Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


23 Comments

Bicara tentang Pernikahan

Semalam, di studio 6 Blitz Pasific Place, sesaat sebelum film Lincoln di acara Akademi Berbagi diputar,

Kibot: Gimana kak setelah nikah? Lo ada perasaan jealous gak ngeliat single seperti gw? Free and single!

Saya: (kaget) hahahaha…what?!

Kibot: Kan biasanya para orang-orang yang baru nikah langsung ngerasa sirik sama orang-orang single. Being free, gak ada yang ngatur.

Saya: Mmm…apa ya…gak sirik sama sekali Bot. Gw malah merasa bersyukur udah nikah. Apa ya yang mau gw sirikin? (mikir)

Kibot: Ya karena laki lo demen jalan-jalan juga ya…

Saya: May be, tapi ya dia gak pernah melarang gw sama sekali untuk apapun…I just have no reason why I need to jealous with you…

Dan sekarang inilah jawaban saya atas pertanyaan seru dari Kibot:

Rasa sirik dengan orang-orang single tidak pernah terbesit sama sekali di benak saya sejak menikah. Bingung sebenarnya apa yang harus disirikin. Kita urutin ya:

Pertama, dari kebebasan. Katanya kalau sudah menikah semuanya diatur oleh Suami. Gak boleh ke sana ke mari. Gak boleh ketemu si A, si B, dan lain-lain. Gak boleh keluar malam, dan bla bla bla. Kenyataannya: Suami saya gak pernah sekali pun melarang saya untuk pergi sama siapapun dan kemanapun. Asal jelas tujuannya.

Contohnya gini kalau saya minta ijin via Watsapp,

Saya: Sayang, aku boleh gak pergi ke Akber ada acara nonton bareng. Pulang malam. Sama Saad and Kibot.

Suami: Oke.

That’s it! Gak neko-neko. Udah gampang ijinnya, pulang dijemput pula. Dan di jalan pasti ditanya, “Gimana acaranya tadi? Seru?” :)

Kebebasan kedua adalah bisa jalan kemana aja berduaan dan gak ditanyain sama orang tua. Ya iyalah. Beda banget waktu pacaran dulu. Jam 9 malam pasti ditelponin. Kalau sekarang? Saya tetap dong bilang lagi dimana tapi ya gak ditanyain yang ribet-ribet. Senang dong!

Diatur secara pakaian sama suami?

Ya iyalah. Masa iya ada suami yang menginginkan istrinya pakai baju sembarangan?! Sejak menikah, Suami gak ribet dengan pakaian tapi dia punya garis tegas yang mana yang dibilang sopan dan tidak. So ya, sejauh ini oke-oke aja.

Kedua, tentang repot urus suami. Katanya kalau sudah menikah pasti ribet bagi waktunya. Suami pasti mau dilayanin terus selama 24 jam. Dari ambilin handuk, lupa nutup lemari baju, dan segalanya dech.

Kenyataannya, Suami saya gak begitu. Selama nikah, saya baru 2 kali mungkin masakin masakan yang “serius”. Saya sering nanya, “Kecewa gak aku belum pernah masak?”

Dia simple banget jawabnya: “Kamu kan kerja Dev. Kita kerja. Ya kalau ada waktu luang, coba aja masak. Ya?”

Adem dong! Masakan saya seancur apapun sejauh ini sich dimakan tapi dengan berbagai catatan yang jujur hahahaha…

Dan Suami juga beneran dech, bukan tipikal penuntut. “Ambilin ini dong. Sekarang. Buruan.”

Gak banget.

Pasti Suami bakal bilang, “Sayang, boleh minta tolong gak cariin ini itu ini itu…” — ini kalau via Watsapp ya.

Tapi kalau verbal, ya dia GAK  akan minta tolong kalau dia MASIH BISA melakukannya. I mean it! Itu yang diajarin ke saya.

“Kamu tuch kalau masih bisa usaha, jangan minta tolong mulu. Usaha dulu ya…”

Bikin mingkem dong? Hehehe…

Ketiga, tentang ekonomi. Katanya kalau udah ada pasangan, uang kita berkurang karena pasti semuanya dibagi 2. Jawaban saya: Uang saya malah utuh. Alhamdulillah. Saya gak akan lupa ekspresi Suami ketika di awal menikah, saya beli barang pakai uang saya sendiri. Antara kaget dan sedih. Dan kata-kata dia ini harus saya ingat.

“Deva, kebahagiaan kamu adalah tanggung jawabku. Kebutuhanmu dari ujung rambut sampai kaki adalah kewajibanku untuk memenuhinya. Ingat ini baik-baik ya. Besok gak boleh lagi jajan APAPUN pakai uangmu!”

Saya jiper, Sodara-sodara. Ya, is not easy you know…minta uang ke seseorang, even he is your husband.

Tentang ini, saya pernah bilang sama Suami kalau MEMINTA UANG itu hal yang berat buat saya. I just…merasa malu minta uang karena saya bisa cari uang sendiri. Bukan kenapa-kenapa sich. Saya bukan dari keluarga yang kaya mentereng. Tapi dari kuliah, sejak saya ada kerjaan kecil-kecilan di Kompas, saya belajar untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri, meskipun tetaplah uang kuliah dibiayain keluarga. Abis itu kan saya selalu kerja. Makanya minta uang duh…tapi ya apa mau buat, perlahan-lahan saya lakuin itu ke Suami. Dan Alhamdulillah, selama ini dipenuhi sama Suami. Maacih :)

Apa lagi ya?

Mmm…lupa.

Tapi kalau ingat, ntar ditulis lagi dech.

Gini, yang pasti sejauh ini I am truly happy with my current life. Menjalani hidup dengan Hendra itu luar biasa.

Kami sadar bahwa akan banyak masalah ke depan dalam hidup ini. But hey, we are not alone. Kita ada untuk bekerjasama. Kita ada untuk saling menguatkan, saling menyayangi, saling memberikan yang terbaik ke pasangan.

Kibot semalam juga bertanya, “Gimana kalau pasangan mengalami puber kedua?”

I said, “I don’t know. Karena belum menghadapi hal tersebut.”

Hendra, yang telah sampai menjemput saya, dan ditanyai hal serupa oleh Kibot menjawab,

“Bot, teori pernikahan boleh banyak. Tapi lo baru tau banget ngejalanin pernikahan ketika lo menikah. Jadi kalau mau tau gimana caranya? Ya hadapin aja.”

Apa ada jawaban terbaik dari “hadapin aja”?

Buat saya saat ini, itu adalah jawaban terlogis.

Ada yang punya jawaban lain? Atau…ada yang sirik dengan orang single? :D

Deva


13 Comments

Mengejar, Merasa, dan Meyakini…

Pernahkah kamu mengejar sesuatu tapi merasa terlambat? Berusaha meraih tapi ternyata tangan tidak sampai hingga akhirnya tersadar bahwa usaha tersebut membuahkan keniscayaan?

2013-03-12 17.38.25

Pernahkah kamu merasa bahwa satu warna mungkin indah tapi gabungan dari beberapa warna mungkin saja bisa lebih indah?

2013-03-12 18.12.38

Pernahkah kamu meyakini bahwa sesuatu yang indah akan terasa lebih indah jika dirasakan berdua, bukan sendiri, hanya berteman dengan bayangan?

2013-03-12 17.46.10

Dan percayakah kamu, bahwa ada yang bernama cinta sejati? :)

2013-03-12 18.14.28

Deva

*Foto hasil karya Deva dan Hendra dengan menggunakan mobile phone - Ancol, 120313


18 Comments

Thank You, Love

Judul ini terinspirasi dari tulisan-tulisan Diana Rikasari di blognya, yang beberapa kali menulis “Thank You Notes” atas kebaikan dan kebahagiaan yang ia terima dalam 1 harinya. Sebenarnya, saya pernah melakukan hal yang sama sebelumnya, tapi hanya ditulis di agenda saja, bukan di blog. Kalau dipikir-pikir, semakin banyak kita menyebarkan rasa syukur ke orang lain maka nikmat yang kita terima bisa lebih banyak lagi. Saya sich percaya. Kamu?

Untuk thank you, Love yang pertama saya berikan kepada suami saya.

Oh well, yang namanya pernikahan tidak mungkin selalu adem ayem kan? Yes, kemarin saya kesel-kesel-an gitu sama suami. Ujung-ujungnya nyesel :(

Badan saya yang ringkih ini sudah sakit sejak tanggal 23 sampai sekarang. Manjanya ampun-ampunan. Gak akan bisa dibayangkan dech. Padahal suami sudah sabar banget setiap waktu memperhatikan saya. Dari anterin saya ke klinik, mijitin badan saya yang kacau banget, selalu mengambilkan minum saat tengah malam tiap saya terbatuk, menyelimuti saya saat badan saya meriang. Tangan suami saya, yakin dech, pasti sudah pegal karena hampir sepanjang malam memeluk saya :(

Tapi buat saya masih kurang, saat saya tanya: “Aku harus ke kantor. Mau ada VO. Kamu anterin aku kan?”

Mungkin karena suami melihat kondisi saya sudah jauh lebih baik, dia pun mengatakan, “Kamu naik ojeg aja ya..maaf Sayang, tapi punggungku sakit banget nich.”

Saya pun langsung ngambek.

Berantem.

Pergi ke kantor tidak membawa bekal dan naik ojeg.

Saat makan siang, suami menelepon, “Kamu gak bawa bekal ya? Buburnya ketinggalan di rumah.”

Saya: “Mmm..iya.”

Suami: “Kamu mau makan apa? Mau makan soto?”

Saya: “Aku bisa beli sendiri tapi nanti ya. Tugasku lagi banyak banget. Harus VO dan transkrip Papua lagi.”

Suami: “Yawda, aku bawain makanan ya?”

Saya: “Terserah.”

Oh well, full of drama ya.

Terus tetiba di kantor hujan. Saya sms melarang suami ke kantor karena hujan tapi suami malah balas: “Aku udah bikinin kamu telor. Bentar lagi aku jalan.”

Dan beneran…suami pun tiba, duduk di depan ruangan saya. Berpakaian siap mau meeting dan…membawa plastik makan untuk istrinya yang manja ampun-ampunan.

Saya lihat menunya. Astaga rapi banget. Di dalam Lock and Lock, sudah ada nasi dan lauk pauk sayur bayam, telor, dan terong yang terbungkus rapi di dalam zipper dan kantong kiloan.

Saya cuma bisa bilang, “Makasih ya Ndra…”

Ih…gengsi banget gak sich! Nyebelin banget sikap saya ya!

Singkat kata, saya habiskan semuanya, terkecuali terong karena pedas dan saya belum kuat makan pedas.

Saya: “Siapa yang bungkusin ini semua?”

Suami: “Mbak.”

Setiba saya di rumah, kakak ipar saya bilang, “Itu bekal yang tadi Hendra siapin buat Cipa ya?”

Saya: “Iya. Kenapa?”

Kk: “Ampun…bersih banget sich Hendra. Ampe plastik kiloan dicium-ciumin terus dicuci. Katanya bau kencur segala lah…ampun….telaten banget.”

Saya cuma bisa senyum.

Setiba suami di rumah, saya cium tangannya dan dia cium kening saya. Rasanya itu…damai banget. *nangis*

Siapa sich yang gak meleleh, udah kita yang salah, kita yang dibaik-baikin, kurang apa lagi?

Beruntung banget saya punya Ndra sebagai suami saya. Thanks to you, my Love.

:)

Deva


8 Comments

Kangen (Lagi)

Sudah bukan sekali dua kali saya diledeki, “Kasian, belum honeymoon udah kerja mulu.”

Cuma bisa senyum.

Terus mikir, ya konsekuensi.

Konsekuensi cuti 6 bulan. Konsekuensi mengiyakan untuk kembali ke kantor tanggal 3 Januari. Konsekuensi bahwa belum ada waktu yang pas untuk liburan.

*hela nafas*

Di balik keinginan saya untuk jalan-jalan berdua dengan suami, ternyata suami sudah memesan tiket ke sebuah tempat yang cukup membuat saya kaget. Dan bertanya, “Kamu yakin?”

Iya. Karena tempat itu tidak pernah saya bayangkan sebagai tempat pertama yang  akan kami inapi. Masih lama. Bulan 6 baru akan ke sana. Setiap memikirkan rencana ke sana, mendadak saya nervous. Karena ya…tempat itu belum pernah terbesit sedikit pun di kepala saya. Tapi ya udahlah ya…hati ini merembes gimana gitu setiap mikir betapa keras usaha suami untuk bikin saya senang. *melow lagi dan pengen cepat-cepat sampai rumah hahaha*

Respon Mama setiap saya cerita kangennya saya ke suami (padahal kalau pergi cuma 3-4 hari), beliau bilang, “Udah…gak apa-apa. Hendra kan juga udah tahu kerjaan Deva kayak apa. Toh, Hendra juga selalu dukung kan.”

Jadi ingat, ketika hari Minggu kemarin setelah Hendra mengantarkan saya ke kantor, saya kirim teks untuk minta maaf karena harus keluar kota mulu seminggu ini.

Dia bales kira-kira seperti ini (kalau teks asli saya malu hehehe):

“Aku juga berat banget sebenarnya ngeliat kamu kerja sampai capek. Tapi dilarang pun kamu juga gak mau karena ini kan kesenanganmu. Udah…di sana jangan telat makan. Kamu maag. Jaga kesehatan! Ada aku dan keluargamu yang nunggu kamu di rumah ya, Sayang…”

Huhuhu…saya sedih banget nich. Takjub dengan Amel yang menjalankan pernikahan jarak jauh. Kagum juga sama kakak saya yang kalau ditinggal dinas oleh suami, terlihat santai saja. Lah, saya? Begini saja sudah cengeng.

Ya sudah dech…saya mau lanjut ngerjain tugas. Insya Allah, dalam hitungan jam akan kembali ke Jakarta. Kangen banget! :D

Kangen maksimal - Kampung Daun Bandung,  Februari 2013

Kangen maksimal – Kampung Daun Bandung, Februari 2013

Deva

 


11 Comments

Ada yang Beda

Ada yang beda saat ini dengan dulu.

Dulu aku merasa jiwaku penuh saat ke lapangan, bertemu masyarakat, bicara dengan mereka, dan melihat kehidupan mereka secara langsung.

Tapi sekarang, aku merasa kurang. Ada yang kosong. Tetap senang bertemu mereka. Tetap tidak bosan melihat keseharian mereka. Tidak kurang bahagia pula saat melihat usaha mereka membuat saya nyaman. Tapi…sungguh, ada yang kurang.

Semalam, melalui telepon, aku bicara bahwa aku merasa ada yang kurang di sini. Rasanya ada yang janggal.

Tapi kamu, dengan bijaknya bilang, “Apa yang kurang? Kan memang ini yang kamu mau? Ada di daerah, terjun langsung . Itu yang kamu suka kan?”

Aku cuma bilang, “Iya sich…tapi ada yang beda.”

Ah, Jakarta Jogja hanya 1 jam perjalanan udara, dan saya hanya beberapa hari di sini. Tapi rindu jangan tanya seberapa besarnya.

Iya…hati ini sadar…bahwa yang kurang adalah ketiadaanmu di sini…

Deva


43 Comments

Happy 1 Month Anniversary

Kamu pulang. Terlihat lelah. Tepat jam 12 malam, setelah 2 jam menempuh perjalanan dari Bali ke Jakarta, 1 jam menunggu taksi di Bandara dan 1 jam lagi dihabiskan di jalan menuju rumah.

Sedangkan aku, terus menunggu di rumah.

Bunyi pagar dibuka.

Ada kamu menenteng koper.

Rasanya senang sekali, rindu 5 hari sirna.

“ Aku ada kejutan buat kamu. Tutup dong matanya,” dengan suara lelah yang kamu buat sesegar mungkin.

Ternyata, setangkai bunga mawar merah ada di tanganmu, untukku.

“Selamat 1 bulan pernikahan kita, ya Sayang,” katamu.

Dan aku cuma bilang, “Emang hari ini ya?”

Kita diam.

Astaga! Aku lupa. “Aku kira besooook!” kataku.

Ini kejutan termanis yang pernah aku terima. Terima kasih, suamiku :)

Deva


18 Comments

Aisyah

Sepuluh tahun lalu, kakak saya menikah. Meledak tangisan saya ketika itu. Tambah keras lagi ketika melihat kakak pergi, tidak lagi di rumah. Pergi bersama suaminya membangun keluarga baru.

Saat itu, saya menangis karena rindu. Takut kakak akan melupakan saya.

Kenyataannya, sama sekali berbeda dengan pikiran saya. Hingga detik ini, tiada satu hari yang saya lewatkan tanpa mendengar kabar terbaru dari kakak. Meskipun jauh, kakak selalu tahu kondisi saya.

Ingatan sepuluh tahun lalu kembali terbuka di benak saya saat semalam melihat mata adik Ndra berkaca-kaca karena harus berpisah dengan Ndra setelah main sebentar ke rumah kami.

Menjadi ingat kembali betapa lunglainya Aisyah ketika dua minggu lalu saya merapikan baju-baju Ndra untuk dimasukkan ke koper. Pindah ke kehidupan baru.

Aisyah: Lho, Cipa gak nginep malam ini?

Saya: Gak Syah, Cipa kan mau pulang sama Abang. Nich lagi rapiin barang-barangnya Abang.

Aisyah langsung duduk begitu saja, di dekat pintu sambil memperhatikan saya beres-beres.

Ketika saya dan Ndra ingin pamit, di pojok ruangan, Aisyah menangis diam-diam. Kami dekati, matanya bengkak dan merah.

Melihat itu saya sungguh terharu…hanya bisa diam dan memperhatikan Ndra memeluk Aisyah. Erat sekali.

“Kapan-kapan Aisyah nginep ya di rumah, main sama Abang,” itu janjiku ke Aisyah.

Tangis itu lama redanya. Mungkin baru 30 menit selesai. Itu pun terhenti karena Aisyah tertidur di pangkuan Ndra.

Kamis kemarin saat saya dan Ndra mengunjungi rumah keluarga Ndra, saya menemukan kejutan manis dari Aisyah. Sebuah kertas bertulisan “Cipa sayang Abang” di depan pintu kamar Ndra. Senyum yang tak bisa saya tahan. Hangat mata Ndra saat melihat tulisan tersebut. Kamar Ndra pun menjelma menjadi sangat rapi dan pasti dibersihkan dengan hati-hati oleh Aisyah.

Melihat rapinya kamar tersebut, seakan melihat betapa suci rasa sayang Aisyah kepada Abangnya.

Cara menyayangi yang mungkin tidak akan saya wujudkan ke kakak-kakak saya. Entahlah…merapikan kamar, memberikan kejutan manis seperti ini…well, ini terlalu manis untuk saya.

Melihat Aisyah, seorang adik perempuan kelas 3 SD yang sangat menyayangi Abangnya, membuat saya harus mengakui bahwa ia mirip dengan saya, sepuluh tahun lalu.

Deva


16 Comments

Kurang Dari 2 Minggu

Sejak hari Minggu lalu, sebagian besar waktu saya habiskan dengan termenung. Memikirkan apa yang akan terjadi dalam 2 minggu ke depan nanti. Kurang dari 2 minggu, insya Allah, saya akan menikah dengan laki-laki yang saya sayangi.

Terkadang saat memikirkan pernikahan seperti apa yang akan saya jalani, senyum dan khawatir menghiasi pikiran saya. Tersenyum karena memikirkan indahnya waktu yang akan dihabiskan bersama sampai entah kapan. Sedangkan rasa khawatir muncul karena takut jika tidak maksimal menjalankan peran sebagai seorang istri.

Orang bilang bahwa rasa gugup dan semangat memang akan muncul saat menuju hari pernikahan.

Dan semakin ke sini, semakin merasa banyak perubahan yang harus saya lakukan.

Misalnya, saya yang semula jarang sekali memasak, pasti harus belajar masak sedikit demi sedikit. Menyediakan perlengkapan suami dari A-Z, dari bangun tidur sampai tidurnya. Harus lebih dulu terjaga dibandingkan suami. Tahu secara jelas, bagaimana cara berdiskusi dengan suami. Tahu takaran gula yang pas untuk teh kesukaannya. Dan lain-lain.

Sungguh, saya sangat menantikan masa itu untuk segera datang.

Semua nasihat orang ke saya mengenai pernikahan sama, yaitu bahwa menjalankan pernikahan akan penuh dengan kompromi. Semoga saya dan Hendra bisa melakukan itu, seperti yang telah kami lakukan selama ini.

Semoga pernikahan yang kelak dijalankan akan memudahkan kami mencapai cita-cita masing-masing dan menjadi keluarga yang dapat berbahagia dunia dan akhirat.

Can I get aamiin? :)

 “Less than two weeks, we will always together in the happiness and sadness.”

Deva

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers