Setelah seharian ngebolang di Jogja tanpa tujuan jelas, menjelang malam saya dan Saad meluncur ke Magelang ke rumah saudaranya Saad. Cukup 2 jam lah untuk sampai di Grabag, Magelang.
Keesokan paginya baru sadar kalo kota Grabag ini cantik. Ada gunung yang menyapa di dekat rumah tante Saad.
Pagi-pagi saya dan Saad menyelusuri pasar tradisional Grabag untuk mencari sarapan tapi tidak menemukannya. Pulang ke rumah eh udah disiapin sarapan. Enak pula! Gratis pastinya.
Rencananya setelah dari Grabag mau mampir ke rumah saudara Saad yang lain tapi karena tidak cukup waktu, kami pun memutuskan untuk kembali ke Jogja.
Saad: Lo kayak nemenin gw mudik Dep.
Saya: Iya…udahlah gak apa-apa. Gak ada rencana apa-apa selain nunggu rombongan Jakarta datang.
Ketika kembali ke Jogja, kami pun berburu bakpia. Lebih tepatnya sich saya yang kepengen banget. Nemu. Bungkus. Cari sedikit oleh-oleh lagi.
Saad: Dep, kita ke Lonji. Ketemu Rio di sana.
Rio ini rombongan dari Jogja yang mau berkemah bareng dengan kami. Tahukah kami harus menunggu berapa lama untuk ketemu Rio dan rombongan Jakarta plus Bandung? 4 jam sodara-sodara! Nunggu di mana? Nunggu di rumah makan padang deket halte TransJogja Lonji. Gila, cobaan!
Udahlah. Singkatnya, kami baru bisa berkumpul 1 tim penuh sekitar jam 6 sore.
Rombongan Jakarta menempuh perjalanan darat dengan mobil Elf selama 24 jam! Kasian banget. Katanya macet di mana-mana.
Setelah kenalan yang singkat (ternyata satu sama lain banyak yang baru berkenalan lho) kita langsung menuju Puncak Nglanggeran.
Di sini saya sudah mulai nervous. Karena gak kepikiran harus naik puncak di malam hari. Well, ini pengalaman pertama saya lho. Semua sudah siap dengan perlengkapannya. Dan kami pun naik gunung mmm…bukit deng.
Tim ini udah pengalaman banget naik turun gunung. Yang paling amatir mah saya. Buat mereka gak ada bedanya naik gunung di pagi, siang, sore atau malam hari. Saya? Beuh! Jatoh bangun! Serius. Baru nyadar pas di Jakarta kalau dengkul biru karena jatoh.
Untunglah satu sama lain saling membantu.
Dwi: Rio, ini tracknya kok parah ya? Batu semua? Lo bilang bukit biasa.
Gimana perasaan saya dengar itu? CEMAS! Bayangin aja orang yang biasa naik gunung bilang kalau tracknya bahaya.
Selama perjalanan ke atas, saya menyesal setengah mati untuk gabung di tim ini. Serius!
Tapi begitu sampai di pertengahan puncak saat kami mendirikan tenda…mmmm saya gak ikutin diriin deng…saya merasa cukup puas! Kaki? PEGEL setengah mati! Di antara semua orang, baju saya kali yang paling dekil.
Kami pun bermalam di pertengahan puncak dan itu sudah sekitar jam 11 malam.
Istirahat. Sambil ngobrol, masak, dan ngemil. Karena ingin berburu matahari terbit, akhirnya semua orang, kecuali Niko dan Hendra (mereka berburu bintang di malam hari) memilih untuk tidur.
Keesokan paginya semua terbangun. Kalau saya terbangun karena mendadak denger suara “Ngook…ngiik…ngook ngiik…” hahaha…di tenda sebelah ada yang ngorok!
Kejar matahari pagi. Dan ini pemandangannya.

Fotografer perjalanan kali ini. Niko. Bawa 2 kamera, 6 baterai, tripod ntah berapa biji, dan memori 20 GB. NIAT!
Setelah puas jeprat-jepret, perjalanan dilanjutkan ke 2 area. Jadi tim kebagi 2. Ada yang caving di Jomblang dan saya serta beberapa teman memilih untuk selusur pantai Wonosari. Kayaknya sich ada 6 pantailah yang kita datangi. Nanti malam semua tim kumpul untuk tidur di pantai Siung.
Ini foto-fotonya.

























