
Bunga itu indah dan berwarna-warni, seperti hidup ini yang berwarna-warni dan tumbuh di lingkungan yang penuh tantangan...
Saat ini Indonesia, khususnya di Jakarta, toleransi beragama menjadi suatu isu yang sedang “panas” untuk dibicarakan. Ada yang bilang, “Wah…bakal perang lagi nich kaya Ambon” atau ada juga yang merasa harus berbicara sangat hati-hati dengan seseorang yang berbeda agama, sekalipun itu adalah sahabatnya sendiri. Alasannya sederhana, takut menyinggung perasaan seseorang tentang perbedaan agama. Karena hal itulah, saya merasa masyarakat Jakarta mundur puluhan tahun dalam menghadapi toleransi beragama. Bahkan ada juga salah seorang teman yang menerima email dari teman-temannya di luar negeri yang bertanya, “Indonesia sudah tidak aman yach? Kok agama di Indonesia jadi masalah?”. Ohhh…itu sama sekali tidak benar! Indonesia itu aman. Indonesia itu beragam. Indonesia itu damai.
Isu tentang “ketiadaan toleransi beragama di Indonesia” membuat saya sedikit jengkel. Dalam arti, saya merasa bahwa Indonesia itu aman untuk beribadah, untuk memeluk agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing dan lebih dalam daripada itu semua, Indonesia itu damai. Mungkin ini adalah pendapat pribadi saya dan mungkin saya naïf.
Kenapa saya percaya dan yakin sekali bahwa Indonesia itu aman untuk beribadah menurut kepercayaan masing-masing? Saya percaya karena saya pernah mengalami beberapa kali kejadian yang sungguh indah dalam toleransi beragama. Contohnya saat saya bertugas di timur Indonesia, NTT dan Sulawesi Utara, Manado.
Untuk kejadian di Manado, ini baru saya alami semalam. Ketika saya dan tim (jumlah anggota tim 4 orang, saya perempuan sendiri dan berjilbab sedangkan 3 orang teman saya adalah laki-laki). Tim saya ingin makan malam di daging B2 (babi atau istilah lain, yang diberitahu teman baru saya, blackberry). Tentu saja, saya tidak bisa makan di sana, karena saya Muslim. Akhirnya saya berusaha untuk membujuk ketua tim saya untuk tidak makan di restoran tersebut. Bos saya, yang beragama Nasrani, berusaha membujuk klien untuk makan di restoran 100% halal tapi karena klien kami ingin ketua tim saya merasakan masakan khas Manado maka ia tetap memilih restoran tersebut, yang notabene 100% haram. Saya pun akhirnya mengambil keputusan untuk tidak makan dan minum apapun di restoran tersebut. Tapi yang terjadi adalah, klien kami berkata kepada saya bahwa saya boleh berkeliling dengan sopirnya, minta beliau untuk mencari restoran yang 100% halal agar saya tetap dapat makan malam. Wow…sangat bertoleransi bukan?!
Kemudian saya dan Sang Sopir, Pak Bung namanya berkeliling mencari restoran yang 100% halal. Pak Bung pun menjelaskan kepada saya bahwa di daerah Tomohon sulit mencari makanan yang 100% halal. Rumah-rumah makan pun kebanyakan menyediakan menu RW dan BB. Setelah mendengar penjelasan beliau, akhirnya saya hanya membeli roti di warung dan sebotol vitamin C, lumayan dapat mengganjal perut. Rencananya sesampainya di hotel, saya akan makan di restoran hotel karena di hotel, tempat kami menginap menyediakan makanan yang 100% halal.
