Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


34 Comments

I am Happy Employee!

Jadi ceritanya, 2 minggu lalu abang ipar saya yang lagi ada tugas di Indonesia minta CV saya untuk diajuin ke Bosnya. Dia mau minta saya jadi asisten dia selama training komunikasi untuk perusahaan kliennya. Mmm…saya milih gak nyebutin kliennya ya :D

Yang pasti ketika dibilang kliennya siapa, saya langsung: “PAPUA I’M COMING!!!” hahhahaa…tapi ternyata acaranya di Jakarta aja gitu kan :|

Terus, seminggu yang lalu dia bilang lagi kalau kemungkinan dibatalkan karena sesuatu hal.

Mmm…oke.

Sampai akhirnya Jumat kemarin jam 5 sore pas saya udah mau siap-siap pulang kerja.

Telepon saya bunyi dan ternyata dari abang ipar saya.

Abang Ipar: “Dev, saya udah kasih CV kamu ke bos dan dia oke. So kamu tolong bantu saya 2 minggu ya. Kamu udah ketemu Bos-mu?”

Saya: “Belum, dia seharian meeting.”

Abang: “Oke, saya udah ngomong sama Bos-mu dan dia kasih ijin kamu untuk kerja sama saya 2 minggu. Bayaran bla bla…kerjanya bla bla…Besok saya ke rumah kok, kita ngobrol lagi besok ya.”

Saya: “Bos ngasih ijin? Keren! Oke, see you tomorrow.”

Paham kan? BOS SAYA YANG KECE TIADA BANDING NGASIH SAYA KESEMPATAN LAGI UNTUK KERJA DI PROJEK KANTOR LAIN SELAMA 2 MINGGU!

Dan Sabtu siang pun kami meeting. Sabtu malam, saya SMS bos untuk minta ijin. Dia pun menjawab singkat saja.

“No problemo Deva, semoga berhasil!”

I feel so happy! Dia beneran carrier coach. Membebaskan saya melakukan yang saya mau asalkan masih dalam tataran karir. I am happy employer! :D

Masih ingat dong dengan cerita cuti 6 bulan? Dan sekarang, 2 minggu!

Tapi sebenarnya kemarin sempat mau minta ijin yang terkesan gak tahu diri :P

Ceritanya: Saya ada planning ke Pulau Pisang di Lampung bareng Suami dan teman-teman P24 dari hari Rabu sampai Minggu. Kan Jumat harpitnas tuch. Kalo gak ada projek dadakan gini mah, pasti dapat dech ijin libur 1 hari tapi karena ada projek dadakan ini, saya pun batal ke Pulau Pisang yang cantik banget itu. Yeah…next time, Insya Allah :)

Jadi itu dech cerita happy-nya saya. Besok adalah awal kerja 2 minggu. Wish me luck, people! :)

Deva


17 Comments

Kasih Tahu!

Bayangkan jika kamu mau kenaikan gaji tapi tidak pernah memberi tahu Bos bahwa kamu sudah layak untuk dinaikkan gajinya? Apakah keinginan itu akan tersampaikan? Ya gak lah!

Takut ah bilang sama Bos. Ya sudah kamu yang rugi.

Takut ah ntar dibilang gak sopan. Ya sudah, terus saja dengan pikiran seperti itu. Jangan mengeluh di belakang.

*hela nafas*

Jadi ceritanya kemarin saya ikutan membantu Bos untuk pelatihan lintas budaya gitu di sebuah pabrik impor di daerah Karawang. Jelas dong kalau yang namanya pabrik impor pasti karyawannya ada dari 2 negara yang berbeda. Negara bos dan negara Indonesia. Apa sich Dep negaranya? Gak dech, gak usah saya tulis nama negaranya ya :D

Keluhan para karyawan adalah sikap dan budaya yang berbeda dari negara luar tersebut. Indonesia yang katanya halus budi pekertinya dan tidak suka diperlakukan kasar, merasa tidak cocok dengan budaya luar tersebut. Oleh karena itu, saya dan tim menekankan pentingnya untuk tahu karakteristik kedua kebudayaan tersebut. Kalau sudah tahu, jadi bisa paham bagaimana komunikasi dengan mereka.

Tapi ternyata tantangan terbesar yang ditemui di lapangan adalah: Takut, merasa tidak enak, merasa sungkan, dan bingung karena bahasa.

Kalau mengenai bahasa, bisa dech, toh orang Impor tersebut juga pahamlah bahasa yang kita gunakan asal kita sampaikan dengan cara yang sopan, halus, dan bahasa yang sederhana. Jangan njelimet. Jangan kebanyakan minta maaf. Lah wong kita mau protes atas ketidaknyamanan bekerja dengan mereka, why we have to say sorry to them?

Beneran dech, saya ingin banget semua orang yang baca tulisan ini paling tidak tersadarkan bahwa kita semua berhak untuk merasa nyaman dengan siapa pun. Jika kita tidak bersalah, ya sudah jangan takut!

Sedih kalau dibentak dengan bahasa kasar.

Marah kalau terjadi kekerasan fisik.

Ya bilang dong kalau kita tidak terima diperlakukan seperti itu. Mungkin di tempat impor itu sudah terbiasa melakukannya tapi kita gak boleh cuma diam aja. Kita berhak untuk bilang bahwa kita patut diperlakukan dengan baik. Ada proses yang harus ditempuh. Jangan langsung demo.

Kalau kita, sebagai orang Indonesia, memperlihatkan kepada mereka (atasan-atasan impor) bahwa kita tidak nyaman dengan perlakuan mereka, kasih tahu lah kepada mereka agar kita tidak lagi diinjak-injak! Saya yakin kok kalau ada komunikasi 2 arah yang sopan, baik, dan tertib pasti mereka juga akan sungkan kepada kita. Jika itu tidak tercapai? Pasti ada beberapa proses komunikasi yang telah disusun oleh pihak manajemen perusahaan-lah. Ikuti proses tersebut. Tunjukkan bahwa kita paham dan mengikuti proses yang ada. Jangan langsung teriak-teriak.

Dan jangan pernah diam saja tapi di belakang protes!

Kasih tahu mereka.

Oke?

Deva


10 Comments

Get Publish!

Senang dech karena mendapat kabar baik berturut-turut dari hari Jumat lalu tentang tulisan-tulisan saya.

Yang pertama adalah mengenai tulisan tahun 2011 yang pernah dibukukan di nulisbuku.com, sebuah surat anak kepada ayahnya. Nah, di hari Jumat, saya mendapat email dari Mbak Lala Purwono dan Mbak Meity Iskandar, yang bilang bahwa ada penerbit komersial yang tertarik untuk menerbitkan kembali Dear Papa dan akan dijual di major bookstore. Saya kira email tersebut adalah email massal ke semua penulis Dear Papa, yang jumlahnya puluhan orang. Ternyata gak.

Email tersebut hanya diberikan kepada 12 penulis Dear Papa dan saya adalah salah satunya. Yeay! :)

Jadi, berita baik pertama adalah tulisan saya di Dear Papa akan diterbitkan ulang dan bisa didapatkan di major bookstore di Indonesia. Happy banget!

Lalu, berita baik kedua adalah tulisan saya di Backpackidea.com sekarang sudah bisa diunduh. Setelah sekian lama tidak menulis di Backpackidea.com akhirnya saya nulis lagi dengan judul “Travelling dan Gadget.” Monggo diunduh di sini dan boleh juga ke sini untuk melihat halaman khusus tulisan saya. Yeay lagi! :)

Yuk unduh: backpackidea.com

Yuk unduh: backpackidea.com

Sedikit demi sedikit, saya ingin melanjutkan terus membuat tulisan yang bisa dipublish di media-media. Kalau kata suami saya sich, kenapa saya gak terbitin buku aja dari beberapa tulisan saya di blog? Udah saya pilih-pilih sich…tapi belum diedit juga. Gimana menurut kalian? Itu ide bagus gak?

Keinginan terbesar saya adalah ada sebuah sponsor yang ngasih sponsorship buat saya jalan-jalan dan tulisan dipublikasikan dalam bentuk buku atau majalah. Hahaha…call me a dreamer :)

So ya, happy Monday people dan besok mari libur lagi :)

Deva


22 Comments

Drop Box dan Evernote

Dulu, yang saya tahu menulis di laptop atau komputer ya cuma di Ms. Word dan simpan data ya di laptop atau flashdisk.

Tapi sekarang, gak lagi dong, hehehe…

Setahun lalu ada seorang teman yang memberi tahu tentang fungsi Evernote dan Drop Box saat kebetulan dia mau kasih tugas ke saya.

“Ntar lo ngerjainnya di Evernote aja. Terus langsung share ke gw. Bosen kan nulisnya di Word mulu.”

Saya ketika itu cuma nyengir sambil bilang, “Evernote itu apaan?”

Hahaha…untungnya teman saya ini emang dasarnya suka ngajarin orang, jadi ditanya seperti itu ya dia gak emosi. Dia bilang Evernote itu ya kayak tempat untuk nulis, nyimpen bacaan dari website dengan tampilan yang catchy. Dia kasih linknya, yaitu Evernote.com abis itu nyuruh saya explore sendiri.

Di awal menggunakannya masih bingung karena belum merasa berguna Evernote ini. Toh, sama kayak Word.

Tapi ternyata yang membedakannya adalah bisa nulis panjang banget di Evernote, di-sharing ke orang lain tanpa harus bawa-bawa gadget yang gede. Cukup handphone saja. Dan lay out Evernote seru untuk dilihat.

Dulu karena saya pakai Blackberry, yang ampun-ampunan lemot, jadi saya gak berani download aplikasi yang ribet. Nah, sekarang kan pakai Android jadi jauh lebih mudah mendownload banyak aplikasi. Evernote ini juga disediakan di Android market. Sah berarti! Hehehe…

Selain Evernote, satu lagi software yang cukup membantu saya adalah Drop Box. Berhubung saya termasuk tipe orang yang malas ngeluarin duit beli hard disk yang harganya mahal hehehe…saya prefer menggunakan Drop Box sebagai penyimpan data-data penting, yang diperlukan secara mobile. Again, Drop Box bisa didapatkan di Android market. Gak makan banyak space kok. :)

Jadi kalau ada tugas kantor yang kira-kira diperlukan, bisa simpan di Drop Box. Kalau ada request via email, ya tinggal kirim dech. Very easy to go, yes?

Sejujurnya sich saya bukan tipikal orang yang melek program komputer, tapi kalau tiap ada program yang bisa membantu pekerjaan lebih gampang kan jadi tertarik juga.

Ayo…dicoba-dicoba!

Deva


20 Comments

Sikut

Kalian tahu kan sikut itu apa? Bagian tubuh antara tangan dan lengan.  Fungsinya yang jelas, bukan untuk menyikut orang lain. I am right, yes?

Nah, saya tidak tahu siapa orang yang pertama kali memproklamirkan tentang “usaha menyingkirkan orang lain dengan cara jahat” disebut sebagai sikut-sikutan.

Cara jahat seperti apa?

Menyebarkan email ke orang-orang tentang tuduhan palsu atau membuat cerita buruk tentang si korban dan dipelintir sedemikian rupa sehingga si tukang sikut menjadi korbannya.

Pertama kali saya mendengar cerita ini adalah dari cerita kakak saya dulu, ketika ia masih bekerja.

Sampai akhirnya saya merasakannya sendiri.

Perih. Pedih. Kesal. Marah. Dan ujungnya…sedih.

Dan akhirnya bertanya, “Kenapa saya harus dibeginiin?”

Tapi orang-orang terdekat saya selalu bilang, “Sudah…fokus saja dengan pekerjaan. Selesaikan itu aja.”

Dan itu yang saya lakukan. Saya berkarya, berkarya, dan berkarya.

Pekerjaan selesai. Masalah tetap ada.

Kemarin akhirnya saya bilang ke atasan, “Saya belum pernah bekerja di kondisi seperti ini di mana sikut menyikut sungguh terasa.”

Atasan saya yang baik hati menghibur dengan mengatakan, “Tapi banyak senangnya juga dong kerja di sini…”

“Ya, dan memang iya jawabannya.”

Sungguh saya ingin sekali bicara langsung dengan yang bersangkutan seelegan mungkin, seperti yang dulu saya lakukan. Di mana hal itu adalah prinsip saya. Jika ada masalah ya diselesaikan dengan yang bersangkutan.

Di awal saya ada masalah dengannya, saya selalu berusaha membuka komunikasi sebaik mungkin. Mengundangnya untuk bicara berdua, mengiriminya email dengan bahasa sehalus mungkin, bahkan berusaha dekat dengannya secara pribadi.  Namun nalar saya melarang untuk melakukan itu saat ini.

Kalian tahu bisa ular? Hati saya terlalu perih jika harus kembali terkena bisa ularnya.

