Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


29 Comments

Jogja Aku Datang (Part 2)

Setelah seharian ngebolang di Jogja tanpa tujuan jelas, menjelang malam saya dan Saad meluncur ke Magelang ke rumah saudaranya Saad. Cukup 2 jam lah untuk sampai di Grabag, Magelang.

Keesokan paginya baru sadar kalo kota Grabag ini cantik. Ada gunung yang menyapa di dekat rumah tante Saad.

Pagi-pagi saya dan Saad menyelusuri pasar tradisional Grabag untuk mencari sarapan tapi tidak menemukannya. Pulang ke rumah eh udah disiapin sarapan. Enak pula! Gratis pastinya. :P

Rencananya setelah dari Grabag mau mampir ke rumah saudara Saad yang lain tapi karena tidak cukup waktu, kami pun memutuskan untuk kembali ke Jogja.

Saad: Lo kayak nemenin gw mudik Dep.

Saya: Iya…udahlah gak apa-apa. Gak ada rencana apa-apa selain nunggu rombongan Jakarta datang.

Ketika kembali ke Jogja, kami pun berburu bakpia. Lebih tepatnya sich saya yang kepengen banget. Nemu. Bungkus. Cari sedikit oleh-oleh lagi.

Saad: Dep, kita ke Lonji. Ketemu Rio di sana.

Rio ini rombongan dari Jogja yang mau berkemah bareng dengan kami. Tahukah kami harus menunggu berapa lama untuk ketemu Rio dan rombongan Jakarta plus Bandung? 4 jam sodara-sodara! Nunggu di mana? Nunggu di rumah makan padang deket halte TransJogja Lonji. Gila, cobaan!

Udahlah. Singkatnya, kami baru bisa berkumpul 1 tim penuh sekitar jam 6 sore.

Rombongan Jakarta menempuh perjalanan darat dengan mobil Elf selama 24 jam! Kasian banget. Katanya macet di mana-mana.

Setelah kenalan yang singkat (ternyata satu sama lain banyak yang baru berkenalan lho) kita langsung menuju Puncak Nglanggeran.

Di sini saya sudah mulai nervous. Karena gak kepikiran harus naik puncak di malam hari. Well, ini pengalaman pertama saya lho. Semua sudah siap dengan perlengkapannya. Dan kami pun naik gunung mmm…bukit deng.

Tim ini udah pengalaman banget naik turun gunung. Yang paling amatir mah saya. Buat mereka gak ada bedanya naik gunung di pagi, siang, sore atau malam hari. Saya? Beuh! Jatoh bangun! Serius. Baru nyadar pas di Jakarta kalau dengkul biru karena jatoh. :D

Untunglah satu sama lain saling membantu.

Dwi: Rio, ini tracknya kok parah ya? Batu semua? Lo bilang bukit biasa.

Gimana perasaan saya dengar itu? CEMAS! Bayangin aja orang yang biasa naik gunung bilang kalau tracknya bahaya.

Selama perjalanan ke atas, saya menyesal setengah mati untuk gabung di tim ini. Serius!

Tapi begitu sampai di pertengahan puncak saat kami mendirikan tenda…mmmm saya gak ikutin diriin deng…saya merasa cukup puas! Kaki? PEGEL setengah mati! Di antara semua orang, baju saya kali yang paling dekil.

Foto oleh Niko

Kami pun bermalam di pertengahan puncak dan itu sudah sekitar jam 11 malam.

Istirahat. Sambil ngobrol, masak, dan ngemil. Karena ingin berburu matahari terbit, akhirnya semua orang, kecuali Niko dan Hendra (mereka berburu bintang di malam hari) memilih untuk tidur.

Keesokan paginya semua terbangun. Kalau saya terbangun karena mendadak denger suara “Ngook…ngiik…ngook ngiik…” hahaha…di tenda sebelah ada yang ngorok! :P

Kejar matahari pagi. Dan ini pemandangannya.

Puncak setelah kabut menghilang

Fotografer perjalanan kali ini. Niko. Bawa 2 kamera, 6 baterai, tripod ntah berapa biji, dan memori 20 GB. NIAT!

Siap-siap turun bukit

Turunnya licin banget. Saya? Ngesot aja :P
(Foto: Syaf)

Ceritanya berani :P
(Foto: Syaf)

Go Erin!

Sisa-sisa perjuangan :D

Setelah puas jeprat-jepret, perjalanan dilanjutkan ke 2 area. Jadi tim kebagi 2. Ada yang caving di Jomblang dan saya serta beberapa teman memilih untuk selusur pantai Wonosari. Kayaknya sich ada 6 pantailah yang kita datangi. Nanti malam semua tim kumpul untuk tidur di pantai Siung.

Ini foto-fotonya.

Pantai Kukup

Pantai Kukup

Pantai Sepanjang

Seorang pencari rumput laut di Pantai Krakal

Seperti mulut hiu - Pantai Krakal

Photo session - Pantai Drini

Sekumpulan anak berlatih sepak bola di Pantai Drini

Pantai Indrayanti

Hari terakhir.

Kita bangun pagi lagi. Kejar waktu untuk ke Goa Pindung karena mau tubing. Selusurin goa. Berenang di sana. DAN SAYA TIDAK BISA BERENANG TAPI AKHIRNYA BERENANG JUGA. Loncat ke air dengan kedalaman 7 meter aja gitu kan! Insane! Pake pelampung sich :P

Sebelum mulai tubing di Goa Pindul
(Foto: Timbul)

Goa Pindul
(Foto: Timbul)

Duduk manis nunggu giliran lompat. Jangan tanya rasanya gimana!
(Foto: Timbul)

Abis itu kita kejar waktu lagi ke Air Terjun Sri Gethuk.

Dwi: Pokoknya main gak lama-lama. Kita kudu pulang ke Jakarta.

Air Terjun Sri Gethuk

Hahaha…planning semula pulang jam 12 akhirnya mundur jadi jam 4 aja gitu!

Soalnya gak ada yang mau main sebentar di air terjun yang cantik ini. Airnya segar banget. :)

Hasilnya? Satu mobil kebingungan! Karena semuanya harus masuk kerja.

Akhirnya ada yang ijin cuti, datang terlambat, gak bisa ikut meeting dan dimarahi bos. Lengkap. Saya? Masuk jam 12 dan dicemberutin dikitlah ama bos. Hehehe..

Dan diberi kejutan. Kejutan asem sebenarnya. Ah, udahlah gak mau bahas.

Sebelum pulang ke Jakarta, kita mampir dulu ke Malioboro untuk belanja-belanji, makan, dan istirahat sebentar lah karena sudah mau menjelang malam juga. Perlu isi perut.

Kita makan di angkringan Kopi Jos “Lek Man”. Nah di sini, saya mencoba kopi Joss yang katanya terkenal itu. Kopi hitam yang dikasih arang di dalamnya. Rasanya? Mmm…di lidah saya sich kayak kopi hitam biasa.

Kopi Joss

Anyway…semua lancar jaya. Semua senang. Kenal dengan orang-orang baru. Dan rencana trip bertaburan. Ada yang ngajakin mendaki gunung 2 M (Merapi dan Merbabu di bulan April nanti) dan juga ada yang mau ke Lombok di bulan Mei.

Seru, seru, seru…tim ini bikin saya serasa nemu ‘pembenaran’ untuk selalu jalan-jalan, hehehe…

Jadi dari cerita ini ya gak heranlah ya kalau lutut saya biru-biru dan kulit gosong segosong-gosongnya. *alasan*

Deva

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 171 other followers