Memilih Itu Tidak Mudah

Siapa yang belum pernah membuat pilihan dalam hidupnya? Saya rasa jawabannya adalah semua orang pernah membuat pilihan, sekecil apapun. Bahkan anak bayi pun memilih untuk menangis ketika diapernya sudah penuh, ketimbang untuk tetap tidur. Menolak untuk diberi ASI jika perutnya sudah merasa kenyang. Anak berumur 1 tahun pun sudah mulai menolak jika diberi kue yang tidak disukainya.

Pernah ada idiom yang mengatakan, “Life is an adventure”.  Saya setuju dengan itu. Sekarang tinggal bagaimana menjalani petualangan yang ingin kita lakukan. Sebagian orang ada yang memilih untuk terus berada di kotak amannya tanpa pernah sekalipun berniat mencoba keluar dari kotak tersebut. Tapi ada pula yang memilih untuk selalu berada di jurang bahaya tanpa keinginan untuk istirahat sejenak di kotak aman.

Buat saya, tidak ada yang salah dari pilihan-pilihan tersebut.

Tapi yang pasti, setiap pilihan mengandung resiko yang berbeda-beda. Dimulai dari tingkatan dangkal sampai tingkatan yang ekstrim.

Satu langkah yang menurut saya harus diambil sebelum membuat pilihan adalah jujur terhadap diri sendiri mengenai apa yang kita mau. APA YANG KITA MAU, bukan APA YANG DIHARAPKAN ORANG LAIN TERHADAP KITA.

Dan itu tidak mudah.

Saya masih ingat ketika saya memutuskan untuk kuliah di Senayan. Keluarga saya bingung setengah mati kenapa saya memilih untuk kuliah di tempat yang tidak bagus-bagus banget dan cenderung berpredikat buruk untuk pergaulan remaja. Kakak-kakak saya bahkan menawari semua kampus yang berkualitas jempol untuk saya dengan biaya yang jauh di atas pilihan saya. Tapi waktu itu saya kekeuh. Entah demi alasan apa. Buat saya, “Ya sudah mau kuliah dimanapun ya sama aja.”

Saya jadi teringat perkataan Ai Haibara di komik Conan, “Jangan bertanya dari mana kamu mendapatkan ilmu tapi bertanyalah bagaimana kamu dapat menerapkan ilmu tersebut.”

Dan sekarang, saya berpikir, “Kalau gw gak kuliah di sana mungkin gw tidak akan meraih Cumma Cum Laude. Kalau gw gak disana mungkin gw akan terus berpikiran bahwa anak nakal selalu bodoh (sempit banget ya). Kalau gw gak di sana mungkin gw gak akan pernah merasakan menjadi perwakilan kampus untuk ajang pertemuan anak HI senasional, menjadi tuan rumah penyelenggaran seminar nasional, tidak akan menjadi ketua umum organisasi, tidak akan tahu kelamnya pergaulan remaja, tidak akan pernah menghadapi kompleksnya birokrasi gak penting, tidak akan pernah berkenalan dengan senior yang membuat gw dapat kerja di Kompas, SCTV, gw mungkin gak akan bekerja di tempat yang sekarang (which is ini karena background pendidikan dan tempat kerja sebelumnya) dan sebagainya.”

Saya membuat pilihan yang tidak mudah ketika itu. Mempertimbangkan segala hal seperti prestise jika kuliah di tempat terkenal, masa depan setelah kuliah, atau juga pergaulan. Tapi sampai kapan saya harus selalu berada di kotak aman?

Mungkin kondisi yang saya hadapi ketika itu, tidak terlalu “seram” dibandingkan kondisi yang saat ini sedang dihadapi seorang sahabat saya. Semalam ia baru saja membuat keputusan untuk jujur terhadap dirinya sendiri yang mungkin akan membuat kaget keluarganya. Saya tidak bisa memberikan masukan apapun kepadanya. “Gw cuma bisa ngedengerin aja ya, gw gak tahu harus komentar apa,” jawab saya semalam ketika sahabat saya sudah mulai menjelaskan “pengakuannya”.

Teman saya secara bijak mengatakan, “Ya, cepat atau lambat memang harus jujur. Cuma masalah waktu. Gw juga gak tahu ke depan seperti apa. Gak terbayangkan. Tapi ya…harus dihadapin!”

Angkat topi untuk semua para juara di dunia ini yang berani jujur terhadap dirinya sendiri dan mau mengambil pilihan yang tidak mudah. Kalian, juara!

Deva