Hah…

Projek ini sebentar lagi selesai, dalam hitungan hari. Menikah. Dan kembali ke Kemang. Ke rumah saya.

Ke tempat yang memang tenang, aman, dan nyaman untuk saya. Sejauh ini.

Deva


17 Comments

Bekerja di Rumah

Saya masih ingat ketika di awal kerja dulu, Bos saya kadang bilang “Kamu kerja di rumah aja”. Saat itu saya tidak mengerti maksudnya apa, selain “Oh ini PR.”

Tapi lambat laun jadi mengerti bahwa Bos saya tipikal Bos yang tidak mewajibkan timnya untuk selalu ke kantor, selama pekerjaan beres. Berhubung pekerjaan saya “kapan aja ada dan jenisnya berbeda-beda” maka saya masuk terus dari Senin sampai Jumat.

Lantas bagaimana dengan pekerjaan saya saat ini?

Projek penelitian 6 bulan, sudah memasuki fase akhir. Hampir 2 minggu, saya bekerja dari rumah. Artinya ya tidak ke kantor lagi dan meeting pun juga bukan di kantor. Bekerja dari rumah rasanya sungguh melegakan bagi saya karena tidak perlu lagi bangun pagi, macet-macetan, dan keringatan. Semuanya bisa dilakukan di rumah asal ada jangkauan internet yang memadai.

Saya jadi membayangkan untuk melakukan negosiasi dengan Bos di Kemang, ketika saya kembali nanti. Negosiasi untuk bekerja dari rumah saja. Saya rasa jenis pekerjaan ini cocok untuk jiwa dan badan saya. Hehehe…

Ah, terbesit ingin mencicipi bekerja di CommaId, sebuah coworking place yang diciptakan untuk mengefisienkan waktu dan memaksimalkan hasil pekerjaan dengan bantuan network yang lebih luas. Tapi kayaknya sich ini lebih cocok untuk freelancer dan/atau start up.

Anyway, ada yang pernah mencoba bekerja dari rumah? Sharing yuk! :)

Deva


7 Comments

Saling adalah Kunci

Saya mengetik ini di samping rekan tim saya yang sedang asyik mengatur penelitian untuk di Filipina. Bekerja di sebuah tim yang isinya sebagian besar sama umurnya, membuat kita harus saling mendukung, menghibur, dan membesarkan hati.

Terdengar sederhana ya? Tapi hal sederhana seperti itu, bisa membuat suasana bisa lebih hidup lagi.

Contohnya seperti ini. Kami akan mengadakan penelitian di Filipina dan mengatur agar penelitian tersebut berjalan lancar dengan cara merekrut salah satu masyarakat Filipina sebagai representatif kami di sana. Kami belum pernah bertemu. Hanya sekedar skype dan email. Tapi rasa percaya tersebut bisa tumbuh besar seiring seringnya berkomunikasi.

Sulit untuk mengatur penelitian di luar negeri jika tidak ada tim adhoc yang pergi lebih dulu ke lokasi. Tapi itulah fungsinya representatif. Menjadi sulit, jika kita menempatkan diri terlalu tinggi di depan mereka. Meminta mereka melakukan A-Z bisa saja tapi hal tersebut jelas tidak akan membuat nyaman jika disampaikan dengan kalimat perintah.

Seorang representatif kami mengeluh bahwa ia memiliki beberapa kendala untuk melakukan penelitian ini. Padahal dia sejauh ini sudah melakukan pekerjaan yang bagus. Jika menempatkan diri sebagai atasan yang egois, bisa aja kita bilang “Bodo amat yang penting gw ke sana, penelitian lancar!”. Sebal banget kan kalau diperlakukan seperti ini oleh orang lain? Nah, makanya sisipkan joke-joke ringan kepada tim agar tim tidak terlalu stres dengan pekerjaan. Serius, entah sudah berapa kali saya tulis ini “kasih apresiasi kepada anggota tim jika mereka memang telah berhasil melakukan pekerjaan dengan oke.” Yah, kita gak bisa sich maksain orang ngasih apresiasi ke kita, tapi siapa pun kita, bisa kok kasih apresiasi ke orang lain. Percaya dech, orang tersebut akan seneng! Boong banget kalau dipuji eh malah cemberut.

Intinya, hubungan ini adalah profesionalis berbasis simbiosis mutualisme.

Ah…omong apa pula saya ini!

Deadline sudah semakin mendekat. Tim akan segera menyebar ke 10 negara anggota ASEAN. Tekanan dari atas bawah semakin meningkat. Tapiii jika anggota tim sadar bahwa ini merupakan kerja TIM, bukan kerja sendiri maka pasti bisa membuahkan hasil semaksimal mungkin.

Saling, adalah kuncinya.

Wish us luck, people!

Deva


16 Comments

Kabar Project 6 Bulan

Tidak sedikit yang kaget jika tiap kali saya jelaskan bahwa demi projek selama 6 bulan ini, saya mendapatkan cuti resmi dari kantor Kemang. Sampai ada yang bilang, “Ini cuti terlama yang pernah gw dengar seumur hidup.”

Terus juga ada yang nanya, “Lo berarti akan keluar negeri selama 6 bulan?”

“Hah, kok cuma sebentar keluar negerinya padahal cuti 6 bulan?”

Nah, dari mana semakin rancu ceritanya, saya akan jelaskan secara singkat kali ini – sebagai pengingat buat saya juga sich.

Jadi, yang namanya penelitian ya pasti ada proses riset dari dokumen-dokumen terkait, pemilihan sample projek, penetapan anggota tim, ya kan? Itulah yang membuat masa penelitian lama. Kalau penelitian di lapangan sendiri ya paling bisa sebentar, tergantung sedalam apa yang mau diteliti.

Dari bulan Juli saya bergabung dalam penelitian ini, prosesnya itu maju mundur. Banyak sekali tantangannya.

Di minggu-minggu awal, projek ini masih meraba-raba dalam hal metodologi dan penentuan anggota tim, maksudnya siapa yang akan kemana.

Jumlah sample projek saja berubah terus karena berbagai pertimbangan. Jadi total ada 125 projek yang akan diteliti secara dokumen tapi 22 projek diteliti secara lapangan. Nah, untuk memilih 22 projek saja butuh waktu hampir 1 bulan lho!

Terus, tentang penentuan anggota tim. Semula saya mau ditempatkan di Malaysia dan Brunei tapi karena berbagai pertimbangan, saya dipindahkan ke Filipina. Dan sempat ada ide untuk mindahin saya ke Thailand. Saya sich terserah saja, lah wong namanya juga tugas.

Selain itu, saya juga sempat “dikarunia” gosip negatif tentang saya. Habis-habisan banget dech pas dapat omongan miring itu. Emosi berantakan. Tapi saya ingat pesan Bos Kemang, “Don’t ever take personally”. Jadi, ya sudah niat awal saya untuk bergabung di tim ini adalah untuk bekerja jadi saya kuatkan kembali niat tersebut. Untunglah banyak yang mendukung saya ketika masalah ini terjadi.

Sembari mempersiapkan diri untuk ke Filipina, kami juga mengadakan penelitian dokumentasi dan ini ya Tuhan, repot banget karena dokumennya tidak terlalu mumpuni. Kami harus bekerja sampai tengah malam demi deadline review ini. Anggota tim saya keren dech! Thanks ya guys!

Dan selipan tugas penting lainnya adalah interview untuk menentukan Ketua Tim masing-masing negara. Persiapannya kita harus tahu semua negara tujuan kita, A-Z nya dan semua projek yang kita teliti. What a wow banget. Konsentrasi terpecah belah. Tapi Alhamdulillah saya bisa melewatinya dan terpilih menjadi Ketua Tim Filipina. Anggota tim saya sendiri jumlahnya 4 orang dan kemungkinan akan berpusat di Makati City. We’ll see-lah.

Nah, masing-masing Ketua Tim (ada 4 orang) “dihadiahi” untuk menangani pilot research yang ada di beberapa daerah Indonesia, seperti Jakarta, Depok, Subang, Semarang, dan Bantul dan semuanya harus dikejar dalam 10 hari. Mari menghela nafas…

Untuk Indonesia, akan dilangsungkan seminggu setelah lebaran.

Balik ke kantor untuk briefing semua tim, pemantapan semua persiapan, dan Insha Allah Minggu ke-3 September semua tim terjun ke negara-negara tujuan selama 10 hari dengan rata-rata projek yang harus ditangani 5-7 buah.

Apa keuntungan bekerja dalam tim ini? Dan apakah tujuan cuti saya tercapai? Sejauh ini saya hanya akan bilang bahwa banyak yang saya pelajari dari projek ini. Karena lumayan banyak yang saya kerjakan jadi bisa dech untuk diterapkan di projek lain.

Seperti biasa, saya mohon doanya yaaaa semoga semua lancar!

Have a good day, People! :)

Deva


15 Comments

Etika Rapat

Judulnya serius banget ya…tapi ini terinspirasi dari pengalaman saya yang beberapa kali mengikuti rapat dengan orang dan jenis rapat yang berbeda-beda. Dan ada beberapa hal yang mungkin bisa jadi pelajaran untuk kita. Antara lain:

  1. Kalau sedang menjadi pembicara di depan forum, jangan asyik-asyik-an menggunakan telepon. Iya sich kalau kita tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Bisa saja yang dibicarakan memang betul-betul penting tapi menurut saya, jika hal itu benar-benar penting, ada baiknya keluar ruangan sebentar untuk mengangkat telepon. Agar para peserta rapat juga merasa dihargai. Tentang point ini, kurang lebih sama dengan yang ditulis Cahya beberapa hari lalu. Ia menulis bagaimana seorang pasien bisa protes jika ada dokternya yang sedang diajak bicara malah asyik main telepon genggam. Nah, gak asyik kan. Jangankan dokter, siapa pun yang diajak bicara tapi justru sibuk dengan telepon genggam pasti akan merasa risih.
  2. Kalau tahu akan rapat, mbok ya bawa perlengkapan selengkap mungkin. Sebenarnya ini bisa terjadi oleh siapa pun, baik pembicara maupun peserta rapat. Ada yang lupa membawa kertas atau alat tulis, bahkan mungkin laptop lupa untuk dicharger. Nah, tapi yang sering saya perhatikan adalah pembicara yang sibuk minta bantuan asistennya untuk mengambil barang-barang pribadinya. Pernah saya melihat pembicara yang menyuruh asistennya untuk mengambil dompet. Baiklah…apalah fungsi dompet saat rapat. Ooo mungkin butuh kartu nama di dalam dompet tersebut. Tunggu, dia juga minta bantuan asistennya untuk…ambil charger tab-nya. Oke, bisa digunakan untuk mencatat isi rapat. Tapiiii tunggu terakhir, setelah asistennya datang, ia minta diambilkan kertas dan pulpen. Wahai bapak/ibu, tab itu bisa berfungsi sebagai alat tulis kok. Toeng!
  3. Jangan sibuk sendiri pada saat rapat. Lagi, ini bisa terjadi oleh peserta atau pembicara rapat. Manusiawi sekali jika merasa ngantuk dan bosan tapi akan sangat mengganggu jika bicara dengan suara bisik-bisik tapi tetap saja terdengar oleh peserta lain atau malah yang lebih parah, cekikikan dengan lawan bicara. Errr…saya tidak merasa nyaman jika ada yang seperti itu di sekeliling saya.
  4. Sebagai pembicara, diharuskan untuk tahu agenda rapat. Iyalah! Pernah di suatu rapat, terlihat sekali bahwa pembicara tidak menguasai agenda rapat. Yeah…rasanya gimana gitu ya…Atau ada juga pembicara atau penanya yang melakukan diskusi di luar tema. Sedikit di luar tema, seperti joke, pasti diperlukan tapi kalau sudah melenceng jauh dari tema, dipastikan agenda inti rapat akan terbengkalai.
  5. Jika menjadi pembicara, yuk jangan curhat.  “Saya buru-buru datang ke rapat ini dari bandara lho…” atau “Saya belum makan nich dari pagi demi rapat ini…” Dan bla bla bla… Kalau kata saya ke teman saya ketika ada pembicara seperti ini, “Salah gw kalau dia gak makan dari pagi? Salah gw ama temen-temen gw kalau dia kecapekan?” Yeah…itu benar kan? Memangnya salah peserta rapat atau penyelenggara rapat kalau dia mempunyai hambatan A, B, C, sampai Z? Kan tidak. Terdengar sangat tidak profesional jika sebagai pembicara malah curhat seperti contoh di atas. Yang ada, peserta antipati dengan kelakar seperti itu.

Kurang lebih seperti itu sich yang bisa saya tulis di sini. Emmm…ya kalau guna bagus kalau gak, paling gak, isi kepala saya berkurang :P

Deva

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers