Banyak reaksi yang saya dapatkan ketika menginformasikan kepada teman-teman bahwa saya akan cuti selama 6 bulan karena ingin terlibat dalam sebuah penelitian dengan kantor lain. Banyak yang mendukung dengan mata yang melotot, “enak banget dapat cuti 6 bulan!”
Yeah…I’m so lucky!
Tapi ada juga reaksi yang realistis yang bertanya, “Bagaimana kalau nanti lo gak diterima lagi di kantor lama? Lo akan nganggur? Gimana kalau pengganti lo ternyata lebih bagus dari lo? Dan gimana kalau kantor baru ternyata gak seru?”
Then…I’ll take the risk.
I mean it, we never know how we can handle the situation if we not at that situation. We never know what the result will be if we never try it before.
Saya nervous untuk berhadapan dengan situasi baru setelah selama hampir 4 tahun berada di zona nyaman. Tapi saya tidak bisa dong berlarut-larut dengan kegugupan ini.
I need to do something because time will not waiting me.
Thank God my family and Hendra always supports me. That’s all that I need, right now. That’s all.
Menghabiskan waktu seharian di rumah. Berkutat dengan tugas pekerjaan sampingan yang diberi batas waktu hingga hari Senin. Sebenarnya saya tidak perlu waktu seharian jika saja hari Minggu saya lowong. Tapi di hari Minggu, sudah ada pekerjaan sampingan lain yang menunggu saya. Hidup pekerjaan sampingan! Hehehe…
Ada teman yang berkata, “Syukur lo Dev sekarang tiap minggu kerja mulu. Dulu aja ngeledekin gw kalo weekend itu lembur!”
Hehehe…saya sich cuma bisa bilang kalau “Jika saya berkutat dengan deadline di akhir pekan, itu bukan bekerja tapi main. Lah wong yang saya pilih sebagai side job adalah pekerjaan yang saya mau. Saya memilih aktivitas bukan karena terpaksa.”
*benerin sasak setinggi Monas*
Minggu…
Yak, di pagi hari tepat pukul 08.00 saya keluar rumah untuk menyelesaikan projek lain yaitu syuting iklan. Sebagai penulis skrip, tentu saja saya harus berada di lokasi sebelum para model hadir. Merdeka!
Ya…lumayanlah menunggu para model selama 40 menit. Lucu setiap melihat para model sibuk dengan busana mereka. Luar biasa totalitas mereka. Rambut yang selalu dibenarkan setiap menitnya. Wajah yang cantik dan ditata sesempurna mungkin. Luar biasa! *sambil nelan ludah*
Semua dialog sudah diambil. Terakhir hanya bagian stock gambar. Nah, di bagian ini saya sudah boleh pulang. Hajar!
Saya pun langsung pulang karena sudah ada janji dengan Saad untuk ke Bendungan Hilir mengantarkan donasi buku bos saya ke Taman Bacaan Pelangi yang ada di Flores. Ribet ya kalimatnya? Jadi, Taman Bacaan Pelangi ini merupakan perpustakaan yang didirikan Nila Tanzil untuk anak-anak di Flores. Biasanya Bos saya aktif menjadi donaturnya di Drop Books not Cars, yang biasa digelar di EX setiap Car Free Day. Entah bagaimana ceritanya, buku itu belum diberikan ke mereka. Sampai beberapa hari ada 4 kardus menumpuk di kantor. Bos bilang saya boleh mengambil buku-buku tersebut tapi kalau bisa setelah saya baca, berikan lagi ke orang lain. Nah, saya baru ingat kalau Nila Tanzil sempat menulis bahwa buku bisa diberikan di alamat Bendungan Hilir. Berbekal mention-mention-an dengan Nila Tanzil di Twitter, saya pun mendapatkan alamat rumahnya.
Dari 4 kardus, saya hanya memberikan 1 kardus. Bukan tidak mau memberikan semuanya, hanya saja saya ingin memberikan ke lembaga lain, mungkin yang ada di Solo (perpustakaan anak milik seorang teman saya). Selain itu 1 kardus lainnya berisikan novel-novel dewasa. Mmm…belum ada ide mau disumbangkan kemana buku-buku ini. Yang pasti satu novel Harumi Murakami sudah berada di tas saya dan Paulo Cielo menunggu untuk dibaca. Tenang, saya akan berikan lagi ke orang lain kok.
Setelah dari Benhil, saya dan Saad menghabiskan waktu di mall. Jakarta Bung, jarang sekali tempat rekreasi selain ke mall. Rrrghh….
Ya lumayanlah, akhir pekan ini melakukan berbagai kegiatan yang berbeda-beda. Mewujudkan passion, berbagi, dan hang-out bersama sahabat.
Nah, ini penting untuk diumumkan kepada dunia! Hehehe…akhirnya saya berani untuk mulai investasi dalam bentuk deposito. Wuidihhh….kenapa? Ya karena akhirnya benar-benar sadar bahwa hidup itu butuh uang, bukan cuma untuk hari ini saja tapi untuk selama kita hidup. Selama usia kita masih produktif, uang yang ada di saku kita mendingan disimpan daripada foya-foya. Hehehe…gak ada uang juga sich untuk foya-foya. Semakin yakin lagi karena Saad sudah mulai langkah deposito lebih dulu dibandingkan saya. Jadi, saya ngekor aja :)
Dari awal bulan Februari sebenarnya saya sudah mulai grusak-grusuk baca dan cari informasi sebanyak mungkin tentang berbagai fitur keuangan. Saya sampai ke sebuah lembaga reksadana swasta untuk tahu tentang hal tersebut lebih dalam. Ngerti akhirnya! Paham langkah-langkahnya! Dan saya kepentok oleh satu syarat yang belum saya punya dan sedang diurus, yaitu NPWP. Tolong jangan timpuk saya pakai batu wahai para pembaca jika ada yang bekerja di kantor pajak. Tenang, saya akan bayar pajak kok tapi sedang diurus birokrasinya. Sabar ya….*lho*
Ada lagi. Yaitu asuransi. Masih belum tahu akan pilih asuransi dimana. Sejauh ini sich sudah ada Jamsostek yang disediakan oleh kantor. Tapi tertarik juga dengan asuransi swasta. Masih mencari. Belum memutuskan
Terus, sekarang juga sudah mulai mengaktifkan tabungan di sebuah bank setelah sekian lama tidak mengisinya secara regular. Ya, Bismillah saja. Semoga semuanya dipermudah oleh Sang Maha.
Sekali lagi alasan saya kekeuh pengen belajar tentang pengaturan keuangan adalah karena saya berharap ketika tua kelak, saya tidak akan menyusahkan siapapun, pun termasuk pasangan hidup saya. Aamiin.
Dan ini bukan tentang seberapa besar pendapatan saya. Tapi lebih kepada seberapa besar uang yang bisa saya simpan tanpa meninggalkan semua kewajiban saya. Jadi, irit boleh tapi bukan pelit. Beda lho!
Semua ini bisa saya lakukan karena (beneran dech saya bersyukur atas hal ini) beberapa teman saya, yaitu Heny dan Saad, juga berpikiran yang sama dengan saya. Jadi saya ada teman sharing tentang kegelisahan pengaturan keuangan yang (semoga) bisa lebih berguna. Hehehe…
Jadi ya, beginilah akhir pekan saya.
Bagaimana dengan akhir pekan kalian? Semoga kece juga!
Disclaimer: Tulisan ini dibuat oleh penulis tanpa berbekal catatan di sebuah kertas atau media manapun, jadi hanya ingatan semalam.
Reneeeeeee Juara!
Kalau teman-teman suka baca beberapa tulisan saya di blog ini, pasti ada yang bisa menebak kalau saya ini penggemarnya Rene Suhardono. Jadi kalau ada acara dimana pembicaranya Rene pasti saya usahakan untuk datang. Gak ada maksud perez, kakak
Kali ini, Rene hadir di depan mata saya di acara Akademi Berbagi Jakarta di Annex Building, Wisma Nusantara untuk membicarakan tema “Get a Life Not a Job”. Pasti, jika ada Rene, kata passion tidak akan tidak disebut dong ya.
Kakak atau Om mmm mungkin Opa Rene Suhardono (Source: @akberJKT)
Rene mengawali diskusi semalam dengan kalimat “Setelah sharing ini tolong jangan ada yang langsung keluar kerjaan dengan alasan karena Rene bilang harus kejar passion!”
Hahaha…lucu juga karena jika baru sekali mendengar penjelasan Rene pasti langsung mikir “Ooo…kantor itu bukan passion jadi harus cari pekerjaan baru.” Ternyata tidak sesederhana itu. Itu adalah hak seseorang untuk memutuskan untuk keluar atau menetap di sebuah perusahaan tapi yang paling penting adalah seberapa efektifnya keputusan kita. Dan harus diingat bahwa tidak ada yang namanya “Dream Job”!
Passion tidak perlu dicari. Passion itu sudah ada di dalam diri masing-masing orang. Syaratnya cukup mudah untuk menyadari apa passion kita itu. Think less feel more. Think less feel more. Think less feel more. Ini mantera kakak hehehe…
Jika kita hanya menggunakan akal untuk membuat sebuah keputusan ya otak kita akan terlalu bising dan akhirnya bisa seperti zombie. Pagi ke kantor, pulang langsung ke rumah. Gajian langsung habis untuk keperluan A-Z. Tapi hati? Kosong! Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran diri bahwa apakah yang kita lakukan ini telah dengan sepenuh hati?
Passion is what you good at and what you enjoy the most. Apa takaran “good at”? Tidak perlu takaran dari perspektif orang lain. Bagi Rene, selama apa yang kita kerjakan benar-benar tulus dari hati maka pasti hasilnya maksimal, paling tidak usaha setengah mati.
Mari lesehan (Source: @AkberJKT)
Pertanyaan selanjutnya adalah “uang gimana??? Karena gak selamanya passion mendatangkan uang kan.” Nah, itu dia. Rene bilang “The more you ignore money, the more money comes to you.” Saya percaya bahwa the great money will follow the great value. Sekali lagi, usaha saja semaksimal mungkin maka hasil (jika ini dikorelasikan dengan uang) pasti akan maksimal juga datangnya. Bahkan dia bercerita bahwa ada seorang temannya yang mempunyai penghasilan ribuan dolar per bulan tapi dia tidak mengerjakan aktivitasnya dengan hati, toh dia tetap saja kesepian dan merasa kosong. Jadi, semua itu kembali ke hati masing-masing orang dan yang dapat membuatnya bahagia ya diri sendiri.
Nah, Rene juga sempat sharing bahwa kita memerlukan pondasi untuk memperkuat passion kita. Perdalam lagi passionnya. Cari tujuan dari passion kita apa. Misalnya saya suka nulis. Tujuan dari nulis itu untuk apa? Inspirasi orang? Membuat diri terkenal atau apa? Find your purpose.
Setelah ketemu purpose-nya apa maka kita harus melakukan sebuah tindakan untuk mewujudkan hal tersebut. Setahap demi setahap. Kita tidak perlu meyakinkan setiap orang atas keputusan kita. Satu-satunya orang di muka bumi yang perlu diyakinkan atas semua keputusan kita adalah diri kita sendiri.
Ada seorang peserta yang bertanya “lantas bagaimana jika ada anggota keluarga yang tidak setuju dengan keputusan kita?” Rene jawab: “Speak with love language.” Intinya, kita gak bisa bicara tentang keputusan seperti ini dengan emosi yang tinggi. Harus perlahan-lahan menjelaskan kenapa dan bagaimana cara mewujudkan passion kita. Itu alasan kenapa kita harus yakin dulu terhadap diri sendiri atas setiap keputusan pribadi. Jika kita tidak yakin, bagaimana orang lain bisa mendukung?!
Dan be happy! Happy is not expensive. Happy is in here, in our heart.
“Untuk apa mati-matian masuk ke perguruan tinggi negeri? Untuk jadi karyawan di perusahaan terkenal? Untuk jadi PNS? Oke, setelah itu apa? Untuk jadi anak yang dibanggakan orang tua? Untuk dipandang keren oleh mertua? Oke, setelah itu apa? Ya, kalau orang tua senang maka saya akan senang juga?”
Sounds familiar ya kutipan di atas.
Rene: Repot ya…hanya untuk sekedar bahagia. Padahal bahagia itu ada di sekitar kita. Think less feel more. That’s it.
Berikut ini beberapa twit yang saya ambil dari akun Akber Jakarta:
Measurement is fine. untuk memberikan indikasi bukan kepastian hasil.
Worry less! if u cannot change the solutiion, change the problem.
Discovering ur strength | significance.
Discovering ur strength | growth. get ur depth!
Discovering ur strength | be spesific on what’s ur passion
Passion dan purpose adalah produk hati. bersihkan dan tenangkan hatimu. think less, feel more.
Discovering ur strength | 1st of all – focus on ur breathing
If u care, u will simply do it more. jadi, sudahkah anda melihat dunia dengan mata yang baru?
U don’t have to convince the world. 1st of all, convince urself! passion is something u do it because u care.
Do u know what u love?
“Passion is not skills or competencies.”
Jangan terjebak dengan angka-angka atau citra yang terlihat di permukaan. temukan jauh di dalam hatimu.
“Passion is not about the job, passion is about the activity.”
Find your true strength. passion is your significant strength.
So, are u in a dead zone? a walking zombie that have no significant achievement
If u want to change your life, transform ur belief system.
Zombie syndrom: Tidak happy dg pekerjaan, gaji tdk cukup, jabatan mandeg, bos galak dan penuntut
“Forget what u think you know everything
“You are what you believe”
The more you ignore money, the more money comes to you |
Worries & fear in our modern live: money, power, jobs, title, benefits achievement
“The 1st thing: to know how u feel. think less, feel more.”
Terakhir, dari semua slide, sharing yang sangat atraktif yang telah dilakukan, saya jadi ingat kutipan sederhana yang berbunyi “If there is a will there is a way”. Jangan terlalu bising dengan “What if…”. Benar bahwa kita harus selalu sedia payung sebelum hujan tapi tidak ada salahnya jika membiarkan hujan membasahi tubuh kita sekali-kali. Tidak ada yang terkena hujan (kecuali disamber petir dan tertimpa pohon tua yang jatuh) langsung mati kan?
Sebenarnya ini seharusnya ditulis buku pertama yang selesai dibaca tahun 2012, tapi berhubung kepanjangan untuk menjadi sebuah judul jadi ya ditulis seperti di atas saja ya. Judul bukunya adalah “Your Journey to be the Ultimate U” yang ditulis oleh Rene Suhardono. Buku ini saya beli di akhir bulan Desember tapi baru selesai dibaca menjelang tahun baru 2012.
Bicara tentang Rene Suhardono pasti tidak akan terlepas dari sebuah kata yaitu ‘passion’. Dari Rene-lah saya baru tersadar tentang pentingnya sebuah ‘passion’ dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dan akhirnya semakin yakin bahwa kalau title pekerjaan ya bukanlah akan seumur hidup menjadi karir kita. Hidup kita lebih luas dari sekedar job description, berangkat kerja setiap hari. Hidup kita lebih berharga dari semua gaji yang dikumpulkan seumur hidup kita.
