Bingung mau kasih judul apa. Tapi judul tadi adalah respon saya saat melihat hasil jepretan seorang teman yang berhasil menangkap tingkah saya dan Suami saat di Pari minggu lalu. Siapakah teman saya ini? Namanya Niko. Dia aslinya sich banker tapi jago banget moto sana-sini dan suka berkelana dech. Boleh lho mampir ke blog dia di viewindonesia.com.
Buanyuak banget foto dia yang ciamik.
Ini dia foto saya dan Suami yang aaaakkkk…saya suka banget! Gak sadar kalau difoto
Je voudrais alez a Paris (Daku mau pergi ke Paris – kalo Paris dilafalkan menjadi Pari).
Ah, gak penting banget ya pembukaannya.
Saya tuch pengen banget suatu hari nanti bisa ke Paris, lafal: Pari. Tapi ya…sebelum ke Paris mari ke Pari lah ya…(semakin gak penting).
Baiklah…
Cerita benerannya adalah setelah direncanakan selama 2 minggu kayaknya, saya, Suami dan teman-teman dari P24 merealisasikan rencana tersebut ke…Pari, Pulau Seribu.
Pas denger kata Pulau Seribu langsung terbayang pulau yang penuh orang karena tempat wisata di sana semakin digemari turis kan, seperti Pulau Untung Jawa, Pulau Pramuka, dan Pulau Tidung. Nah, berhubung saya belum pernah ke Pulau Seribu, yawda dech semangat ke Pulau Pari dengan team leader siapa lagi kalau bukan…Om Dwi! Hahaha…
Janjian jam 5.30 di depan Mall Taman Anggrek kita pun meluncur langsung ke Muara Angke. Di sana udah banyak para pengunjung Pulau 1000 yang antri naik kapal. Kita mah gak usah antri, semua sudah diurus sama Om Dwi
Subuh di Taman Anggrek
Lagi beli tiket untuk kita-kita
Perjalanan ke Pulau Pari dimulai dari jam 7.30 dan sampai sana jam 9.30.
We are soooo ready, people!
Welcome
Istirahat sebentar dan langsung menuju kapal untuk berenang-renang cantik ataupun snorkeling.
Penginapan kami
Suami saya tampan ya #lostfocus
Gak pakai mikir, teman-teman saya pun langung nyebur!
Maapkeun…foto nyebur gak ada di kamera saya…adanya di kamera temen-temen bhuahahahaha…eh dikirimin deng via Facebook. Horray!
Courtesy Tarini
Part nyebur ini sebenarnya penting buat saya. Setelah kemarin di Sawarna, saya nyebur di laut dangkal, memberanikan diri lebih tepatnya karena juga gak dalam-dalam banget, nah di Pulau inilah saya berani untuk berenang-renang cantik pakai pelampung. Yeah…maap…gak bisa berenang
“Travel brings power and love back into your life.”
― Rumi
Jadi ya saya gak mau menyia-nyiakan waktu dan tempat yang secantik ini untuk gak berenang dong
Setelah puas main air, kita pun makan siang dong yang udah dibawa di kapal. Makannya di Pulau Tikus. Hehehehe…tenang, di Pulau ini gak ada ribuan tikus, mungkin karena bentuknya mirip tikus? I don’t know. Makannya enak dech, sambalnya mantap dan pemandangannya…heaven!
Let’s get lunch!
Pulau Tikus
Damai banget.
Laut yang jernih, pasir putih, dangkal, bintang laut bisa mudah disentuh…Subhanallah. Indonesia raya!
Bintang lauuuut
Kelakuan 2 bocah anak manusia
Puas di sini, kita pun kembali cari tempat snorkeling lagi. Hasilnya? Gak nemu. Soalnya banyak sampah
Nyebelin banget!
Kenapa coba banyak sampah di laut secantik ini. Rusak! Makanya saya sempat nge-twit “Kalo turis gak siap menjaga tempat wisata ya jangan berwisata!” Seriously, bahasa kasarnya sich, “Lo datang jauh-jauh mau nikmatin alam indah tapi lo pergi ninggalin sampah!”
Inhale…exhale…
Kalau kata teman saya sich, yang ngerusak juga gak melulu turis, terkadang penduduk setempat juga antipati sama sampah di laut.
Inhale…exhale…
Ya sudah karena dekat Pulau APL banyak sampah, kita pun kembali ke penginapan sekitar jam 4. Mandi sambil ngantri dan digedor-gedor, “Cepet doooong…” hahahaha…gak laki, gak perempuan, semua bawel. Ya bayangin jumlah 15 orang dan kamar mandi 2 aja. Ya emang kamar mandi mau 15 juga Depa! *tepok jidat*
Setelah mandi, kita ngapain? Ngemil sana-sini terus lanjut sepedaan menuju LIPI pusat Oceonografi untuk melihat Sunset. Konon katanya, di sini sunsetnya bagus. Dan emang beneran bagus.
Tentang sepeda…pernah kan saya tulis kalau saya gak bisa sepeda dan gak bisa berenang. Untung saja ya Tuhan…Suami saya kece banget. Jadi ya boncengan dech sama Suami
Ini sich foto keesokan harinya hehehehe…
Cantik kan sunsetnya?
Kelakuan
Sunset pun tenggelam, kami pun kembali ke penginapan.
Duduk sebentar eh makanan sudah tiba. Karena Niko dan Taufik berulang tahun kita nyanyi-nyanyi dulu dech.
courtesy Om Dwi
Makan kelar, nonton, kaki pegal-pegal…mari tidur.
Subuh juga udah ramai lagi di penginapan. Tapi…hujan.
Setelah kena hujan karena memaksa ingin ke Pantai Perawan, kita balik lagi ke penginapan. Hujan reda. Lanjut jalan lagi hehehehe…
Kita mampir dulu ke Pantai Lipi lagi. Main-main sebentar
Terus lanjut ke Pantai Perawan. Disini airnya jernih dan banyak bakau. Kita bisa sewa kapal untuk keliling pantai. Sayangnya karena terlalu dangkal ya gak enak dipakai untuk snorkeling. Jadi ya main air cantik-cantik aja.
Satu sampan muatnya hanya 3-4 penumpang
Setelah dari sini karena hasrat teman-teman masih pengen main air, kita pun lanjut ke Pantai LIPI. Ya again dech, karena kamera gak ada waterproofnya jadi pas berenang di pantai ini gak ada foto di kamera saya.
Karena beberapa teman sudah balik ke penginapan, saya, Suami dan seorang teman juga balik dech ke penginapan untuk bersiap-siap pulang ke rumah.
Kapal siap berangkat jam 12an. Setelah makan siang, kita beneran naik kapal lagi.
Ngantuk. Ombak lumayan berasa. Main kartu. Ngantuk. Tidur. Nyampe dech.
Alhamdulillah, happy! Makasih P24 yang sudah menjadi teman trip yang selalu menyenangkan selama ini. I love you, guys!
“To travel is to live” – Hans Christian Andersen
Dan siap nebar racun ke kakak yang mau datang ke Jakarta sebentar lagi. Horray!
Setelah di hari pertama kemarin kita gak ngapa-ngapain karena hujan, di hari kedua ini kita mulai susur pantai dari Subuh. Jadi malam-malam, Suami udah atur janji sama tour guide di sana untuk ke Goa Lalay jam 9 pagi tapi start dari jam 4 ikut rombongan lain yang mau ke Pantai Lego Pari untuk nikmatin sunrise.
Kita pun bangun jam…3! Karena prinsipnya, kita mau nebeng sama rombongan lain jadi gak mau bikin mereka menunggu kita kan. Tapi setelah 1 jam celingak-celinguk keluar kamar, kok belum pada bangun. Tour guide sich udah datang jam 4 pagi. Gak lama, adzan Subuh. Kita mau sholat dulu dong pastinya. Eh ternyata rombongan lain baru bangun pas adzan dan langsung cabut jalan. Lah?
Suami pun (karena lumayan jengkel gitu dech) bilang ke tour guide, “Bapak, kita sholat dulu ya…”
Saya: “Kok gak bilang mereka duluan aja?”
Suami: “Biar tour guide aja yang ambil keputusan. Kita bangun dari jam 3 biar mereka gak nunggu. Tapi ternyata mereka baru bangun. Dah yuk sholat.”
Ternyata oh ternyata…rombongan dah pergi. Tour guide nungguin kita
*Dalam hati mikir berarti bayar tour guidenya cepek nich karena gocap untuk 1 objek wisata kan?*
Yowis jalan, berbekal…nothing.
Tour guide jalan bawa head lamp doang yang mana ya sinarnya kurang padahal sepanjang jalan gelap banget. Belum ada matahari. Cuma ada bulan. Serem dah. Asli!
Di sini sedikit drama. Ya saya gimana gitu…merasa cahaya kurang dan ya salah kita juga gak bawa senter, cuma hp, jadi gak terlalu liat jalan yang ada air lah, yang ternyata perbatasan sawah-lah. Jadi…kesel…sedikit.
Suami sadar saya sedikit kesel, terus ajaibnya untuk menuju Pantai Lego Pari kita harus melewati jalan bebatuan dan jalan ke pinggir pantai yang lain. Sedikit cair suasana karena ketemu rombongan….yang tadi. Hahhahahaa…tapi gak tegur sapa. Entahlah.
Di pertengahan jalan, matahari terbit. Gak sempet foto karena lagi jalan di atas air hahahaha ribet ngeluarin kamera a.k.a rada males karena ya…pengen nikmatin aja pemandangannya.
Terus jalan…rombongan lain jalan lebih dulu sedangkan kita…stay.
Serius, pantainya cantik sekali. Bebatuan di pinggir pantai, air yang bening, dan dangkal sehingga bisa jalan-jalan di sana. Terus di tengah pantai ada karang lain yang bisa kita injak karena perjalanan ke sana…dangkal lho.
Di pantai ini kita lama banget dan memutuskan gak jadi ke Goa Lalay. Hehehe…tour guide pun pulang ke wisma penginapan.
Kita berdua akhirnya ngerasa bebas dech bisa foto-foto yang lama berduaan.
Gimana ya…cantik gitu dech. Belum pernah liat pantai yang kayak gini. Cetek untuk bisa jalan di sana dan ceteknya tuch jauh ke tengah, bahkan Suami aja bisa jalan ke tengah pantai untuk naik ke atas batu-batunya.
Tambah senang lagi karena para turis gak ada yang lama-lama di pantai ini. Jadi pantai bagus ini serasa punya kita berdua. Para turis lebih milih ke Lego Pari di samping pantai yang ini (entah namanya apa)
Sempet liat ombak pula di sini…
Udah lumayan puas foto-foto di sini, kita pindah ke pantai sampingnya, yang menuju arah penginapan. Namanya Tanjung Layar…
Nah dua karang itulah yang menjadi icon Sawarna. Keliatan biasa? Wait until we get there
Bisa gak kita foto lebih dekat ke Tanjung Layar? Bisa banget. Caranya? Tinggal jalan! Hahaha…
Dan pemandangan di balik karang tersebut, astaga banget dech!
Jadi di belakang Tanjung Layar kayak ada daratan berbatuan gitu yang luas euy. Banyak banget yang foto-foto di sana, termasuk kita hahaha…liat ombak juga yang berkali-kali datang. Semakin siang semakin panas. Kita lanjut ke Pantai Ciantir. Nah, di Pantai Ciatir inilah di mana kita foto-foto lagi dong dan…Suami berenang, sedangkan saya? Berenang juga sich tapi yang amatir punya. Hahaha…
Di Pantai Ciatir ini banyak turis internasional yang main surfing. Tapi gak kita foto dech, kenapa? Karena kita asyik berenang
Selain itu kita melihat seorang Ibu yang asumsi kita sich lagi ambil agar-agar laut. Lihat fotonya dech…ckckckck…itu ombak kan gak ketebak ya besar atau gede. Ibu itu tetap cari nafkah lho! Subhanallah banget.
Karena badan kita udah basah dan campuran bau keringat dari pagi sampai jam 1 siang di pantai…kita pun memutuskan untuk beneran pulang ke penginapan. Rasa kaki gimana? Pegel, luka-luka kena karang but we was happy!!!
Itu Suami ngapain di foto bawah?
Ombak datang, tulisan belum rapi eh kehapus ombak…
Hahahha..usaha lagi…
Ternyata dia nulis kata-kata yang biasa ditulis ABG itu lhooo hahahahaa…I love u too baby!
Di perjalanan kita pulang, inilah pemandangannya:
Ketika sampai di penginapan udah sepi. Para rombongan sudah pulang ke Jakarta lho. Semula kan kamar penuh eh mendadak kosong. Kami lah yang terakhir pulang ke penginapan. Kata penjaga penginapan, “Santai aja Pak, hahhaaha…”
Yawda kita leha-leha lagi dech sampai jam 3. Baru siap-siap ke rumah Mira dan pulang ke Jakarta. *pegang-pegang jok motor*
Area penginapan kami
See you later Sawarna!
Beneran, kalau ada yang mau ke Sawarna, jangan ragu. Seru!
Mudah-mudahan Suami suka sama hadiah ini hehehe…
“I love you without knowing how, why, or even from where….”
– Patch Adams (1998)
Deva
Ps: Abaikan setting waktu di foto ya. Salah setting.
Bday-nya siapa? Suami. Saya udah pusing 7 keliling dari sebulan lalu mau kasih apa ya ke Suami. Dari mikirin kado A-Z sampai akhirnya terlintas untuk ngajakin liburan berdua, terus bingung mau liburan ke mana.
Saya kan tipikal orang yang lebih senang nanya mau kado apa daripada ngasih kado tapi gak terlalu bikin si penerima senang, kan? Saya nanya tuch berkali-kali-kali ke Suami. Dan dia menjawab, “Gak mau apa-apa”.
Akhirnya daripada pusing sendiri, saya bikin games gitu sama Suami. Pas dia lagi santai di rumah, saya sodorin kertas yang sudah digulung-gulung dan ditulis pilihan kado untuk dia.
Yang pertama: Jogja
Yang kedua: Pulau Tidung
Yang ketiga: Sawarna
Dan terakhir: Barang apapun yang dia mau
Setelah berkali-kali milih, dia selalu mengambil Sawarna.
Saya pun mulai dech cari tahu segala macam tentang Sawarna. Beruntunglah ada teman di P24 yang punya website khusus Sawarna yaitu Dulang777.com. Lengkap tuch isinya. Nanya A-Z juga akan dilayani
Permasalahannya adalah: gimana kesananya?
Rencana awal adalah naik Commuter Line tapi Suami menolak karena jadwal Comline baru ada di pagi hari sedangkan rutenya jauh. Yang ada hanya sebentar di Sawarna. (FYI, kita hanya ada waktu saat weekend).
Akhirnya teman saya, owner Dulang777.com, bilang: “Bareng aku aja Mbak naik motor. Aku sekalian pulang ke rumah dari Jakarta.”
Suami: Sip.
Akhirnya Jumat malam kita pergi ke Sawarna dengan motor tapi bermalam di Pandeglang, rumah ayah teman Saya. Baru paginya lanjut ke Desa Bayah, Sawarna.
Jangan tanya rasanya naik motor di perjalanan yang jauh banget, kurang lebih 6-7 jam. SAKIT BANGET! Udah gitu, jalanan Serang HANCUR! Lobang dimana-mana. Hadeuh.
Ini sebagian kecil “ranjau”nya
Tapi ada juga spot yang hijau banget di perjalanan…
Udaranya segar
Sepanjang jalan, saya minta maaf sama Suami kalau dia harus repot naik motor seperti ini. Dan Suami bilang, “Gpp, ini seru banget. Kapan lagi begini? Hhahahaa…”
Begitu hampir sampai, udara pantai sudah mulai tercium and we are sooooo happy. AKHIRNYAAA PANTAIIII!!!
Pantai sebelum masuk ke Desa Bayah *lupa namanya*
Setiba di sana, cuaca panas banget tapi berhubung girang karena lihat pantai, kita pun semakin semangat untuk lanjutin perjuangan perjalanan ke Sawarna. Ternyata dari pantai sebelumnya, ada pantai lagi. Wohooo…
Pantai Cibobos
Di saat lagi happy mau sampai tujuan, ternyata awan hitaaam banget…mau ujan
Yah namanya juga pasangan yang lagi happy, jadi segelap apapun kita ya ketawa-ketawa aja. Apalagi pas di depan ada pantai lagiiiii
Pantai Karang Taraje
Kami gak lama di Pantai Karang Taraje ini, cuma sebentar ya karena sudah mulai gerimis. Tahukah apa yang terjadi? Tiga menit kemudian, hujan deras SODARA-SODARA. Kuyup tapi tetap lanjutkan perjalanan karena Sawarna sudah di depan mata
Here we come!
Pas pertama lihat jembatan di foto atas, saya langsung jiper, “Ini toh jembatan kayu yang ditulis di blog…duh bisa gak ya naik motor lewat sini karena gak ada pegangan besi gitu” *serem*
Berani gak?
Ternyata….bisa
Begitu masuk, banyak sekali homstay di sini. Kita sudah booking di Chalara Homestay.
Kamar kami
Kenapa milih di sini? Karena dari para blogger yang nulis tentang Sawarna, mereka merekomendasikan penginapan ini. Bentuknya yang unik dan makanannya yang enak serta pedas. Yeay!
Nah, sampai penginapan, kita langsung keringkan badan. Sayangnya ya itu tadi hujan gak berhenti sampai malam. Terus kita ngapain aja? Sempat sich ke pantai Ciantir tapi ya gerimis dan malam pula jadi cuma sebentar dech. Ngeruweng aja di kamar, becanda-becanda gak jelas hehehe…
Terus hari kedua kita ngapain aja? I’ll let u know later ya. Segini dulu dech postnya
Semalam obrolan di grup watsapp-nya Petualang24 heboh banget. Sampai jam 1 malam tidak berhenti-henti. Heboh karena akan ada hiking ke Gunung Pangrango tanggal 26-28 April ini dan terbuka hanya untuk 10 orang, dimana Suami saya tidak termasuk di dalamnya. Nah, karena Suami selalu gatel kalau udah denger “muncak yuk!”, dia pun berinisiatif bikin kelompok baru 10 orang lagi untuk ke Pangrango. Dua kelompok tersebut laku dech. Intinya sich, hampir semua anggota grup watsapp Petualang24 akan ke sana. Saya? Didaftarin sich tapi lihat kondisi fisik dulu ya. Hahahaha…*depa cemen*
Anyway, itu baru tentang Gunung Pangrango. Sedangkan di tanggal 20-21 April ini juga akan ada trip ke Pulau Pari di Pulau Seribu. Saya sudah daftar jauh-jauh hari. Tapi kaget ketika melihat kalender. Minggu ini (Insya Allah) akan birthday trip Suami ke sebuah tempat (besok-besok yaaa saya tulisnya ) , terus tanggal 20-21 ke Pari dan minggu depannya lagi ke Pangrango.
Saya: Astaga, kita bulan ini jalan-jalan mulu ya? Boros gak ya?
Dasar, emang situ aja yang udah gatel ke gunung. Hahaha…
Nah, sekarang yang ingin saya share di sini adalah tentang perlengkapan yang biasa saya bawa kalau jalan-jalan. Sayangnya, ndak ada foto ya J
Perlengkapan mandi – Jelas dong ini apa. Ya ada sabun, sabun muka, shampoo, sikat gigi, odol, dan listerin. For sure, bawa kemasan yang imut saja. Jangan regular size. Kenapa? Ya, karena berat. Semua keperluan ini, dimasukkan ke tas kecil. Jadi kalau mau ke kamar mandi ya tinggal bawa saja semuanya. Tidak tercecer kemanapun.
Krim Wajah – Namanya juga perempuan ya jadi krim wajah ya perlu dibawa. Inget, small size aja. Dan kalau ke daerah pantai atau ke tempat yang kiranya akan berpanas-panas, jangan lupa bawa sunblock.
Kabel-kabel – Maksudnya kabel charger. Mau charger handphone, tablet, atau laptop ya. Terus dimasukkin ke dalam tas kecil tersendiri agar tidak kelilit dengan barang-barang lain. Kalau trip pribadi, saya jarang bawa laptop tapi kalau lagi trip kerjaan, pasti bawa laptop dan terminal yang banyak untuk dipakai di hotel.
Tisue Basah dan Kering, serta Handsanitizer – Ya untuk ke toilet dan kalau susah cari air tapi mau cuci tangan, bisa kan pakai tissue basah atau handsanitizer.
Jarum pentul – Berhubung saya pakai kerudung, jadi ini termasuk barang penting ketika travelling.
Buku
Kalo ini sebenarnya pengen terus bawa, tapi kadang kelupaan. Hahaha…
See? Saya simple banget kalau trip. Yang bikin berat terkadang adalah perhitungan jumlah baju yang saya bawa hehehe…karena selalu bawa lebih. Kalau trip ke gunung atau pantai selalu bawa persediaan baju lebih karena biar ada persediaan kalau keringat dan basah abis main air
Kalau sedang bergaya “koper” pasti menyediakan 1 tas kosong untuk oleh-oleh. Beda kalau lagi bergaya “ransel”, beli oleh-oleh aja udah syukur banget.
Oya, jangan lupa bawa selalu 1 tas kecil untuk jadi tempat uang transportasi yang akan digunakan, kartu identitas, handphone, dan kamera pocket (kalau SLR pasti tempatnya udah ada sendiri kan?). Jadi dengan adanya tas ini, kita tidak perlu buka ransel sering-sering.
Jadi ceritanya akhir pekan kemarin saya dan suami ikutan acaranya Petualang24 (P24), komunitas travelling langganan kami, yaitu Kemah Ceria (Kemcer) di Gunung Loji, Bogor. Saya sich belum pernah ikutan Kemcer tapi suami yang pernah. Katanya kalau kemcer itu gak akan naik ke Puncak gunung, kerjaannya cuma kemah, masak, ketawa-ketawa, makan, tidur, ketawa-ketawa lagi, dan paling ke curug yang terdekat. Yowis, berhubung saya gak kuat kalau harus muncak, jadinya ikutan dech.
Di setiap trip P24 pasti aka nada Team Leader (TL)-nya. Nah, TL abadinya P24 adalah Om Dwi (pasti dia baca tulisan ini, dia kan follow blog saya abis itu dibahas dech di grup *sembah Om Dwi*).
Sembah Om Dwi – TL abadi P24
Oleh Om Dwi, itenarary-nya pun dibagi-bagi. Saya dan suami disuruh bawa dandang untuk masak nasi. Tapi karena suami saya bilang “Udah, bawa panci mie aja” yawda saya nurut. Eh, pas ketemu anak-anak pada bilang, “Dandangnya manaaaa?” Hahahaha…untung ada pos penjaga yang bisa minjemin kita dandang nasi.
Setelah ketemuan sama anak-anak di Stasiun Tebet, kita ber-9 pun ketemuan sama Om Dwi di Stasiun Bogor jam 9, kita langsung nyewa angkot ke tempat tujuan yaitu Gunung Loji, kira-kira jaraknya 1-2 jam dari Stasiun Bogor. Sempat kaget juga dengan kondisi jalanan Bogor yang macet dan dimana-mana angkot. Kata teman saya, Bogor bukan lagi kota hujan tapi kota seribu angkot saking murahnya dapat ijin trayek. Ya, pantasan sajalah angkot gampang ditemui di Bogor.
Setelah sampai di tempat tujuan, kita langsung siap jalan kaki, yang entah selesainya kapan. Kata Om Dwi, jaraknya 10 jam tapi kita tahu bangetlah kalau itu becanda. Sepanjang perjalanan menuju tempat perkemahan, saya melihat pemandangan yang segar. Pohon pinus dimana-mana, awan yang biru, dan ilalang berwarna hijau. Cantik!
Siap menuju perkemahan
Begitu sampai disambut pemandangan seperti ini
Lupa sich berapa lama jalannya tapi lumayan bikin keringetan dan kaki pegal-pegal. Begitu sampai di lokasi, teman-teman pun mendirikan tenda dan siap-siap untuk masak. Hahaha…jangan tanya saya ngapain. Lah wong, pasak yang saya pasang, semuanya salah. Jadi ya saya masak saja dech, itu pun harus nanya berkali-kali sama yang lain, “Abis ini apa yang mau dimasukin? Bumbunya berapa banyak? Ini udah matang belum?” Bawel ya. Ya, maklum jarang masak.
Kak Eko dan Om Dwi semangat banget bikin tendanya!
Saya dimana? Moto-moto aja
Masakan pertama yang dibikin adalah ayam goreng, tumis toge, kerupuk, nasi, dan sambal terasi yang sudah saya bawa dari rumah. Cerita tentang sambal terasi juga lucu. Jadi waktu makan malam beberapa hari sebelum Kemcer, saya bilang ke Suami kalau saya mau bawa tempe dan sambal terasi buatan saya. Suami langsung senang dong! Yawda pulang kerja saya minta tolong diajari bikin sambal terasi oleh Mama. Tapi Mama gak sabar melihat saya ngulek cabenya. “Duh, Deva lama banget nguleknya!” Huhuhhu diriku sedih. Terus Suami pun akhirnya bilang, “Sini aku bantuin nguleknya.” Dan voila! Suami cepat banget nguleknya dan rapi sodara-sodara! Saya kalah *nangis gruweng-gruweng*
Balik lagi ke Kemcer.
Setelah masak semuanya, ya makan dong. Gelar plastik putih terus makan bareng dech
Kenyang dan enak masakannya. Jago dah yang bikin racikannya. Salut dan saya jadi termotivasi untuk masak.
Setelah perut kenyang, eh malah ngantuk. Om Dwi semangat banget ngajakin ke Curug Cibadak. Di Puncak Gunung Loji. Tapi berhubung semuanya lagi kecapekan dan kekenyangan, jadi rencana itu ditunda hingga besok paginya. Yang seru saat berkemah adalah kita gak perlu khawatir kehabisan minum dan tidak perlu repot masak air karena air yang mengalir adalah air bersih, seperti air Aqua gitu. Kan Loji adanya di kaki Gunung Slamet, sumber mata air Aqua. Segar pula airnya. Jadi kalau haus ya ambil air di paralon dekat kali, kumpulin dan tegak! Praktis
Yang bikin sedikit shok adalah ketika mau buang air kecil dan pup. Wcnya gak ada airnya. Dan kotor gitu. Akhirnya…………………………..pipis dan pup ya di semak-semak. Hahhahaa….udah lama gak ngerasain seperti ini. Cobain dech. Sensasinya beda hahaha…
Terus yang bikin takjub lagi adalah perubahan warna langit. Lagi asyik ngobrol, warna langit masih sephia gitu, maklum sore. Eh, beberapa menit kemudian matahari hilang langsung gelap. Perubahannya terasa banget. Langsung dech senter dan head lamp dipakai. Malam-malam ngapain? Ya becanda, ngobrol, masak, makan, dan ini nich kegiatan wajib saat kemping yaitu “TRUTH or DARE”. Gak ada matinya tuch games dan selalu berhasil bikin ketawa bahkan dag dig dug. Dari truth or dare bisa dibilang saya akhirnya dekat sama Suami. Jaman dulu. Dan dari truth or dare yang sekarang akhirnya terungkap rencana teman-teman yang akan lamaran di tahun ini dan tahun depan. Semoga lancar jaya!!!
Sekitar jam 9 udara udah dingiiiin banget. Satu per satu masuk tenda. Saya juga ikutan dech akhirnya masuk tenda bareng teman-teman perempuan lainnya. Ho oh…selama kemah gak asyik ah kalau terlalu intim sama suami. Kasian yang lain ntar iri hehehe…
Saat saya tidur, astaga kelakuan teman-teman cowok ada-ada aja, termasuk kelakuan suami saya. Mereka, para cowok, becanda gak tahu sampai jam berapa. Saya sich udah tepar. Terbangun jam 4 saat seorang teman perempuan ingin buang air kecil dan butuh head lamp atau senter. Tidur lagi dech sampai jam 6.
Eh jam 6, Suami yang biasanya bangun siang, udah menyendiri aja ngeliatin matahari di dekat kali. Katanya “Mau liat matahari terbit”. Sayang, saya gak bawa kamera saat lagi di kali, ketinggalan di tenda. Gak lama ngeliat matahari, kita pun bergegas ambil wudhu untuk sholat Subuh.
Semua udah siap untuk masak tapi lagi, Om Dwi bilang “Sayang kalau gak ke Curug. Ntar kesiangan.”
Komandan sudah bertitah seperti itu, kita pun berhenti nyiapin peralatan masak. Jadinya siap-siap ke Curug Cibadak. Dan disinilah petualangan dimulai.
Ketika awal jalan sich gak masalah. Masih bisa berteman baik dengan sendal yang saya pakai. Dan itu bukan sendal gunung, seperti yang dipakai sama tim. Huhuhu…licin bukan main. Perjalanan menuju Curug kira-kira mencapai 1-1,5 jam. Rutenya buat saya sich lumayan bikin deg-deg-an ya. Capek tapi seru. Lumayan dech bikin susah Suami hehehe…
Kendala utama melewati jalan menuju Curug ya cuma sendal karena sumpah dech licin banget. Jadi, kalau ada yang mau naik gunung, harus diperhatikan ya alas kakinya.
Pelan-pelan jalannya dan nyampe juga. Curugnya cantik. Dan gak jauh dari Curug ada tempat yang banyak kupu-kupunya. Lumayan dech basah-basah cantik di Curug. Sepi hehehe…
Aman kok ditinggal gitu aja tendanya asal barang berharga jangan lupa dibawa
Rute di awal perjalanan
Cuma Om Dwi dech yang bawa-bawa sarung ke gunung
Suami saya itu terkenal dengan sebutan Zombie. Karena dia senang banget nyeburin orang-orang ke kolam. Saya kira dia gak akan melakukan itu ke saya karena ya saya gak bisa berenang tapi ternyata gak tuch. Dia tega-tega aja narik-narik ke dalam sungai yang dingin ampun-ampunan. Basah? Iyalah!
Curug Cibadak
Kung Fu Boy
Zombie-zombie beraksi nyeburin Mbak Ade
Setelah puas main air di sana, kita pun turun lagi, menuju ke tenda. Dan rutenya semakin susah buat saya. Sudah sendalnya licin. Kaki saya juga licin. Penuh tanah meskipun sudah dicuci kakinya. Lepek dan kotor! Rrrgh…lumayan dech hampir jatuh berkali-kali. Jadi jalannya semakin pelan dan pegangan sama daun apapun lah yang di kiri maupun kanan. Suami pun juga ikut megangin tangan saya. Semakin lama, saya semakin takut. Akhirnya Suami nyuruh untuk berganti sendal dengannya. Awalnya saya gak mau karena khawatir kalau dia kenapa-kenapa pakai sendal yang licin banget. Tapi Suami kekeuh. Yawda gantian. Ternyata bener kan? Jatuh terduduk di samping batu. Dia bilang bukan karena sendal tapi karena kakinya kena batu yang gak seimbang. Makin takutlah saya.
Pelan-pelan banget dech jalannya. Saya dan Suami adalah yang paling terakhir jalannya. Suami pun akhirnya mencari tongkat kayu untuk dijadikan pegangan saya supaya lebih mudah jalannya. Dan itu berhasil. Yes!
Ternyata, di tengah jalan 2 teman kami sudah menunggui kami. Kami pun melanjutkan perjalanan berempat. Akhirnya sampai dech di tenda. Ganti baju (iya, gak bisa mandi), dan…ada pacet di tulang kering kaki kiri saya. Ouch! Jangan khawatir. Iya berdarah cuma ya udahlah ya Jempol Suami juga sempat berdarah sedikit karena batu yang tadi.
Setelah semua teman sudah berganti baju dan bersih-bersih, kita ngapain? Ya masak dan makan! Hahaha…
Gak lama setelah puas foto sana-sini, kita pun diajak oleh Om Dwi ke penakaran burung Elang yang letaknya ya masih di situ-situ juga. Kalau gak salah cuma ada 4 burung Elang. Kata teman saya, “Udah yuk ah pulang, gak tega gw liat burungnya kesepian gini. Terkurung. Gak bebas.” Iya sich…satu kandang 1 burung dan masing-masing gak bisa saling melihat.
Matanya, ouch!
Kita pun pulang karena sudah janjian sama sopir angkot kemarin untuk dijemput jam 3 sore. Apakah dijemput? TIDAK SODARA-SODARA. Kita telp dia tapi gak aktif. Kita tunggu 15 menit juga gak ada hasil. Ya sudah kita jalan kaki lah. Tebakan Suami kira-kira kita jalan udah hampir ratusan kilo. Dihitung dari tenda sampai naik angkot. JAUHHHHHHH banget! Gak pakai BOHONG.
Sambil nunggu angkot, ditemani langit ini
Selama jalan, kita ber-10 berusaha memberhentikan truk di tengah jalan tapi gak ada hasil dan gak ada angkot yang lewat di perkampungan warga. Nyewa mini truk juga gak dibolehin sama yang punya.
Nemu pohon ini pas lagi jalan. Kata Suami, “Ini pohon telor” dan saya percaya huhuhuu *diboongin*
Bunga apa ya?
Kita duduk aja nelangsa di pinggir jalan dengan berbagai ransel dan peralatan masak. Nelangsa banget. Eh, gak lama lewat angkot tulisan Pondok Labu. Yes! Mereka nanya ke kita, “Adek mau kemana?”
Pas dibilang kita mau ke Stasiun Bogor, mereka nanya, “Emang mau kemana?”
Kita bilang, “Jakarta”.
Angkot: “Yawda ikut aja. Kita mau ke Pondok Labu.”
Senang seketika tapi langsung mikir kalau naik angkot bakal lama dan ribet ngambil motor yang ditaro di Tebet. Akhirnya kita minta tolong untuk diturunkan di Ciawi saja. Berhasil!
Hahaha gila di belakang angkot ada hiasan ini
Sepanjang jalan yang pasti kita semua berisik. Tapi itu yang membuat perjalanan tidak berasa jauh dan melelahkan. Tiba-tiba sudah sampai saja di Stasiun Bogor. Lanjut ke Stasiun Tebet, Jakarta. Pas di kereta Bogor, kita baru sadar ada sepasang teman kita yang tidak naik kereta. Dar! Kita tunggu di stasiun berikutnya. Telepon mereka dua-duanya tidak aktif. Akhirnya ya sudah kita tinggal sambil bersiap-siap bahwa akan dibahas di grup watsapp. Hahaha…
Terdampar lagi
Setibanya di Stasiun Tebet, kita pun makan dulu dong di Tebet. Dan baru dech pulang ke rumah. Home sweet home dan happy maksimal!
Selama liburan, saya kagum sama Suami. Dia kuat banget nenteng peralatan masak dan tenda menuju perkemahan. Pulang dan pergi. Hebat! Dan tidak mengeluh satu kalimat pun. Keren dech!
Ini buktinya. Dan bawaannya itu berat banget
Bisa dikatakan bahwa akhir pekan ini buat saya menyenangkan dan menenangkan. Dan saya ketagihan! How about you guys?
Deva
PS: Jangan pedulikan tanggal di tiap foto. Salah kalender
Pernahkah kamu mengejar sesuatu tapi merasa terlambat? Berusaha meraih tapi ternyata tangan tidak sampai hingga akhirnya tersadar bahwa usaha tersebut membuahkan keniscayaan?
Pernahkah kamu merasa bahwa satu warna mungkin indah tapi gabungan dari beberapa warna mungkin saja bisa lebih indah?
Pernahkah kamu meyakini bahwa sesuatu yang indah akan terasa lebih indah jika dirasakan berdua, bukan sendiri, hanya berteman dengan bayangan?
Dan percayakah kamu, bahwa ada yang bernama cinta sejati?
Deva
*Foto hasil karya Deva dan Hendra dengan menggunakan mobile phone - Ancol, 120313
Siapa coba yang tidak senang liburan dan diisi dengan bertemu orang-orang yang kita sayangi, yes?
Jadi, liburan panjang ini saya habiskan dengan…
Jalan-jalan ke Puncak naik motor dengan Hendra.
IYA NAIK MOTOR. Dan ini adalah untuk pertama kalinya untuk saya. Sempat kepikiran ke Pulau Seribu tapi kata Hendra, kapal dari Pulau Seribu ke Muara Angke itu jam 1 siang. Artinya waktu jalan-jalan akan sangat sebentar dan kemungkinan besar harus menginap karena cuaca lagi hujan gini kan…jadi kapal untuk pulang ke Jakarta belum tentu ada. Nah lho! Sedangkan saya gak boleh nginap berduaan doang. Menurut ngana?
Jadilah kita pulang pergi Puncak. Seru ternyata dan bisa ketawa puas banget saat melihat mobil-mobil kena macet di Puncak sedangkan kami berdua tidak kena macet. Iya sich sempat berteduh karena gerimis tapi kan sambil makan…jadi gak kena basah dech hehehe…
Macet kan? *evil laugh*
Sebenarnya kita gak ada tujuan pasti pas ke Puncak kemarin. Intinya hanya ingin menikmati udara segar saja. Escape sebentarlah dari Jakarta. Sempat datang ke tempat Paralayang, sudah menunggu cukup lama tapi ternyata para atletnya gak jadi terbang karena gak ada angin yang cukup untuk menerbangkan mereka. Ini sich bagian yang bikin Hendra kecewa karena dia niat untuk liat. Dan tarif yang dikenakan jika kita mau coba adalah sebesar Rp 300.000,-
Ini tempat mulainya Paralayang. Mereka belum mulai, baru berfoto
Ini pas masih nunggu angin. Ternyata anginnya gak dateng-dateng…
Setelah itu kita jalan lagi. Gak nentu sich. Random gitu jalannya. Yang penting kalau ada pemandangan bagus ya berhenti
Pulang melalui jalur Tajur. Nah, mampir cukup lama nich di Tajur karena hujan yang sangat deras. Lihat-lihat tas tapi kok ya tas yang dijual bukan tas kulit buatan asli Tajur tapi tas KW gitu (walaupun buatan Tajur). Mmm…ngerti kan ya bedanya? Mungkin karena sudah malam ya…jadi toko tas dan sepatunya hanya sedikit yang masih buka. Mungkin jika semua toko di Tajur buka, kita bisa mendapatkan tas kulit asli dari Tajur.
Bagian paling seru dari trip seharian ini adalah kita harus berhenti di beberapa tempat karena hujannya mengiringi langkah kita pulang. Misalnya di Tajur udah berhenti hujannya, terus kita lanjutin naik motornya…eh hujan lagi! Dan itu berlangsung sampai kita ke Depok. Alhasil, karena neduh mulu, baru sampai rumah jam 12 malam aja gitu kan!
Berhubung besoknya saya ada janji ketemuan dengan blogger pengantin baru yang hits banget dari Bau-Bau, yaituuuu Amel, akhirnya…Hendra pun menginap di rumah karena dia akan menemani saya pergi ketemu Amel.
***
Mandi Hujan…
Yoi. Mandi hujan dengan niat yang bulat banget. Jadi, pagi di hari Minggu cerah. Sarapan, mandi dan tiba-tiba jam 10 hujan deras!!!
Keponakan-keponakan sudah berdiri dekat pintu. “Bunda hujan bunda…” atau “Ummi hujan!”.
Sedangkan Hendra dengan santainya bilang, “Mandi ujan enak nich.” Uni saya pun menimpalinya, “Iya, waktu gw kecil dulu juga sering mandi hujan.”
Saya diam aja.
Hendra masuk kamar mandi, ganti baju tidur semalam. Dan…buka pintu rumah. Lari ke halaman. Dengan kesadaran penuh, dia mandi hujan!!!
Keponakan-keponakan saya pun mupeng dong. Akhirnya semuanya buka baju dan langsung ke halaman ngikutin Hendra. Saya masih duduk dengan santai. Foto-foto mereka saja.
Sampai akhirnya Hendra (yang sangat terkenal keusilannya) datang ke saya dengan basah kuyup, mengambil kamera saya, dan menarik saya ke tengah hujan. Gila…malu banget diketawain anggota keluarga yang lain. Tapi yawdalah ya…udah basah juga. Parah banget dech dikerjainnya.
Setiap istirahat duduk sebentar pasti ditarik lagi sama Hendra. Ampun!
Karena saya memang tidak tahan dingin, give up dech. Langsung ke kamar untuk ganti baju. Dan alam merestui saya. Hujan pun reda setelah 1 jam mandi hujan.
Lucu banget tiap ingat. Kita semua ganti baju dan Papa, yang baru bangun, dikasih tahu sama Mama kalau kita habis mandi hujan, reaksi Papa cuma geleng-geleng sambil bilang, “Ada-ada aja…”
Bwhahaha…kalau Papa lihat langsung PASTI DILARANG!!! Trust me!
***
Kecapekan abis mandi hujan. Semuanya tidur siang. Sedangkan Hendra repot ngurusin kerjaan. Yes, di tengah suasana liburan panjang, dia ditelepon berkali-kali untuk masalah kerjaan. Kasihan ya.
Setelah semua urusan selesai, saya dan Hendra lanjut ke Bintaro Plaza untuk ketemu Amel.
Janjian jam 2 tapi karena berangkatnya terlambat dan lupa lokasinya dimana jadi ya FIX TELAT dech ketemu Amel dan suami.
Celingak-celinguk cari Amel…ternyata dia di pojokan dong berduaan sama suaminya hehehe…pakai baju ungu pula. Sama gitu…dengan warna baju saya. Langsung ngobrol sana sini tentang LDR, LDM, kerjaan Amel, nyiapin pernikahan kemarin, ngomongin STAN, ngomongin anak-anaknya Om Arman, ngomongin Bebe, ngomongin Pepi, bwhahaha…ngomongin banyak orang ya?
Ceria!
Intinya sich…seru ngobrol sama Amel. Banyak banget petuah yang keluar dari mulut Amel. Beneran. Misalnya, “kalau cowok lagi main PS dan ngumpul sama temannya gak usah diganggu. Yang ada dikacangin.” Atau “Iya, kerjaan kalo lagi kosong mendingan ngeblog.” Hehehe…
Amel dan Hafidz
Berapa lama ya ketemuannya? Mmm…2 jam lebih lah. Seru. Dan gak berasa.
Yang bikin saya malu adalah…Amel ngasih saya kado. Sedangkan niat saya untuk beli kado gak terealisasi L Kadonya apa? Makanan khas Bau-Bau, dan begitu sampai rumah, kuenya langsung habis dimakan serumah hahaha…enak, Mel! J
Kado lainnya adalah dompet dari bahan tenun Bau-Bau. Lucu. Bisa dipakai untuk simpan uang koin.
Bahan tenunnya bagus, Mel
Makasih ya Melllll…
Setelah ketemuan sama Amel, pulang dech ke rumah. Istirahat sodara-sodara.
Dua hari kena hujan lumayan juga ngaruh ke badan. Tapi happy banget dech!
Semoga teman-teman yang lain juga happy dengan liburannya ya!
Pertama, biarkan saya menulis bahwa jari jemari saya rindu menari di atas papan keyboard untuk menulis berbagai hal yang saya, bukan yang diminta. Bukan tentang hal yang membuat dahi berkerut tapi tentang hal yang mendamaikan diri sendiri.
Di kantor yang dulu, saya bisa menyisihkan waktu bahkan meluangkan waktu khusus untuk menulis tapi di kantor yang sekarang…benar-benar sulit untuk dilakukan. Bukan hanya karena waktu yang terbatas tapi karena ide untuk menulis telah menguap begitu saja. Di detik ini ingin menulis tapi begitu melihat monitor, rasanya ingin cepat-cepat menutupnya.
Yah…begitulah keluh kesah saya pagi ini. Ada sedikit kecemburuan dengan teman-teman yang masih terus dapat menulis dengan rajinnya. Beda sekali dengan saya. *lap ingus*
Nah, sekarang mari bicara tentang negara Filipina. Negara yang kayaknya disukai banget sama Trinity. Tahu kan siapa Trinity?
Pertama pas tahu bahwa saya diminta untuk ke Filipina, pikiran saya langsung ke Young Husband…bwhahaha pemain sepak bola Filipina yang tampan. Kok saya bisa tahu? Karena teman saya, Danna, nge-fans banget sama mereka! Abis-abisan, sampai belajar bahasa Tagalognya lho.
Partner lokal kami (saya, Kiki, Yusha, dan Dabo), namanya Ja. Dia yang mengurus kegiatan riset kami dan juga hotel. Dia memesankan kami sebuah kamar apartemen di Makati City. Katanya, Makati City ini seperti daerah perkantoran, Sarinah di Jakarta. Dan kita diceramahi oleh seorang teman bahwa harus bawa tas super hati-hati di sana karena tindak pencurian rawan sekali. Okelah!
Tanggal 19 September akhirnya kami ke Filipina dari Brunei dengan jarak tempuh 2 jam (kayaknya sich). Sampai di Ninoy Aquino Airport. Naik taksi ke hotel selama 30 menit. Rasanya??? MUAL SODARA-SODARA! Ngebutnya gak main-main. Padahal macet. Bayangkan sendiri, maju mundur maju mundur perut kekocok-kocok. LEMAS.
Dan sopirnya itu ya selalu melihat ke belakang lho. Rada risih euy. Terus kita pun turun dari taksi dan teman saya kasih tips ke sopir taksi 10 peso. Tahu gak sopir taksinya bilang apa? “Only ten peso?” Kita pun mikir kenapa dia begitu ya. Akhirnya ternyata kita tahu bahwa 1 peso itu Rp 250. Eaaa berarti kita cuma kasih tips Rp 2500. Panteslah dia protes! Hahaha…
Apartemen yang kita tempati bagus dong. Tapi yang menarik adalah Makati City itu unik banget. Kalau pagi suasana perkantoran berasa banget tapi kalau sudah siang sampai malam, banyak banget “tukang urut” di pinggir jalan dengan pakaian yang ya gitu dech. Lebih seru lagi bahwa setiap satpam di toko (kecil maupun besar) bawa senapan LARAS PANJANG. Hahhaa…saya dan teman-teman berasa di medan perang.
Waktu kami keluar mencari makan malam, si Dabo dan Yusha bahkan ditawari “cari perempuan” sama beberapa tamu hotel. Lucu banget! Dan pastinya ditolak.
Tentang makanan? Babi di mana-mana. Yang aman cuma KFC dan Mc Donalds tapi mereka jarang ada di Makati City. Akhirnya saya makan ya di restoran yang ada babinya tapi pesan ayam. Bismillah sajalah…rasa makanan semua manis! Sepedas-pedasnya saos mereka, ujung-ujungnya cuma asem. Saos sambel botol yang saya bawa hanya bertahan 2 hari dan rendang yang saya bawa juga bertahan 3 hari. Laper terus sodara-sodara. Dan iya lho saya bawa rendang!
Di tengah riset, kami pergi ke Hundred Islands. Pemandangannya? Lebih indah di Indonesia Timur.
Perjalanan menuju Desa Binmaley, Pangasinan
Jipney ini angkutan umum di Filipina
Tricycle
Kami juga sempat ke Intramuros yang mirip dech sama Kota Tua-nya Jakarta. Bedanya bangunannya lebih kuno dan asyik untuk foto-foto.
Depan Cathedral (lupa namanya)
Dalam gereja St Antonio
ASEAN Garden
Sorenya kita ke Mall of Asia (yang katanya mall terbesar di Asia Tenggara) di Manila. Nah, mall ini gede! Kalo di Jakarta seperti gabungan antara ITC dan Mall.
Pengalaman menarik lainnya pas belanja oleh-oleh di Makati City di Kultura, mbak SPGnya masak ya…ambil baju Barong yang saya beli hanya untuk…MELIHAT HARGANYA! Kan gak sopan, Mbak yu…
Tadi di atas kan ada foto Jipney dan Tricycle sebagai alat angkutan umum, nah ini ada foto yang menarik bahwa di belakang angkutan umum selalu ada tulisan “how’s my driving”. Absurd banget. Tapi angkutan umum di Manila lebih tertib lho.
Enam hari di Filipina berhasil membuat saya homesick lho. Kangen sama keributan keponakan-keponakan saya dan foto saya di Filipina gak ada apa-apanya dengan foto perjalanan Hendra ke Pahawang Island-Lampung.
Merinding gak liat fotonya…
Merinding maksimal!!!
Intinya apa ya dari post ini? Hahaha…jadi bingung sendiri…