Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


20 Comments

Gaji oh Gaji

Semalam saya bertemu dengan teman-teman lama, apalagi kalau bukan di mall Jakarta. Semula saya tidak ada keinginan untuk ikut acara ini karena Mama sedang kurang enak badan tapi setelah mendapat ijin dari Mama dan sudah jelas bahwa Mama tidak akan sendiri di rumah, saya pun memutuskan untuk datang ke acara silaturahmi adik-adik kelas.

Banyak teman lama yang berkumpul. Apalagi kalau bukan anak-anak Rusun. Sedikit berbeda adalah mereka kebanyakan datang dengan menggunakan kemeja kantor. Jadi kesannya beda jika sedang berkumpul di akhir pekan.

Berhubung ini adalah tanggal 26, sehari setelah tanggal 25, apalagi kalau yang dibicarakan bukan tentang gaji. Setiap ada yang baru datang pasti akan ada joke, “Ayo makan aja ditraktir nich semua sama si Jojon (hehehe).” Terus, tidak lama datang yang lain, akan ada tumbal lain untuk yang mentraktir. Saya? Lemah untuk berkilah. Ribet urusannya.

Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan di sini.

Melainkan mengenai kisah seorang teman yang sedang dirudung gelisah. Ia bekerja di sebuah televisi swasta sebagai seorang Account Executive. Dia juga bergabung di dalam tim saya dalam penelitian 6 bulan ini. Lantas apa masalahnya? Ia bekerja tidak sesuai passion dan lebih dari itu, apresiasi tidak didapatnya di kantor DAN BELUM JUGA DIGAJI. Gaji bulan kemarin BAHKAN DIPOTONG untuk alasan yang tidak jelas.

Saya berkali-kali menyarankannya untuk keluar dari kantornya dan konsentrasi dalam penelitian tim saya ini. Bukan karena ingin egois tapi, seperti yang saya katakan kepada dia, “If you working with your passion that would be fine even you are not getting the good salary. But the problem is you do not get anything in this office, not your passion and you DO NOT GET THE MONEY. Gak mungkin lah lo kerja kayak gitu. Perusahaan swasta terlibat dalam sebuah projek untuk mendapatkan profit. Ya wajar kalau kita memikirkan gaji. Lah ini GAK DIGAJI!”

Teman saya yang semula memang sudah berniat mengundurkan diri pun ya semakin yakin tapi begitu cerita kepada orang lain dan mendapat saran untuk bertahan sebentar karena toh ia juga baru lulus, maka teman saya pun gundah kembali.

Saya pun mengeluarkan argumen, “Lo gw kasih deadline gak bisa lo penuhi. Tugas lo terbengkalai karena tugas kantor tv lo yang gak jelas. Lo udah terlalu banyak gw kasih excuse. Kalau lo kerja di tempat lain, there’s no one want to hear your personal reason.”

Heny pun menambahkan, “Kalau lo kerja cuma di penelitian ini, lo bisa gampang banget dapat ijin untuk apply di tempat lain. Beruntungnya lo adalah lo dapat gaji yang bagus di penelitian ini dan itu sebenarnya lebih dari cukup kan?”

Teman saya, “Iya, makanya besok aku mau kirim surat resign ku. Capek kerja begini…ditekan terus.”

Apa yang ingin saya sampaikan di sini?

Jujur saja, I have no idea to stay in one place if that company can’t paying us. Terlebih jika kita telah melakukan yang terbaik untuk mereka meskipun tidak sesuai dengan cita-cita. Kalau sesuai passion, pasti akan ada excuse atau sense of belonging-lah terhadap perusahaan tersebut. Tapi kalau tidak sesuai passion dan tidak digaji…well….hidup itu udah keras banget jadi jangan bikin tambah susah!

Cuma sekedar sharing bahwa rejeki Yang Maha itu seluas samudera dan langit. Kalau sudah diijinkan itu menjadi hak kita maka itu akan menjadi hak kita asalkan kita telah berusaha sebaik mungkin. Jika telah berusaha tapi tidak ada di genggaman kita, ya itulah yang disebut “rejekinya di tempat lain”.

Selain masalah rejeki, hidup itu mengandung banyak problematika. Jika masalah rejeki telah menguras tenaga kita untuk berpikir, sudah saatnya membuat keputusan. Pasti, akan ada resiko. Tapi percayalah, sebaik-baiknya perusahaan (dalam hal ini kita anggap sebagai media untuk menyalurkan rejeki) adalah perusahaan yang memenuhi kewajibannya untuk membayar keringat kita, walau sekecil debu.

Sekali lagi, hidup mengandung banyak problematika. Selesaikan satu per satu. Seperti kata seorang sahabat saya yang kurang lebih, “Fix (the problem), if you can’t fix it then replace it. But if you can’t do that, let’s move forward.”

Deva

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers