Sekarang tanggal 21 Mei 2012.
14 tahun lalu, saya masih SD, kelas 6 tepatnya.
Saya masih ingat ketika itu keluarga saya sedang menghadapi masalah yang sungguh besar. Bertepatan dengan itu, kakak kedua saya sibuk ikutan demonstrasi di gedung MPR/DPR.
Sempat membuat orang tua khawatir, ke mana dia kok gak pulang-pulang.
Satu kalimat dari layar pager cukup membuat tenang.
Sampai akhirnya terdengar kabar bahwa Soeharto akan lengser.
Saya belum mengerti apa arti lengser.
Yang saya lihat ketika itu di rumah, kakak pertama saya terus menyaksikan televisi seakan mencerna kata per katanya.
Kakak kedua saya pun mengabarkan bahwa ia akan segera pulang dari MPR/DPR.
Apakah suasana rumah berubah seketika? Tidak. Masih sama.
Lantas apakah saya setuju bahwa kondisi saat ini tidak jauh lebih baik daripada 14 tahun lalu?
Yang saya yakini bahwa jika 14 tahun lalu tidak ada yang berubah dari sejarah Indonesia selama 32 tahun, pasti tidak akan ada suara masyarakat yang lantang berbunyi jika mereka tidak menyetujui kebijakan pemerintah.
Bahwa tidak akan ada tulisan masyarakat yang muncul di media mana pun yang berbunyi suara hati mereka.
Yang saya yakini bahwa pers pasti akan memberitakan hal yang sama yaitu kesuksesan pemerintah tanpa cacat.
Sudahlah. Tidak usah membandingkan. Lihat ke depan. Sistem sudah ada.
Demokrasi, katanya.
Negara hukum, katanya.
Berbhineka Tunggal Ika, kan?
Anutlah itu. Bergeraklah dalam koridor itu. Tak usah melihat ke belakang sambil berkata, “Ah, lebih baik kemarin.”
Sungguh sia-sia melakukan hal tersebut.
Deva