Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


7 Comments

Islam itu Damai

Dengan segala kedangkalan pemahaman saya tentang Islam, saya tetap bangga mengatakan bahwa saya Muslim.

Dibesarkan di lingkungan yang mayoritas beragama Islam tapi tetap menerima perbedaan.

Islam di mata saya adalah agama yang damai.

Sedamai ketika kakak ipar saya yang berbeda agama disambut di keluarga saya.

Sedamai ketika ia mengatakan ingin pindah agama ke Islam, tanpa sekalipun ada paksaan.

Sedamai ketika teman saya yang berbeda agama dengan saya mengingatkan saya untuk beribadah dan menyediakan tempatnya untuk kami beribadah secara jamaah.

Sedamai ketika teman saya yang berbeda agama memeluk saya sambil mengatakan selamat lebaran.

Sedamai itu pula ketika saya mengucapkan selamat hari raya agamanya, yang berbeda dengan saya.

Sedamai ketika saya datang ke daerah dengan mayoritas bukan Muslim.

Disambut hangat oleh mereka. Disajikan makanan istimewa, hanya karena mereka tahu saya tidak boleh mengkonsumsi anjing dan babi.

Sedamai perlakuan seorang teman yang meminta sopirnya untuk mau membantu saya mencarikan rumah makan yang halal di Tomohon, Manado. Dan sopir tersebut (Pak Bung) bersedia melakukannya padahal seharusnya ia makan, bukan repot membantu saya.

Sedamai ketika masyarakat di wilayah NTT repot-repot mengusir anjing di sekeliling saya karena tahu saya tidak boleh kena air liur mereka.

Sedamai ketika tidak semua anggota keluarga saya mempunyai pendapat yang sama tapi tetap saling menghargai.

Islam bukanlah agama yang mengajarkan kekerasan.

Menyadari bahwa memang ada perbedaan tapi tidak disatukan oleh kekerasan sebagai jalan premiumnya.

Saya mungkin bukan pemeluk agama Islam yang baik dan benar tapi paling tidak dengan segala keterbatasan saya, saya sungguh sadar bahwa Islam adalah agama yang damai.

Jika ada yang membawa nama Islam dengan cara kekerasan dan mudah mengatakan yang mana haram atau halal tanpa ada pertimbangan yang mendalam, saya akan mengatakan ‘mereka hanya bingung bagaimana cara mencintai sesuatu dengan seharusnya’

Tulisan ini merupakan ungkapan terdalam saya mengenai keresahan terhadap tindak tanduk organisasi masyarakat (ormas) yang mengatasnamakan agama Islam.

Ada sebuah kisah:

Seorang suami berkata kepada istrinya. ‘Kelak anak kita melakukan kesalahan, pukul-lah ia jika memang selama 2 kali diperingatkan ia tidak menurut. Jangan langsung memukul karena anak itu hanya akan mengingat pukulannya tanpa tahu alasan kita memarahinya’.

Ingin rasanya meluapkan dengan cara yang keras namun jika saya lakukan hal seperti itu maka tidak ada bedanya saya dengan mereka, yang menjadikan kekerasan sebagai alat utamanya dan melupakan makna moral itu sendiri.

Deva


17 Comments

Pernikahan Dini

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah artikel di National Geographic Indonesia edisi Juni 2011.

Source: National Geographic Indonesia

Dulu, sewaktu saya masih SMU, saya pernah mengikuti lomba debat SMU se-Jakarta mengenai pernikahan dini. Ketika itu, pernikahan dini mengandung makna sebuah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang berusia belia, sekitar 18-22 tahun, yang belum berpenghasilan stabil. Tapi kemarin, ketika saya membaca NGIndonesia, pernikahan dini artinya pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang memang benar-benar dini usianya, dimulai dari umur 5 hingga di bawah 18 tahun. Dan fenomena ini bukan saja terjadi di satu negara tapi telah terjadi di beberapa negara berkembang, seperti di Yaman Utara, India, Pakistan atau Bangladesh. Jelas, bahwa fenomena ini melanggar aturan negara. Oleh karena itu, banyak yang menggelar pernikahan dini di malam hari untuk menghindari polisi dan petugas keamanan lainnya.

Saya bukanlah orang yang paham seluk beluk peraturan negara dan agama, dalam hal ini agama Islam yang menjadi agama mayoritas di negara-negara tersebut di atas. Ada berbagai jenis pernikahan dini yang terjadi, misalnya mempelai perempuan berusia 5,6,7, dan seterusnya menikah dengan laki-laki berusia sebaya atau bahkan berusia 20, 30, 40 tahun. Di titik ini, saya merasa bahwa pernikahan dini yang dimaksud adalah pernikahan dengan mempelai perempuan yang berusia dini. Karena dari keseluruhan artikel, yang berusia dini ya perempuannya. Sedangkan usia laki-lakinya bervariasi.

Saya sempat bertanya dalam hati, “Jika pengantin perempuannya masih semuda itu, bagaimana dengan malam pertamanya?”

Dan saya pun menemukan paragraf yang menjawab pertanyaan tersebut, “Tentu saja setiap anak perempuan pasti takut menghadapi malam pertamanya, lama-lama juga terbiasa, dan kehidupan berjalan terus.” (Kepala Daerah Yaman hal 73).

Sungguh mengejutkan jawaban dari narasumber tersebut.

Ada pula yang menjelaskan bahwa sekali pun mereka menikah muda, hubungan intim akan dilakukan jika mereka sudah memasuki masa akil balig, jadi selama menunggu, mereka akan tinggal di rumah yang terpisah.

Merasa tidak setuju dengan pernikahan seperti ini? Saya juga tidak setuju. Tapi ada beberapa alasan yang menyebabkan terjadinya pernikahan ini, antara lain karena hutang piutang dan ada juga karena “kekhawatiran orang tua jika anak perempuannya diperkosa sebelum menikah”.

Banyak penjelasan yang menarik dalam artikel ini di NGIndonesia. Membuat saya terkaget-kaget, geleng-geleng kepala dan menghela nafas panjang.

Saya sempat men-tweet beberapa pendapat saya di akun twitter saya, antara lain:

  1. Pernikahan dini ternyata banyak terjadi di berbagai benua,penyebab utama: HUTANG KELUARGA!!!
  2. Ada yang berusia 14thn sudah punya anak usia 2 tahun dan satu lagi berusia 2 minggu. Dan ada yg menikah usia 5thn!
  3. Penyebab lain penikahan dini: pencegahan spy keperawanan perempuan tidak direnggut oleh laki2 yg bukan suaminya.
  4. Di titik inilah nilai perempuan dinilai rendah, ortu gak mau repot2 nabung untuk biaya pendidikan anak perempuannya.
  5. Ketimbang untuk biaya pendidikan anak perempuan, ortu cenderung memilih menikahi anak perempuan tsb dgn laki2 kaya.
  6. Padahal sejatinya, pernikahan adalah sebuah wujud dari komitmen penuh yg berasal dari keikhlasan dan kesadaran penuh, bkn dari paksaan.
  7. Karena melanggar aturan negara, keseringan pernikahan dini dilakukan di malam hari.
  8. Ironisnya, bnyk yg trauma akan pernikahan dini ini dan memutuskan untuk membakar diri sendiri.

Bagaimana pendapat anda?

Deva


10 Comments

Tukang Bajaj Berkata…

Tepat di seberang meja kantor saya, sedang diputar rekaman beberapa tukang bajaj yang ditanya “Kenapa mereka menjadi tukang bajaj?” Jawaban mereka ada yang menarik yaitu “Karena memang dari dulu menjadi tukang bajaj dan ya sudah syukuri saja.” Sesederhana itu…

 

Mungkin saya jahat, menurut saya, meskipun jawaban yang mereka berikan sungguh sederhana, kemungkinan kehidupan mereka tidak sesederhana itu. Mereka berusaha mensyukuri hal yang memang tidak ada kata lain selain “berusaha mensyukuri”. Arti kata berusaha di sini, lagi-lagi menurut saya, mencoba untuk tahan, mencoba untuk menjadi orang yang penuh rasa syukur dan berharap rasa syukur tersebut bisa memperkuat mental dan hati mereka menjalani kehidupan, yang kita semua tahu, tidak mudah.

 

Saya pernah ada di posisi seperti mereka. Lelah dengan semuanya dan hanya terlontar kata “Ya sudah syukuri saja…”

 

Siapa yang tidak tahu lagi D’Massiv “Hidup Adalah Anugerah” dan di dalam lagu tersebut ada kalimat “Syukuri apa yang ada…hidup adalah anugerah.”

 

Tidak ada kata yang salah dari kalimat itu. Saya hanya berpikir, “Sekalipun kita mensyukuri hidup ini, bukan berarti kita tidak berhak memperoleh kehidupan yang lebih baik lagi.”

 

Rasa syukur tidak berhenti di titik “bersyukur saja menjalani semua ini.” Tapi rasa bersyukur harus (menurut saya) berlanjut ke titik yang lebih maju lagi. Ke titik di mana rasa syukur memang diucapkan dari hati. “Alhamdulillah bisa mencapai titik ini (dengan senyum yang ikhlas dan puas).” Bukan sekedar menjadi dalih untuk tidak berusaha ke titik yang lebih maju lagi.

 

Sudahlah…ini hanya permainan kata-kata yang dibuat ruwet oleh pikiran saya siang ini.

 

Beruntung siang ini, saya mendengarkan perkataan tukang bajaj. Mengingatkan saya bahwa bentuk mensyukuri hidup dari Allah SWT bukan pekerjaan yang mudah. Itu merupakan komitmen antara hamba dengan Penciptanya.

 

Jadi, apa kalian sudah bersyukur atas hidup ini?

 

Deva, yang bersyukur dikarunia lingkungan yang luar biasa di dunia ini, Februari 24,2011

 


2 Comments

Toleransi Beragama Masih Ada Di Indonesia

Bunga itu indah dan berwarna-warni, seperti hidup ini yang berwarna-warni dan tumbuh di lingkungan yang penuh tantangan...

Bunga itu indah dan berwarna-warni, seperti hidup ini yang berwarna-warni dan tumbuh di lingkungan yang penuh tantangan...

Saat ini Indonesia, khususnya di Jakarta, toleransi beragama menjadi suatu isu yang sedang “panas” untuk dibicarakan. Ada yang bilang, “Wah…bakal perang lagi nich kaya Ambon” atau ada juga yang merasa harus berbicara sangat hati-hati dengan seseorang yang berbeda agama, sekalipun itu adalah sahabatnya sendiri. Alasannya sederhana, takut menyinggung perasaan seseorang tentang perbedaan agama. Karena hal itulah, saya merasa masyarakat Jakarta mundur puluhan tahun dalam menghadapi toleransi beragama. Bahkan ada juga salah seorang teman yang menerima email dari teman-temannya di luar negeri yang bertanya, “Indonesia sudah tidak aman yach? Kok agama di Indonesia jadi masalah?”. Ohhh…itu sama sekali tidak benar! Indonesia itu aman. Indonesia itu beragam. Indonesia itu damai.

Isu tentang “ketiadaan toleransi beragama di Indonesia” membuat saya sedikit jengkel. Dalam arti, saya merasa bahwa Indonesia itu aman untuk beribadah, untuk memeluk agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing dan lebih dalam daripada itu semua, Indonesia itu damai. Mungkin ini adalah pendapat pribadi saya dan mungkin saya naïf.

Kenapa saya percaya dan yakin sekali bahwa Indonesia itu aman untuk beribadah menurut kepercayaan masing-masing? Saya percaya karena saya pernah mengalami beberapa kali kejadian yang sungguh indah dalam toleransi beragama. Contohnya saat saya bertugas di timur Indonesia, NTT dan Sulawesi Utara, Manado.

Untuk kejadian di Manado, ini baru saya alami semalam. Ketika saya dan tim (jumlah anggota tim 4 orang, saya perempuan sendiri dan berjilbab sedangkan 3 orang teman saya adalah laki-laki). Tim saya ingin makan malam di daging B2 (babi atau istilah lain, yang diberitahu teman baru saya, blackberry). Tentu saja, saya tidak bisa makan di sana, karena saya Muslim. Akhirnya saya berusaha untuk membujuk ketua tim saya untuk tidak makan di restoran tersebut. Bos saya, yang beragama Nasrani, berusaha membujuk klien untuk makan di restoran 100% halal tapi karena klien kami ingin ketua tim saya merasakan masakan khas Manado maka ia tetap memilih restoran tersebut, yang notabene 100% haram. Saya pun akhirnya mengambil keputusan untuk tidak makan dan minum apapun di restoran tersebut. Tapi yang terjadi adalah, klien kami berkata kepada saya bahwa saya boleh berkeliling dengan sopirnya, minta beliau untuk mencari restoran yang 100% halal agar saya tetap dapat makan malam. Wow…sangat bertoleransi bukan?!

Kemudian saya dan Sang Sopir, Pak Bung namanya berkeliling mencari restoran yang 100% halal. Pak Bung pun menjelaskan kepada saya bahwa di daerah Tomohon sulit mencari makanan yang 100% halal. Rumah-rumah makan pun kebanyakan menyediakan menu RW dan BB. Setelah mendengar penjelasan beliau, akhirnya saya hanya membeli roti di warung dan sebotol vitamin C, lumayan dapat mengganjal perut. Rencananya sesampainya di hotel, saya akan makan di restoran hotel karena di hotel, tempat kami menginap  menyediakan makanan yang 100% halal.

Selama perjalanan, saya dan Pak Bung berbicara panjang lebar mengenai situasi dan keadaan masyarakat serta adat di Manado, sebagian besar dari isi pembicaraan kami mengenai agama. Saya pun lebih banyak mengambil peran sebagai pendengar dan membiarkan Pak Bung bercerita. Beliau menjelaskan bahwa di kota Manado, mayoritas penduduknya beragama Nasrani tetapi ada juga Islam dan Budha. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya gereja di kota Manado. Kiri kanan jalan, berjarak 5 meter saja pasti ada gereja. Dan gerejanya pun beragam. Ada Advent, Pantekosta, Katolik, Protestan, dsb.

Saya pun bertanya kepada Pak Bung tentang toleransi beragama di Manado. Pak Bung menjelaskan bahwa di Manado damai sekali antar pemeluk agama. Seperti lebaran kemarin, masyarakat Nasrani akan membantu menjaga keamanan selama masyarakat Muslim sholat Ied. Begitu juga saat Natal. Dan jika ada gotong royong, masyarakat melebur, tiada pandang agama. Damai. Keadaan inilah yang membuat kerusahan Ambon dan Poso beberapa tahun lalu tidak berdampak kepada kehidupan beragama di Manado.

Pak Bung pun menjelaskan bahwa menurut ajaran agama beliau, yang berbeda dengan saya, bahwa jika ada seorang Muslim yang tidak tahu bahwa ia makan di restoran yang makanannya haram tapi Pak Bung hanya diam dan tidak memberitahu kepada Muslim tersebut maka Pak Bung pun berdosa. Jadi, jika Pak Bung ada tamu Muslim pasti Pak Bung akan jujur kepada tamunya bahwa restoran tersebut tidak bisa untuk Muslim. Indah bukan?!

Selain di Manado, saya juga pernah merasakan indahnya toleransi beragama saat di Kupang. Seperti yang diketahui bahwa penduduk Kupang mayoritas beragama Nasrani dan mereka juga mengkonsumsi RW dan BB. Saat saya sedang istirahat setelah melakukan penelitian di desa, seorang bapak di desa Kiubaat, yang bernama Pak Frans (apa kabar dengan beliau yach?!) menghampiri saya dan bertanya, apakah saya mau menyembelih ayam? Seketika saya bingung. Saya menyembelih ayam? Untuk apa? Akhirnya beliau berbicara lagi, “Kan dalam agama Nona (sambil menunjuk jilbab saya) ayam harus disembelih dengan nama Tuhan Nona?”. Saya pun kaget! Ya ampun…beliau sangat bertoleransi dan menghargai sekali agama saya. Saya pun akhirnya, untuk pertamakali dan bahkan hingga kini belum pernah melakukannya lagi, menyembelih ayam. Saya bingung apa yang harus saya lakukan. Basmalah dan Shalawat pun saya bacakan (mudah-mudahan benar prosedurnya). Melihat darah yang muncrat dari leher ayam, saya pun langsung lari terbirit-birit. Sebuah pengalaman yang masih saya ingat hingga sekarang. Ah…Pak Frans, bersusah payah menyediakan ayam untuk kami, padahal ayam adalah ternaknya paling mahal dan saya meyakini bahwa ayam di desa Kiubaat hanya untuk acara penting. Terimakasih Pak Frans. Terimakasih masyarakat Kiubaat.

Dari dua kejadian di ataslah saya meyakini bahwa di Indonesia masih ada masyarakat yang secara tulus bertoleransi terhadap agama lain. Allah SWT pun berfirman, “Agamamu agamamu dan agamaku agamaku”, bukankah itu yang disebut bertoleransi?!

Saya memang bukanlah ahli agama atau ahli tafsir kitab suci dan pemahaman agama saya masihlah sangat luar biasa dangkal tapi saya percaya bahwa masing-masing pemeluk agama harus saling menghargai. Itu saja.

Terimakasih kepada siapapun yang masih memegang teguh toleransi beragama. Indonesia itu raya!

*Sebuah catatan kecil yang dimulai di bandara Manado dan berakhir di sudut sebuah kamar di Jakarta

Deva

Sept 25, 2010

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers