Ladeva's Blog

Let's share a cup of tea with me


34 Comments

Akber Jakarta: Get a Life Not a Job

Disclaimer: Tulisan ini dibuat oleh penulis tanpa berbekal catatan di sebuah kertas atau media manapun, jadi hanya ingatan semalam.

Reneeeeeee Juara!

Kalau teman-teman suka baca beberapa tulisan saya di blog ini, pasti ada yang bisa menebak kalau saya ini penggemarnya Rene Suhardono. Jadi kalau ada acara dimana pembicaranya Rene pasti saya usahakan untuk datang. Gak ada maksud perez, kakak :)

Kali ini, Rene hadir di depan mata saya di acara Akademi Berbagi Jakarta di Annex Building, Wisma Nusantara untuk membicarakan tema “Get a Life Not a Job”. Pasti, jika ada Rene, kata passion tidak akan tidak disebut dong ya.

Kakak atau Om mmm mungkin Opa Rene Suhardono :P (Source: @akberJKT)

Rene mengawali diskusi semalam dengan kalimat “Setelah sharing ini tolong jangan ada yang langsung keluar kerjaan dengan alasan karena Rene bilang harus kejar passion!”

 Hahaha…lucu juga karena jika baru sekali mendengar penjelasan Rene pasti langsung mikir “Ooo…kantor itu bukan passion jadi harus cari pekerjaan baru.” Ternyata tidak sesederhana itu. Itu adalah hak seseorang untuk memutuskan untuk keluar atau menetap di sebuah perusahaan tapi yang paling penting adalah seberapa efektifnya keputusan kita. Dan harus diingat bahwa tidak ada yang namanya “Dream Job”!

Passion tidak perlu dicari. Passion itu sudah ada di dalam diri masing-masing orang. Syaratnya cukup mudah untuk menyadari apa passion kita itu. Think less feel more. Think less feel more. Think less feel more. Ini mantera kakak hehehe

Jika kita hanya menggunakan akal untuk membuat sebuah keputusan ya otak kita akan terlalu bising dan akhirnya bisa seperti zombie. Pagi ke kantor, pulang langsung ke rumah. Gajian langsung habis untuk keperluan A-Z. Tapi hati? Kosong! Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran diri bahwa apakah yang kita lakukan ini telah dengan sepenuh hati?

Passion is what you good at and what you enjoy the most. Apa takaran “good at”? Tidak perlu takaran dari perspektif orang lain. Bagi Rene, selama apa yang kita kerjakan benar-benar tulus dari hati maka pasti hasilnya maksimal, paling tidak usaha setengah mati.

Mari lesehan (Source: @AkberJKT)

Pertanyaan selanjutnya adalah “uang gimana??? Karena gak selamanya passion mendatangkan uang kan.” Nah, itu dia. Rene bilang “The more you ignore money, the more money comes to you.” Saya percaya bahwa the great money will follow the great value. Sekali lagi, usaha saja semaksimal mungkin maka hasil (jika ini dikorelasikan dengan uang) pasti akan maksimal juga datangnya. Bahkan dia bercerita bahwa ada seorang temannya yang mempunyai penghasilan ribuan dolar per bulan tapi dia tidak mengerjakan aktivitasnya dengan hati, toh dia tetap saja kesepian dan merasa kosong. Jadi, semua itu kembali ke hati masing-masing orang dan yang dapat membuatnya bahagia ya diri sendiri.

Nah, Rene juga sempat sharing bahwa kita memerlukan pondasi untuk memperkuat passion kita. Perdalam lagi passionnya. Cari tujuan dari passion kita apa. Misalnya saya suka nulis. Tujuan dari nulis itu untuk apa? Inspirasi orang? Membuat diri terkenal atau apa? Find your purpose.

Setelah ketemu purpose-nya apa maka kita harus melakukan sebuah tindakan untuk mewujudkan hal tersebut. Setahap demi setahap. Kita tidak perlu meyakinkan setiap orang atas keputusan kita. Satu-satunya orang di muka bumi yang perlu diyakinkan atas semua keputusan kita adalah diri kita sendiri.

Ada seorang peserta yang bertanya “lantas bagaimana jika ada anggota keluarga yang tidak setuju dengan keputusan kita?” Rene jawab: “Speak with love language.” Intinya, kita gak bisa bicara tentang keputusan seperti ini dengan emosi yang tinggi. Harus perlahan-lahan menjelaskan kenapa dan bagaimana cara mewujudkan passion kita. Itu alasan kenapa kita harus yakin dulu terhadap diri sendiri atas setiap keputusan pribadi. Jika kita tidak yakin, bagaimana orang lain bisa mendukung?!

Dan be happy! Happy is not expensive. Happy is in here, in our heart.

“Untuk apa mati-matian masuk ke perguruan tinggi negeri? Untuk jadi karyawan di perusahaan terkenal? Untuk jadi PNS? Oke, setelah itu apa? Untuk jadi anak yang dibanggakan orang tua? Untuk dipandang keren oleh mertua? Oke, setelah itu apa? Ya, kalau orang tua senang maka saya akan senang juga?”

Sounds familiar ya kutipan di atas.

Rene: Repot ya…hanya untuk sekedar bahagia. Padahal bahagia itu ada di sekitar kita. Think less feel more. That’s it.

Berikut ini beberapa twit yang saya ambil dari akun Akber Jakarta:

Measurement is fine. untuk memberikan indikasi bukan kepastian hasil.

Worry less! if u cannot change the solutiion, change the problem.

Discovering ur strength | significance.

Discovering ur strength | growth. get ur depth!

Discovering ur strength | be spesific on what’s ur passion

Passion dan purpose adalah produk hati. bersihkan dan tenangkan hatimu. think less, feel more.

Discovering ur strength | 1st of all – focus on ur breathing

If u care, u will simply do it more. jadi, sudahkah anda melihat dunia dengan mata yang baru?

U don’t have to convince the world. 1st of all, convince urself! passion is something u do it because u care.

Do u know what u love?

“Passion is not skills or competencies.”

Jangan terjebak dengan angka-angka atau citra yang terlihat di permukaan. temukan jauh di dalam hatimu.

“Passion is not about the job, passion is about the activity.”

Find your true strength. passion is your significant strength.

So, are u in a dead zone? a walking zombie that have no significant achievement

If u want to change your life, transform ur belief system.

Zombie syndrom: Tidak happy dg pekerjaan, gaji tdk cukup, jabatan mandeg, bos galak dan penuntut

“Forget what u think you know everything

“You are what you believe”

The more you ignore money, the more money comes to you |

Worries & fear in our modern live: money, power, jobs, title, benefits achievement

“The 1st thing: to know how u feel. think less, feel more.”

Terakhir, dari semua slide, sharing yang sangat atraktif yang telah dilakukan, saya jadi ingat kutipan sederhana yang berbunyi “If there is a will there is a way”. Jangan terlalu bising dengan “What if…”. Benar bahwa kita harus selalu sedia payung sebelum hujan tapi tidak ada salahnya jika membiarkan hujan membasahi tubuh kita sekali-kali. Tidak ada yang terkena hujan (kecuali disamber petir dan tertimpa pohon tua yang jatuh) langsung mati kan?

Life is journey, not destination.

Deva


6 Comments

Desi Anwar on YCPA 2011

Hari Sabtu lalu (11/06) saya dan Danna menghadiri sebuah acara penghargaan kepada para perempuan berprestasi, yang diadakan oleh Caring Colours, bernama Young Caring Professional Award 2011 di Grand Kemang. Hadir di dalam acara itu 9 pembicara, yang masing-masing memberikan materi selama 18 menit. Antara lain Rene Suhardono, Yoris Sebastian, Ligwina Hananto, Wulan Tilaar, Fira Basuki, Era Soekamto, Joanne Warsito, Revie Sylviana, dan Desi Anwar.

Terlihat padat akan materi ya tapi tidak membosankan dech, semua jago dalam mencairkan suasana.

Yang ingin saya bahas kali ini adalah materi yang disampaikan oleh Desi Anwar (kayaknya beliau presentasi lebih dari 18 menit dech…sampai harus di-cut oleh MC dan cair banget suasananya). Sebagai seorang jurnalis yang telah malang melintang, Desi Anwar memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang luar biasa berprestasi, sebutlah Dalai Lama, Richard Branson, Kitaro, dsb.

Tema yang dibawakan oleh Desi Anwar adalah mengenai 4 kunci sukses yang dapat dilakukan oleh setiap orang untuk meraih kesuksesan. Antara lain:

1. Focus

Ahli di banyak hal adalah hal yang bagus tapi akan lebih bagus jika kita fokus terhadap suatu bidang yang menjadi passion kita.

2. Reduce Noice

Cobalah dalam sehari kita berikan waktu 5 menit saja untuk menyepi. Meletakkan alat komunikasi jauh dari kita. Berpikir mengenai kehidupan kita, apa yang ingin kita raih, apa yang telah kita raih, bagaimana cara meraihnya. Berkomunikasi secara jujur dengan diri sendiri.

3. Visualize

Bayangkan secara jelas ingin jadi apa kita. Stimulasi diri kita untuk menjadi hal yang kita inginkan.

4. Define Your Own Success

Kesuksesan setiap orang berbeda-beda. Tentukan standar sukses diri sendiri. Jangan ikuti orang lain. Saran orang lain mungkin bagus tapi belum tentu cocok jika diterapkan bulat-bulat untuk diri kita. Yang paling tahu diri sendiri ya kita sendiri, kan…

Jadi, sudah siap untuk sukses?

Deva


9 Comments

H.E.A.R.T

Jika kamu berpikir akan membaca sebuah cerita cinta antara pasangan kekasih, berhenti di kalimat ini. Klik link yang lain, he…

Tapi H.E.A.R.T disini adalah sebuah basic dalam suatu proses public speaking. Kaget menemukan kesinambungan kata antara heart dan public speaking? Saya juga. Saya mendapatkan kesimpulan ini dari sebuah obrol-obrol asyik dengan Rene CC malam ini di @atamerica.

Sebuah acara santai yang membahas tentang public speaking, yang digelar oleh @atamerica di Pasific Place. Saya sungguh berterima kasih kepada my dearest friend, Danna Miranda, yang berusaha me-mention saya di twitter untuk mengaktifkan YM saya (rrrg…eike lagi ngerjain tugas kantor, jeung jadi gak bisa buka twitter dan YM) dan dengan kekuatan penuh memanggil saya di skype (hihiihi…kalo ini gak pernah gak aktif eike bo’). Dengan ajakan dadakan, saya pun menyetujui untuk ikut acara ini. In that time, saya tidak tahu bahwa pembicaranya adalah Rene CC, seorang idola saya dan sudah berjuta kali saya tulis namanya di blog ini (Alhamdulillah, bisa ketemu beliau lagi dan untuk kali ini bisa foto berdua dengannya), sampai akhirnya saat saya mengaktifkan twitter baru ketahuan bahwa pembicara acara ini adalah Rene CC. Lucky me!

Sedikit cerita, beberapa hari yang lalu Rene CC mengadakan sebuah acara tentang passion dan karir (saya lupa dimana) tapi yang pasti harga tiketnya mahal dan saya mention dia di twitter, “Pak, mahal banget acaranya, padahal mau ikut.” Dibalas, “Ntar ya kalo acara untuk mahasiswa, saya coba cari sponsornya.” Saat membaca balasan Rene CC, dengan geli saya balas, “Hehehe…asyik, masih kayak anak kuliahan.” Ngerti kan maksudnya apa?! Eike masih cocok jadi anak kuliah :P

Anyway….back to public speaking.

Menjadi seorang yang bekerja di public relations, tidak lantas membuat saya tahu semua seluk beluk public speaking. Iya, betul bahwa saya berhadapan dengan klien,menyiapkan bahan presentasi media training, membantu trainer utama berikan simulasi media training, membantu menulis materi untuk sosialisasi program klien, dsb. Dan menjadi seorang karyawan termuda di sebuah perusahaan dengan seorang pimpinan yang ahli komunikasi di Indonesia (wuff…googling his name makes me wondering, why I can work in here >> perasaan kalau lagi galau) tidak lantas pula membuat saya khatam dengan teori komunikasi dan pernah diamanati untuk menjadi seseorang di kampus yang mengharuskan saya berpidato di acara-acara khusus, tidak juga lantas membuat saya mahir berpidato dengan baik dan benar.

Saya selalu haus dengan ilmu, terutama ilmu komunikasi, hubungan internasional dan teori menulis yang kece. Hari ini, rasa haus saya kepada ilmu komunikasi, terutama public speaking lumayan terpuaskan. Rene CC, yang juga mengidolakan Anes Basweddan (semoga Allah melimpahkan kebahagiaan kepada Anes Basweddan dan Indonesia Mengajar-nya), berhasil memukau peserta dengan gaya bicaranya yang kece! I adore u, more and more, Sir :)

Satu hal yang saya tangkap dalam isi pembicaraan Rene, terlepas dari semua slide yang ia berikan malam ini, Heart itu memegang kendali luar biasa dalam public speaking. Talk from your heart, feel it in your mind and speak with your heart. That was fabulous. Rasa yang timbul dari hati akan menimbulkan keikhlasan dan ketulusan. Meskipun lawan bicara kita menyebalkan, kita tidak percaya diri untuk tampil di muka umum, mood lagi berantakan tapi jika sudah tertanamkan untuk speak with our heart, semua kendala itu akan teratasi. Am I right, Sir?

H.E.A.R.T menurut saya berhubungan dengan mood. Dan Rene CC menjelaskan dengan sederhana, mood is an option. You can choose to be happy, to be sad, or to be angry. It is all your option.

Dan ketika ingin bicara di muka umum, ceritalah hal-hal yang akan membuat kita terkoneksi dengan pendengar, membuat kita (pembicara) tidak berbeda dengan penonton (pendengar).  Bicara bukan dengan semua orang tapi bicara dengan masing-masing orang. Senyum, memegang peran penting dalam public speaking. Last but not least, SINCERITY. I like this word.

Ah Rene CC, kamu membuat saya semakin jatuh cinta kepada dunia komunikasi, membuat saya ingin lebih mengepakkan sayap untuk mengejar passion saya yang satu ini. Membuat saya untuk semakin yakin bahwa hati tidak akan bohong.

Sedikit slide yang dibicarakan Rene CC. Silahkan menelaah :)

Deva (@ladevagumanti)


8 Comments

Dia Meraih Passion Dengan Penuh Kesadaran

Dia adalah seorang kenalan baru saya. Menarik saat berkenalan dengannya. Seorang laki-laki muda, lebih muda 1 tahun dibanding saya. Duduk sendirian sedangkan sang artis yang diriasnya sedang sibuk menelepon. Dia seorang perias artis. Saya santai, perkenalkan diri saya, “Deva”. Dia membalas, “Puput.”

Kami duduk bersebelahan dengan obrolan yang dimulai oleh saya, “Dari kapan jadi perias artis?” Akhirnya dia pun bercerita [sungguh] hangat, tanpa dibuat-buat. “Udah 3 tahun Mbak. Mbak sendiri ini syuting untuk rumah produksi mana?” Saya: “Bukan rumah produksi tapi untuk klien gitu. Kita konsultan komunikasi.” Percakapan tidak bisa berlangsung lancar karena syuting harus dimulai.

Hujan…syuting berhenti…makan siang…

Saya dan Puput pun duduk satu meja. Entah kenapa saya tertarik dengan dia. Saya memang punya teman seperti dia yang sadar bahwa dia bukan laki-laki yang bangga dengan badan dan tubuhnya. Dia laki-laki yang berperan dengan sadar sebagai perempuan.

Saya: “Ceritain donk kok lo bisa jadi perias muka.”

Puput: “Gw dari Semarang memang perias pengantin. Tapi gw pengen ngadu nasib ke Jakarta, bla…bla…bla…”

Dia bercerita tentang tanggapan orangtuanya yang tidak setuju anak bungsunya ke Jakarta, bercerita tentang masa miskinnya dia sewaktu awal di Jakarta yang hanya memegang uang Rp 12 ribu, bercerita tentang teman sekamar yang menipunya, bercerita tentang lika-liku nampang di pinggir jalan, bercerita tentang tawaran bekerja di salon tanpa dibayar, bercerita tentang sikut-menyikut di dunia rias wajah artis, bercerita tentang pengalamannya di Bali mencari bule, dsb.

Dia hangat. Saya tertarik mendengarnya.

Dialah orang yang sesungguhnya sangat sadar tentang passionnya. Yaitu dunia rias dan entertainment. Terlepas dari apapun yang orang lain bicarakan tentangnya. Terlepas dari apapun hambatan dan tantangannya. Dia pengejar passion. Dia hidup. Saya pun merasa hidup saat mendengar kisahnya. Mungkin sudah banyak orang yang mengalami getirnya hidup seperti Puput tapi kali ini, cerita itu bukanlah berputar tentang uang dan materi tapi tentang passion.

Ada orang yang datang ke Jakarta karena ingin hidup lebih baik, bukankah itu masih general?

Tapi Puput ingin datang ke Jakarta karena ingin menjadi perias wajah professional, itu pointnya!

Do You Already Follow Your Heart? (Source: shutterstock.com)

Dia tahu kemampuan, passion hidupnya. Dia tahu langkahnya tidak akan mudah tapi dia menjalaninya dengan kesadaran. Di titik ini, sekarang, dia berhasil meraihnya. Artis-artis menghubunginya untuk dirias. Itu passion yang bergerak. Saat saya tanya: “Berapa tarif rias ma lo?” Puput: “Tergantung kemampuan orang itu. Kasian kan orang mau dirias ama saya tapi gak ada uang. Jadi yang penting mereka senang dulu. Saya mah pasti senang.”

Menyenangkan.

Jadi ingat quote Rene CC: Viam Aut Inveniam Aut Faciam [Saya akan menemukan atau membuat jalan saya sendiri].

Sudahkah anda membuat jalan anda sendiri?

Deva, yang sedang berusaha membuat jalannya sendiri, Dec 23, 2010

 


6 Comments

Quote Latin-nya Rene CC

Semangat pagi….

Akhirnya saya browsing google untuk menepati janji saya terhadap diri sendiri yaitu untuk mencari arti quote bahasa latin yang sering digunakan Rene CC di setiap artikel mininya di kompas Sabtu. Kenapa ini disebut janji terhadap diri sendiri? Karena setiap saya baca artikel Rene CC, saya selalu penasaran dan bilang terhadap diri sendiri, “Oke, abis baca Kompas, saya akan browsing cari tahu arti bahasa latin ini apa.” Tapiii sudah 4 minggu a.k.a 1 bulan belum juga saya lakukan, rrrgh…

Jadi, temans inilah arti quote latin yang selalu Rene CC tulis di akhir artikelnya:

-Fortuna Favi Fortus -> Keberuntungan hanya berpihak pada yang berani.

- Viam Aut Inveniam Aut Faciam -> Saya akan menemukan atau membuat jalan saya sendiri.

- Ad Astra Per Aspera -> Untuk mencapai bintang perlu usaha.

- Candor Dat Viribus Alas -> Ketulusan akan memberikan kekuatan.

Nah, semoga bisa lebih “meresap” makna artikel Rene CC ke diri kita yach…

Sekali lagi, semangaaat pagiiii :)

Deva, yang akan menutup artikel ini dengan quote “Carpe Diem” [sok-sok jadi Rene CC], Dec 21, 2010

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers