dan National Geography. Sedangkan untuk media lain ya biasa saya klik sajalah ya. Namanya Twitter, berita dengan mudah datang dan pergi. Jika seseorang meng-RT link berita yang tidak kita follow, otomatis kita lihat dong ya. Nah dari sanalah saya memperhatikan judul-judul artikel di media online yang semakin tidak bermutu!

Contohnya adalah sebuah berita yang tersajikan di Tempo.Co “Lama Tak Ngetweet Rahmad Darmawan Lupa Password” dan “Abraham Samad Hanya 3 Kali Pacaran”. 

Jika ada pikiran bahwa saya tidak menyukai Tempo, pikiran tersebut salah. Justru, saya telah dicekoki untuk baca Majalah Tempo oleh Papa sejak SMA sampai sekarang dan imbasnya saya jadi pecinta Tempo, bahkan pernah melamar jadi reporter di Tempo tapi tidak lolos, hehehe…ini curhat kelas kakap!

Oc, back to topic.

Sebagai majalah yang mempunyai value tinggi di kalangan masyarakat Indonesia, terutama kalangan menengah ke atas dan educated people, bukankah seharusnya isi bahkan judul berita yang tersajikan telah tersaring sedemikian baik di meja editor atau meja redaksi ya sehingga isi dan judul dapat mengenai sasaran dengan tepat. Tidak akan dicemooh pembaca jika judul dan isi berita terkesan dangkal.

To meet a deadline, this article was plagiarised from another news source.

Nice warning sign. Can we copy this one? (Image Source: http://www.tomscott.com/warnings/)

Jika contoh berita di atas tersajikan di koran kuning ya tidak apa-apa karena memang gaya penulisan mereka seperti itu dan segmentasi pembaca mereka ya menyukai hal yang seperti itu. Tapi jika Tempo melakukan hal serupa, ya muncul pertanyaan di benak saya, “Kenapa judulnya harus seperti ini? dan “Mengapa isi beritanya harus se-soft ini?”

Ada seorang teman yang berpendapat, “Mungkin pihak Tempo pengen menggaet kalangan itu (kalangan uneducated atau less-educated) maka dikemaslah hardnews tadi dengan soft, dimulai dengan judul.”

Ada pula seorang teman yang menyayangkan bahwa seringkali isu yang belum valid dan tersebar di media sosial justru kini dijadikan berita di media nasional.

Pembahasan mengenai pendapat teman saya yang terakhir akan sangat menarik, tapi mungkin akan sedikit bias dengan tulisan di sini. Begini, saya sich menyambut hangat dengan isi timeline yang penuh dengan ide-ide kreatif dan undangan acara-acara bermutu karena dengan itulah kita bisa memperluas pengetahuan kita kan? Bahkan sudah menjadi bukti tersendiri bagaimana Twitter bisa menjadi senjata publik untuk menyuarakan ketidak adilan. Bahkan di Mesir, Facebook menjadi alat komunikasi untuk menyuarakan revolusi.

Nah, untuk itulah diperlukan kerjasama apik antara media online, media cetak, media elektronik dan media sosial. Bukankah ada sebuah standarisasi yang digunakan untuk membuat judul atau isi sebuah berita di media?

Saya jadi ingat beberapa waktu lalu sempat mengikuti sebuah workshop penulisan skenario. Saat itu ada seorang penulis skenario sinetron yang menjawab protes peserta tentang mutu sinetron Indonesia. Ketika itu, penulis tersebut menjawab “Rating adalah raja. Mau sepintar apa pun sebuah skenario disajikan tapi rating tetap jelek ya sinetron tersebut akan mati! Lagipula para penonton yang banyak menyaksikan sinetron ya kelas menengah ke bawah. Skenario sempat dibuat sedikit lebih cerdas tapi justru diprotes oleh mereka.”

NAH LHO!

Mungkin kondisi tersebut sama seperti kondisi media saat ini. Di belakang media ada owner, ada stakeholder, ada investor dan sebagainya. Masing-masing mempunyai kepentingan. Ini pikiran jahat saya, ketika ada kepentingan atas sesuatu hal, pasti harus ada yang dikorbankan. Dalam hal ini, siapa yang dikorbankan? Silahkan menganalisa sendiri.

