Hahaa…beneran, judulnya itu harfiah banget.
Beberapa kali saya pernah ngobrol dengan teman tentang hubungan jarak jauh (long distance relationship), membayangkan harus berhubungan hanya via telepon, email, skype, facetime, atau kecanggihan teknologi lainnya.
Saya dan teman saya ini sama-sama mengambil kesimpulan: LDR is SUCK!
Saya pernah menjalani hubungan jarak jauh, memang sich belum sampai beda negara apalagi benua, masih di Indonesia tercinta ini, tapi rasanya itu berat banget. Bertemu seminggu sekali. Belum lagi, jika ternyata harus ada janji lain di akhir pekan sehingga tidak bisa bertemu. Saya pernah bilang itu seperti laporan rekapitulasi saham!
“Senin begini, Selasa begitu, Rabu, Kamis, bla ble blo…”
Rasanya ya…gak seru!
Itu saya ya.
Nah, ada lagi teman saya yang LDR-an selama 3 tahun dan beda benua. Masalah yang ditemui ya pasti banyak banget. Tapi hebatnya, mereka masih bertahan! Jempol!
Cerita yang berbeda juga datang dari teman saya yang LDR-an. Lagi, beda benua. Hubungan lancar-lancar saja. Bahkan sebentar lagi mereka akan menikah.
Saya sering bertanya ke teman saya yang mau menikah ini, perempuan. Sedangkan laki-lakinya di London.
Saya: Gak stress susah ketemu?
X: Ya, gak lah. Dibawa santai aja. Kalau jodoh juga gak kemana, Dep.
Gampang banget ya! Hahaha..saya sich udah pasti uring-uringan.
Saya bukan tipikal orang yang mewajibkan diri untuk bertemu setiap hari dengan pasangannya. Tapi paling tidak bisa berkomunikasi via teleponlah ya…
Nah, yang paling malas itu kalau signal telepon nihil.
Indonesia di tahun 2012 masih aja susah signal. Beneran!
Contoh sederhana dech, akhir pekan kemarin Hendra kemah (dia memang gila naik gunung) di daerah Halimun, Sukabumi. Dimanakah Sukabumi itu? Jawa Barat? Apakah ada signal? Gak ada!
Dan dapat dipastikan betapa kesalnya saya sama jaringan telepon di sini!
Itu baru di Sukabumi. Dan kenyataannya, ya banyak daerah di Indonesia yang susah signal.
Gonta-ganti kartu provider ya tidak membantu. Gerak dikit aja signal drop. Apalagi kalau internet! Berat!
Saya pernah bertanya sama Kakak saya yang juga menjalani hubungan jarak jauh setahun, ketika suaminya harus dinas di luar negeri.
Waktu itu saya melihat Kakak saya hanya mengirimkan pesan singkat via email. Cuma untuk mengabari dia sudah di rumah.
Saya: Kok via email?
Kakak: Susah signal Dev. Mendingan email ajalah.
Saya: Kok tahan kak ditinggal setahun?
Kakak: Yaela…cuma setahun. Lagian ntar juga balik.
Bwhahaha…terberkatilah orang-orang yang sabar menjalani hubungan jarak jauh.
Nah, kalau lagi ada yang LDR-an, tips dari Om Arman tentang LDR guna tuch buat dibaca.
Katanya sich kunci berhubungan itu komunikasi, kepercayaan, dan komitmen.
Nah,kalau untuk LDR, saya rasa tiga kunci tersebut harus dilipat gandakan lho. Ya gak sich?
*terus selesai nulis ini mendadak ketakutan kalau suatu saat benar-benar harus menjalani hubungan jarak jauh…*
Well, kalau itu terjadi, tampaknya harus BERADAPTASI dech ya…*deg-deg-deg-deg-deg-an*
Deva
