Speechless. Just wanna kiss and hug my papa right now. Please watch this video.
Deva
by ladeva 8 Comments
Speechless. Just wanna kiss and hug my papa right now. Please watch this video.
Deva
by ladeva 6 Comments
Yup, senang luar biasa ketika ada rencana bahwa kakak saya yang sudah 2 tahun tidak pulang dan berkumpul dengan keluarga di Jakarta, akan segera ke Jakarta, bulan Juli tahun ini. Masih lama. Tapi banyak persiapan yang harus dilakukan. Pertama, ijinkan saya berteriak huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….seneng banget!
Jarak yang terpisah antara Jakarta dan Amerika tidaklah dekat dan tidaklah murah. Hal itulah yang membuat kakak tidak mudah untuk sering bolak-balik Indonesia-Amerika. Terakhir kami bertemu adalah saat wisuda saya. Yup, kakak, suami dan anaknya bela-belain datang ke Indonesia hanya untuk menghadiri wisuda saya. Huaaa…saya sok merendah. Saya masih ingat ketika 1 bulan sebelum saya diwisuda, kakak menelepon saya, “Gimana kuliah?”
Saya: “Bulan November, Deva wisuda kak dan hehehe…Deva jadi wisuda terbaik di fakultas.”
Kakak: “Oya????????”
Saya: “Yup. Bisa gak ya kakak datang? Hehehe…tapi kalo gak bisa juga gak apa-apa.”
Kakak: “Oke, gw akan ngobrol sama Ed.”
Dannnnn…eng-i-eng, mereka datang aja gitu ke Jakarta! Dan saya belum beli undangan lebih acara wisuda saya untuk kakak. Akhirnya subuh, saat saya sedang didandani oleh ke-3 kakak saya + mama, saya telepon Wakil Dekan saya untuk memohon ijin kakak saya bisa masuk ke upacara wisuda saya. Akhirnya, yes, bisa! Gak percuma, kenal dengan Wakil Dekan yang setiap bulan saya todong dananya untuk acara himpunan kampus
Bahagia membuncah ketika itu dan berbanding terbalik rasanya ketika harus mengantarkan kakak dan keluarganya kembali ke airport setelah 1 bulan ada di Indonesia.
Nangis bertubi-tubi. Yes, I was.
Tapi rasa rindu bisa sedikit terbalaskan dengan skype, telepon, sms, facebook, dan email. Twitter? Nope, kakak saya tidak punya account twitter.
Mengenai rencana liburan kakak dan keluarganya di sini memang sudah terdengar lama, sejak akhir tahun lalu. Bulan Juli, katanya. Tapi masih belum pasti karena suami kakak saya ada tugas di negara lain yang masih belum tahu kapan bisa cuti. Dan, akhirnya kepastian itu didapatkan oleh saya semalam. Saat signal skype sangat menyebalkan, dan hubungan beralih via telepon, kakak saya menjelaskan, “Dev, kayanya kemungkinan besar gw jadi pulang bulan Juli.”
Lagi, ijinkan saya teriak, huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….
Langsunglah, pembicaraan berlanjut ke rencana dimana akan tinggal (berhubung kamar tidak ada yang kosong, harus dipikirkan untuk mencari 2 kamar lain, hahahaha…begimane carenye), planning untuk pulang kampung se-keluarga (ke Solok, Padang) dan planning untuk ke Bali (masih belum fix, karena saya menggoda, membujuk dan hingga ke titik memaksa untuk ke Labuan Bajo, hahaha…misi pribadi sich karena sudah rindu dengan NTT. Seandainya saya bisa membujuk kakak ke Kupang, maka akan saya lakukan. Tapi ya…Labuan Bajo aja dech). Bicara selama 45 menit menyisakan semangat yang luar biasa. Menyisakan rencana berlibur satu keluarga besar. Wow, hanya untuk informasi, keluarga saya berisi: mama, papa, kakak, suami kakak, 3 orang anaknya, uni dan 2 orang anaknya, abang, istri abang, 2 orang anaknya, dan saya = 15 orang. Papa ada rencana pula kalau pulang kampung, berhubung kami belum pernah pulang kampung satu keluarga, akan diadakan sebuah upacara adat. Yup, ini merupakan sebuah dampak dari nama mama dan papa di kampung. Jadi…saya tidak terbayangkan bagaimana bahagianya saya, apalagi mama dan papa, jika semua rencana ini bisa terlaksana. Tambahan planning, uni bilang “Ke Jogja aja daripada ke Bali.” Hahahha….saya bingung. Udah dech kemana aja yang penting rame-rame!!!
Baru sekedar rencana, saya sudah senang banget…apalagi kalau beneran! Sabar ah nunggu Juli
Deva
Ah, menyenangkan bisa membuat sebuah momentum untuk mengatakan bahwa aku sayang dengan beliau. Perkataan yang tidak diungkapkan dengan kata tapi dengan sikap, dan saya yakin bahwa beliau menangkap maksud saya.
Berawal dari ulang tahun beliau di tanggal 10 Maret lalu. Saya menghadiahinya sebuah frame foto cover buku perdana saya. Rasanya seperti ada angin berhembus di punggung saya dan membuat saya ingin memeluk papa tapi niat itu saya urungkan. Malu, alasan saya.
Papa hanya singkat menjawab, “Makasih ya Nak.”
Dan frame itu terpajang di ruang tamu, di bawah foto wisuda saya. Ah, mengingat wisuda membuat saya teringat 2 tahun lalu. Ketika itu, Alhamdulillah, saya diberi amanah menjadi seorang mahasiswi dengan IPK tertinggi di fakultas, fisip universitas saya. Rasanya menyenangkan memberikan bangku VIP kepada orang tua dan kakak saya untuk hadir di upacara berharga tersebut. Rasanya ingin berteriak di hadapan semua teman-teman saat menyaksikan papa saya berpidato mewakili orangtua mahasiswa se-universitas dengan IPK tertinggi. Tapi lagi, lagi saya urungkan niat itu. Saya hanya bisa tersenyum dan tersenyum mendengarkan suara papa saya yang biasanya tinggi, mendadak rendah, saya kenal nuansa suara itu, sendu. Semoga kesenduan yang berbalurkan bahagia.
Ah, Papa. Beliau luar biasa. Dua surat yang saya tulis di buku #DearPapa jilid 1 dan 2 tidak cukup menggambarkan rasa sayang saya ke beliau.
Hari ini, #DearPapa saya berikan kepada papa dengan penuh diplomatis. Saking malunya, saya harus mengatur strategi agar tidak terkesan cengeng, agar papa tidak tahu bahwa saya begitu malu memperlihatkan buku ini ke beliau.
Pulang kerja, saya melihat kondisi rumah. Seperti biasa, ribut dengan suara anak kecil. Waktu makan malam tiba. Papa mengajak saya untuk makan malam bersama. Saya pun menyetujuinya. Dengan santai dan jantung yang tampaknya berusaha santai pula sambil mulut mengunyah nasi, saya berkata, “Pa, buku Deva udah ada.” Papa langsung bertanya, “Mana?” Saya jawab, “Ada di depan, nanti deva ambilin.” Terus kami bicara singkat mengenai proses pembuatan buku tersebut. Tidak lama setelah itu, papa selesai makan langsung ke ruang tamu. Bertanya kepada kakak ipar saya, “Mana buku Deva?”
Dessss….saya malu. Saya memilih untuk membereskan makanan dan duduk santai sejenak dan pergi keluar rumah, sebentar. Sebelum keluar rumah, saya masuk ke kamar papa dengan alasan untuk mengambil sesuatu, dan di situ saya lihat papa sedang membaca buku saya di tempat tidur.
Saya: “Papa nemu tulisan deva?”
Papa: “Iya, tulisannya bagus”
Saat menjawab pertanyaan saya, papa menoleh ke arah saya dan ya, hidung papa merah. Nuansa mata dan irama suara itu saya mengenalnya, sama seperti ketika papa berpidato di wisuda saya.
Saya lega, tapi malu. Akhirnya saya memutuskan untuk jadi keluar rumah sejenak. Di belakang saya, saya mendengar papa memuji saya di depan mama. Ah, papa, saya jadi tambah malu.
Sungguh, saya malu. Malu atas ketidakmudahan saya untuk mengatakan saya sayang papa. Di luar kondisi bahwa kami sering berbeda pendapat, rasa sayang saya, layaknya anak lain di dunia ini, ke papa tidak pernah berkurang sedikit pun.
Ketika saya menulis tulisan ini, giliran mama yang sedang membaca buku saya. Jadi ingat awal perkataan mama saat memegang buku saya, “Jadi, ini buku tentang papa-papa yach?” Saya hanya bisa tertawa dan meledek mama, “Iya, buku tentang mama kan banyak, hehehe…” Mama pun juga tertawa.
Ah, malam ini indah. Sungguh indah. Romansa tercipta karena buku keroyokan antar penulis yang belum saling mengenal hingga malam ini. Keajaiban dunia internet.
Papa, Mama, I love u so…
Deva