Seringkah kamu membayangkan berdiri di tengah hamparan sawah yang hijau, dengan bau yang sangat wangi dan langit biru yang luas?

Hamparan sawah yang tidak segan menyapa kita (Ibah, Bali)

Ya, saat ini bayangan itu menyeruak di benak saya.

Saya tidak pernah menolak untuk mencium bau tanah yang basah dan menghiraukan kotornya sepatu jika menginjak tanah tersebut. Ketika menengadahkan kepala ke atas, langit biru terbentang begitu saja, tanpa perlu kita memohonnya.

I want to go back there again and again!

Atau melihat birunya laut dan ganggang hijau di kedalaman lautnya? Mendengar suara laut saat kapal berjalan?

Sebuah titik dalam perjalanan menuju Desa Nangalili, Labuan Bajo-NTT

Alih-alih melihat pemandangan tersebut, jalanan Jakarta justru yang menjadi pemandangan saya saat ini, suara bisingnya hanya terbatasi oleh kaca-kaca besar.

Deva

Baru Sekedar Rencana, Sudah Senang…

Yup, senang luar biasa ketika ada rencana bahwa kakak saya yang sudah 2 tahun tidak pulang dan berkumpul dengan keluarga di Jakarta, akan segera ke Jakarta, bulan Juli tahun ini. Masih lama. Tapi banyak persiapan yang harus dilakukan. Pertama, ijinkan saya berteriak huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….seneng banget!

Jarak yang terpisah antara Jakarta dan Amerika tidaklah dekat dan tidaklah murah. Hal itulah yang membuat kakak tidak mudah untuk sering bolak-balik Indonesia-Amerika. Terakhir kami bertemu adalah saat wisuda saya. Yup, kakak, suami dan anaknya bela-belain datang ke Indonesia hanya untuk menghadiri wisuda saya. Huaaa…saya sok merendah. Saya masih ingat ketika 1 bulan sebelum saya diwisuda, kakak menelepon saya, “Gimana kuliah?”

Saya: “Bulan November, Deva wisuda kak dan hehehe…Deva jadi wisuda terbaik di fakultas.”

Kakak: “Oya????????”

Saya: “Yup. Bisa gak ya kakak datang? Hehehe…tapi kalo gak bisa juga gak apa-apa.”

Kakak: “Oke, gw akan ngobrol sama Ed.”

Dannnnn…eng-i-eng, mereka datang aja gitu ke Jakarta! Dan saya belum beli undangan lebih acara wisuda saya untuk kakak. Akhirnya subuh, saat saya sedang didandani oleh ke-3 kakak saya + mama, saya telepon Wakil Dekan saya untuk memohon ijin kakak saya bisa masuk ke upacara wisuda saya. Akhirnya, yes, bisa! Gak percuma, kenal dengan Wakil Dekan yang setiap bulan saya todong dananya untuk acara himpunan kampus :P

Bahagia membuncah ketika itu dan berbanding terbalik rasanya ketika harus mengantarkan kakak dan keluarganya kembali ke airport setelah 1 bulan ada di Indonesia.

Nangis bertubi-tubi. Yes, I was.

Tapi rasa rindu bisa sedikit terbalaskan dengan skype, telepon, sms, facebook, dan email. Twitter? Nope, kakak saya tidak punya account twitter.

Mengenai rencana liburan kakak dan keluarganya di sini memang sudah terdengar lama, sejak akhir tahun lalu. Bulan Juli, katanya. Tapi masih belum pasti karena suami kakak saya ada tugas di negara lain yang masih belum tahu kapan bisa cuti. Dan, akhirnya kepastian itu didapatkan oleh saya semalam. Saat signal skype sangat menyebalkan, dan hubungan beralih via telepon, kakak saya menjelaskan, “Dev, kayanya kemungkinan besar gw jadi pulang bulan Juli.”

Lagi, ijinkan saya teriak, huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….

Langsunglah, pembicaraan berlanjut ke rencana dimana akan tinggal (berhubung kamar tidak ada yang kosong, harus dipikirkan untuk mencari 2 kamar lain, hahahaha…begimane carenye), planning untuk pulang kampung se-keluarga (ke Solok, Padang) dan planning untuk ke Bali (masih belum fix, karena saya menggoda, membujuk dan hingga ke titik memaksa untuk ke Labuan Bajo, hahaha…misi pribadi sich karena sudah rindu dengan NTT. Seandainya saya bisa membujuk kakak ke Kupang, maka akan saya lakukan. Tapi ya…Labuan Bajo aja dech). Bicara selama 45 menit menyisakan semangat yang luar biasa. Menyisakan rencana berlibur satu keluarga besar. Wow, hanya untuk informasi, keluarga saya berisi: mama, papa, kakak, suami kakak, 3 orang anaknya, uni dan 2 orang anaknya, abang, istri abang, 2 orang anaknya, dan saya = 15 orang. Papa ada rencana pula kalau pulang kampung, berhubung kami belum pernah pulang kampung satu keluarga, akan diadakan sebuah upacara adat. Yup, ini merupakan sebuah dampak dari nama mama dan papa di kampung. Jadi…saya tidak terbayangkan bagaimana bahagianya saya, apalagi mama dan papa, jika semua rencana ini bisa terlaksana. Tambahan planning, uni bilang “Ke Jogja aja daripada ke Bali.” Hahahha….saya bingung. Udah dech kemana aja yang penting rame-rame!!!

Baru sekedar rencana, saya sudah senang banget…apalagi kalau beneran! Sabar ah nunggu Juli :)

Deva

Wisata Ke Batu Cermin, Manggarai Barat, NTT

Batu cermin terletak di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Juli 2010, saya mendapat kesempatan ke tempat wisata ini. Seru…serasa bocah petualang. Di luar panas, eh pas sudah sampai di dalam gua, dinginnya. Banyak kelelewar, gelap, cacing, kaki seribu, dan licin. Indah. Murah kok biaya masuknya. Hanya Rp 5,000 (include senter). Yuk, ke sana :)

Ini dia "Batu Cermin"
Di pintu masuk Batu Cermin
Heading to the inside
Sooo, here we are :)

Saat sudah di dalam, terus melihat ke sekeliling, saya benar-benar tidak percaya bahwa saya ada di Batu Cermin. Kalo sebelumnya saya tahu Batu Cermin seperti apa, mungkin tidak mau ke sana, keburu takut. Tapi ternyata, tempat ini membuat kangen euy. Kangen pengen berasa hero, berasa pemberani, berasa jagoan. Seru! :)

Deva, yang sudah kangen banget ke NTT, Jan 20,2011

Tahun Lalu di Taman Nasional Komodo, Pulau Rinca

Saya tidak pernah membayangkan untuk dapat pergi ke Labuan Bajo, NTT. Sebuah daerah yang baru pertama kalinya saya dengar saat mendapat tugas penelitian dari kantor. Waktu itu, tugas penelitian sedang senggang dan waktu luang ini saya gunakan untuk pergi ke Taman Nasional Komodo bersama teman-teman kantor yang berjumlah 5 orang. Semua bersemangat untuk ke Pulau Komodo, apalagi saat itu promosi komodo untuk menjadi salah satu keajaiban dunia. Tapi karena ombak dan angin sedang kencang, akhirnya kami diberi saran untuk ke Pulau Rinca saja, supaya lebih aman.

Akhirnya kami menyewa kapal untuk menuju ke Pulau Rinca. Ongkosnya sebesar Rp400,000/kapal. Menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit, kami pun sampai di Pulau Rinca.

Ini kapal kami

Setibanya di Pulau Rinca, saya merasa sungguh bersemangat! Dan oalah entah mata teman saya yang salah atau bagaimana, yang pasti kami melihat seorang turis asing berkulit coklat sedang berjemur di atas kapal mirip banget Salma Hayek. Beneran!

Welcome to Loh Buaya :)

Setelah membeli tiket dengan harga Rp75.000/orang kami pun menunggu Ranger (petugas Taman Nasional Komodo) datang untuk menjemput kami. Tapi kami harus lebih ekstra berhati-hati karena seorang teman perempuan saya sedang PMS, sedangkan komodo itu sangat peka dengan bau darah. Jadi solusinya, Ranger akan mengawasi teman perempuan saya dengan lebih ketat.

Peraturan tertulis disini...
Welcome to Komodo National Park :)

 

 

 

 

 

 

 

 

Dan inilah pemandangan di Taman Nasional Komodo…

Seramnya...
Inilah bintang utamanya :)
Ooops...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Inilah ranger-nya, jagoan :)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini lubang penyimpanan telur komodo

 

 

 

 

 

Beberapa hari sebelumnya, kami ke sini :)

Setelah berkeliling Taman Nasional Komodo, akhirnya kami pun pulang dan kembali ke penginapan.

Ups…juga ada ini lho…

Nah kalo ini bandar udara Labuan Bajo, NTT

Jadi, apakah kalian sudah berencana untuk bertemu dengan komodo tahun depan???

Deva, yang berharap tahun depan bisa kembali ke NTT, Dec 27, 2010

 

 

 


Sepenggal Cerita dari Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo, NTT

15 Januari 2010 11.04 WITA

Di bandara. Menunggu pesawat yang terlambat untuk menjemput kami ke Kupang.
Menunggu dan menunggu merupakan pekerjaan yang paling berat untuk dilakukan.
Sebentar lagi kami akan meninggalkan Labuan Bajo, Flores, NTT.
Menjadi teringat tentang sepenggal cerita tentang daerah ini.
Sebuah daerah yang penuh dengan turis luar negeri tetapi langka akan informasi pariwisata.
Sebuah daerah yang masih perlu untuk mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat.
Sebuah daerah dimana masyarakatnya meletakkan perhatian ke Indonesia di urutan kesekian, setelah semua kebutuhan dasar mereka terpenuhi, mungkin.
Sebuah daerah yang belum secara maksimal kualitas SDA-nya.
Disini kami telah menghabiskan waktu selama 11 hari, sejak tanggal 5 Januari 2010.
Merupakan sebuah keberuntungan yang teramat sangat untukku yang bisa berangkat ke daerah ini, sebuah daerah yang tidak pernah aku tahu sebelumnya.

Labuan Bajo.

Datang ke desa Labuan Bajo – Desa Gorontalo dan Desa Nanga Lili – Pulau Rinca – Pulau Seraya (masih satu wilayah dengan Labuan Bajo).
Bertemu dengan masyarakat nelayannya. Melihat gaya hidup, cara berpikir dan impian mereka.
Ironis, mereka tidak mempunyai mimpi.
Mempunyai kapal dengan motor, mempunyai perlengkapan menangkap yang lebih modern, mempunyai modal untuk menangkap adalah “impian” mereka. Mereka meyakini bahwa dengan memiliki itu semua maka mereka akan mendapatkan apa saja yang mereka inginkan.
Saat aku bertanya, “Sebagai warga desa ini, menurut anda apa masalah yang paling penting untuk diatasi di desa ini?”.
Mereka terdiam dan tersenyum penuh dengan guratan di dahi.
Aku bertanya lagi, “Antara pendidikan, kesehatan dan pendapatan masyarakat mana yang paling ingin diperbaiki oleh anda?”
Mereka terdiam dan menjawab dengan terbata-bata, “Pendapatan kami sangat kurang Mbak disini. Sungguh kurang. Kami tidak bisa mendapatkan apa yang kami inginkan karena kami tidak mempunyai uang untuk itu semua”.
Aku hanya bisa terdiam dan tersenyum.
Pahit rasanya mendengar itu semua. Sedih dan sungguh terenyuh menyaksikan mata mereka saat bercerita berkaca-kaca. Melihat mereka berusaha tersenyum dan tenang sambil menghisap rokok.
Aku berkata, “Setiap orang ingin kehidupan yang lebih baik Pak/ Bu. Itu hal yang wajar. Semoga kita bisa mengubah hidup kita lebih baik lagi”.
Aku terdiam karena aku tidak tahu apa lagi yang bisa aku katakan. Sedih sudah terlanjur menguasai diriku. Aku tidak bisa dan tidak boleh memperlihatkan kepada mereka bahwa aku sedih.
Saat aku terdiam mereka terus bercerita tentang kehidupan mereka. Cerita tentang biaya sekolah anak yang sungguh mahal untuk mereka, tentang cita-cita mereka agar anak mereka dapat menjadi “orang”, tentang angin musim barat yang memaksa mereka tinggal di rumah karena mereka tidak mungkin melaut dengan keadaan alam seperti ini, memaksa mereka tidak mempunyai penghasilan untuk sementara hingga alam bersahabat kembali dengan mereka.
Tentang perlengkapan menangkap mereka yang kalah modern dibandingkan nelayan di tempat lain, tentang kehidupan mereka yang stagnan tiada perubahan, tentang harga ikan yang murah, dan tentang apapun.

Tiba saatnya aku pamit.

Tapi aku tidak diijinkan pergi begitu saja. Karena bagi sebagian masyarakat disana, kami harus makan di rumah mereka sekalipun lauk pauk mereka tidak banyak.
Kami menolak, bukan karena kami tidak sopan tapi karena kami tidak ingin merepotkan mereka. Apalagi dengan kondisi mereka yang sedang tidak melaut.
Tetapi mereka memaksa.
Kami makan dengan enak sekali. Ditemani senyuman dari tuan rumah. Mereka mengatakan bahwa mereka sudah makan. Tapi kapan mereka makan jika sedari tadi kami mengobrol dengan mereka.
Sungguh ya Tuhan…dada ini sesak sekali.
Mereka sengaja tidak makan terlebih dulu karena ingin memastikan bahwa kami makan enak dan mereka baru akan makan setelah kami pergi, dengan lauk “sisa”.
Tidak lama setelah kami selesai makan, kami pamit pulang.

Tiba saatnya kami bersalaman dengan mereka.
Dengan tangan seorang ibu yang kasar. Berpelukan dengan tubuh yang kecil. Bertukar senyum dengan mata yang berkaca-kaca. Para ibu kebanyakan berkata, “Kapan-kapan main lagi kesini yach Nak. Anak saya ada di Jakarta. Kami sudah lama tidak berjumpa. Ibu kangen dengan dia.”
Sungguh menyedihkan.
Kami pun berjabat tangan dengan ayah. Dengan tangan yang kasar yang sedari kecil sudah menguasai laut, menaiki sampan dan menggunakan jala. Tangan yang kasar dimana ditangannya ada sebuah kewajiban terbebani.
Bapak itu tersenyum dan memamerkan giginya yang sudah tidak rata dan tidak bersih karena rokok sudah lama beradaptasi dengan mulutnya, karang gigipun sudah tidak bisa disembunyikan.
Terselip doa dari bibirnya, “Semoga kalian sukses dan selalu sehat”.
Kami hanya bisa bertukar doa saja.

Berdoa semoga mereka bisa bertahan dengan segala kondisi.
Berdoa semoga “impian” mereka tercapai.
Berdoa semoga suatu saat mereka akan dengan bangga mengatakan “saya adalah nelayan”. Mengatakannya dengan lantang, jauh lebih lantang daripada yang biasa kami temui saat kami bertanya pekerjaan mereka.
Mereka menjawab dengan muka tertunduk dan suara yang sangat pelan, “Nelayan aja Mbak”.

Aku pun pulang dari rumah itu dengan dada yang sesak, dengan pikiran yang kusut dan dengan pertanyaan besar, “Apa yang dapat aku lakukan untuk membantu mereka?”.

Hah…kembali teringat dengan kunjunganku ke salah seorang rumah dimana ada seorang anak yang sakit paru-paru basah tidak bisa berobat. Orangtuanya tidak sanggup membawanya ke RS di Ruteng, NTT karena tidak ada ongkos untuk kesana. Mereka sudah mempunyai kartu Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakatan), memang. Tapi apa daya mereka tidak bisa mempergunakannya karena Puskesmas di Labuan Bajo merujuk mereka ke RS Ruteng untuk dirontgen.

Kedua orangtua anak itu berkata pelan sekali padaku, bercerita padaku bahwa anak mereka berusia 14 tahun tapi sejak kelas 3 sudah tidak bersekolah karena sakit paru-paru basah tersebut.
Lagi dan lagi aku hanya bisa tersenyum pahit. Pahit dan merasa tiada berdaya untuk membantu mereka yang jelas-jelas ada di depan mataku.

Aku pun pulang dan berdiskusi dengan ketua tim ku yang seorang dokter dan peneliti. Aku bercerita kepadanya tentang nasib anak tadi. Temanku hanya berkata, “Saya sering penelitian tentang kesehatan masyarakat. Masalah yang sering ditemui adalah ketiadaan akses kesehatan yang memadai di wilayah desa. Mereka harus ke kota untuk bisa memeriksakan kesehatan mereka secara maksimal. Solusi satu-satunya adalah mengubah sistem. Bukan hanya sekedar bantuan yang ala kadarnya”.

Saya hanya terdiam dan berpikir bahwa sistem adalah sesuatu yang sulit untuk diubah di negara ini.

Hah…
Inilah Indonesia-ku.
Masih banyak PR untuk masyarakat Indonesia-ku.

-Deva-

Sepenggal Cerita dari Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo, NTT

15 Januari 2010 11.04 WITA

Di bandara. Menunggu pesawat yang terlambat untuk menjemput kami ke Kupang.
Menunggu dan menunggu merupakan pekerjaan yang paling berat untuk dilakukan.
Sebentar lagi kami akan meninggalkan Labuan Bajo, Flores, NTT.
Menjadi teringat tentang sepenggal cerita tentang daerah ini.
Sebuah daerah yang penuh dengan turis luar negeri tetapi langka akan informasi pariwisata.
Sebuah daerah yang masih perlu untuk mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat.
Sebuah daerah dimana masyarakatnya meletakkan perhatian ke Indonesia di urutan kesekian, setelah semua kebutuhan dasar mereka terpenuhi, mungkin.
Sebuah daerah yang belum secara maksimal kualitas SDA-nya.
Disini kami telah menghabiskan waktu selama 11 hari, sejak tanggal 5 Januari 2010.
Merupakan sebuah keberuntungan yang teramat sangat untukku yang bisa berangkat ke daerah ini, sebuah daerah yang tidak pernah aku tahu sebelumnya.

Labuan Bajo.

Datang ke desa Labuan Bajo – Desa Gorontalo dan Desa Nanga Lili – Pulau Rinca – Pulau Seraya (masih satu wilayah dengan Labuan Bajo).
Bertemu dengan masyarakat nelayannya. Melihat gaya hidup, cara berpikir dan impian mereka.
Ironis, mereka tidak mempunyai mimpi.
Mempunyai kapal dengan motor, mempunyai perlengkapan menangkap yang lebih modern, mempunyai modal untuk menangkap adalah “impian” mereka. Mereka meyakini bahwa dengan memiliki itu semua maka mereka akan mendapatkan apa saja yang mereka inginkan.
Saat aku bertanya, “Sebagai warga desa ini, menurut anda apa masalah yang paling penting untuk diatasi di desa ini?”.
Mereka terdiam dan tersenyum penuh dengan guratan di dahi.
Aku bertanya lagi, “Antara pendidikan, kesehatan dan pendapatan masyarakat mana yang paling ingin diperbaiki oleh anda?”
Mereka terdiam dan menjawab dengan terbata-bata, “Pendapatan kami sangat kurang Mbak disini. Sungguh kurang. Kami tidak bisa mendapatkan apa yang kami inginkan karena kami tidak mempunyai uang untuk itu semua”.
Aku hanya bisa terdiam dan tersenyum.
Pahit rasanya mendengar itu semua. Sedih dan sungguh terenyuh menyaksikan mata mereka saat bercerita berkaca-kaca. Melihat mereka berusaha tersenyum dan tenang sambil menghisap rokok.
Aku berkata, “Setiap orang ingin kehidupan yang lebih baik Pak/ Bu. Itu hal yang wajar. Semoga kita bisa mengubah hidup kita lebih baik lagi”.
Aku terdiam karena aku tidak tahu apa lagi yang bisa aku katakan. Sedih sudah terlanjur menguasai diriku. Aku tidak bisa dan tidak boleh memperlihatkan kepada mereka bahwa aku sedih.
Saat aku terdiam mereka terus bercerita tentang kehidupan mereka. Cerita tentang biaya sekolah anak yang sungguh mahal untuk mereka, tentang cita-cita mereka agar anak mereka dapat menjadi “orang”, tentang angin musim barat yang memaksa mereka tinggal di rumah karena mereka tidak mungkin melaut dengan keadaan alam seperti ini, memaksa mereka tidak mempunyai penghasilan untuk sementara hingga alam bersahabat kembali dengan mereka.
Tentang perlengkapan menangkap mereka yang kalah modern dibandingkan nelayan di tempat lain, tentang kehidupan mereka yang stagnan tiada perubahan, tentang harga ikan yang murah, dan tentang apapun.

Tiba saatnya aku pamit.

Tapi aku tidak diijinkan pergi begitu saja. Karena bagi sebagian masyarakat disana, kami harus makan di rumah mereka sekalipun lauk pauk mereka tidak banyak.
Kami menolak, bukan karena kami tidak sopan tapi karena kami tidak ingin merepotkan mereka. Apalagi dengan kondisi mereka yang sedang tidak melaut.
Tetapi mereka memaksa.
Kami makan dengan enak sekali. Ditemani senyuman dari tuan rumah. Mereka mengatakan bahwa mereka sudah makan. Tapi kapan mereka makan jika sedari tadi kami mengobrol dengan mereka.
Sungguh ya Tuhan…dada ini sesak sekali.
Mereka sengaja tidak makan terlebih dulu karena ingin memastikan bahwa kami makan enak dan mereka baru akan makan setelah kami pergi, dengan lauk “sisa”.
Tidak lama setelah kami selesai makan, kami pamit pulang.

Tiba saatnya kami bersalaman dengan mereka.
Dengan tangan seorang ibu yang kasar. Berpelukan dengan tubuh yang kecil. Bertukar senyum dengan mata yang berkaca-kaca. Para ibu kebanyakan berkata, “Kapan-kapan main lagi kesini yach Nak. Anak saya ada di Jakarta. Kami sudah lama tidak berjumpa. Ibu kangen dengan dia.”
Sungguh menyedihkan.
Kami pun berjabat tangan dengan ayah. Dengan tangan yang kasar yang sedari kecil sudah menguasai laut, menaiki sampan dan menggunakan jala. Tangan yang kasar dimana ditangannya ada sebuah kewajiban terbebani.
Bapak itu tersenyum dan memamerkan giginya yang sudah tidak rata dan tidak bersih karena rokok sudah lama beradaptasi dengan mulutnya, karang gigipun sudah tidak bisa disembunyikan.
Terselip doa dari bibirnya, “Semoga kalian sukses dan selalu sehat”.
Kami hanya bisa bertukar doa saja.

Berdoa semoga mereka bisa bertahan dengan segala kondisi.
Berdoa semoga “impian” mereka tercapai.
Berdoa semoga suatu saat mereka akan dengan bangga mengatakan “saya adalah nelayan”. Mengatakannya dengan lantang, jauh lebih lantang daripada yang biasa kami temui saat kami bertanya pekerjaan mereka.
Mereka menjawab dengan muka tertunduk dan suara yang sangat pelan, “Nelayan aja Mbak”.

Aku pun pulang dari rumah itu dengan dada yang sesak, dengan pikiran yang kusut dan dengan pertanyaan besar, “Apa yang dapat aku lakukan untuk membantu mereka?”.

Hah…kembali teringat dengan kunjunganku ke salah seorang rumah dimana ada seorang anak yang sakit paru-paru basah tidak bisa berobat. Orangtuanya tidak sanggup membawanya ke RS di Ruteng, NTT karena tidak ada ongkos untuk kesana. Mereka sudah mempunyai kartu Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakatan), memang. Tapi apa daya mereka tidak bisa mempergunakannya karena Puskesmas di Labuan Bajo merujuk mereka ke RS Ruteng untuk dirontgen.

Kedua orangtua anak itu berkata pelan sekali padaku, bercerita padaku bahwa anak mereka berusia 14 tahun tapi sejak kelas 3 sudah tidak bersekolah karena sakit paru-paru basah tersebut.
Lagi dan lagi aku hanya bisa tersenyum pahit. Pahit dan merasa tiada berdaya untuk membantu mereka yang jelas-jelas ada di depan mataku.

Aku pun pulang dan berdiskusi dengan ketua tim ku yang seorang dokter dan peneliti. Aku bercerita kepadanya tentang nasib anak tadi. Temanku hanya berkata, “Saya sering penelitian tentang kesehatan masyarakat. Masalah yang sering ditemui adalah ketiadaan akses kesehatan yang memadai di wilayah desa. Mereka harus ke kota untuk bisa memeriksakan kesehatan mereka secara maksimal. Solusi satu-satunya adalah mengubah sistem. Bukan hanya sekedar bantuan yang ala kadarnya”.

Saya hanya terdiam dan berpikir bahwa sistem adalah sesuatu yang sulit untuk diubah di negara ini.

Hah…
Inilah Indonesia-ku.
Masih banyak PR untuk masyarakat Indonesia-ku.

-Deva-