Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


12 Comments

Merapi Bikin Merinding

Perjalanan ke Jogjakarta kali ini diisi dengan keinginan hati ke Merapi dan diamini oleh semua anggota tim. Tentu saja bukan naik gunung Merapi, seperti yang dilakukan Hendra, tapi hanya trekking jalan kaki ke rumah (alm) Mbak Maridjan di daerah Merapi. Untunglah ketika itu cuaca mendukung dan tugas pekerjaan juga sudah selesai jadi sekitar jam 3 kami ke Merapi dari arah Bantul.

Perjalanan menuju Merapi diisi dengan pemandangan sawah yang coklat mengering, hujan yang tidak kunjung datang, tetapi menariknya adalah pohon-pohon di daerah Merapi yang menghijau. Benar ternyata daerah di sekitar gunung yang meletus akan mengalami penyuburan.

Masuk ke wilayah Merapi, kalau tidak salah harus bayar Rp 5.000 dan tersedia banyak pilihan untuk mengelilingi Merapi, baik menggunakan mobil off road, ojeg atau sekedar jalan kaki. Pilihan kami adalah berjalan kaki dengan alasan ya…ingin menikmati pemandangan.

Ojeg pulang pergi Rp 20.000

Tapi ternyata di pertengahan jalan, saya menyesali pilihan tersebut. Hahha…jalanan yang menanjak membuat kaki dan pinggul luar biasa pegalnya. Di antara 2 teman dan 1 orang pemandu, saya adalah yang berada terakhir di perjalanan.

Gaya ajalah yang penting dulu…encok kemudian :D

Setelah berjalan, kurang lebih 20 menit (tapi terasa sungguh lama) kami pun tiba di rumah (alm) Mbak Maridjan. Banyak pengunjung yang berfoto di sana, mengabadikan keberadaan mereka di sana. Berfoto dengan muka ceria di wilayah tragedi, jelas bukan pilihan saya.

Berikut beberapa foto yang saya ambil di sana…

Sunset di Merapi

Lumayan menghijau setelah gunung Merapi meletus

 

Petunjuk jalan menuju rumah (alm) Mbak Maridjan

Banyak pengunjung yang foto di bawah spanduk ini lho *mikir*

Ini rumahnya (alm) Mbak Maridjan

Mobil ini milik PMI dan motor ini milik masyarakat

“Kehormatan seseorang dinilai dari tanggung jawab terhadap kewajibannya” (alm) Mbak Maridjan

Dulu ini adalah 3 kali tapi karena letusan Merapi, kali ini berubah menjadi daratan (merinding banget euy)

 

Gamelan ini dipercaya akan berbunyi jika Merapi meletus dan pada tahun 2010 lalu, gamelan ini kencang berbunyi saat Merapi meletus

Melihat suasana di sana, sungguh saya merinding. Membayangkan gunung meletus, masyarakat yang berteriak minta tolong, dan tiga buah kali yang sekarang menjadi daratan.

Semoga meletusnya gunung Merapi ini bisa menjadi pelajaran buat semuanya. Semakin cepat diketahui tanda-tanda sebuah gunung akan meletus, semoga semakin banyak nyawa yang tertolong.

Deva

 

 

 


24 Comments

Ketika Liburan Bermakna Seribu

Apa yang kamu pikirkan ketika seseorang sedang ke luar kota?

Pasti banyak yang komentar, “Asyik banget liburan…!”

Tapi buat beberapa orang, ternyata menganggap bahwa itu bukan liburan. Di sini yang dimaksud bukanlah seorang yang berprofesi seperti Trinity Traveller atau CK Kaunang ya :)

Contoh di atas sebenarnya komentar yang saya lontarkan ke teman baik saya, yang saat ini sedang berada di Ubud, Bali. Dia bilang, “I don’t use the word vacation sih”. Alasannya karena vacation terkesan hura-hura, hotel bintang 5, dan senang-senang.

Nah, ternyata pendapat seperti ini bukan hanya dilontarkan 1 orang saja.

Ada teman saya yang lain, yang pendapatnya kurang lebih sama.

Jalan-jalan itu bukan vacation yang melulu hura-hura tapi melakukan perjalanan untuk mengisi ulang energi yang terasa sudah habis.

Seperti contoh, teman saya yang saat ini ke Jogja setelah merasa lelah mengikuti tes di sebuah perusahaan swasta ternama di Jakarta. Sudah masuk tes ke-5 atau tes terakhir. Hasilnya gagal. Dan merasa sudah terlalu suntuk dengan berbagai tuntutan.

Udara segar merasa perlu untuk dihirup. Jogjakarta adalah pilihannya.

Can I get aamiin? :)

Ada juga sekumpulan teman saya, salah satunya adalah pacar saya – Ndra. Paling tidak sebulan sekali, dia bersama teman-temannya naik gunung. Tujuannya bukan karena kepala sedang pusing atau bosan dengan Jakarta tapi karena memang itu adalah hobinya.

“Naik gunung itu seru dan banyak tantangannya. Tapi begitu udah sampai di Puncak, rasanya itu puas banget Dev…” kata Ndra sewaktu saya tanya alasannya.

Sedangkan saya? Saya pernah menjadikan perjalanan seperti metode untuk kabur sebentar dari Jakarta. Ketika itu, saya memutuskan untuk ke Ubud (apalagi ditambah ada acara UWRF kan). Sesampainya di Jakarta, rasanya tuch segar dan pikiran adem banget.

Saya jadi teringat ada yang bilang, kalau pergi jalan-jalan ajaklah seorang sahabat baik yang seleranya sama dengan kita. Mmm…ada benarnya dan ada yang gak benarnya juga sich.

Yang benarnya, ya jalan jadi seru.

Tapi gak ada salahnya juga kalau jalan dengan orang-orang baru. Justru bisa dapat pengalaman lebih banyak dan syukur-syukur kalau cocok bisa jadi sahabatan. Saya pernah tuch mengalami hal tersebut. Sepulang dari Bali dapat 4 teman baik yang sampai sekarang terus berhubungan, malah dapat teman kerja hehehe

Sepulang dari Jogja juga dapat teman-teman baru, eh malah dapat pacar juga kan. #eaaa curhat abis kakaaaakkk! :P

Ya, intinya sich buat saya, sayang banget liburan (untuk alasan apa pun) kalau sesampainya di rumah tetap aja mukanya cemberut. Sayang waktunya, sayang kenangannya, dan pastinya sayang uangnya hahaha…am I right?

“A good traveler has no fixed plans and is not intent on arriving” – Lao Tzu

Saya suka banget kalimat di atas…ngeresep seperti seruput kopi yang diminum bersama orang terkasih. *lap iler*

Jadi, kalau kamu, liburan itu apa?

Deva


29 Comments

Jogja Aku Datang (Part 2)

Setelah seharian ngebolang di Jogja tanpa tujuan jelas, menjelang malam saya dan Saad meluncur ke Magelang ke rumah saudaranya Saad. Cukup 2 jam lah untuk sampai di Grabag, Magelang.

Keesokan paginya baru sadar kalo kota Grabag ini cantik. Ada gunung yang menyapa di dekat rumah tante Saad.

Pagi-pagi saya dan Saad menyelusuri pasar tradisional Grabag untuk mencari sarapan tapi tidak menemukannya. Pulang ke rumah eh udah disiapin sarapan. Enak pula! Gratis pastinya. :P

Rencananya setelah dari Grabag mau mampir ke rumah saudara Saad yang lain tapi karena tidak cukup waktu, kami pun memutuskan untuk kembali ke Jogja.

Saad: Lo kayak nemenin gw mudik Dep.

Saya: Iya…udahlah gak apa-apa. Gak ada rencana apa-apa selain nunggu rombongan Jakarta datang.

Ketika kembali ke Jogja, kami pun berburu bakpia. Lebih tepatnya sich saya yang kepengen banget. Nemu. Bungkus. Cari sedikit oleh-oleh lagi.

Saad: Dep, kita ke Lonji. Ketemu Rio di sana.

Rio ini rombongan dari Jogja yang mau berkemah bareng dengan kami. Tahukah kami harus menunggu berapa lama untuk ketemu Rio dan rombongan Jakarta plus Bandung? 4 jam sodara-sodara! Nunggu di mana? Nunggu di rumah makan padang deket halte TransJogja Lonji. Gila, cobaan!

Udahlah. Singkatnya, kami baru bisa berkumpul 1 tim penuh sekitar jam 6 sore.

Rombongan Jakarta menempuh perjalanan darat dengan mobil Elf selama 24 jam! Kasian banget. Katanya macet di mana-mana.

Setelah kenalan yang singkat (ternyata satu sama lain banyak yang baru berkenalan lho) kita langsung menuju Puncak Nglanggeran.

Di sini saya sudah mulai nervous. Karena gak kepikiran harus naik puncak di malam hari. Well, ini pengalaman pertama saya lho. Semua sudah siap dengan perlengkapannya. Dan kami pun naik gunung mmm…bukit deng.

Tim ini udah pengalaman banget naik turun gunung. Yang paling amatir mah saya. Buat mereka gak ada bedanya naik gunung di pagi, siang, sore atau malam hari. Saya? Beuh! Jatoh bangun! Serius. Baru nyadar pas di Jakarta kalau dengkul biru karena jatoh. :D

Untunglah satu sama lain saling membantu.

Dwi: Rio, ini tracknya kok parah ya? Batu semua? Lo bilang bukit biasa.

Gimana perasaan saya dengar itu? CEMAS! Bayangin aja orang yang biasa naik gunung bilang kalau tracknya bahaya.

Selama perjalanan ke atas, saya menyesal setengah mati untuk gabung di tim ini. Serius!

Tapi begitu sampai di pertengahan puncak saat kami mendirikan tenda…mmmm saya gak ikutin diriin deng…saya merasa cukup puas! Kaki? PEGEL setengah mati! Di antara semua orang, baju saya kali yang paling dekil.

Foto oleh Niko

Kami pun bermalam di pertengahan puncak dan itu sudah sekitar jam 11 malam.

Istirahat. Sambil ngobrol, masak, dan ngemil. Karena ingin berburu matahari terbit, akhirnya semua orang, kecuali Niko dan Hendra (mereka berburu bintang di malam hari) memilih untuk tidur.

Keesokan paginya semua terbangun. Kalau saya terbangun karena mendadak denger suara “Ngook…ngiik…ngook ngiik…” hahaha…di tenda sebelah ada yang ngorok! :P

Kejar matahari pagi. Dan ini pemandangannya.

Puncak setelah kabut menghilang

Fotografer perjalanan kali ini. Niko. Bawa 2 kamera, 6 baterai, tripod ntah berapa biji, dan memori 20 GB. NIAT!

Siap-siap turun bukit

Turunnya licin banget. Saya? Ngesot aja :P
(Foto: Syaf)

Ceritanya berani :P
(Foto: Syaf)

Go Erin!

Sisa-sisa perjuangan :D

Setelah puas jeprat-jepret, perjalanan dilanjutkan ke 2 area. Jadi tim kebagi 2. Ada yang caving di Jomblang dan saya serta beberapa teman memilih untuk selusur pantai Wonosari. Kayaknya sich ada 6 pantailah yang kita datangi. Nanti malam semua tim kumpul untuk tidur di pantai Siung.

Ini foto-fotonya.

Pantai Kukup

Pantai Kukup

Pantai Sepanjang

Seorang pencari rumput laut di Pantai Krakal

Seperti mulut hiu - Pantai Krakal

Photo session - Pantai Drini

Sekumpulan anak berlatih sepak bola di Pantai Drini

Pantai Indrayanti

Hari terakhir.

Kita bangun pagi lagi. Kejar waktu untuk ke Goa Pindung karena mau tubing. Selusurin goa. Berenang di sana. DAN SAYA TIDAK BISA BERENANG TAPI AKHIRNYA BERENANG JUGA. Loncat ke air dengan kedalaman 7 meter aja gitu kan! Insane! Pake pelampung sich :P

Sebelum mulai tubing di Goa Pindul
(Foto: Timbul)

Goa Pindul
(Foto: Timbul)

Duduk manis nunggu giliran lompat. Jangan tanya rasanya gimana!
(Foto: Timbul)

Abis itu kita kejar waktu lagi ke Air Terjun Sri Gethuk.

Dwi: Pokoknya main gak lama-lama. Kita kudu pulang ke Jakarta.

Air Terjun Sri Gethuk

Hahaha…planning semula pulang jam 12 akhirnya mundur jadi jam 4 aja gitu!

Soalnya gak ada yang mau main sebentar di air terjun yang cantik ini. Airnya segar banget. :)

Hasilnya? Satu mobil kebingungan! Karena semuanya harus masuk kerja.

Akhirnya ada yang ijin cuti, datang terlambat, gak bisa ikut meeting dan dimarahi bos. Lengkap. Saya? Masuk jam 12 dan dicemberutin dikitlah ama bos. Hehehe..

Dan diberi kejutan. Kejutan asem sebenarnya. Ah, udahlah gak mau bahas.

Sebelum pulang ke Jakarta, kita mampir dulu ke Malioboro untuk belanja-belanji, makan, dan istirahat sebentar lah karena sudah mau menjelang malam juga. Perlu isi perut.

Kita makan di angkringan Kopi Jos “Lek Man”. Nah di sini, saya mencoba kopi Joss yang katanya terkenal itu. Kopi hitam yang dikasih arang di dalamnya. Rasanya? Mmm…di lidah saya sich kayak kopi hitam biasa.

Kopi Joss

Anyway…semua lancar jaya. Semua senang. Kenal dengan orang-orang baru. Dan rencana trip bertaburan. Ada yang ngajakin mendaki gunung 2 M (Merapi dan Merbabu di bulan April nanti) dan juga ada yang mau ke Lombok di bulan Mei.

Seru, seru, seru…tim ini bikin saya serasa nemu ‘pembenaran’ untuk selalu jalan-jalan, hehehe…

Jadi dari cerita ini ya gak heranlah ya kalau lutut saya biru-biru dan kulit gosong segosong-gosongnya. *alasan*

Deva


46 Comments

Jogja Aku Datang!

Yak, datang ke Jogja dengan semangat 45 dan kembali ke Jakarta dengan lutut yang lebam, badan yang pegal, gatal-gatal di sekujur tubuh tapi rasanya senang banget dech :) .

Rabu 7.00 malam

Janjian yang gagal segagalnya di stasiun kebayoran lama dengan Saad. Kenapa gagal? Percuma ngejar waktu dari kantor ke stasiun kereta api kebayoran lama demi janjian sama Saad karena Saad lupa sendiri dengan janjinya. Jadi ceritanya begini:

Watsup dari Saad: Dep, ntar janjian di gerbong paling terakhir ya.

Saya: Hah? Maksudnya?

Saad: Janjian langsung di kereta ke tanah abang.

Saya: What? Gw belum pernah naik kereta sendirian. Gimana caranya?

Saad: Yawda pokoknya ntar gw di gerbong paling terakhir. Deket loket. Lo tunggu di sana.

Setelah menunggu 30 menit, kereta api jurusan Tanah Abang datang tapi Saad gak ada di gerbong terakhir. Kereta api lewat begitu aja.

Saad: Dep, lo di mana?

Saya: Di stasiunlah. Lo?

Saad: KOK GAK NAIK?

Saya: LO GAK ADA DI GERBONG, CUMI.

Saad: ASTAGA! GW LUPA! Gw malah di gerbong paling depan, Dep.

Toeng!!!

Saad: Terus gimana dong?

Saya: Yawda gw naik ojeg ke Tanah Abang.

Saad: Keburu? 30 menit lagi ke Jogja! Yawda lo balikin tiket aja biar uang lo diganti.

Saya: KELAMAAN! GW CARI OJEG SEKARANG!

Yawda akhirnya naik ojeg ke Tanah Abang, ngebut sengebut-ngebutnya. Dan diberikan pertanyaan paling absurd malam itu.

Tukang ojeg: Mbak, orang Islam bukan?

(ooo…mungkin udah malem, matanya ndak liat saya pakai kerudung)

Saya: Iya.

Tukang ojeg: Bisa shalawat Mbak?

Saya: mmm…kenapa ya?

Tukang ojeg: Baca shalawat mbak sekarang. Kita ngebut banget ini.

Saya pengen ngakak tapi ditahan. Turun di terminal, tukang ojeg pun minta ditambah 10.000 karena dia bilang dia takut banget tadi naik motornya. Ada-ada aja…

Pokoknya adegan malam itu udah kayak Cinta ngejar Rangga di AADC dech. Bedanya ya…beda bangetlah!

Mijon mijon...teh manis...sirop...

Kamis 05.30 pagi

Stasiun Lempunyangan, Jogja. Wohooo….Jogja!!!

Stasiun Lempuyangan

Jangan tanya apakah saya dan Saad punya tujuan seharian kemarin. Jawabannya adalah kami tidak punya rencana. Jadi ya bawa ransel dan sleeping bag keliling kota Jogja, baru sore-lah ketemu teman SMU di sana dan malam ke Magelang ke tempat saudaranya Saad.

Jalan kaki cari sarapan di Malioboro. Dan jarak Stasiun Lempuyangan ke Malioboro kok ya jauh ya…

Ketemu 2 ibu-ibu lagi jalan pagi.

Ibu 1: Mau ke mana Mbak?

Saya: Ke Malioboro bu.

Ibu 2: Berduaan aja? Dari mana?

Saya: Jakarta bu…

Akhirnya ibu-ibu itu malah ngobrol sendiri hehehe…sedikit saya dengar “Anak muda sekarang hobinya jalan-jalan mulu…” Bwhahaha…

Sepanjang jalan Malioboro para tukang becak menawari jasa ke kami berdua untuk keliling Jogja. Tarifnya murah sich Cuma Rp 5.000 tapi ya kami perlu sarapan dulu. Dan inilah sarapan pertama di kota Jogja. Nasi kucing. Dua ribu kenyang, sodara-sodara!

Ukuran nasinya kecil tapi bisa buat kenyang...

Eh, belakang dikasih tahu kalau 2000 itu mahal karena katanya harga nasi kucing cuma 1000. Oala….

Setelah sarapan…yuk mari naik becak…

Kita sebenarnya ingin masuk ke Keraton tapi karena masih jam 8 kurang jadi masih tutup. Akhirnya kita ngapain??? BELANJA AJA GITU KAN!!!

Lumayan kalap sich…

Saad: Dep, kita mau naik gunung lho…

Saya: Iya ya…mmm…tanggung dech biar gak repot mampir-mampir lagi…

Eaaa…ada aja alasannya ya :P

Udah jadi rahasia umum sich kalau tukang ojeg yang anterin penumpang ke tempat belanja, pasti dikasih uang oleh pedagangnya jadi tarif becak mereka bisa murah. Bagi-bagi rejekilah…

Setelah belanja, sekarang lanjut ke Karaton.

Lantainya sudah berumur 200 tahun dan keramiknya 120 tahun (semoga ndak salah ingat) :D

Lanjut dari Keraton, saya dan Saad lanjut ke Museum Kareta. Yuk mariii…

Keretanya gede banget banget bahkan rodanya lebih tinggi daripada badan saya :|

Lanjut ke Masjid Agung (am I right?). Jalan kaki aja…deket euy. Dan menemukan sekolah Muhammadiyah di depan masjid tersebut.

Destinasi selanjutnya adalah Museum Vredeburg :)


Isi museum ini cuma 1 ruangan yang kayaknya berfungsi sebagai museum beneran. Selebihnya taman aja dan kamar mandinya bagus euy. Lebih cocok mungkin ini disebut benteng kali ya…*sok tau*

Pemandangan dari atas museum ini bagus dech. Nich fotonya:

Bwhahaha…tulisan kali ini banyak banget fotonya. Baru nyadar. Well, disingkat dech…abis keliling museum terus saya dan Saad meluncur ke UGM untuk ketemu teman SMU kita, namanya Fawaz. Dia sich udah lulus sebenarnya tapi memang masih sering di Jogja tepatnya di Mapala Satubumi UGM demi mengurus surat-surat untuk S-2 nya di ITB. *lap keringet*

Reuni SMU :)

Oh ya cerita sedikit tentang Fawaz. Dia ini bisa dibilang mentor saya untuk pelajaran Fisika. Itu ya yang namanya pelajaran titik berat susah banget! Saya cuma sekali cetak sejarah dapat nilai Fisika 10, selebihnya? Beuh jangan ditanya. Nah, tiap mau ujian Fisika (maap gak bisa nahan ketawa tapi waktu SMU saya tiap hari ujian Fisika. TIAP HARI!) Fawaz ini mau aja datang ke sekolah jam 6 buat ajarin saya Fisika. Mau tau jurusan dia apa? Teknik nuklir! Gila…ada aja orang yang mau masuk jurusan itu ya…*siap ditabok ama Fawaz pake buku Fisika* :P

Setelah ketemuan sama Fawaz, saya dan Saad menuju Magelang. Nama kotanya Grabag. Cerita selanjutnya ntar lagi yak. :D

Deva

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers