Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


11 Comments

Ada yang Beda

Ada yang beda saat ini dengan dulu.

Dulu aku merasa jiwaku penuh saat ke lapangan, bertemu masyarakat, bicara dengan mereka, dan melihat kehidupan mereka secara langsung.

Tapi sekarang, aku merasa kurang. Ada yang kosong. Tetap senang bertemu mereka. Tetap tidak bosan melihat keseharian mereka. Tidak kurang bahagia pula saat melihat usaha mereka membuat saya nyaman. Tapi…sungguh, ada yang kurang.

Semalam, melalui telepon, aku bicara bahwa aku merasa ada yang kurang di sini. Rasanya ada yang janggal.

Tapi kamu, dengan bijaknya bilang, “Apa yang kurang? Kan memang ini yang kamu mau? Ada di daerah, terjun langsung . Itu yang kamu suka kan?”

Aku cuma bilang, “Iya sich…tapi ada yang beda.”

Ah, Jakarta Jogja hanya 1 jam perjalanan udara, dan saya hanya beberapa hari di sini. Tapi rindu jangan tanya seberapa besarnya.

Iya…hati ini sadar…bahwa yang kurang adalah ketiadaanmu di sini…

Deva


14 Comments

Bahagiakan Orang Tua

Semalam secara tidak sengaja saya menonton acara Mario Teguh Golden Ways di Metro TV. Kalau tidak salah, temanya adalah You Only Live Once. Sebenarnya saya sudah tidak pernah lagi menonton acara Mario Teguh tapi akhirnya kemarin memilih menonton acara ini karena ada satu kalimat yang membuat saya berpikir, yaitu “bahagiakan orang tua…”

Saya bukanlah anak yang selalu patuh terhadap orang tua, bahkan di antara semua anak orang tua saya, saya adalah anak paling berani untuk melawan ayah. Saya jadi ingat kalimat yang dikeluarkan ayah saya saat Hendra bicara dengannya.

Ayah: “Deva ini anaknya sangat manja Hendra. Tapi sayangnya dia tidak pernah mendapatkan rasa manja itu dari saya. Dia ini anak yang paling berani melawan omongan saya. Keras sekali anaknya.”

Jelas bahwa itu bukan kebanggaan buat saya. Nah, kalau dilihat dari hal tersebut, kelihatan kan kalau saya bukan tipikal anak yang sudah berhasil membuat bangga orang tuanya.

Tapi bukankah kita, sebagai anak, tidak perlu menilai diri kita sudah cukup membanggakan atau membahagiakan orang tua? Paling tidak, usaha semaksimal mungkin untuk membuat mereka merasakan hal tersebut. Ya kan? Untuk hal ini, sebutlah saya sebagai seorang penakut “nilai”.

Banyaklah pengalaman yang sebenarnya menguatkan penilaian saya sebagai anak yang jarang bikin orang tua senang, hehehe…

Mmm…saya tiba-tiba berpikir sesuatu hal saat kalimat “bahagiakan orang tua” keluar dari Mario Teguh.

Bagaimana jika seorang anak harus melakukan hal yang salah di mata hukum, sosial, budaya, dan ukuran-ukuran lainnya tapi BERHASIL membahagiakan orang tuanya? Dan orang tua seperti apa yang harus dibahagiakan? Semua-kah?

Deva

 


16 Comments

H-11

Di tulisan sebelumnya, saya pernah menceritakan bahwa seorang teman menawari untuk terlibat dalam penelitian di negara-negara ASEAN dan setelah berdiskusi dengan Bos, dia pun setuju untuk memberikan saya cuti selama 6 bulan.

Saya sempat merasa lelah menunggu kepastian tentang keputusan apakah jadi atau tidak terlibat dalam penelitian itu. Tapi teman saya selalu meyakinkan “kemungkinan besar jadi, tapi saingan kita dari Singapura. So we need to be more patient.”

Dan 2 hari lalu, setelah saya bertemu Heny (puas banget meluapkan kekesalan saya tentang beberapa hal) saya mendapat kabar dari teman saya yang bilang bahwa perusahaannya memenangkan tender itu dan artinya bahwa saya dapat langsung terlibat di awal Juli.

Senang!

Keesokan paginya, saya kirimkan email kepada Bos saya untuk mem-follow up berita tersebut. Dan hasilnya masih positif.

Hari ini kantor saya akan membuka lowongan kerja untuk pengganti saya selama 6 bulan. Pengen sich saya cantumin di sini link lowongan kerjanya tapi entar ketahuan dech saya kerja di mana. Hahaha…sok misterius banget!

Yah, pokoknya lowongan kerjanya itu dibuat dengan menarik dan terlihat menantanglah. clueless, gak ngebantu ya!

Anyway, saya merasa bersyukur banget karena semua orang di sekeliling saya mendukung untuk keputusan ini seperti keluarga inti, Hendra, dan teman-teman.

Saya sadar bahwa belum tentu di tempat yang baru semua kenyamanan seperti di kantor lama akan saya dapatkan. Sadar banget. Makanya sejak saya bangun tadi pagi, saya benar-benar berdoa semoga semua lancar, saya bisa menanganinya dengan bijak. Can I get aamiin in here? :)

Oh ya, ngomongin tentang Hendra dikit ya hehehe

Udah hampir sebulan ini, kami tidak pernah berakhir pekan bareng karena dia selalu ada acara ke luar kota. Minggu kedua ke Halimun, minggu ketiga ke Gunung Gede, dan nanti minggu depan ke Lampung karena ada acara keluarga.

Yeah…sempat kesal sich karena dia pergi mulu apalagi kemarin sempat bilang bulan depan akan penuh di akhir pekan. Tapiiiii…bukan Hendra namanya kalau tidak mengakomodasi keinginan saya. Semalam sambil makan malam, dia bilang rencana bulan depan cuma akan pergi selama 1 kali. HORE!

Emang dech, kompetitor utama saya untuk Hendra cuma gunung. Doh!

Setelah minta ijin (aih…) ama Hendra untuk masang foto dia di blog, inilah fotonya Hendra (fotografernya Niko) tararadada

Ini Hendra lagi di Merbabu :D

Dan tentang LDR, kemungkinan akan nyicip rasanya LDR selama beberapa bulan ini. Doakan semoga semua baik-baik saja.

Haahahha…dari tadi minta doa mulu ya si Deva ini.

Yowislah, happy happy joy aja ya!

Ending tulisan ini bingung mau gimana…hehehe…

Deva


30 Comments

LDR? NOT FOR ME!

Hahaa…beneran, judulnya itu harfiah banget.

Beberapa kali saya pernah ngobrol dengan teman tentang hubungan jarak jauh (long distance relationship), membayangkan harus berhubungan hanya via telepon, email, skype, facetime, atau kecanggihan teknologi lainnya.

Saya dan teman saya ini sama-sama mengambil kesimpulan: LDR is SUCK!

Saya pernah menjalani hubungan jarak jauh, memang sich belum sampai beda negara apalagi benua, masih di Indonesia tercinta ini, tapi rasanya itu berat banget. Bertemu seminggu sekali. Belum lagi, jika ternyata harus ada janji lain di akhir pekan sehingga tidak bisa bertemu. Saya pernah bilang itu seperti laporan rekapitulasi saham!

“Senin begini, Selasa begitu, Rabu, Kamis, bla ble blo…”

Rasanya ya…gak seru!

Itu saya ya.

Nah, ada lagi teman saya yang LDR-an selama 3 tahun dan beda benua. Masalah yang ditemui ya pasti banyak banget. Tapi hebatnya, mereka masih bertahan! Jempol!

Cerita yang berbeda juga datang dari teman saya yang LDR-an. Lagi, beda benua. Hubungan lancar-lancar saja. Bahkan sebentar lagi mereka akan menikah.

Saya sering bertanya ke teman saya yang mau menikah ini, perempuan. Sedangkan laki-lakinya di London.

Saya: Gak stress susah ketemu?

X: Ya, gak lah. Dibawa santai aja. Kalau jodoh juga gak kemana, Dep.

Gampang banget ya! Hahaha..saya sich udah pasti uring-uringan.

Saya bukan tipikal orang yang mewajibkan diri untuk bertemu setiap hari dengan pasangannya. Tapi paling tidak bisa berkomunikasi via teleponlah ya…

Nah, yang paling malas itu kalau signal telepon nihil.

Indonesia di tahun 2012 masih aja susah signal. Beneran!

Contoh sederhana dech, akhir pekan kemarin Hendra kemah (dia memang gila naik gunung) di daerah Halimun, Sukabumi. Dimanakah Sukabumi itu? Jawa Barat? Apakah ada signal? Gak ada!

Dan dapat dipastikan betapa kesalnya saya sama jaringan telepon di sini!

Itu baru di Sukabumi. Dan kenyataannya, ya banyak daerah di Indonesia yang susah signal.

Gonta-ganti kartu provider ya tidak membantu. Gerak dikit aja signal drop. Apalagi kalau internet! Berat!

Saya pernah bertanya sama Kakak saya yang juga menjalani hubungan jarak jauh setahun, ketika suaminya harus dinas di luar negeri.

Waktu itu saya melihat Kakak saya hanya mengirimkan pesan singkat via email. Cuma untuk mengabari dia sudah di rumah.

Saya: Kok via email?

Kakak: Susah signal Dev. Mendingan email ajalah.

Saya: Kok tahan kak ditinggal setahun?

Kakak: Yaela…cuma setahun. Lagian ntar juga balik.

Bwhahaha…terberkatilah orang-orang yang sabar menjalani hubungan jarak jauh.

Nah, kalau lagi ada yang LDR-an, tips dari Om Arman tentang LDR guna tuch buat dibaca.

Katanya sich kunci berhubungan itu komunikasi, kepercayaan, dan komitmen.

Nah,kalau untuk LDR, saya rasa tiga kunci tersebut harus dilipat gandakan lho. Ya gak sich?

*terus selesai nulis ini mendadak ketakutan kalau suatu saat benar-benar harus menjalani hubungan jarak jauh…*

Well, kalau itu terjadi, tampaknya harus BERADAPTASI dech ya…*deg-deg-deg-deg-deg-an*

Deva


33 Comments

Senang [Part 2]

Sebenarnya sich ini cerita yang udah lama tapi ya gak apa-apa dech ditulis sekarang…moga-moga yang baca kecipratan senangnya :)

Backpack Idea

Tulisan saya tentang telusur pantai di Jogjakarta yang lalu dimuat di majalah online Backpack Idea. Seorang teman seperjalanan, yang merupakan editor majalah tersebut minta saya menuliskan cerita telusur pantai, padahal jalannya kan ama dia, hahaha…yawda saya tulis dan dimuatlah di majalahnya. Kalau tertarik, monggo di-download lho. GRATIS. Iya, GRATIS :P

Ayo download yak :D

Pacar

Lagi tentang Jogja. Semoga gak muntah ya baca tentang Jogja mulu. Hahaha…ini sich bisa ketebak. Sepulang dari Jogja saya dapat pacar dong :P

Siapa dia? Teman seperjalanan aja gitu kan selama di Jogja dan dia ini temannya sahabat saya, iya, temannya Saad.

Namanya Hendra, biasa saya panggil dia dengan Ndra aja. Singkat.

Pas kenalan di Jogja, ya biasa aja. Malah Hendra bilang saya jutek banget! Padahal kan saya pemalu.

Oya, dia bukan orang Jogja. Tinggal di Jakarta. Pas kemarin jalan ke Jogja, kan saya dan Saad jalan duluan. Nah, Hendra nyusul dech.

Itu pun di Jogja gak banyak ngobrol. Hendra lebih banyak ngobrol sama Saad. Tapi akhirnya belang saya kebuka. Iya, belang cerewetnya saya. Kok bisa? Ya, keluar gitu aja dech :P

Begitu sampai di Jakarta, ya lanjutlah itu komunikasi dengan BBM-an. Sempat berencana untuk jalan bertiga kan ke atamerica eh saya batalin karena Saad gak bisa. Terus Hendra akhirnya ngajak jalan berdua dech. Ehem…saya pun mengiyakannya.

Jalan…dang deng dong…ulalalalala…jadian dech.

Hahaha…as simple as that.

Saya cerita dong ke Saad kalau saya jadian sama Hendra. Dan Saad ketawa ngakak!!!

Dengan nada yang dikalem-kalem-in, Saad bilang “He is a nice guy!” — asyik, dapat restu.

Akhirnya kelar juga masa-masa single selama setahunan. Kencan sana-sini yang ujung-ujungnya gak sreg pun kelar dilakonin.

Ternyata setelah Saad tahu saya jadian sama Ndra, dia langsung sms Ndra dengan kalimat yang maniiiiis banget. Apa itu? Ah, saya simpen aja. Yang pasti, kalimat itu bikin saya nangis dech. Pokoknya saya sayang banget sama Saad!

Gak tau ya ini tanda atau apa, yang pasti pada saat mau ke Jogja itu, beda dech. Entah kenapa, saya kekeuh banget pengen ke Jogja. Mau nginep dan ngapain di sana ya bodo amat. Yang penting ke Jogja! Terus dapat ijin dari orang tua juga gampang, gak kayak biasa aja.

Malam sebelum ke Jogja pun terjadi percakapan serius antara saya dan kedua orang tua, di teras rumah.

Mama: Dev, teman-teman Deva udah pada nikah. Deva gak mau mikir ke sana?

Saya (dalam hati) oke, pembicaraan yang bikin malas, padahal umur baru 25. :|

Mama: Deva jalan-jalan mulu.

Saya: Iya Ma, pokoknya tahun ini Deva mau ke Kalimantan. — nyoba alihin obrolan.

Mama: Kan sebelum nikah ada tahapnya.

Saya: Mamaaaaa…ntar juga ada kok. Udah sich. (panjang dah tuch kalimat saya yang akhirnya bikin Mama angguk-angguk kepala).

Jangan tanya Papa ngomong apa. Papa mah ngerti kalau saya malas ngomongin gini. Papa langsung dech cerita pengalaman Papa di Kalimantan hehehee…

Eh, siapa sangka kan saya bertemu Hendra. Alhamdulillahnya lagi, reaksi semua orang tanpa kecuali pas tahu saya jadian, semuanya senang. Dan saya tahu itu senang yang beneran. Bukan basa-basi.

Hendra pun juga udah asyik di keluarga saya, begitu juga sebaliknya. Keluarga saya udah restu dengan hubungan saya dan Hendra. Malahan, tiap Hendra ke rumah, keponakan-keponakan saya yang heboh. Mereka main puas banget sama Hendra. Si Raihan (3 tahun) manggil Hendra ya Hendra doang. Susah banget disuruh bilang “Om”. Hendra sich gak masalah tapi kan…ndak sopan.

Keluarga Hendra ke saya? Kalau kata Hendra sich Mama Hendra malahan kelihatan lebih sayang ke saya dibandingin ke dia, bwhahahaha….maaf ya Ndra. Dan memang kelihatan baik banget dech keluarga Hendra ke saya :)

Hubungan kita berdua memang masih baru tapi berasa beda dech…dengan kekuatan bulan Hendra pun langsung dech ngobrol serius dengan kedua orang tua saya. Bla ble blo…intinya, saya mohon doa restunya ya, Tuan-Tuan dan Nyonya serta Nona :)

Oh ya, kok gak ada fotonya Hendra? Kita jarang banget foto berdua, kalau pun ada belum dipindahin ke laptop. Nanti aja dech ya fotonya. :D

Tumben nich tulisannya panjang hehehe…ya kayaknya itu dulu kesenangan yang mau saya bagi. Mudah-mudahan ntar akan ada lagi cerita senang-senangnya.

Have a great life, people!

Deva


30 Comments

Keluhan

Beberapa dari kita pasti tidak tahan jika berada di sebuah kondisi, yang menurut kacamata kita, tidak ideal. Akhirnya memutuskan untuk membicarakan kondisi tersebut kepada yang bersangkutan. Tapi ada beberapa orang lain yang memutuskan untuk hanya diam, menerima kondisi tersebut sambil berharap kondisi tersebut akan berubah dengan sendirinya.

Kamu jenis yang mana?

Saya termasuk orang yang mengatakan apa yang saya rasakan kepada orang yang bersangkutan. Sebagai contoh, jika saya tidak suka Mbak membersihkan meja di kamar saya, lalu saya melihat meja tersebut bersih, nah pasti saya akan bilang ke Mbak untuk tidak membersihkan meja saya. Pun, ketika dia melakukan hal yang baik pasti akan saya apresiasi.

Itu dari sudut pandang ‘orang yang mengeluh’.

Lantas, bagaimana sudut pandang orang yang dikeluhkan?

Pernah dong ya dengar sebuah buku yang judulnya Don’t Sweat the Small Stuff (Jangan meributkan hal-hal kecil). Saya belum pernah sich baca bukunya sampai habis. Kalau gak salah, buku itu membicarakan ‘jangan ribet berantem sama pasangan karena hal kecil’ yang sebenarnya bisa aja diimplementasikan sama orang lain, gak harus dengan pasangan.

Misalnya lagi, ada orang yang beranggapan bahwa ‘ucapan selamat pagi’ itu hal kecil banget yang gak penting untuk dilakukan ke pasangan. Tapi ada juga yang beranggapan bahwa itu hal besar yang jika tidak dilakukan bisa aja karena dia sudah tidak sayang, tidak peduli, atau jaga jarak, dan bla ble blo.

Artinya apa? Standarisasi ‘apa itu hal kecil’ kan beda-beda ya bagi tiap orang.

Kita ingin mengeluh tentang hal besar tapi bagi orang yang dikeluhkan ternyata hal tersebut hanya hal kecil. Nah lho! Susah kan menyamakan pendapatnya. Bisa-bisa malah berujung ke pertengkaran. Doh!

Makanya gak heran kalau akhirnya ada kata-kata…

Some things are better left unsaid.

Some words are better left unchanged.

Some sentences are better left unwritten.

Terus bagusnya bagaimana dong? Gak tau. Hahaha…

Karena buat saya tetap saja harus dikomunikasikan. Buktinya sebagian besar perusahaan ada bagian keluhan pelanggan kan? #ehseriusbener #tapibenerkan #ehhastagnyaditerusin #teruskenapa —- SKIP.

Balik lagi ke topik yang tadi. Terus, caranya seperti apa? Beda-beda. Mungkin ada yang  lebih senang diajak ngobrol santai. Tapi ada juga yang harus dengan cara serius. Atau bahkan ada yang maunya dikasih hadiah dulu baru suasana cair, dan lain-lain.

Yang utamanya sich ya…inti dari berhubungan (dengan siapa pun) itu kan komunikasi. Makanya ada jasa konsultan komunikasi kan? #ehpromosikantor – SKIP LAGI

Kalau semuanya dipendam ya…susah ya…

Pelan-pelan dicoba untuk dikomunikasikan keluh-kesahnya. Saya sering banget mengutip kalimat Rene Suhardono, “communication is about how you massage your message.”

Jangan lupa beri apresiasi jika ada tindakan baik dari dia. Nah…kalau mentok, ya mungkin kata-kata di atas memang cocok. Yaitu, mendingan diem aja Ceu! :P

 

Deva


23 Comments

Melahirkan

“Aku takut melahirkan, Ndra…”

Itu sepenggal perkataan saya kepada Ndra beberapa waktu lalu saat kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius.

Dan ketakutan saya tersebut bukanlah main-main. Saya sungguh merasa terharu dan ketakutan di waktu yang bersamaan, setiap mendengar kabar siapa pun yang hamil, melahirkan, dan mempunyai anak. Di antara fase tersebut, fase melahirkan adalah fase yang sering membuat saya deg-deg-an.

Saya sangat sadar bahwa teknologi kesehatan saat ini sudah sangat modern. Tapi di atas itu semua, bukankah kesiapan mental untuk melahirkan adalah yang paling utama?

Membayangkan tidur di meja operasi. Menarik nafas. Menghela nafas. Dokter dan suster yang berpakaian hijau dan menggunakan masker. Memegang pisau. Jika tidak kuat, maka ada pilihan untuk Caesar. Dibedah. Keluar anak. Menangis. Badan penuh darah. Dibersihkan. Diadzankan. Orang tua tersenyum.

Saat menulis ini pun, sungguh saya takut. Itu semua serasa nyata. Dan kelak, jika Yang Maha mengijinkan, tahap tersebut akan saya hadapi.

Saya dilahirkan normal. Dan Kakak serta Kakak ipar saya juga melahirkan anak-anaknya dengan normal.  Oke, banyak yang bilang bahwa melahirkan normal itu pemulihannya sedikit lebih lama dibandingkan yang Caesar.

Berbeda dengan uni saya yang melahirkan 2 anaknya dengan Caesar, karena saat pembukaan 10, kata dokter, Uni saya tidak kuat, pemulihan pun cukup memakan waktu.

Sedangkan teman baik saya berniat untuk melahirkan di dalam air. Persiapan sudah cukup. Saya lupa alasannya apa, dia pun akhirnya memutuskan untuk melahirkan secara normal.

Banyak alternatif cara melahirkan tapi hakikatnya sama. Semuanya menginginkan anak yang dilahirkan sesehat mungkin.

Banyak sekali kemungkinan peristiwa yang saya pikirkan jika kelak saya melahirkan. Semua berujung kepada rasa takut. Ingin tapi takut. Hingga saat ini.

Saya sungguh berharap suatu saat, rasa takut ini bisa terkalahkan. Karena ya memang harus kalah. Harus berani untuk melalui tahap melahirkan, bukan? :)

Oh ya, beberapa waktu lalu, Kakak saya melahirkan anak perempuan secara normal. Nama panggilannya Ixie.

Jadi, untuk para ibu yang saat ini mempunyai anak, saya ingin katakan bahwa kalian hebat sekali! :)

Deva


17 Comments

Rasa

Beberapa orang mengatakan bahwa ketika rasa itu datang maka jangan diabaikan, dimentahkan, apalagi ditolak…

Ada pula yang mengatakan bahwa rasa itu bisa datang sewaktu-waktu, mungkin di saat kita tidak tersadar. Sedemikian singkatnya seperti proses mencetak foto dalam kamera Polaroid.

Terlepas dari bagaimana cinta itu datang…rasa itu sungguh indah.

Akan lebih indah lagi jika cinta dibarengi dengan rasa nyaman yang entah diciptakan dari kandungan apa…

beautiful center pieces for outside wedding

Siapa yang bisa menduga kapan akan terjadi proses mencinta, di mana, dan dengan siapa…termasuk dalam momen seperti apa…

Tidak ada yang tahu ke depannya seperti apa, alih-alih menjaminnya.

Tapi paling tidak, saat ini, mari berjalan sejajar…beriringan…bukankah itu hakikat mencinta? Saling menggenggam tangan untuk arah yang lebih baik…

Saat ini, yang ingin aku lakukan adalah memeluk rasa itu dengan sehangat mungkin. Memupuknya dengan sepenuh keinginan…

Dear you…

Now I’m ready to let you come to my life.

I’m ready to let myself fall on you.

I’m ready to make the new story of my life, with you.

Love!

Deva

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 170 other followers