Teman saya mengemukakan pendapat, “Twitter sekarang ini sebenarnya bagus buat mulai perubahan. Soalnya benar-benar jadi acuan tren media lain. Tinggal trenmakernya aja gimana…”

Setuju banget saya dengan pendapatnya. Di atas semua itu, perubahan tidak akan benar-benar dapat disebut perubahan jika tidak ada perubahan. Untuk membuat perubahan alur informasi di Indonesia agar dapat lebih baik (dalam segala sisi) ya tidak cukup jika hanya sekedar niat. Bukankah kita punya power yang namanya pendidikan? Mungkin terkesan idealis, tapi seandainya ada seorang yang cerdas dan mau berbagi pengetahuan positif yang ia punyai, bukankah itu telah menambah orang pintar lainnya di Indonesia ini?

Cara ini terkesan biasa? Memang. Cara yang luar biasa adalah jika ada dari kita berhasil bertemu dengan para pengambil keputusan (decision maker) dan menyadarkan mereka untuk membuat keputusan yang (sekali-kali) berpihak kepada rakyat, contohnya di bidang media seperti minta mereka untuk membatasi tayangan infotainment di televisi.

Susah? Memang susah! Makanya mulai yuk dengan cara yang biasa. Lama prosesnya ya kan? Memang! Tapi bukankah hal baik memang tidak berproses dengan instan? Bahkan untuk makan mie instan pun harus dimasak kan?

Mungkin sulit karena beralasan “Siapa sich kita di Indonesia ini? Cuma masyarakat biasa” ya…kalau mengganggap diri sebagai masyarakat biasa ya selamanya akan jadi biasa. Bukankah kita ini owner negara ini ya? Tidak bermaksud memotivasi tapi this is the reason why all the educated people must to share knowledge to others. To make this country more strong. Kalau bukan kita, siapa lagi? Dan harus diingat lho, bahwa masalah seperti ini bukan cuma di majalah hardnews seperti Tempo tapi di banyak media….mmm….

Deva


14 Comments

Password

Beberapa hari lalu, saya menjadi saksi mata pertengkaran suami istri yang disebabkan karena sang istri membuka isi kotak surat di Facebook suaminya, yang ternyata sering berhubungan dengan perempuan lain. Cemburu? Jelas.

Ada lagi teman saya, yang curhat panjang lebar via email kepada saya. Saya pun membalasnya via email. Beberapa hari kemudian, pacarnya teman saya menelepon saya, memarahi saya kenapa saya memberikan email yang berisi saran seperti itu?  Lho, artinya pacar teman saya tahu dong password email teman saya?

Beda lagi dengan teman saya yang lain. Dia adalah perempuan masa kini dengan pikiran yang sama sekali tidak mau tahu dengan Facebook, email, dan Twitter pasangannya. Dia masa bodoh dengan itu semua. Alasannya karena ingin menghindari pertengkaran yang disebabkan karena dunia maya.

Saya tidak tahu yang mana yang bagus, apakah perlu memberikan password email, Facebook, Twitter atau jenis sosial media lainnya ke pasangan atau tidak perlu. Yang jelas, saya pernah berada di posisi memberikan akses tersebut ke pasangan saya yang dulu dan hasilnya adalah pertengkaran demi pertengkaran terjadi. Akhirnya yang berhasil saya pikirkan adalah bukankah password itu adalah kata kunci yang memang sejatinya hanya kita, sang pemilik akun, yang mengetahuinya. Terlepas bagaimana kita menggunakan dunia maya, biarkan itu menjadi kebebasan kita sepenuhnya. Mungkin, yang akan saya lakukan kelak saya mempunyai hubungan kembali, saya tidak akan memberikan password apapun ke pasangan saya, lebih baik menghindari pertengkaran, ya kan? Entahlah, saya harus mengkomunikasikannya terlebih dulu dengan pasangan saya kelak tentang ini…

Jadi, adakah yang memberikan atau menolak memberikan password kepada pasangannya?

