Dengan segala kedangkalan pemahaman saya tentang Islam, saya tetap bangga mengatakan bahwa saya Muslim.
Dibesarkan di lingkungan yang mayoritas beragama Islam tapi tetap menerima perbedaan.
Islam di mata saya adalah agama yang damai.
Sedamai ketika kakak ipar saya yang berbeda agama disambut di keluarga saya.
Sedamai ketika ia mengatakan ingin pindah agama ke Islam, tanpa sekalipun ada paksaan.
Sedamai ketika teman saya yang berbeda agama dengan saya mengingatkan saya untuk beribadah dan menyediakan tempatnya untuk kami beribadah secara jamaah.
Sedamai ketika teman saya yang berbeda agama memeluk saya sambil mengatakan selamat lebaran.
Sedamai itu pula ketika saya mengucapkan selamat hari raya agamanya, yang berbeda dengan saya.
Sedamai ketika saya datang ke daerah dengan mayoritas bukan Muslim.
Disambut hangat oleh mereka. Disajikan makanan istimewa, hanya karena mereka tahu saya tidak boleh mengkonsumsi anjing dan babi.
Sedamai perlakuan seorang teman yang meminta sopirnya untuk mau membantu saya mencarikan rumah makan yang halal di Tomohon, Manado. Dan sopir tersebut (Pak Bung) bersedia melakukannya padahal seharusnya ia makan, bukan repot membantu saya.
Sedamai ketika masyarakat di wilayah NTT repot-repot mengusir anjing di sekeliling saya karena tahu saya tidak boleh kena air liur mereka.
Sedamai ketika tidak semua anggota keluarga saya mempunyai pendapat yang sama tapi tetap saling menghargai.
Islam bukanlah agama yang mengajarkan kekerasan.
Menyadari bahwa memang ada perbedaan tapi tidak disatukan oleh kekerasan sebagai jalan premiumnya.
Saya mungkin bukan pemeluk agama Islam yang baik dan benar tapi paling tidak dengan segala keterbatasan saya, saya sungguh sadar bahwa Islam adalah agama yang damai.
Jika ada yang membawa nama Islam dengan cara kekerasan dan mudah mengatakan yang mana haram atau halal tanpa ada pertimbangan yang mendalam, saya akan mengatakan ‘mereka hanya bingung bagaimana cara mencintai sesuatu dengan seharusnya’
Tulisan ini merupakan ungkapan terdalam saya mengenai keresahan terhadap tindak tanduk organisasi masyarakat (ormas) yang mengatasnamakan agama Islam.
Ada sebuah kisah:
Seorang suami berkata kepada istrinya. ‘Kelak anak kita melakukan kesalahan, pukul-lah ia jika memang selama 2 kali diperingatkan ia tidak menurut. Jangan langsung memukul karena anak itu hanya akan mengingat pukulannya tanpa tahu alasan kita memarahinya’.
Ingin rasanya meluapkan dengan cara yang keras namun jika saya lakukan hal seperti itu maka tidak ada bedanya saya dengan mereka, yang menjadikan kekerasan sebagai alat utamanya dan melupakan makna moral itu sendiri.
Deva