Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


16 Comments

Hati-Hati Website Penipuan Berkedok Telkomselpoin

Reblogged from benarnggak:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Tim redaksi mendapatkan sebuah SMS yang menanyakan kebenaran informasi ini:

Selamat!! Anda men-dptkan HADIAH dari TELKOMSEL POIN pin UND,Anda b89c7h9 Utk info klik www.promotselpoin.webs.com Tolong dicek ya. Apakah info tersebut benar bahwa saya mendapatkan hadiah dari Telkomsel?

Status: Tidak Benar

Penjelasan:

Tim redaksi telah melakukan investigasi ke website tersebut.

Sedangkan website resmi Telkomsel:

Sekilas tampilan halaman awal mereka hampir sama dengan halaman awal website resmi Telkomsel. 

Read more… 486 more words

Doh! Ini mah harus super hati-hati ya setelah terima sms pengumuman apapun :|


7 Comments

Bad Time Management, Deva!

Sebenarnya malu untuk mengakuinya…tapi belakangan ini, hampir 2 bulan jadwal saya berantakan banget. Menjelma menjadi orang yang selalu terburu-buru.

Alasannya klise: pengen lebih lama menghabiskan waktu di rumah.

Tapi apalah daya…yang ada malah jadwal kerja berantakan.

Seperti hari Jumat lalu ketika saya ada rapat di Sudirman pukul 09.00 pagi. Baru terbangun jam 8 dan grusak-grusuk mempersiapkan baju suami, baju saya, dan membalas watsapp teman yang sudah siap di lokasi.

Beruntunglah ketika saya sampai di sana, sekitar pukul 09.30 rapat belum dimulai. *lap keringet*

Dan kejadian ini bukan sekali, dua kali but almost everyday! Beruntungnya lagi buat saya adalah karena belum ada yang protes jika saya terlambat 10 atau 15 menit ke kantor. Yang penting kan tugas saya juga selalu rapi hehehe…

Sebenarnya rutinitas saya setiap pagi sangat sederhana lho.

Bangun tidur, siapin sarapan untuk suami (meskipun hanya sarapan sederhana seperti telor mata sapi dan sereal, Hahaha…semoga dia belum bosan untuk menyantap menu yang sama terus. Miris banget sebenarnya karena hingga 2 bulan lebih menikah, saya belum pernah memasakkan masakan “serius” untuk suami. Doh!), siapin baju suami, mandi, dan berangkat kerja.

See? Simple kan?

Gak seperti ibu-ibu lain yang luar biasa hebat.

Bangun jam 5, masak nasi, masak lauk pauk, mandiin anak-anak, siapin keperluan suami, dandan, dan baru berangkat kerja.

Akhir pekan pun, saya masih terus mengerjakan beberapa tugas sampingan huhuhu…dan betapa baiknya suami dan sahabat saya lho, mereka bantu mengerjakan tugas-tugas saya. Baik banget kan mereka :)

Tapi beneran, mungkin karena lagi malas keluar-keluar rumah melulu, saya terpikirkan untuk kerja ya dari rumah saja. Mungkin gak ya? *langsung keinget muka Bos* hahaha…

Deva


11 Comments

If Tomorrow Never Comes

Akhir-akhir ini saya berpikir, “What if I can’t meet with my lover, my family? Can’t see their smile anymore?”

Ketika di luar rumah saya rindu setengah mati dengan keluarga saya. Saya pulang. Saya lihat mereka baik-baik saja. Melihat Papa yang semakin menua, melihat Mama yang masih rajin ikut senam, melihat kakak-kakak saya, melihat keponakan saya yang terlihat selalu segar dan sehat, dan melihat suami saya yang sedang tidur…sungguh terlihat bahwa dia lelah bekerja.

Saya takut kehilangan mereka.

Makanya sekarang, mungkin sudah 3 minggu lebih atau tepatnya sejak menikah, saya mencoba untuk sesering mungkin mencium semua anggota keluarga saya. Setiap saya mau tidur, bangun, dan mau berangkat keluar rumah, naluri saya menyuruh saya mencium keponakan-keponakan yang semakin hari semakin malas untuk dicium hahaha…

Dan setiap saya mau pergi dan pulang, saya cium tangan, pipi, dan kening orang tua saya. Padahal sebelumnya saya pamit hanya dengan mencium tangan. Ketika pulang, cukup salam saja.

Begitu juga kepada kakak ipar saya, yang dulu boro-boro saya cium tangannya. Tapi sekarang, saya melakukannya.

Jangan tanya kepada suami. Itu kan kewajiban. :)

Mungkin perasaan ini juga pernah dialami orang lain. Rindu berkepanjangan padahal toh orang yang dirindukan ada di depan mata. Rasa kehilangan, yang entah muncul dari mana.

Sekarang, saya ingin selalu bisa menunjukkan rasa sayang sesering mungkin ke anggota keluarga saya. Menghabiskan waktu semaksimal mungkin dengan mereka.

Siang ini sebuah sms saya kirimkan ke Mama, semoga Mama senang:

Sekantor makan KFC sedangkan Deva makan masakan terenak di dunia yaitu rendang buatan Mama. Makasih ya, Ma :)

Saya…tidak tahu apa perasaan saya jika besok tidak akan pernah datang lagi hari untuk dihabiskan bersama orang-orang tercinta…

So tell that someone that you love
Just what you’re thinking of
If tomorrow never comes

(If Tomorrow Never Comes – Ronan Keating)

Deva


30 Comments

Duka Jakarta

Saya tidak pernah membayangkan sekalipun bahwa Bundaran HI, jantung kota Jakarta, bisa menjadi sungai raksasa seperti pemandangan dua hari lalu.

Image

Source: Republika Online

Saya tidak pernah membayangkan bahwa biawak besar akan ditemukan di Sarinah karena terbawa arus air, halte tempat saya biasa berdiri di Sarinah mendadak menjadi kumpulan air berwarna coklat.

Image

Source: Tribunnews.com

Semua mobil menjadi sama. Terendam air.

Kaget. Luar biasa kaget.

Kembali, seperti musibah lainnya, sifat kegotong-royongan masyarakat Indonesia, kembali diuji. Dan teruji. Sebagian besar masyarakat Indonesia, saya yakin dari beragam latar belakang, bersatu padu. Untuk membantu para korban banjir.

Image

Source: voa-islam.com

Salut saya untuk mereka.

Kekaguman juga tidak berhenti saya rasakan tiap kali melihat pemberitaan tindakan cepat dan sigap yang diambil Gubernur DKI Jakarta, Jokowi. Sungguh, saya kagum melihat kesigapan beliau.

Semalam saya bertanya kepada Mama, “Udah berapa hari Jokowi gak ngobrol ya sama keluarganya kalau ngeliat dia mondar-mandir begini?”

Image

Source: Kompas.com

Semoga Yang Kuasa memberkati mereka semua yang berkeringat membantu korban banjir.

Rasa kaget juga saya alami saat suami memberitahu bahwa rumah keluarganya di Pondok Gede terendam banjir. Ia pun langsung pergi dari kantor dan menuju Pondok Gede. Saya dilarang ikut. Tak lama, ia mengirimkan foto yang memperlihatkan bahwa kedalaman banjir setinggi lututnya. Oh yeah, ini ukuran Jakarta, wahai para ekspatriat.

Saya bertanya tentang kondisi keponakan suami yang masih kecil-kecil. Mama mertua dengan santai berkata, “Fida dan Danis lagi main air ini, Dev.”

Saya tersenyum.

Pagi ini senyum itu tertampilkan kembali saat membaca Koran Kompas. Di artikel tersebut ditulis bahwa masyarakat korban bencana pasti mempunyai cara untuk meredakan kesedihan mereka sehingga tidak heran jika terlihat tampilan foto dan video para korban yang bermain air, tersenyum dan tertawa.

Kembali teringat.

Beberapa hari lalu saat Metro TV menampilkan wawancara dengan salah satu warga yang sebenarnya tidak terkena banjir, tapi karena penasaran maka ia datang ke Bundaran HI, saya hanya menggeleng-geleng. Wisata Bencana.

Sungguh, saya sangat berharap bencana ini tidak lagi menimpa Jakarta! Cukuplah dengan berbagai mall dan apartemen di sini. Apa bencana ini masih kurang cukup memperlihatkan bahwa Jakarta butuh banyak resapan air, bukan gedung bertingkat?

Dan cukuplah rasa malas membuang sampah sembarangan!

Hah…

Duka terdalam untuk semua para korban banjir hingga menimbulkan korban jiwa.

Mohon bantu para korban banjir. Banyak cara.

Semoga Jakarta kembali bersuka cita. Aamiin.

Deva


28 Comments

Online Shopping

Hayooo siapa yang suka belanja online? Beli gadget, properti rumah, baju, sepatu, ampe kue juga online?

Teman-teman kantor saya bisa dibilang orang yang sering ikutan online shopping. Banyak jenis yang dibeli.

Kalau saya? Baru sekali. Hehehe…itu pun hanya tas organizer.

Kenapa? Ya, saya gak terlalu percaya online shopping.

Maap…bukan berarti online shopping itu jelek tapi ya maklumlah kadar saya untuk percaya sama sesuatu itu kayaknya masih minim. Jadi mendingan langsung ke mall kalau ada keperluan yang harus dibeli.

Lagian, mikirnya sich kalau belanja baju, sepatu, atau celana itu kan kita harus pasti dulu tentang bahan dan ukurannya.

Kalau tas lebih aman lah. Ya, bahan juga menjadi pertimbangan tapi gak terlalu utama. Kalau ditulis bukan kulit ya artinya bukan kulit kan. Kalau ditulis kulit, pasti saya gak beli. Karena ya itu tadi, gak percaya.

Buku? Mmm…beberapa kali beli online. Itu pun karena buku yang ada tulisan saya-nya. Hahaha…

Saking seringnya teman-teman kantor belanja online, itu jadi joke sendiri aja di kantor. TIKI JNE langganan dech ke kantor. Keseringan sich mereka belanja di Kaskus. Kalau bos saya kayaknya lebih ke ebay dech. Hahaha…beda kelas ya…

Tapi ternyata bukan cuma saya yang gak doyan belanja online. Teman saya, Henny, dia juga gak suka tuch belanja online. Alasannya: kadang apa yang di foto dengan aslinya beda. Nah! Sama tuch poinnya.

Ya, gak bisa ditutupi juga kalau keuntungan belanja online itu lebih mudah ya. Tinggal klik langsung bisa beli. Ya palingan nunggu 1-3 minggu lah sampai barang ada di tangan kita.

Terus kalau gak suka doyan online shopping, kenapa saya dari tadi liat-liat online shopping? Cuci mata aja kok. #eh :D

Deva


13 Comments

Diam; Tidak Akan Mati

Pernah mengalami situasi dimana pekerjaan kita dipandang sebelah mata oleh seseorang?

Saya baru aja ngalamin ini beberapa hari lalu.

Seseorang bilang ke saya, “Ah, kerjaan lo tuch enak banget. Gampang banget. Cuma tinggal duduk manis terus ngetik. Gak pake otak! Lah gw? Susah! Kudu orang ahli yang ngerjain! Selain pake otak juga pake tenaga…!”

*nelen ludah banyak-banyak sambil tarik nafas dalam-dalam, terus cuci otak sendiri sambil ngomong dalam hati “Yang waras yang ngalah” sambil mikir “Ini hari apa ya? Kok nich orang emosi banget sama saya?”*

Atau seperti ini,

“Ah, lo mah enak. Bisa kerja sambil browsing. Gw? Gak! Repot setiap menit. Gak bisa nafas. Lo juga jarang lembur kan? Kalo gak ada gw di kantor, stuck tuch operasional.”

Saya diam seribu bahasa. Hanya mendengarkan. Benar-benar mendengarkan.

Membiarkan tipe-tipe orang seperti ini menceritakan kisahnya dari A sampai Z.

Yang saya tangkap bahwa mereka sedemikian bangganya dengan pekerjaannya. Bagus dong ya! Bangga dengan profesinya. Langka nich orang-orang seperti ini.

Kesan kedua adalah ia sedang sangat lelah dengan pekerjaannya dan membutuhkan suntikan “pujian”.

Nah, jika ada yang mengalami situasi seperti saya ini, saran saya ada dua yaitu mendengarkan tanpa membela diri atau pergi meninggalkan pembicaraan tersebut. Tidak ada gunanya memberikan pembelaan dari penilaian subjektif tersebut. Membela diri sambil bilang, “Kerjaan gw tuch ini, itu, bla ble blo…”? Tidak akan didengarkan kok. Lebih baik mengalah dengan diam atau pergi.

Coba dech, sesekali, hindari situasi yang menjerumuskan diri ke perdebatan. Memilih untuk diam, tidak seketika mati kok.

Deva


14 Comments

Mencoba Melek Fitur Keuangan

Pertama yang harus dijelaskan bahwa saya adalah orang yang sangat anti hal-hal berbau financial, kecuali uang tentunya hehehe…makanya waktu SMU bela-belain masuk IPA daripada harus masuk IPS dan bertemu dengan pelajaran Akuntansi. Sedikit cerita tentang masa-masa SMU, waktu itu saya sama sekali tidak mengerti Akutansi. Beneran! Dan tidak ada niat sedikit pun untuk tahu hal tersebut. Sampai akhirnya masuk masa ujian. Mati!

Saya pun akhirnya minta tolong Uni saya, seorang akuntan, untuk mengajari saya semalam suntuk demi mendapat nilai bagus. Uni saya bengong ketika tiap menjawab pertanyaannya, saya cuma geleng-geleng kepala. Mana saya ngerti arti aktiva, neraca keuangan, supply, demand, dan istilah Akutansi lainnya. Tapi untungnya ya, Uni saya diberkahi kesabaran luar biasa berhadapan dengan adik yang menyebalkan ini. Keesokan harinya semua pertanyaan ujian bisa dong saya jawab. Dan nilainya adalah jeng jeng…8 sodara-sodara! Sombong maksimal ya…

Nah, kalau sekarang ada yang mau bertanya tentang Akutansi dan hal-hal ekonomi lainnya ke saya…lebih baik urungkan niat tersebut. Saya tidak mengerti sama sekali. Pun ketika kuliah ada mata kuliah “Ekonomi Internasional” dan “Keuangan Internasional” saya cuma bisa terbengong-bengong tiap menghadapi ujiannya. Entah kenapa, saya bisa lulus di dua mata kuliah itu, hehehee

Nah, kenapa saya membahas ini? Karena baru-baru ini, untuk kedua kalinya saya membaca buku “Untuk Indonesia Kuat” karya Ligwina Hananto. Pertama kali baca ini ya tahun lalu. Terus saya baca lagi dengan alasan “butuh pencerahan” agar masalah bulan Oktober lalu tidak terulang hehhee

Dari awal bulan lalu, saya sudah cukup sering membahas tentang pengaturan keuangan pribadi dengan beberapa teman saya. Maklum ya, gaji belum 20 juta sebulan jadi ya harus ekstra hati-hati ngatur uangnya. Danna sudah mulai mau ikut asuransi jiwa. Saad juga udah mulai dari tahun lalu. Henny sudah mulai tertarik untuk membeli Reksadana. Saya? Beuh…belum!

Sebutlah saya sok tahu. Waktu itu, saat mendapat tugas untuk membuat presentasi Media Training sebuah perusahaan asuransi terkenal di Indonesia, saya mencari data detail tentang asuransi di Indonesia secara general tapi kok temuan saya serem ya. Banyak masyarakat yang tidak menerima polis asuransi sebagaimana mestinya.

Bahkan saya jadi ingat film Michael Moore judulnya “Sicko”. Di film itu, Moore mengungkap isi dalamnya asuransi di Amerika.  Yang saya tangkap dari film itu adalah asuransi akan berbuat apapun untuk menahan hak pemegang polisnya. Saya tidak menuduh asuransi Indonesia seperti itu, tapi tampaknya saya benar-benar butuh pencerahan tentang asuransi. Stigma yang melekat di kepala saya terlanjur negatif.

Kemudian tentang investasi, deposito, tabungan dan aset. Ya, intinya sich sekarang saya lagi mencari tahu sedetail mungkin tentang semua hal tersebut. Jadi jika gaji saya sudah 20 juta per bulan, saya sudah siap mengelola keuangan pribadi hehehe

Sekarang di depan mata saya terhampar berbagai informasi mengenai fitur-fitur keuangan. Mendadak kepala saya pening. Saya gak ngerti istilah-istilahnya. HELP!

Deva

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers