Semalam, di studio 6 Blitz Pasific Place, sesaat sebelum film Lincoln di acara Akademi Berbagi diputar,
Kibot: Gimana kak setelah nikah? Lo ada perasaan jealous gak ngeliat single seperti gw? Free and single!
Saya: (kaget) hahahaha…what?!
Kibot: Kan biasanya para orang-orang yang baru nikah langsung ngerasa sirik sama orang-orang single. Being free, gak ada yang ngatur.
Saya: Mmm…apa ya…gak sirik sama sekali Bot. Gw malah merasa bersyukur udah nikah. Apa ya yang mau gw sirikin? (mikir)
Kibot: Ya karena laki lo demen jalan-jalan juga ya…
Saya: May be, tapi ya dia gak pernah melarang gw sama sekali untuk apapun…I just have no reason why I need to jealous with you…
Dan sekarang inilah jawaban saya atas pertanyaan seru dari Kibot:
Rasa sirik dengan orang-orang single tidak pernah terbesit sama sekali di benak saya sejak menikah. Bingung sebenarnya apa yang harus disirikin. Kita urutin ya:
Pertama, dari kebebasan. Katanya kalau sudah menikah semuanya diatur oleh Suami. Gak boleh ke sana ke mari. Gak boleh ketemu si A, si B, dan lain-lain. Gak boleh keluar malam, dan bla bla bla. Kenyataannya: Suami saya gak pernah sekali pun melarang saya untuk pergi sama siapapun dan kemanapun. Asal jelas tujuannya.
Contohnya gini kalau saya minta ijin via Watsapp,
Saya: Sayang, aku boleh gak pergi ke Akber ada acara nonton bareng. Pulang malam. Sama Saad and Kibot.
Suami: Oke.
That’s it! Gak neko-neko. Udah gampang ijinnya, pulang dijemput pula. Dan di jalan pasti ditanya, “Gimana acaranya tadi? Seru?”
Kebebasan kedua adalah bisa jalan kemana aja berduaan dan gak ditanyain sama orang tua. Ya iyalah. Beda banget waktu pacaran dulu. Jam 9 malam pasti ditelponin. Kalau sekarang? Saya tetap dong bilang lagi dimana tapi ya gak ditanyain yang ribet-ribet. Senang dong!
Diatur secara pakaian sama suami?
Ya iyalah. Masa iya ada suami yang menginginkan istrinya pakai baju sembarangan?! Sejak menikah, Suami gak ribet dengan pakaian tapi dia punya garis tegas yang mana yang dibilang sopan dan tidak. So ya, sejauh ini oke-oke aja.
Kedua, tentang repot urus suami. Katanya kalau sudah menikah pasti ribet bagi waktunya. Suami pasti mau dilayanin terus selama 24 jam. Dari ambilin handuk, lupa nutup lemari baju, dan segalanya dech.
Kenyataannya, Suami saya gak begitu. Selama nikah, saya baru 2 kali mungkin masakin masakan yang “serius”. Saya sering nanya, “Kecewa gak aku belum pernah masak?”
Dia simple banget jawabnya: “Kamu kan kerja Dev. Kita kerja. Ya kalau ada waktu luang, coba aja masak. Ya?”
Adem dong! Masakan saya seancur apapun sejauh ini sich dimakan tapi dengan berbagai catatan yang jujur hahahaha…
Dan Suami juga beneran dech, bukan tipikal penuntut. “Ambilin ini dong. Sekarang. Buruan.”
Gak banget.
Pasti Suami bakal bilang, “Sayang, boleh minta tolong gak cariin ini itu ini itu…” — ini kalau via Watsapp ya.
Tapi kalau verbal, ya dia GAK akan minta tolong kalau dia MASIH BISA melakukannya. I mean it! Itu yang diajarin ke saya.
“Kamu tuch kalau masih bisa usaha, jangan minta tolong mulu. Usaha dulu ya…”
Bikin mingkem dong? Hehehe…
Ketiga, tentang ekonomi. Katanya kalau udah ada pasangan, uang kita berkurang karena pasti semuanya dibagi 2. Jawaban saya: Uang saya malah utuh. Alhamdulillah. Saya gak akan lupa ekspresi Suami ketika di awal menikah, saya beli barang pakai uang saya sendiri. Antara kaget dan sedih. Dan kata-kata dia ini harus saya ingat.
“Deva, kebahagiaan kamu adalah tanggung jawabku. Kebutuhanmu dari ujung rambut sampai kaki adalah kewajibanku untuk memenuhinya. Ingat ini baik-baik ya. Besok gak boleh lagi jajan APAPUN pakai uangmu!”
Saya jiper, Sodara-sodara. Ya, is not easy you know…minta uang ke seseorang, even he is your husband.
Tentang ini, saya pernah bilang sama Suami kalau MEMINTA UANG itu hal yang berat buat saya. I just…merasa malu minta uang karena saya bisa cari uang sendiri. Bukan kenapa-kenapa sich. Saya bukan dari keluarga yang kaya mentereng. Tapi dari kuliah, sejak saya ada kerjaan kecil-kecilan di Kompas, saya belajar untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri, meskipun tetaplah uang kuliah dibiayain keluarga. Abis itu kan saya selalu kerja. Makanya minta uang duh…tapi ya apa mau buat, perlahan-lahan saya lakuin itu ke Suami. Dan Alhamdulillah, selama ini dipenuhi sama Suami. Maacih
Apa lagi ya?
Mmm…lupa.
Tapi kalau ingat, ntar ditulis lagi dech.
Gini, yang pasti sejauh ini I am truly happy with my current life. Menjalani hidup dengan Hendra itu luar biasa.
Kami sadar bahwa akan banyak masalah ke depan dalam hidup ini. But hey, we are not alone. Kita ada untuk bekerjasama. Kita ada untuk saling menguatkan, saling menyayangi, saling memberikan yang terbaik ke pasangan.
Kibot semalam juga bertanya, “Gimana kalau pasangan mengalami puber kedua?”
I said, “I don’t know. Karena belum menghadapi hal tersebut.”
Hendra, yang telah sampai menjemput saya, dan ditanyai hal serupa oleh Kibot menjawab,
“Bot, teori pernikahan boleh banyak. Tapi lo baru tau banget ngejalanin pernikahan ketika lo menikah. Jadi kalau mau tau gimana caranya? Ya hadapin aja.”
Apa ada jawaban terbaik dari “hadapin aja”?
Buat saya saat ini, itu adalah jawaban terlogis.
Ada yang punya jawaban lain? Atau…ada yang sirik dengan orang single?
Deva