Rene Suhardono sudah membuat 2 buku dan semuanya tentang passion. Tapi buku pertama yang berjudul “Your Job is not Your Career” (yang didalamnya juga ada buku berjudul “Career Snippet”) tidak saya beli karena saya sok tahu! Hahaha…iya, saya sudah sering mendengarkan, bertemu dan membaca banyak tentang materi buku tersebut sampai saya mikir “Ah, ngapain beli bukunya toh isinya saya sudah tahu!”. Hahaha…sok tahu banget ya!
Nah, kenapa akhirnya saya beli buku “Your Journey to be the Ultimate U”? Karena sejujurnya saya penggemar tulisan-tulisan Rene di Kompas setiap hari Sabtu yang ada di kolom Ultimate-U. Karena sangat suka dengan tulisan-tulisannya, saya sampai sempat mengkliping artikel ini tapi ya namanya juga Deva, jadi sering datang malasnya. Kliping gak lancar dech. Makanya ketika saya tahu Rene mengumpulkan semua tulisannya di kolom Kompas dalam bentuk buku, ya saya senang banget! Tidak usah repot lagi dech..
Cara Rene menulis tentang karir, hidup dan passion bukanlah seperti seorang motivator yang menggunakan kata-kata indah dan saya juga bukan penggila kata-kata mutiara. Rene menulis sesuatu yang memang nyata terjadi sehari-hari dan berdasarkan pengalamannya sendiri. Pindah dari profesi banker. Gagal membuat restoran padahal itu adalah salah satu passionnya. Dan sekarang mempunyai banyak karir yang bertujuan untuk membuat dirinya lebih berguna buat sekitarnya.
Pemaparan buku ini mungkin santai tapi tiap selesai membaca satu artikel, saya harus rehat sebentar untuk mencerna isi buku ini. So, jika ada yang tertarik membeli buku ini saya saranin sich tidak perlu terburu-buru menamatkan bab per bab. Just enjoy the words.
Satu kalimat yang mungkin sebenarnya bisa menjadi kunci pembahasan buku ini adalah Rene ingin menyadarkan kita bahwa masing-masing dari tiap manusia itu unik dan tidak perlu berlomba-lomba untuk menjadi orang lain. Just be the best version of you and invest your time to be more useful to your environment.
Judul di atas saya sadur dari sebuah twitnya Mbak Ainun, pencetus Akademi Berbagi yang sering saya hadiri. Judul di atas membuat saya ingin menulis tentang mimpi saya.
Dari tulisan beberapa hari lalu, saya pernah menulis bahwa menjadi seorang jurnalis adalah salah satu impian saya. Saya percaya itu hingga saya terjun ke kantor yang sekarang, sebagai seorang penulis dan peneliti lapangan. Jadi begini ceritanya, dari kecil saya sudah disuguhkan oleh ayah saya berbagai jenis koran dan majalah. Beliau selalu mengingatkan tentang pentingnya membaca. Saya pun tidak kuasa menolak hal tersebut karena saya memang menemukan kenyamanan tersendiri saat membaca. Saya pun akhirnya berpikir, “Wah seru nich jika jadi reporter.”
Impian untuk menjadi wartawan pun semakin besar saat freelance di Kompas. Ketika itu saya masih kuliah semester awal dan betah berada di sana hingga saya mau wisuda. Posisinya adalah sebagai interviewer yang bertugas untuk bertanya tentang pendapat masyarakat mengenai berbagai isu politik, keamanan, sosial dan budaya Indonesia. Jadi, seakan seperti punuk yang menemukan bulannya kan? Setelah dari Kompas, saya beralih ke SCTV dan tetap sebagai interviewer. Yang menjadi sedikit perbedaannya adalah pada saat di Kompas, saya melakoni peran tersebut via telepon tapi ketika di SCTV, saya mendapatkan kesempatan untuk turun ke lapangan bertemu masyarakat.
Wah, senang sekali ketika itu. Merasa seperti wartawan ya. Kemudian, saya pun lulus kuliah, wisuda dan melamar pekerjaan. Yup, saya melamar pekerjaan di beberapa media. Dan hampir diterima di sebuah media online yang kantornya di Sunter. Jauh sekali dari rumah. Kemudian kakak saya pun bertanya tentang alasan saya kenapa mau sampai harus bekerja sejauh itu dan berapa gajinya? Saya pun menjelaskan bahwa itu adalah cita-cita saya dan saya belum terlalu memikirkan gaji. Saya ingat waktu itu saya ditawari gaji sebesar Rp1,250,000,-
Kakak ipar: “Deva, I know that you really want to be a journalist. But Sunter? I don’t think it would be a good idea. And one million for your salary? That’s so silly Deva. You can find a better job in the better place. I will help you.”
Itu percakapan yang terjadi antara kakak ipar saya saat mengantarkan saya pulang ke rumah, setelah seharian saya main ke tempatnya.
Keesokan harinya, kakak dan kakak ipar saya akan pulang ke rumahnya. Di airport, kakak ipar saya memberikan nomor handphone temannya yang sedang membutuhkan penulis dan peneliti. Nepotisme? YES!
Saya pun menerima telepon tersebut dan beberapa jam kemudian langsung menghubungi nomor tersebut. Cukup sulit untuk mendapatkan janji bertemu dengan Pak Charlie (sebutlah itu namanya). Tapi akhirnya, setelah menunggu 2 minggu, saya pun diminta untuk ke kantornya. Tidak akan pernah saya lupa pertanyaan demi pertanyaan Pak Charlie ke saya. Pertanyaan pertama adalah pengalaman kerja saya. Dan saya pun bercerita panjang lebar. Dan Pak Charlie pun bertanya, “What is your obsession?” Wah, saya pun langsung menjawab “I wanna be a journalist, Pak.” Dia bertanya kenapa. Saya pun menjelaskan panjang lebar. Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah apakah saya suka menulis. Dengan senyum lebar, saya menjawab “Yup.”
Pertanyaan mematikan adalah “Punya blog?”
Saya langsung lemas dan menggelengkan kepala. Dalam hati, saya menjawab, “Di rumah tidak ada internet dong….!”
Ya kemudian setelah semua proses interview itu dilakukan, Pak Charlie menjelaskan proyek yang mungkin akan saya kerjakan dan saya yakin ketika itu mata saya berbinar-binar antusias mendengarkan proyek tersebut.
Saya pun pulang dengan perasaan optimis. Oke, saya memang melalui jalur nepotisme tapi saya yakin saya punya kapabilitas kok.
Dang! Sampai akhirnya di suatu hari tanggal 15 Februari (kalau tidak salah) saat itu keluarga saya pindah rumah, saya pun mendapat telepon dari Pak Charlie yang memberi kabar bahwa saya diterima dan langsung saja gitu kan via telepon ditanya gaji xx cukup tidak untuk kamu? WOWWWWW…saya yang baru lulus kuliah ditawari gaji sebesar itu? Saya pun hanya bilang, “Oke Pak.” Kejutan belum selesai di titik itu. Beberapa menit kemudian, telepon masuk dari Kompas. Yup, mereka meminta saya datang untuk tes tertulis. Otak saya yang sedang senang menerima tawaran gaji tersebut pun nge-hang seketika. Saya hanya menjawab singkat ke Kompas, “Mbak, bisa tidak nanti saya telepon mbak lagi?”
Dan itu adalah kesalahan bodoh yang tidak perlu diikuti oleh siapapun di dunia ini. Seandainya ada telepon masuk dari klien, jawab saja dan bilang IYA. Ah, saat itu, sisi mimpi saya merasa “Yah, lewat dech jadi reporter.”
Singkat cerita, saya pun bekerja di kantor Pak Charlie dari 2009 sampai sekarang. Banyak pengalaman yang saya dapatkan. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya bahwa beberapa tugas saya adalah menjadi asisten trainer untuk media training, meneliti di daerah-daerah tentang suatu isu, menulis script untuk program tv, dan lain-lain. Tapi tetap lho, saya masih mencoba melamar di media massa menjadi reporter. Ada yang memanggil saya, ada juga yang tidak, dan kadang saya yang tidak datang ke media tersebut, karena biar bagaimanapun prioritas di kantor lebih penting.
Grab your dream, if you dare to dreaming and believe to yourself
Bahkan hingga hari ini, Yusha yang sekarang menjadi reporter di televisi nasional pun masih kerap membuat saya cemburu dengan pekerjaannya. Ya, dia paham sekali kalau adrenalin saya selalu naik setiap mendengar cerita pekerjaannya. Caranya membuat saya cemburu sangat mudah. Cukup kirim bbm “Dev, apa yang lo lakuin kalau sekarang gw udah gak di bagian produksi tapi turun ke lapangan jadi reporter? Dan ya perkiraan tahun depan, gw bisa lah jadi anchor man di tv.” Eyalah……! *Inhale exhale*
Nah, rasa penasaran untuk menjadi reporter tertuang lagi di satu bulan lalu. Jadi, VOA bekerjasama dengan PPIA membuka Broadcast Fellowship Program. Dalam program ini, mereka mengundang para jurnalis untuk mengikuti program ini dan jika berhasil maka akan berlatih jurnalistik di kantor VOA di Washington DC selama 6-12 bulan.
Saya tahu saya tidak ada background jurnalistik tapi paling tidak saya yakin bahwa saya cukup tahu tentang dunia tersebut. Intinya sich, saya hanya ingin mencoba daripada penasaran. Saya pun mendapat dukungan penuh dari Pak Charlie. Oh my God, dia baik banget. Terbukti dia mengijinkan saya ke Ubud untuk datang ke Ubud Writer and Reader Festival 2011 tanpa penjelasan lengkap kenapa saya perlu ke sana selama 1 minggu dan untuk PPIA-VOA Broadcast Fellowship Program pun beliau mendukung saya dengan cara mengijinkan saya mencantumkan nomor kontaknya, bahkan jika saya memerlukan surat referensi, beliau akan memberikannya kepada saya. Astaga! Kurang baik apa ya. Pada saat saya meminta ijin, Pak Charlie hanya menulis singkat di email, “Deva, justru saya mendorong tim agar menjadikan kantor kita sebagai batu loncatan.” Saya terharu sekali membaca email tersebut karena saya sempat berniat untuk merahasiakan ini dari Pak Charlie.
Nah, sekarang sudah 1 bulan dari masa saya mengajukan proposal ke VOA. Siapa sich yang tidak berharap untuk diterima di program tersebut tapi jika memang saya tidak lulus, ya paling tidak saya sudah mencobanya. Lagi, daripada penasaran
Mungkin saya bisa dibilang seorang pemimpi. Tapi toh bermimpi itu kan tidak salah. Buat seorang pemimpi, pasti mereka sadar bahwa mimpi tidak bisa diwujudkan dengan tidur dan memang harus diberi kaki agar dapat berjalan perlahan agar dapat terwujud.
Pertanyaannya adalah seberapa berani kita bermimpi dan mewujudkannya?
Hahaha…beneran saya gak tahu bagaimana harus mengekspresikan perasaan senang saya saat ini.
Begini, saya selalu percaya bahwa setiap orang diberkahi keunikan, talenta, minat dan keberuntungan masing-masing dan tidak ada yang bisa mengambil atau mengatur hal tersebut selain Yang Maha. Oleh karena itu, yang bisa saya lakukan sebagai seorang teman adalah terus mendukung teman-teman atau siapapun yang memang butuh dukungan. Sebutlah namanya Kibot. Dia mempunyai hasrat luar biasa untuk bisa terjun ke dalam jurnalistik, sama seperti saya dan Yusha. Perbedaan antara kami bertiga adalah Yusha merupakan orang yang diberkahi keberuntungan karena bisa mewujudkan mimpinya menjadi reporter. Saya? Harus sedikit tertatih-tatih dan sekarang bekerja di kantor PR yang salah satu tugasnya adalah mentraining klien untuk berhadapan dengan media. Beda lagi dengan seorang Kibot. Dia merasa yakin bahwa dia bisa menjadi host di sebuah acara talkshow. Saya yakin dia bisa. Tidak ada keraguan sedikit pun. Tapi terkadang orang di sekitar dan tuntutan hidup tidak mendukung. Berkali-kali kami bicara tentang sejauh mana sich passion itu bisa menjadi jaminan kebahagiaan hidup kita. Sejauh apa sich passion itu bisa diwujudkan. Saya bukanlah peramal. Tapi sekali lagi, saya yakin, selama kita yakin dengan kemampuan itu, ya apapun bisa kita wujudkan.
Itulah yang Kibot lakukan. Jatuh bangun. Percaya dengan kemampuan diri sendiri dan kemudian merasa terpuruk. Pernah mengikuti interview di sebuah media televisi nasional di Kedoya tapi sayangnya belum beruntung. Tapiiii….(ah, saya sungguh semangat menulis ini), baru saja 3 menit lalu, dia bbm saya:
Tes, Kak Deva. Saat ini anda sedang bbm-an dengan seorang reporter Koran xxx yang akan mulai bekerja per tanggal 1 Desember.
Demi Tuhan, saya ingin menangis dan memeluk dia.
Tidak ada kata lain selain selamat untuk Kibot. I know, I know, I know you can do it. You can grab your dream as long as you believe to yourself.
Terlepas dari apakah ke depannya akan berjalan mudah atau tertatih-tatih, paling tidak, dia sudah meraih yang dia mau, saat ini.
Sudah 3 hari pikiran saya penat sekali. Deadline terus menghujam jantung. Sesuatu yang saya kira sudah selesai dari sebulan lalu ternyata harus ada yang direvisi lagi, meskipun hanya beberapa halaman yang harus direvisi tapi untuk merevisi itu harus membaca semua bahan yang tidak sedikit, menggunung lebih tepatnya. Saya penat. Tidak bisa dibohongi bahwa ini adalah pekerjaan yang saya suka yaitu menganalisa tapi jujur saja, sekali lagi saya penat.
Untungnya hiburan selalu menghujani saya begitu sampai di rumah. Ada tawa yang bersumber dari tingkah pola keponakan-keponakan saya yang tiada hentinya aneh-aneh. Obrolan ringan bersama kakak saya juga menjadi obat lelah tersendiri. Tapi hari ini saya membutuhkan sesuatu yang sedikit over dosis. Saya ingin berkumpul bersama teman-teman.
Ya, berhubung semuanya sibuk bekerja, akhirnya saya hanya bisa bertemu 1 orang teman yang bisa diajak makan bersama. Saya pun akhirnya mendatangi kantornya. Sambil makan, kami mengobrol banyak. Bahasannya tidak lain seputar pekerjaan, passion, jati diri dan mimpi. Untuk kali ini, saya lebih banyak diam dan mendengarkan. Ternyata teman saya ini juga sedang mengalami stres cukup tinggi, menurut takarannya. Disebabkan karena ini merupakan pekerjaan profesional pertamanya dan harus berhubungan dengan pimpinan yang tidak sesuai dengan idamannya. Singkat kata, dia merasa di neraka.
Di saat saya sedang penat karena deadline pekerjaan, saya justru harus mendengarkan keluhan bertubi-tubi dari teman. Apakah saya marah? Tidak. Saya justru banyak tersenyum saat mendengarkan ceritanya. Alasannya sederhana karena saya berpikir, “ternyata masih ada yang lebih nelangsa dibandingkan saya.”
Teman saya adalah seseorang yang mempunyai passion tinggi untuk menjadi pembawa acara televisi. Tapi sekarang dia mempunyai pekerjaan yang masih jauh dari passion tersebut yaitu sebagai customer relation di sebuah mall Jakarta dan terlebih dihadapkan oleh pimpinan perusahaan yang killer, tidak ramah dan sungguh tidak appreciate atas pekerjaan baik bawahannya.
Teman: “Gila ya, gw udah berusaha setengah mati cari nomor telepon masing-masing kontak klien yang bisa dijadiin sumber dana kantor. Gw dapat 200 orang. Dan bos gw cuma bilang “segini doang!”. Stresss!!!”.
Seketika, saya langsung membayangkan bos saya. Dia adalah seseorang yang sangat fair. Tidak ragu untuk memuji jika pekerjaan tim bagus dan tidak kasar mengeluarkan kata-kata jika ada pekerjaan tim yang kurang bagus. Ya, dia pernah sekali berkata kasar tapi dengan bahasa yang sangat halus pula dia meminta maaf saat itu juga ke tim. Intinya, bos saya beda total dengan pimpinan teman saya.
Teman saya pun masih melanjutkan kata-katanya, “Gw tuch iriiii banget sama lo! Lo udah kerja di tempat yang sesuai passion lo. Lo nulis! Dan itu adalah passion lo! Gw iri!”
Saya hanya singkat menjawab, “Ya, sekarang lo belum bisa ngedapetin yang lo mau tapi kan bisa lo raih dari sekarang dengan cara buat rancangan ngeraih yang lo mau. Lo bikin list, bla bla bla…”
Kami bicara dengan lama dan mendalam tapi karena sudah malam, kami pun harus menyelesaikan obrolan tersebut.
Saat di bis dalam perjalanan pulang, saya merasa lumayan segar. Penat lumayan hilang meskipun mata sungguh kering (mata lelah). Menjadi ingat dengan obrolan jaman saya SMP dengan kakak saya.
Kakak: “Lo di kelas gimana? Banyak yang pintar?”
Saya: “Banyak Kak tapi nilai-nilai Deva lumayan kok. Masih banyak yang lebih kecil nilainya dari Deva.”
Kakak: “Yah, lo jangan liat ke bawah dong. Lo liat ke atas biar lo tau kalo lo masih banyak kurangnya!”
Saat itu, entah apa yang di kepala saya. Tapi obrolan tersebut beda saat saya bicara dengan Mama. Waktu itu, kami sedang ada di daerah Melawai. Di depan kami, tepatnya di trotoar jalanan ada anak-anak jalanan yang makan kentang MCDonalds dengan nikmatnya. Mama bilang, “Tuch Dev, liat ke bawah. Masih banyak yang lebih kurang daripada kita. Bersyukur.”
Sekarang, ketika menulis ini saya merasa sungguh bersyukur. Bukan bermaksud tidak setuju dengan pendapat kakak tapi tampaknya malam ini, saya ingin menggunakan filsafat Mama. Melihat ke bawah untuk menyadari bahwa kita sebenarnya lebih beruntung dibandingkan orang-orang lain, yang mungkin masih berjibaku untuk menentukan akan makan apa esok hari. Di titik ini, saya juga merasa beruntung karena jika dibandingkan dengan teman saya, saya tidak perlu berpikir ruwet agar dapat bersinergi dengan bos.
Image source from kompasiana.com
Ah, gak mau mikir ribet. Mendingan makan black forest dulu yang ada di meja makan. Dan setelah itu, istirahat agar esok bisa berpikir tenang menyelesaikan deadline pekerjaan. Memandang ke atas bahwa banyak orang yang lebih sukses daripada saya dan pastinya mereka tidak mudah untuk meraih kesuksesan tersebut. Sekali pun sukses itu adalah sesuatu yang absurd.
Jika kamu berpikir akan membaca sebuah cerita cinta antara pasangan kekasih, berhenti di kalimat ini. Klik link yang lain, he…
Tapi H.E.A.R.T disini adalah sebuah basic dalam suatu proses public speaking. Kaget menemukan kesinambungan kata antara heart dan public speaking? Saya juga. Saya mendapatkan kesimpulan ini dari sebuah obrol-obrol asyik dengan Rene CC malam ini di @atamerica.
Sebuah acara santai yang membahas tentang public speaking, yang digelar oleh @atamerica di Pasific Place. Saya sungguh berterima kasih kepada my dearest friend, Danna Miranda, yang berusaha me-mention saya di twitter untuk mengaktifkan YM saya (rrrg…eike lagi ngerjain tugas kantor, jeung jadi gak bisa buka twitter dan YM) dan dengan kekuatan penuh memanggil saya di skype (hihiihi…kalo ini gak pernah gak aktif eike bo’). Dengan ajakan dadakan, saya pun menyetujui untuk ikut acara ini. In that time, saya tidak tahu bahwa pembicaranya adalah Rene CC, seorang idola saya dan sudah berjuta kali saya tulis namanya di blog ini (Alhamdulillah, bisa ketemu beliau lagi dan untuk kali ini bisa foto berdua dengannya), sampai akhirnya saat saya mengaktifkan twitter baru ketahuan bahwa pembicara acara ini adalah Rene CC. Lucky me!
Sedikit cerita, beberapa hari yang lalu Rene CC mengadakan sebuah acara tentang passion dan karir (saya lupa dimana) tapi yang pasti harga tiketnya mahal dan saya mention dia di twitter, “Pak, mahal banget acaranya, padahal mau ikut.” Dibalas, “Ntar ya kalo acara untuk mahasiswa, saya coba cari sponsornya.” Saat membaca balasan Rene CC, dengan geli saya balas, “Hehehe…asyik, masih kayak anak kuliahan.” Ngerti kan maksudnya apa?! Eike masih cocok jadi anak kuliah
Anyway….back to public speaking.
Menjadi seorang yang bekerja di public relations, tidak lantas membuat saya tahu semua seluk beluk public speaking. Iya, betul bahwa saya berhadapan dengan klien,menyiapkan bahan presentasi media training, membantu trainer utama berikan simulasi media training, membantu menulis materi untuk sosialisasi program klien, dsb. Dan menjadi seorang karyawan termuda di sebuah perusahaan dengan seorang pimpinan yang ahli komunikasi di Indonesia (wuff…googling his name makes me wondering, why I can work in here >> perasaan kalau lagi galau) tidak lantas pula membuat saya khatam dengan teori komunikasi dan pernah diamanati untuk menjadi seseorang di kampus yang mengharuskan saya berpidato di acara-acara khusus, tidak juga lantas membuat saya mahir berpidato dengan baik dan benar.
Saya selalu haus dengan ilmu, terutama ilmu komunikasi, hubungan internasional dan teori menulis yang kece. Hari ini, rasa haus saya kepada ilmu komunikasi, terutama public speaking lumayan terpuaskan. Rene CC, yang juga mengidolakan Anes Basweddan (semoga Allah melimpahkan kebahagiaan kepada Anes Basweddan dan Indonesia Mengajar-nya), berhasil memukau peserta dengan gaya bicaranya yang kece!I adore u, more and more, Sir
Satu hal yang saya tangkap dalam isi pembicaraan Rene, terlepas dari semua slide yang ia berikan malam ini, Heart itu memegang kendali luar biasa dalam public speaking. Talk from your heart, feel it in your mind and speak with your heart. That was fabulous. Rasa yang timbul dari hati akan menimbulkan keikhlasan dan ketulusan. Meskipun lawan bicara kita menyebalkan, kita tidak percaya diri untuk tampil di muka umum, mood lagi berantakan tapi jika sudah tertanamkan untuk speak with our heart, semua kendala itu akan teratasi. Am I right, Sir?
H.E.A.R.T menurut saya berhubungan dengan mood. Dan Rene CC menjelaskan dengan sederhana, mood is an option. You can choose to be happy, to be sad, or to be angry. It is all your option.
Dan ketika ingin bicara di muka umum, ceritalah hal-hal yang akan membuat kita terkoneksi dengan pendengar, membuat kita (pembicara) tidak berbeda dengan penonton (pendengar). Bicara bukan dengan semua orang tapi bicara dengan masing-masing orang. Senyum, memegang peran penting dalam public speaking. Last but not least, SINCERITY. I like this word.
Ah Rene CC, kamu membuat saya semakin jatuh cinta kepada dunia komunikasi, membuat saya ingin lebih mengepakkan sayap untuk mengejar passion saya yang satu ini. Membuat saya untuk semakin yakin bahwa hati tidak akan bohong.
Sedikit slide yang dibicarakan Rene CC. Silahkan menelaah
Yaaaa….oh my goodness, saya pengen banget teriak dan berkata “Ananda Ladeva Gumanti bikin buku lhooooo…”
Hahaha…rasanya membuncah luar biasa. Buku apa? Kok bisa? Sombongnya
Dimulai dari mem-follow nulisbuku.com dan akhirnya terbuka kesempatan menulis buku. Yup, ceritanya adalah nulis buku selalu rajin untuk mengajak orang-orang yang mau menjadi penulis. Berbagai tema disodorkan di twitter. Dan saya pun akhirnya mendaftarkan diri untuk ikutan nulis buku. Tema yang saya ikuti ada 3 yaitu tentang kumpulan surat cinta anak ke ayahnya (Dear Papa), curhat cinta colongan dan surat untuk jodohku. Di antara ketiga buku ini, yang sudah siap launching adalah DEAR PAPA jilid 1-6, yup launching. Can u imagine? Launching. Artinya: setiap orang bisa membeli buku yang ada tulisan saya di dalamnya. WOW….!
Cover Dear Papa jilid 1
Jumat tanggal 11 Maret 2011 akan menjadi awal dari pewujudan cita-cita dari kecil dan passion saya.
Alhamdulillah….
Duh, speechless banget. Terima kasih Allah
Info:
Dear Papa hanya bisa dibeli di nulisbuku[dot]com
Semua hasil penjualan buku ini akan disumbangkan ke panti jumpo di Surabaya
Yup, semua penulis di buku ini tidak ada yang mendapatkan royalty. Whuaaa…beramal ayoooo beramal