Deva


8 Comments

Nulis Cerpen itu Cenat-Cenut, Jenderal!

Pertama kali saya menulis cerita pendek (cerpen) adalah ketika SD kelas 4, kalau gak salah. Saat itu saya menulis cerita misteri yang ditokohkan oleh Sonny Bylton dan ketika kakak saya baca, dia teriak, “Lo jiplak cerita lima sekawan ya?!”

Siapa yang punya ini?

Hadeh…lima sekawan itu apa ya? Saya saja saat itu belum baca lima sekawan. Bacaan favorit saya ketika itu adalah Donal Bebek, Bobo, Trio Detektif, dan Agatha Christy (yeap, saya udah baca Agatha Christy punya kakak-kakak saya, pastinya). Mungkin gabungan bacaan-bacaan tersebut ya, sampai saya bisa menulis cerita Sonny Bylton yang terdampar di pulau misteri. Lho, nyambungnya apa?!

Naskah itu masih tersimpan rapi di rak buku saya. Nanti dech saya upload foto naskah-naskah itu.

Nah, kemarin tiba-tiba saya kepikiran untuk kembali menulis cerpen bersama seorang sahabat saya yang ada di Makassar. Kami sepakat untuk menulis cerpen dan membukukan hasil tulisan ini.

Eh, baru mau mulai menulis, saya bingung cara mendeskripsikan setting tempat dan waktu dalam cerpen saya. Hahaha…kebiasaan nulis feature soalnya :) *defense tingkat dewa*

Makanya sekarang saya lagi sering klik sana-sini untuk diskusi dan mencari referensi sebanyak mungkin tentang cerpen-cerpen. Doakan ya! :)

Deva


Leave a comment

Belajar Photoshop, yuk…

Sebenarnya tidak ada motivasi khusus yang membuat saya ingin belajar photoshop. Mungkin hanya disebabkan karena selalu terkagum-kagum melihat buah karya desain grafis di kantor saya. Wajah seseorang bisa seenaknya didesain sesuka hati, dari yang semula tidak ada kumis, dengan sesukanya bisa diberi kumis, dan efek lainnya. Setiap melihat kecanggihan karyanya, saya selalu berkata “Gila yach…teknologi…”.

Bos saya pun akhirnya bilang, “Belajar donk desain dev…” *Oke, Pak* (Padahal dalam hati, bingung…program photoshop aja gak punya). Tapi niat sudah ada di pikiran…niat sekali…

Lantas, saya coba free download photoshop dari berbagai situs, saya menyerah. Alasan klise: modem saya lemot, kuota habis dan filenya besar sekali. Akhirnya, langkah selanjutnya adalah browsing situs-situs yang memberi ilmu gratisan tentang photoshop. Nemu! Voila! Sebuah situs yang keren banget, made in Indonesia pula! Namanya ilmuphotoshop.com. Asli, keren!

Saya pun membaca berbagai artikel si empunya. Dan merasa antusias serta yakin bahwa saya bisa!

Minggu kemarin pun, akhirnya saya bela-belain ke ITC Permata Hijau ditemani oleh keponakan saya, disertai dengan hujan dan diiringi dengan suara bajaj (hehehe…) serta disambut oleh ojeg payung. Saya membeli software photoshop CS5, hahaha…jujur saja saya belagu waktu ngomong ke spb nya, “Mas, ada software photoshop terbaru?” (Yang lama aja belum tahu, ini begaya dengan minta kecanggihan di level selanjutnya).

Dapat! Bayar 35,ooo rupiah.

Belanja ke sana kemari, akhirnya pulang ke rumah. Install…lho kok ada virus trojan?! Gak ngerti. Coba install lagi dari file yang lain. Gak bisa. Coba lagi. Gak bisa. Coba lagi. Gak bisa. Nyerah. Nonton DVD. Nyoba buka laptop lagi. Kok ada file baru? Ternyata sudah berhasil menginstall lhoooo… *Gaptek banget saya!*

Coba…diminta masukin key lisence. Gak nemu di cover DVD. Fine…coba trial aja. Bisa. Horeeeeeeeeeeee ;)

Sudah malam, saatnya tidur.

Besok pagi di kantor, saya langsung utak-utik (mumpung belum ada tugas, hehehe…). Buka ilmuphotoshop.com dan langsung coba ilmunya. Yihaaaaa…bisa menghilangkan jerawat di foto (pake foto kakak ipar, hehehe…piss). Coba lagi…kok gak bisa buat bola kristal…pusing. Akhirnya nyoba bikin header blog. Nanya ke desain grafis, arti beberapa perintah di situs itu. Dikasih tahu. Voila! Alhamdulillah bisa bikin header blog. Hasilnya:

Hasil amatiran...tapi pasti bisa lebih baik!

Hasil amatiran...tapi pasti bisa lebih baik!

Saya pun memperlihatkan hasil ini ke desain grafis dan teman kantor yang lain. Whahahaha, desain grafis saya bilang, “Wah…besok-besok lo dech yang diminta ngedesain?” *Saya pun terdiam dan ngeles dengan gaya tukang bajaj dikasih 20,000 rupiah…*

“Gak lah, gw kan masih belajar…” Saya pun tersadar bahwa dia mungkin saja merasa terancam hahaha…tenang, itu masih jauuuuuh…saya masih embrio…baru belajar sehari. Sedangkan dia lulusan desain grafis!

Saya pun merasa bersyukur bahwa saya diberikan hasrat untuk mau belajar tentang sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Alhamdulillah…

Senang…senang…senang…

Deva, Okt 5, 2010


Leave a comment

Baru Kali Ini Saya Marah Dengan Sebuah Koran

Saat ini saya marah dengan pemberitaan di sebuah koran harian Jakarta. Bukan karena saya termasuk orang yang apatis dengan media tersebut, tidak! Justru saya adalah seseorang yang sangat mencintainya. Saya selalu senang setiap membaca artikel bermutu di koran harian tersebut. Ayah saya selalu memuji koran tersebut, mengatakan bahwa koran ini berani, berintegritas tinggi dan selalu membela rakyat. Saya menelan bulat ucapan ayah dan ikut mengagumi koran tersebut. Tapi seiring berjalannya usia, saya pun diajari untuk lebih kritis membaca berita di media massa manapun, dan hasilnya tidak jarang saya kecewa dengan pemberitaan media massa baik cetak maupun elektronik.

Bahkan, beberapa sahabat saya ada yang lebih berani mengatakan bahwa tidak ada media yang suci dari kepentingan penguasa, saya hanya diam dan tetap memegang teguh impian saya untuk menjadi seorang jurnalis. Tapi, hari ini, saya marah dan kecewa dengan pemberitaan di koran tersebut.

Cover depan koran harian Jakarta tersebut berhasil mempresentasikan seorang Muslim laki-laki sebagai seorang penjahat kelas kakap dengan memegang samurai. Gambar ini diambil oleh fotografer koran tersebut di Tanjung Priok, lokasi berdarah antara rakyat dengan Satpol PP.

Saya memang bukan hamba Allah yang suci tapi saya tidak terima jika cover depan koran terkemuka di Jakarta memasang cover seperti itu. Seharusnya jika memang ingin memasang gambar representatif kejadian, pasanglah foto yang memperlihatkan dua aktor yang sedang berseteru, biar adil! Foto yang memperlihatkan Satpol PP dan rakyat yang sedang bertengkar, bukan foto salah satu pihak!

Ayolah, buat masyarakat Indonesia pintar. Jangan provokasi kami. Kami haus berita aktual dan dapat dipercaya dan kami sama sekali tidak butuh pemberitaan provokatif. Tidak ada satu agama pun di muka bumi yang mengajarkan kejahatan, tidak ada. Jadi tolong jangan beri informasi seakan-akan Muslim senang membunuh, bertengkar dan mencaci-maki. Tolong adil…!

Deva – 15 April 2010


2 Comments

Facebook vs Face to Face

Siapa yang tidak mempunyai account Facebook (FB)?! Ayo unjuk tulisan (karena tidak mungkin tunjuk jari atau unjuk gigi…ini kan dunia maya) karena hampir semua kalangan masyarakat mempunyai account FB.

Tidak ada yang salah dari fenomena ini.

Hanya saja saya ingin menyoroti beberapa kejadian yang menarik.

Ada artikel di sebuah media massa yang memberitakan bahwa kehadiran FB telah mengalahkan pentingnya tatap muka (face to face). Inti artikel itu mengingatkan saya kepada beberapa kejadian yang dialami sendiri oleh saya. Saya dan teman-teman beberapa waktu lalu berkumpul di sebuah resto. Setiap orang dari kami mempunyai kesibukan masing-masing. Sulit sekali menemukan waktu yang tepat untuk duduk bareng dan bergosip bersama (maklum perempuan he…).

Akhirnya setelah melewati diskusi panjang via message di FB, saya dan teman-teman bisa bertatap muka. Ironisnya adalah masing-masing dari kami tidak ada yang melepaskan atau berjauhan dengan hp. Dan sebagian besar dari kami tetap online FB! Jadi obrolan yang dilakukan hanya obrolan yang ”sangat” ringan jika tidak ingin dikatakan obrolan yang tidak jelas arahnya. Tiba-tiba waktu sudah malam dan tatap muka yang telah direncanakan jauh-jauh hari dan ribet tidak ada gunanya selain info bahwa si A kerja disini, si B kerja disitu, si C lagi gini, si D gitu-gitu aja. Hah…

Kemudian kejadian kedua adalah di rumah saya.

Kakak saya, seorang ibu yang telah mempunyai 2 orang anak yang masih balita dan bayi dan bekerja sebagai karyawan swasta, mempunyai smart phone yang selalu online ke YM atau FB. Sampai-sampai ketika pulang dari kantor pun hp tidak pernah lama berjauhan dari tangannya. Bahkan ketika sedang bersama anak-anaknya pun, handphone pintar itu terus dipegang untuk online via FB.

Suatu hari, keponakan saya membanting hp itu, entah sengaja atau tidak. Sang bunda pun marah. Tapi keponakan saya, berusia 3 tahun, hanya menatap mata sang bunda tanpa berkata apapun.

Saya dekati keponakan saya dan bertanya ”kenapa kamu banting handphone Bunda?”. Keponakan saya menjawab sambil menatap lantai dan berkata dengan suara pelan, ”Abisan Bunda main handphone mulu.”

Sebuah pernyataan yang miris keluar dari mulut seorang anak berusia 3 tahun. Tidak ada yang bisa saya katakan selain memeluknya sambil mengelus kepalanya dan langsung dia berkata, ”Cipa (panggilanku darinya), kita main yuk.”

Akhirnya aku menemaninya bermain hingga ia kelelahan. Dan langsung mengingat jaman aku kecil dulu. Untunglah dulu teknologi belum seperti sekarang. Aku bersyukur untuk hal tersebut. Mamaku tidak pernah menomorduakan keluarganya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa inilah kebudayaan Jakarta saat ini. Tangan terasa aneh jika tidak menggenggam handphone atau online via YM atau FB.

Inilah Jakarta saat ini. Saat dimana semua menjadi terlalu mudah untuk dikomunikasikan dengan teknologi.

Tidak ada yang salah dari kemajuan teknologi, hanya saja bukankah duduk bersama dengan orang-orang yang kita kasihi dan bercakap serta langsung menatap matanya jauh lebih berarti daripada hanya sekedar online.

Jadi ingat wejangan Mamaku waktu aku kecil dulu, ”kalo makan jangan terlalu kenyang, nanti muntah”. Mungkin wejangan tersebut bisa aku gunakan kali ini ”kalo online jangan terlalu sering hingga tidak memperhatikan sekeliling nanti bisa ngehang (entah handphonenya, entah modemnya, entah hubungan dengan sekitar yang tidak terlalu dekat lagi lantaran terlalu sibuk dengan dunia maya).”

FB hanyalah salah satu dari teknologi yang saat ini sedang in. Kelak akan ada yang menggantikannya. Hah…jadi ingin update status di FB…(lho?!!!!!!!!)

 

Deva

3 November 2009

Post to Kompasiana.com/deva.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 157 other followers