Selama perjalanan, saya dan Pak Bung berbicara panjang lebar mengenai situasi dan keadaan masyarakat serta adat di Manado, sebagian besar dari isi pembicaraan kami mengenai agama. Saya pun lebih banyak mengambil peran sebagai pendengar dan membiarkan Pak Bung bercerita. Beliau menjelaskan bahwa di kota Manado, mayoritas penduduknya beragama Nasrani tetapi ada juga Islam dan Budha. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya gereja di kota Manado. Kiri kanan jalan, berjarak 5 meter saja pasti ada gereja. Dan gerejanya pun beragam. Ada Advent, Pantekosta, Katolik, Protestan, dsb.
Saya pun bertanya kepada Pak Bung tentang toleransi beragama di Manado. Pak Bung menjelaskan bahwa di Manado damai sekali antar pemeluk agama. Seperti lebaran kemarin, masyarakat Nasrani akan membantu menjaga keamanan selama masyarakat Muslim sholat Ied. Begitu juga saat Natal. Dan jika ada gotong royong, masyarakat melebur, tiada pandang agama. Damai. Keadaan inilah yang membuat kerusahan Ambon dan Poso beberapa tahun lalu tidak berdampak kepada kehidupan beragama di Manado.
Pak Bung pun menjelaskan bahwa menurut ajaran agama beliau, yang berbeda dengan saya, bahwa jika ada seorang Muslim yang tidak tahu bahwa ia makan di restoran yang makanannya haram tapi Pak Bung hanya diam dan tidak memberitahu kepada Muslim tersebut maka Pak Bung pun berdosa. Jadi, jika Pak Bung ada tamu Muslim pasti Pak Bung akan jujur kepada tamunya bahwa restoran tersebut tidak bisa untuk Muslim. Indah bukan?!
Selain di Manado, saya juga pernah merasakan indahnya toleransi beragama saat di Kupang. Seperti yang diketahui bahwa penduduk Kupang mayoritas beragama Nasrani dan mereka juga mengkonsumsi RW dan BB. Saat saya sedang istirahat setelah melakukan penelitian di desa, seorang bapak di desa Kiubaat, yang bernama Pak Frans (apa kabar dengan beliau yach?!) menghampiri saya dan bertanya, apakah saya mau menyembelih ayam? Seketika saya bingung. Saya menyembelih ayam? Untuk apa? Akhirnya beliau berbicara lagi, “Kan dalam agama Nona (sambil menunjuk jilbab saya) ayam harus disembelih dengan nama Tuhan Nona?”. Saya pun kaget! Ya ampun…beliau sangat bertoleransi dan menghargai sekali agama saya. Saya pun akhirnya, untuk pertamakali dan bahkan hingga kini belum pernah melakukannya lagi, menyembelih ayam. Saya bingung apa yang harus saya lakukan. Basmalah dan Shalawat pun saya bacakan (mudah-mudahan benar prosedurnya). Melihat darah yang muncrat dari leher ayam, saya pun langsung lari terbirit-birit. Sebuah pengalaman yang masih saya ingat hingga sekarang. Ah…Pak Frans, bersusah payah menyediakan ayam untuk kami, padahal ayam adalah ternaknya paling mahal dan saya meyakini bahwa ayam di desa Kiubaat hanya untuk acara penting. Terimakasih Pak Frans. Terimakasih masyarakat Kiubaat.
Dari dua kejadian di ataslah saya meyakini bahwa di Indonesia masih ada masyarakat yang secara tulus bertoleransi terhadap agama lain. Allah SWT pun berfirman, “Agamamu agamamu dan agamaku agamaku”, bukankah itu yang disebut bertoleransi?!
Saya memang bukanlah ahli agama atau ahli tafsir kitab suci dan pemahaman agama saya masihlah sangat luar biasa dangkal tapi saya percaya bahwa masing-masing pemeluk agama harus saling menghargai. Itu saja.
Terimakasih kepada siapapun yang masih memegang teguh toleransi beragama. Indonesia itu raya!
*Sebuah catatan kecil yang dimulai di bandara Manado dan berakhir di sudut sebuah kamar di Jakarta
Deva
Sept 25, 2010